Inspirasi Besar: Mahasiswa Harus Bangun Solusi 12

Senin, 6 Feb '12 16:35

Oleh: Debi Abdullah*

Setidaknya, ada ribuan protes mahasiswa dari berbagai macam kampus dan latar belakang yang berbeda. Tentunya, protes-protes itu ditujukan kepada pemerintah dalam upaya pemberdayaan ekonomi dan perbaikan kesejahteraan masyarakat. Belum lagi, protes akibat koruptor yang merajalela, sampai-sampai negeri ini identik dengan istilah ‘sarang korupsi’ bagi masyarakatnya sendiri.

Mahasiswa yang sejak awal diterima oleh sebuah kampus, pasti terkenal dengan orang-orang yang kritis dan mempunyai integritas yang tinggi. Mampu berfikir secara terbuka dengan gaya yang khas di mata masyarakat. Istilah ‘demo’ mungkin tidak terlepas dari jiwa-jiwa mahasiswa, karena ada demo (protes), di situlah mahasiswa berdiri tegak dan berteriak lantang untuk menyuarakan aspirasinya. Suara mahasiswa memang suara rakyat, dan integritas mahasiswa adalah integritas pemuda. Karena pemahaman itulah, mahasiswa gagah berani, merajalela demo sebuah kebijakan.

Namun gagahnya menjadi mahasiswa, tidak terlalu menonjol dengan apa yang lekat dalam benak masyarakat. Masyarakat justru menilai bahwa mahasiswa hanya pandai berdemo, namun tidak memiliki solusi bagi setiap masalah yang ada. Mahasiswa, kata banyak orang, ibarat hanya pintar teori kebaikan, namun tidak pintar dalam berbuat kebaikan. Di sisi lain ada yang menggambarkan, bahwa mahasiswa identik dengan prilaku bebas. Parahnya, mahasiswa bisa dianggap provokator terjadinya bentrokan antar warga, dan lain sebagainya.

Pejamkan mata dan singkirkan dari sekarang anggapan-angapan masyarakat itu. Saatnya mahasiswa membuka mata dan hati untuk bangun solusi dengan kecerdasannya. Bangun hakikat integritas dalam hati dengan pancasila sebagai ideologi negara. Istilah “singsingkan lengan bajumu”, bukan lagi bertindak gragas tanpa arah, namun dengan perhitungan-perhitungan yang matang dan solusi-solusi sesuai dengan dedikasi ilmu yang dipilihnya.

Temukan Solusi Diri

Masalah selalu kian menghadang, baik itu masalah besar setingkat negara maupun masalah diri sendiri. Bagi mahasiswa, masalah negara adalah masalah dirinya, karena dengan begitu dia dapat berprotes ria untuk sekadar berteriak, bahwa “aku tidak setuju dengan kebijakan pemerintah”. Untuk itu, agar memperoleh solusi sebuah masalah negara, tentunya ada cara yang tepat untuk mandapatkanya.

Salah satu yang dipercaya oleh banyak orang, adalah “temukan solusi diri” dahulu, karena dengan mampunyai menemukan solusi diri, mahasiswa sadar akan fungsinya. Tidak perlu gatal untuk berteriak bahwa kebijakan pemerintah itu salah, namun jika mahasiswa sadar akan fungsinya, dia akan berprilaku sesuai analisisnya terhadap kebijakan pemerintah yang menurutnya salah.

Sebagaimana seorang Nelson Mandela, Bung Karno, dan Raden Ajeng Kartini. Para pahlawan itu menjadi orang-orang besar, karena protes kebijakan yang berpengaruh baginya. Nelson Mandela, protes dengan sistem Apharteid di negaranya Afrika Selatan, lalu beliau dipenjara. Dalam bui itu, Nelson menyadarkan bahwa dirinya memiliki fungsi untuk membebaskan negaranya dari Apharteid. Akhirnya dia membuat buku untuk membuka pikiran-pikiran barat (kulit putih) untuk tidak menerapkan sistem Apharteid, karena sistem Apharteid melanggar hak asasi manusia.

Bung Karno yang pernah diasingkan oleh Belanda, mampu dengan cerdas mengambil solusi-solusi di tengah krisis diri yang teransingkan. Dengan usahanya itu, beliau mampu membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia yang diharapkan masyarakat Indonesia. Kemudian, Raden Ajeng Kartini dengan bukunya “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku legendaris itu, menyadarkan kita untuk memperlalukan hak yang sama terhadap perbedaan gender pria dan wanita.

Semua usaha pahlawan-pahlawan itu berawal dengan menemukan solusi dirinya dan menyadarkan fungsinya sebagai orang-orang besar, sehingga mampu menemukan dan melepas masalah besar bagi negaranya.

Demo dengan Tulisan

Besarnya prospek media, baik radio, online, surat kabar, dan televise, saat ini membuka banyak pengetahuan dan wawasan bagi siapa saja yang mendengar, membaca, dan melihat. Dengan peluang-peluang itu, khususnya surat kabar dan media online, diharapkan mahasiswa mampu memanfaatkannya dengan menulis opini atau artikel tentang apa yang diprotesnya. Namun, sesuai visi tulisan ini, bahwa opini dan artikel yang dibuat bukan hanya untuk mengkritisi masalah, tapi menyertakan dengan solusi tepat dan berguna bagi penyelesaian masalah.

Dengan memanfaatkan media, mahasiswa bisa membangun citranya sendiri. Mahasiswa tidak akan lagi dianggap provokator, bebas pergaulan atau anggapan negatif lainnya. Mahasiswa yang demo dengan tulisan, akan dianggap cerdas, karena mampu menulis dengan tujuan membangun, bukan sekadar demo (protes) yang sia-sia tanpa solusi. Dengan tulisan di media pula, mahasiswa mampu mengembangkan diri dengan gagasan-gagasan ‘liar’, namun terarah guna memperbaiki situasi.

Untuk itulah, bagaimanapun juga kita mencari solusi untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk membuat masalah menjadi sulit. Lebih baik bagi mahsiswa, menulislah dengan membuat opini atau artikel untuk dikirimkan ke media cetak (surat kabar) maupun media online (portal berita). Sepertinya itu lebih baik dan efektif, dari pada turun ke jalan menuju bangunan yang diprotes dan siap membakar, beteriak, lalu bergandeng tangan lompat-lompat tanpa solusi tepat guna.*

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Ibnu Chaldun, Jakarta. Penulis Buku “Tinggalkan Akal Pakai Hati”.


Tag: Mahasiswa, inspirasi, artikel mahasiswa

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Rizki 0 0
Super sekaleee.....(Penerus mario teguh selanjutnya : D)
Memanfaatkan media online memang salah satu peluang namun sayang banyak diantara masyarakat kita yang masih kesulitan mendapatkan akses informasi, baik itu televisi, media cetak, radio apalagi internet.
Btw bung @Roy kuk tidak menulis, hanya menshared tulisan orang lainnya, jangan minder buat ngirim tulisan di lapak ini.
mari berbagi dan berdiskusi.
Rizki 0 0
Lagipula uda gak jaman jadi mahasiswa, biaya kuliah gedhe, lulus kuliah belum tentu bisa bikin lapangan pekerjaan buat orang banyak, malah jadi bawahan dengan status agak lebih tinggi dikit dengan lulusan SMA.
Yang ngetren sekarang mah anak SMK, bisa bikin pesawat, mobil, jaket anti peluru, sepeda motor, robot, kalo mahasiswa cuma bisa bikin ribet : ))
Roy 0 0
Tentu berbagai pendapat kita perlu sikapi dengan arif dan bijak. Bagaimana mungkin kita dapat mencegah orang lain berpendapat, bukankah itu hak asasi manusia.
Sedikit berbeda dengan anda bung rizki, saya tetap membanggakan hasil SMK yang luar biasa dapat membuat citra walikotanya naik. justru dengan adanya mobil Esemka itu, mahasiswa harus lebih bisa berkreatif dan inovatif dalam berkarya. Terima kasih
cakyoh 0 0
Orang yg bisa menulis biasanya punya wawasan sangat luas, cerdas dan membaca banyak hal...orang cerdas terlihat dari tulisannya...he2..
Luki 0 0
Haha. Demo dengan tulisan. Hei, Bung, Soekarno juga dulu ga cuma nulis, dia juga pakai aksi massa, bung: Mobilisasi massa, rapat akbar, dan juga DEMONSTRASI. Di saat aksi massa sudah kembali setelah 32 tahun ditindas fasisme Orde Baru dan kini diterima luas oleh semua sektor masyarakat mulai dari buruh (baik yang di serikat-serikat progresif maupun di SPSI yang di jaman Orba sangat jinak), tani (khususnya tani miskin dan buruh tani), kaum miskin kota (kelompok pedagang pasar tradisional, kelompok nelayan, perhimpunan anak jalanan) dan terutama pemuda mahasiswa, sekarang engkau malah mendiskreditkan peran penting aksi massa dan menganjurkan dikotomi atau pemisahan bahwa tulisan itu lebih baik dan dengan demikian tinggalkanlah perjuangan massa seperti aksi massa/demonstrasi. Apalagi dengan memfitnah bahwa tiap demonstrasi hanya protes tanpa solusi. Pola pikir ini jelas kalau bukan akibat terlalu banyak mengonsumsi media mainstream kapitalis-borjuis tanpa melakukan penelaahan kritis maka bisa jadi merupakan cerminan mentalitas borjuasi kecil sang penulis. Cobalah dekati kawan-kawan yang melakukan perjuangan dengan metode aksi massa. Semuanya melengkapi diri dengan tuntutan dan solusi, Bung. AGRA (Aliansi Gerakan Reforma Agraria) menyerukan reforma agraria bagi petani agar tanah hanya diperuntukkan bagi petanah yang benar-benar menggarap tanah bukan tuan tanah yang memonopoli tanah dengan ongkang-ongkang kaki sudah terima keuntungan. MILITAN menyerukan untuk menasionalisasi industri dibawah kontrol buruh. SPBI, GSBI, dan berbagai serikat buruh lainnya menuntut jaminan sosial yang dibiayai penuh oleh negara ketika menolak UU BPJS dan UU SJSN. PEMBEBASAN menuntut pendidikan gratis serta demokratisasi kampus dan FMN menuntut sistem pendidikan nasional yang ilmiah, demokratis, dan mengabdi pada rakyat. Serta masih banyak lagi organ perjuangan massa diluar sana yang sudah lengkap dengan tidak saja dengan solusi namun juga sistem alternatif. Dan mereka semua tidak hanya berjuang dengan tulisan atau kata-kata namun praktek nyata, bersimbah keringat, dan air mata, bahkan tidak sedikit yang berdarah-darah. Jelas seruan untuk memisahkan perjuangan tulisan dengan perjuangan massa atau aksi massa jelas merupakan seruan yang tidak saja salah dan keliru namun juga bisa melemahkan gelombang perjuangan rakyat yang kini semakin membesar. Pahamilah, Bung, baik SPP maupun Orde Baru tidak turun hanya gara-gara tulisan. Menyerukan perjuangan hanya dilakukan melalui tulisan itu sebuah gagasan yang brilian, sebrilian gagasan untuk mengusir Hitler dengan pantun jenaka.
Rizki 0 0
Roy: Berarti pengertian mahasiswa menurutmu hanyalah sebatas memproduksi 'sesuatu' yang berfaedah saja, yang lantas hal tersebut dilirik oleh kaum pemodal yang akan memfasilitasi segala kebutuhan mahasiswa demi mengembangkan kreatifitas dan inovasinya. Secara tak sadar mahasiswa tersebut hanya jadi boneka kaum pemodal.
cakyoh: commentmu ini maksudnya apa? Geje!!!!
Rizki 0 0
Luki: Mungkin model mahasiswa yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah mahasiswa yang setengah-setengah atau barangkali seperempat saja dalam hal menyikapi permasalahan yang sedang terjadi, atau bisa jadi mahasiswa yang dimaksudkan disini adalah mahasiswa jurusan tulis-menulis. : D
Roy 0 0
Luki: Pahami betul hakikat aksi massa. Pertanyaannya, Apakah dengan aksi massa (yang menurut Luki turun ke jalan) lebih efektif dan kondisif? selama ini banyak pengendara motor dan pengguna jalan mengeluh akibat adanya demo. Mengertilah lingkunganmu Luki, justru banyak orang berpendapat bahwa yang berdemo atau berkasi massa turun ke jalan, dianggap tidak ada kerjaan. Mahasiswa semester awal dan menengah, yang tidak disibukan dengan aktivitas akademis, tentu mencari aktivitas yang lain. Jelas yang paling mudah adalah ikut berdemo, tanpa harus tahu apa yang didemokan, asal ikut-ikutan. Apalagi dengan adanya uang sisipan hmmm.... asyyyikk!. Sekali lagi, saya tidak mendeskriditkan peran penting aksi massa. Saya hanya memberi inspirasi kepada kawan-kawan mahasiswa, untuk berdemo secara cerdas dan membangun solusi tepat guna. Seandainya mau berdemo, santunlah. Seandainya mau membakar sesuatu, bakarlah semangat diri kita dan pemerintah untuk terus berjuang untuk rakyat. Terima Kasih

Rizki: Mahasiswa punya peran begitu strategis. Apapun perannya, motivasinya dan inovasinya, yang jelas harus berfaedah secara baik untuk masyarakat. Terima Kasih
cakyoh 0 0
sundull gan..tulisan yg bagus penuh ide..
Roy 0 0
Cakyoh: Terima kasih... mau cendol gan? hahaha
cakyoh 0 0
Cendol gann he2.. udah aku bantu sebar lewat twitter gann..biar tulisan bermutu di baca banyak orang...up..upp.
Roy 0 0
Terima kasih banget gan...
kebetulan ane jarang ngetwitt. hehe

Silahkan login untuk memberikan pendapat