Tragedi Kemanusiaan di Tugu Tani 2

Senin, 6 Feb '12 16:39

Oleh: Debi Abdullah

Afriyani Susanti, supir maut yang memakan 9 korban jiwa pada kecelakaan Minggu (22/1) di Jalan Ridwan Rais, Gambir, Jakarta Pusat, menjadi perbincangan hangat mengenai kasus yang diterimanya. Mulai dari isu yang mengatakan bahwa Afri positif mengonsumsi narkotika, berkendara tanpa SIM dan STNK, mobil bodong, hingga disinyalir mobil keluaran Daihatsu yang dikendarai afri dan kawan-kawan itu tidak dalam kondisi optimal.

Memang kebetulan sekali, kecelakaan terjadi tepat di depan Kementrian Perdagangan. Kementerian yang mengurus perdagangan dalam negeri, ekspor impor baik legal maupun ilegal. yang menurut isu, para mafia telah membantu mulusnya penjualan kendaraan bermotor di negara ini tanpa keterangan surat asli dan identitas tidak lengkap..

Kronologi yang didapat dari hasil keterangan Dirlantas Polda Metro Jaya adalah, mobil yang berisi 3 orang selain pengemudi maut itu, baru saja menghadiri acara di hotel Borobudur, dan memacu kendaraannya sekitar 60-70 km/jam. Kecepatan itu cukup fantastis di tengah situasi lalu lintas di daerah Tugu Tani tersebut.

Mobil yang dikendarai Afri mengapa terjadi insiden tabrak maut, masih simpang siur. Ada sumber yang mengatakan mobil mengalami rem blong, lalu sumber lain mengatakan, terjadi karena menghindari anak-anak yang sedang menyebrang sehabis pulang dari bermain futsal. Kabar terakhir, Afriyani Susanti yang telah ditetapkan menjadi tersangka itu ternyata mengkonsumsi obat terlarang, ekstasi setengah butir.

Wanita belum menikah itu, jelas terancam pasal berlapis, salah satunya adalah membuat hilangnya nyawa pada kecelakaan, yang ancamannya Rp 24 juta atau kurungan paling lama 12 tahun penjara. Belum lagi pasal mengenai surat kendaraan dan lain sebagainya.

Ketua Road Safety Association, Rio Octaviano memandang sisi lain dari kecelakaan ini. Dia menduga bahwa ini bertanda bahwa Tuhan sedang memberikan signalnya kepada Kementerian Perdagangan yang selalu saja melancarkan penjualan kendaraan bermotor, hal lain yang menggelitik Rio adalah ibu negara juga turut mengikuti berita yang mengalahkan gaung Katty Perry ini.

Benarkah ini pertanda baik, bahwa negara ini sudah sadar dengan ongkos sosial yang diakibatkan dari penjualan kendaraan bermotor secara besar-besaran? Ataukah benar-benar buruk, melihat betapa nimimnya pengawasan lalu-lintas dan pengguna narkoba di negeri ini?

Ini seharusnya menjadi bisikan bagi Presiden SBY, bahwa beliau harus membenahi ego sektoral para stakeholders (penentu kebijakan) lalu lintas jalan. Juga mengingatkan SBY, bahwa uang tidak sepantasnya lebih penting dari nyawa rakyatnya sendiri. Lebih baik uruslah aspek-aspek kenyamanan masyarakat seperti lalu lintas dan pelayanan publik, dari pada selalu dipungsingkan dengan kegaduhan politik yang selalu berujung pada kemenangan dan kekalahan. Sedangkan rakyat, tidak membutuhkan hal itu. Rakyat hanya butuh kenyamanan dan keamanan dalam menjalankan aktivitasnya.

Selain itu, secara misteri Rio mengucap syukur. Mungkin kecelakaan ini juga mengingatkan Pemerintah atas kecelakaan lalu lintas yang kerap terjadi, bahkan memakan korban jiwa sampai dengan 50 nyawa hilang per hari. Kecelakaan pesawat pun kalah pamor dengan jumlah kematian yang diakibatkan Xenia yang dikendarai Afri tersebut. Memang, negara ini harus mengalami shock therapy berkali-kali, tapi tetap pemerintah tidak peduli sepenuhnya.

Mungkin saja, bila kendaraan roda empat atau roda dua dikendarai oleh figur publik, seperti Sophan Sofyan atau istri dari Saiful Jamil, pasti situasi hari ini akan jauh berbeda. Melihat para awak media pun datang karena ada “uang” untuk mengangkat kejadian-kejadian kecelakaan lalu lintas. Sedangkan di lain pihak para pakar beramai-ramai bicara, didatangkan ke studio untuk memberikan solusi, dengan harapan paling tidak masalah bisa berkurang.

Cobalah pemerintah, kepolisian dan masyarakat bermitra dengan media massa untuk menyuarakan keselamatan jalan. Baik berkendara maupun menggunakan fasilitas jalan. Di sisi lain, pemerintah harus terlibat pula dalam perkembangan otomotif di Indonesia. Sudah layak atau belum kendaraan yang dipakai, atau barangkali lebih mengutamakan perhatian pada keselamatan, dan bukan pada keuntungan semata.

(Penulis adalah mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun, Jakarta)


Tag: Tragedi, kemanusiaan, tugu tani, kecelakaan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Komentar:

Luki 0 0
Ada tiga hal yang membuat saya heran. Pertama, foto siapakah yang terpampang di artikel ini? Kedua, mengapa untuk mengacu pada kata ganti presiden harus memakai kata beliau? Ketiga, mengapa usulan "final"nya hanya mencantumkan pihak dari pemerintah, kepolisian, dan masyarakat? Apakah pihak kapitalis/industrialis kendaraan bermotor tidak dimintai penanggungjawaban juga? Semua iklan motor sudah mempropagandakan pengendara bermotor sebagai pembalap dan membuat jalanan menjadi sirkuit, lho.
Roy 0 0
Luki: Saya jawab ya..
Pertama, itu foto saya. Artikel ini sudah terbit di media, yaitu Surat Kabar MADINA 2 minggu lalu, termasuk artikel sebelumnya, yang berjudul "Inspirasi Besar: Mahasiswa Harus Bangun Solusi".
Kedua, kata 'presiden' memakai kata 'beliau', itu adalah sambungan kalimat, agar tidak terjadi 2 kata yang sama dalam satu kalimat. Ini adalah teknik penulisan.
Ketiga, final jelas ada di pihak pemerintah. Kaum kapitalis/industrialis dalam hal ini selalu mengikuti apa yang telah ditentukan oleh pemerintah. Biar pemerintah yang meminta pertanggungjawaban kepada perusahaan terkait. Mengenai iklan motor, benar, iklannya memacu hasrat pemuda menjadi pembalap. Kalo pembalap profsional sih tidak apa-apa. Tapi kalo pembalap liar, gimana.

Silahkan login untuk memberikan pendapat