Soal Kerja? Belajarlah dari Pengalamanku 0

Jumat, 13 Jan '12 02:03

Mataku mendadak berbinar, saat suara disebarang mengirimkan kabar manis. Paman menawarkan aku bekerja di salah satu Bank BUMN. Saat itu aku baru saja wisuda. Bekerja di bank sangat pas dengan jurusan tempat aku kuliah, yaitu akuntansi. Tanpa bertanya begana-begitu aku iyakan saja. Bukankah sudah lama aku menginginkan ini?

Padahal waktu itu aku bekerja disebuah tabloid lokal sebagai penulis rutin yang terbit setiap minggu. Memang dari pekerjaan itu tak banyak upah yang aku terima. Satu tulisan dihargai
75 ribu plus foto 25 ribu. Tapi setiap melihat buah tangan sendiri nangkring dihalaman-halaman, ada senyum di dalam hati.  Setiap edisi aku biasa menulis dua atau tiga judul. Terkadang kliping-kliping tabloid aku simpan rapi dalam laci meja belajar. Namun yang menjadi soal, aku merasa menjadi penulis lepas di tabloid lokal tak kunjung menjanjikan karir dan pendapatan.

Memang, kalau aku menghitung pendapatan dengan pengeluaran tepat sangat pribahasa 'besar pasak dari pada tiang' ku alamatkan untuk diri sendiri. Apalagi saat ini aku harus membiayai pendidikan adikku yang baru saja masuk kuliah. Ada dorongan lain yang memaksaku untuk meninggalkan profesi itu dan mencari suaka ke tempat yang menjanjikan. Dorongan itu semakin hari semakin kuat. Aku sendiri tak tahu, siapa yang menyuruhku begitu.

Selama dua pekan pikiranku terbelah. Bertahan atau pergi. Kalau bertahan berarti aku harus menerima kenyataan bahwa menjadi penulis di tabloid lokal takkan membuatku menjadi kaya dalam tanda kutip. Kalau memilih pergi aku harus mencari pelabuhan baru agar kapal layarku bisa merapat dengan benar dan berlayar kembali ke samudra lepas. Tahu apa yang aku rasa? Saat itu aku menjadi ragu dengan diri-sendiri, setiap tulisan yang aku hasilkan hilang ruhnya. Selalu saja ada yang kurang. Lantas aku menghakimi diri sendiri, bukan di sini tempatku. Aku pergi. Meski setengah hati tinggal di sana.

Menjadi pengangguran memang sangat menyiksa. Hampir tiga minggu pasca aku angkat koper dari sana, aku seperti kehilangan orientasi. Cita-cita semula kenapa harus pergi tak ubah fatamorgana. Mimpi yang memaksaku hijrah ku tinggalkan di sana. Hampir separuh harapan tak ku ikutsertakan. Jadilah aku berteman sepi. Cita dan mimpi semakin kabur.

Sebelum tawaran bekerja di bank. Aku mencari pekerjaan lain. Setiap hari ku pelototi Koran terbitan ibu kota. Tentu pada halaman yang memuat info lowongan kerja mataku berhenti.  Bermacam corak loker terdapat. Tapi hampir semua perusahaan yang mengiklankan lowongan membutuhkan tenaga kerja yang akan ditempatkan sebagai sales.  Namun hari itu aku merasa bersyukur. Sebuah perusahaan yang menamai dirinya go internasional, dan sedang membuka cabang di kotaku membutuhkan karyawan sebagai asisten manager.
Woi. Ini aku banget. Begitu pikiranku menyimpul.  Aku membayangkan bila aku diterima di sana. Aku akan menjadi asisten manager, satu-dua tahun kemudian akan menjadi manager. Aku rasa ini sebuah jenjang karir maha dahsyat yang akan aku alami.

Singkat kata, esoknya aku bersama dua teman selulusan mempersiapkan berkas. Semua sertifikat pendukung aku foto copy. Sampai-sampai seorang bapak-bapak di warung foto copy terkesima. Dia bilang begini "Belum pernah saya melihat sertifikat begini banyak. Kamu nak cocoknya kerja di pemerintahan." Aku tersenyum, dadaku membusung, meski begitu aku berusaha merendahkan diri. "Iya pak, sambil menunggu pekerjaan yang lebih mantap,".  Aku semakin yakin, berkas ini akan lolos seleksi.

Kami disuruh balik esok hari jam delapan kurang lima belas menit. Kami belum diberitahukan perusahaan apa gerangan. Kawan, dua orang lagi perempuan lulusan dengan nilai tertinggi di kampusku. Cumlode. Aku rasa dia sangat cocok jadi sekretaris di sebuah perusahaan besar go internsional itu.  Kami diwajibkan memakai baju putih celana/rok hitam.

Ramai juga yang mendaftar.  Hari pertama kami harus terjun lapangan. Begitu diberitahukan perusahaan dan posisi penempatan. Istana mimpiku mendadak roboh hancur berkeping. Lalu tsunami datang menyapu hingga puing pun tak tersisa. Tawaran posisi di koran hanya tipuan belaka. Kami ternyata dijadikan sales menjual alat-alat kompor gas. Upah yang akan kami terima, potongan dari jumlah yang berhasil selling.
Aku terdiam.  Pamit sebelum interview. Langkah terasa berat.  Aku mengumpat. Mimpi jadi asisten manager ku buang jauh-jauh. Aku menghibur diri. Bukan di sini tempatku. Memori lima tahun silam rewind. Alasan kenapa aku memilih akuntansi, aku ingin berada di bank.

Mendapat tawaran bekerja di perbankan busunglah dadaku. Setidaknya aku merasakan lain dengan detak jantung saat itu. ada rasa bahagia berloncat-loncat.  Seolah, masa depan semakin menjanjikan. Membayangkan setiap pagi aku pakai baju rapih, berdasi, bersepatu mengkilap dan akhir bulan tiga-empat juta meluncur manis ke dalam rekening.  Lantas pikirannku langsung menyusun kemana saja uang itu digunakan. Sebagian untuk biaya pendidikan adik, kemudian biaya hidup sendiri selebihnya masuk tabungan modal mahar nantinya.

Aku diterima setelah melewati tiga tahap ujian. Aku terkejut bukan kepalang saat pengumuman. Dua orang lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) satu universitas denganku juga lolos. Aku heran, ternyata lulusan kesehatan juga bisa berkarir di perbankan. Kalau begitu aku juga berharap bisa menjadi perawat di rumah sakit meski kuliah di akuntansi.

Oya. Di bank kami ditempatkan sebagai sales. Dari sales ke sales, hanya kelasnya yang berbeda.  Tugas kami mencari nasabah yang mau meminjam uang. Kami diultimatum meski dengan bahasa yang lembut. Setiap bulan wajib mendapatkan debitur. Tiga bulan kami tidak mencapai target, tamatlah riwayat. Ditendang.


Tiba-tiba aku menjadi pesimis. Bagaimana mungkin setiap bulan dapat mencairkan kredit dengan angka mencapai ratusan bahkan milyaran rupiah. Namun, aku hendak belajar dari pengalaman. Bukankah jalan ini telah ku pilih sendiri. Lantas bagaimana mungkin aku berjalan ke belakang dan mencari jalan yang lama.

Kunjungi Blog Zulkarnaini Masry


Tag: Pekerjaan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat