Kritik dan Peradaban 0

Kamis, 22 Des '11 11:08

Oleh Pratama Adi Prayoga
(pratama_adiprayoga@yahoo.com)

Apa makna kata ketika bobotnya hilang? Kata tidak lebih sebagai deretan huruf yang mengeluarkan bebunyian ketika dilafalkan. Kata yang telah kehilangan bobot adalah kata yang tidak lagi berisi jejak, kesaksian, pesan atau sesuatu yang mempunyai arti bagi kehidupan umat manusia. Oleh sebab itu, kata tidak lagi dapat menjadi penggerak jiwa, atau menjadi sarana komunikasi yang meninggikan kualitas manusia. Kata dapat mengalir deras, menjadi air bah kata-kata, namun tetap saja tidak memiliki dampak apa-apa, karena seluruh perlengkapan untuk mengolah dan memberi makna, telah mengalami kerusakan dan kelumpuhan.

Di bawah kekuasaan hegemonik, kata yang asli adalah jejak hidup sekaligus senjata mereka yang lemah dan dilemahkan. Konsep lapar sebagai sebuah contoh. Dihadapan yang berkelebihan, lapar adalah konsep yang menggambarkan keterlambatan menghadap meja makan, atau sekadar kisah tentang ketidakseimbangan dalam metabolisme tubuh. Bahkan tidak jarang, konsep lapar berisi kisah tentang tindakan sengaja untuk menunda atau membatasi asupan, sekadar untuk suatu ritual, atau sebagai metoda untuk mengatur lekuk tubuh. Sebaliknya, dihadapan yang miskin, lapar adalah kisah ketidakmampuan, kekurangan, ketidakadilan, penderitaan sebagai akibat dari hak yang dirampas.

Apa yang dikhawatirkan penguasa adalah ketika kata yang dibentuk oleh peristiwa ketidakadilan bertemu dengan majikannya, yakni mereka yang lemah dan dilemahkan. Apa yang dikhawatirkan adalah ketika kata tersebut akan dapat membangkitkan kesadaran: bahwa mereka terlalu sedikit menerima apa yang seharusnya mereka terima sebagai manusia. Kesadaran tersebut akan membimbing satu menjadi dua, dua menjadi tiga, dan seterusnya, sehingga jumlah menjadi dasar moral dan dasar politik, bagi sebuah perubahan. Oleh sebab itulah, kekuasaan yang mengabaikan perikemanusiaan, memiliki concern yang sangat kuat untuk menjauhkan kata dan realitas. Kata disorong ke sudut yang sunyi, atau dikomoditifikasi, sehingga berubah menjadi bebunyian belaka, yang dalam beberapa segi dapat menjadi sarana tontonan di atas panggung pertunjukan.

Dengan optik inilah kita mencoba memahami mengapa aksi bakar diri di depan istana negara menjadi pilihan dalam menyampaikan sikap. Mungkin kita bisa berdebat mengenai pilihan cara tersebut. Namun, jika kita mengerti jantung keprihatinan, maka kita akan segera menyadari bahwa aksi tersebut kemungkinan besar merupakan kritik yang mengarah kepada dua sasaran sekaligus: Pertama, kepada bebalitas kekuasaan, yang dipandangnya tetap tidak peduli dengan beragam kritik, dan tetap merasa telah menjalankan apa yang menjadi kewajibannya. Kedua, kepada kaum cerdik pandai dan golongan menengah, yang dipandang tidak kunjung tergerak sebagai akibat hidup dalam kolam pragmatisme. Yang kedua ini jauh lebih mendasar ketimbang yang pertama, karena yang dipersoalkan adalah kualitas kemanusiaan kita.
Persis pada yang kedua inilah kita merasa bahwa gerak waktu perlu berhenti beberapa jenak, untuk menghitung ulang arah, langkah dan posisi. Kita bisa mulai dengan pertanyaan yang diajukan di awal refleksi ini: apa makna ketika kata kehilangan maknanya. Aksi bakar diri merupakan cermin makin terbatasnya metoda dan makin miskinya substansi kritik. Tentu masalahnya bukan ketersediaan ruang. Arena tersedia, tapi dalam kenyataan kritik telah makin kehilangan daya koreksi dan atau daya ubahnya. Tidak heran jika kritik menjadi kelumrahan yang tidak berkaitan langsung dengan kemendesakan suatu perbaikan atau perubahan demi kemanusiaan, atau bahkan menjadi mata acara yang mendatangkan sponsor, karena daya hiburnya. Pengorbanan diri dalam konteks ini menjadi suatu pesan penting terhadap lumpuhnya kritik sebagai fondasi dari sebuah peradaban. Ada kesadaran bahwa peradaban tidak akan mencapai derajat tertinggi, ketika kritik kehilangan tempat dan kehilangan makna, serta kehilangan daya ubahnya. Tentu saja kritik keras yang penuh simbol dan kaya makna tersebut, hanya punya arti dihadapan manusia dan peradaban manusia.

 


Tag: Kritik, sondang, peradaban

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat