sudahlah, berhenti saling merendahkan diri, kita sama2 tahu kalau kita saling belajar. lama-lama makin menggelikan. langsung ke isi saja, masalah berpihak-tidak-berpihak, itu tergantung…
^_^
tulisan ini menenangkan, cuma sepertinay melibas konteks ya?
kalau misal, ada yang tidak mau beragama bagaimana?
apa masih boleh jadi warga negara RI?
coba tengok ke konsepsi Locke seputar 'muasal negara'. dia sama2 naturalis seperti Hobbes tapi beda titik tolak. mungkin bisa mengantisipasi kesalahpahaman tuisan ini tentang 'individualisme.'…
walah aku memang orang desa pesisir kok, dalam arti geografis kali anda tepat sekali, hehehe. kalau tidak salah anda juga sering menggunakan chomsky ya, berarti cuma anda yg boleh…
hehe, aq sepakat hidup itu unik kawan, nah karena itu tidak sepakat, dalam banyak hal tidakuniversal. memang bisa dibuat mudah dan sederhana, tapi justru pertanyaan2 paling sederhana…
haha, kalau arah komennya tidak ke personal, aq juga suka. gini maksudq, sekalian klarifikasi: untuk jawab yang 'Pandangan mereka (anarkis) lebih kepada suatu pandangan filosofis politis…
aq boleh komen2 dikit ya, “Saya adalah seorang anarkis bukan karena saya percaya dengan anarkisme, tapi karena saya percaya bahwa tidak ada suatu tujuan akhir.” —Rudolf Rocker…
aq pikir, yang paling penting sekarang menyelamatkan teropong. itu saja. langkah2 konkritnya, ppmi jogja kan dipenuhi orang2 paham hukum, terus berjuang dengan mata dan ati terbuka…
prima: kali ini kmu benar2 keterlaluan padaku. kmu pikir kapasitas otakq tidak sempit tho? ck ck ck. padahal aq baru aja tau kalo punya otak. rizki: jabatan itu barang mewah bung,…
huahaha... sebelumnya maaf, aq ga pernah paham dengan satu -isme pun. anarkisme,di dalam tulisan ini,plus komen diatas tereduksi maknanya menjadi anarkisitas,hanya semacam aktivitas…
mungkin kalau ada pemilu untuk Tuhan, saya pilih orang ini. prima: ada performative language ada informative language. Selama masih dalam batas 'dapat-dipahami' aku pikir gak masalah…
—Junok
—“Gerakan Mahasiswa : Mau dibawa kemana?” -sebuah refleksi kritis gerakan mahasiswa–
tulisan ini menenangkan, cuma sepertinay melibas konteks ya?
kalau misal, ada yang tidak mau beragama bagaimana?
apa masih boleh jadi warga negara RI?
—Korban Keberagaman
—Delegitimasi Negara dan Fenomena Barbarisme
semangat lah.
setelah itu melangkah ke esensi ya.
—“Gerakan Mahasiswa : Mau dibawa kemana?” -sebuah refleksi kritis gerakan mahasiswa–
—Suatu sore di Kereta Laju
—G20: Pintu yang tertutup = Jendela yang hancur
—Eksplorasi tanpa titik Basi
—Surat Cinta Untuk PPMI dan Berbagai Kecenderungannya
—Eksplorasi tanpa titik Basi
—Eksplorasi tanpa titik Basi
—Oknum kriminal, LPM Teropong terancam dibredel
—Surat Cinta Untuk PPMI dan Berbagai Kecenderungannya
hahaha...
—Menuju Jember!*
haha
—Sang Terminal kultural
—Surat Cinta Untuk PPMI dan Berbagai Kecenderungannya
—G20: Pintu yang tertutup = Jendela yang hancur
—Sang Terminal kultural
ada dua cara untuk melepaskan diri dari konteks,
yang pertama terus belajar,
yang kedua terus menyerang secara personal.
—Mengail Pelajaran dari Marxis(me)
haha.
—Total "Anarchy" Football