Indonesia Tionghoa dan Identitas 1
Kamis, 26 Jan '12 23:16
Sampai hari ini, masih banyak pihak yang mempertanyakan loyalitas kelompok Indonesia Tionghoa pada negara ini. Pada banyak kesempatan, mereka disamakan dengan orang-orang Yahudi yang tersebar di berbagai negara. Diumpamakan sebagai tikus di lumbung padi yang akan menjadi orang pertama yang melarikan diri jika terjadi kebakaran di lumbung padi. Pada perumpaan yang sama pula, mereka dianggap sebagai orang yang hanya mengeruk keuntungan dan kekayaan dari negara yang mereka tinggali tanpa merasa perlu berkontribusi bagi pembangunan negara ini.
Entah anggapan ini benar atau tidak, namun banyak orang sampai hari ini masih salah kaprah. Etnis Tionghoa di Indonesia dianggap sebagai satu entitas yang homogen (Tan, 2008). Padahal etnis Tionghoa di Indonesia sangat heterogen dalam hal sosiokultural dan geografisnya, termasuk keberagaman dalam menghayati ke-Indonesiaan. Di satu kontinuum terdapat orang-orang keturunan Tionghoa yang sudah sangat melebur ke dalam budaya Indonesia. Mereka bahkan menjadi pakar dari kebudayaan Indonesia, seperti Melani Budianta, guru besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Prof. Tjan Tjoe Siem ahli Javanologi yang menikah dengan perempuan Jawa, Junus Jahja ekonom dari Rotterdam yang menikah dengan perempuan Sunda, Go Tik Swan yang ahli batik, Masagung pemilik Toko Buku Gunung Agung, (Alm). Prof. Hembing yang ahli obat-obatan herbal dan masih banyak lagi.
Sementara di kontinuum lain, ada orang-orang keturunan Tionghoa yang masih teguh memegang kulturnya. Mereka dulu mengenyam pendidikan Cina dan masih fasih menggunakan bahasa Mandarin. Saat ini banyak di antara mereka yang menjadi pengusaha besar, seperti Sudono Salim pemilik Salim Group dan Mochtar Riyadi. Generasi penerus mereka kebanyakan bersekolah di luar negeri untuk kemudian kembali ke nagara ini meneruskan bisnis keluarga mereka.
Menurut Mely G. Tan (2008) sebagian besar orang berada di tengah-tengah antara dua kontinuum ini. Kondisi ini mungkin yang menyebabkan munculnya kebingungan pada generasi muda Tionghoa Indonesia. Mereka menyadari diri mereka tidak sama dengan kaum Cina daratan yang tinggal di negara Cina. Tapi mereka juga menyadari bahwa diri mereka sampai saat ini belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat Indonesia.
Kebingungan para generasi muda mungkin juga diperparah dengan ajaran di dalam keluarga yang menanamkan bahwa mereka (Tionghoa Indonesia) berbeda dari orang Indonesia lainnya, terutama pribumi (Komunikasi pribadi, 20 November 2011). Ajaran di dalam keluarga yang seperti ini tak terlepas dari pengalaman para orang tua menghadapi kehidupan yang diskriminasif akibat kebijakan pemerintah Orde Baru. Walaupun kemudian sejak tahun 2002 Gusdur mencabut SK pelarangan perayaan kebudayaan Cina suasana hidup bermasyarakat jauh lebih demokratis dan terbuka. Tapi tetap saja friksi dan kesensitifan mengenai hal ini masih terasa. Mungkin ini adalah sisa peninggalan "kebudayaan" Orde Baru yang secara sublimatif terpatri di alam bawah sadar masyarakat. Pada kondisi authomatic response atau dalam kondisi tertekan, isu ini masih muncul kuat di masyarakat.
Maka, muncul generasi muda Tionghoa Indonesia yang gamang di mana mereka seharusnya meletakkan kaki untuk berpijak. Beranikah mereka berpijak apa adanya pada tanah Indonesia ini atau merasa perlu memiliki kapital sebanyak mungkin agar menjadi orang yang diperhitungkan di negara ini? Jawabannya tentu bergantung pada pemaknaan diri mereka masing-masing sesuai dengan pengalaman hidup dan internalisasi yang mereka lakukan.
Selain dipengaruhi oleh pengalaman hidup, pemaknaan diri juga dipengaruhi oleh ingatan kolektif dan informasi yang tersedia mengenai sejarah kehadiran Tionghoa Indonesia. Sayangnya, penulisan sejarah mengenai kontribusi Tionghoa Indonesia seringkali diabaikan ("Call to", 24 Januari 2011). Padahal mereka sudah ikut berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia sejak masa penjajahan Belanda.
Kapitan Sepanjang atau Khe Panjang (Oey Phan Ciang) memimpin pasukan koalisi antara penduduk Jawa dan Tionghoa menentang VOC. Perang ini dinamakan Perang Sepanjang. Kapiten Nie Hoe Kong merupakan salah satu orang yang mempelopori pemberontakan rakyat Tionghoa terhadap VOC di Batavia. Rumah tempat Sumpah Pemuda dilaksanakan pun milik orang Tionghoa bernama Sie Kok Liong. Pada Kongres Sumpah Pemuda ini ada 700 orang hadir. Namun, hanya 85 yang berani tanda tangan, lima di antaranya adalah pemuda Tionghoa. Saat mempertahankan kemerdekaan ada satu nama yaitu Laksamana Muda John Lie yang belum lama diangkat sebagai pahlawan nasional
Kontribusi Indonesia Tionghoa pun terus berlanjut pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang merumuskan UUD'45 terdapat 4 orang Tionghoa yaitu Liem Koen Hian, Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, Oey Tjong Hauw, dan di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) terdapat 1 orang Tionghoa yaitu Drs.Yap Tjwan Bing. Liem Koen Hian yang meninggal dalam status sebagai warganegara asing, sesungguhnya ikut merancang UUD 1945. Lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh W.R. Supratman, pun pertama kali dipublikasikan oleh Koran Sin Po (Intisari Online, 21 Januari 2012).
Identitas Terbentuk Melalui Interaksi
Di masa reformasi ini,pertanyaan mengenai identitas menjadi relevan kembali. Bukan hanya bagi Indonesia Tionghoa saja tapi bagi seluruh putra dan putri Bangsa Indonesia. Pada generasi muda Indonesia yang hidup di zaman kebebasan informasi dan globalisasi, rasa ke-Indonesiaan bukanlah suatu hal yang dapat diperoleh secara otomatis. Diperlukan usaha terus menerus untuk merefleksikan dan memaknai apa arti menjadi Indonesia bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Diperlukan kesadaran bahwa identitas juga terbentuk melalui interaksi dengan orang lain, dengan kelompok lain, dengan masyarakat kolektif dari hari ke hari, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun kehidupan. Maka jika tokoh Psikologi Erik Erikson mengatakan bahwa pencarian identitas hanya terjadi di masa remaja (Identity VS Identity Confusion), sesungguhnya pertanyaan mengenai identitas pada orang-orang Tionghoa di Indonesia terjadi setiap hari di seluruh rentang hidupnya.
Cara mereka mengisi hidup dan mengkontribusikan diri di dalam kehidupan Indonesia mungkin salah satu cara menjawab sekaligus mencari identitas ke-Indonesiaan mereka. Sekalipun mereka belum sampai pada kesadaran ini, mungkin hidup di Indonesia hanyalah sekedar fase hidup yang harus dilalui saja. Seperti orang yang meminum air agar tak mengalami kehausan, namun tak sempat memaknai rasa dan hakikat air itu sendiri.
Tag: identitas, Indonesia Tionghoa
Terkait:
-
Seragam, Identitas Sosial
Senin, 8 Mar '10 14:02 -
Ketika Potensi itu "Menetas" di "Identitas"
Minggu, 20 Des '09 08:32
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Rizki: Bagus
Komentar:
Saya pun agak sulit untuk tidak bercanda dengan menjelekkan fisik teman saya tersebut, mungkin dia merasa jengkel saya bercandai dengan cara itu, Pendidikan SD, SMP dan SMA masih belum mampu mendidik siswanya agar tidak menghina sesama, padahal kita termasuk negara dengan penduduk yang sangat beragam.
Silahkan login untuk memberikan pendapat