Memanen Tanpa Menanam 1
Selasa, 13 Des '11 12:25
Oleh Pratama Adi Prayoga.
(pratama_adiprayoga@yahoo.com)
Dari lintasan sejarah manusia yang kompleks, non-linear dan penuh makna, kita mendapati catatan rapi tentang usaha manusia menemukan jalan kemuliaan. Alam disingkap untuk mencari tahu hukum-hukum dari fakta-fakta, dan menjadikannya sarana sebagai untuk membentuk kepastian masa depan. Dengan ilmu, mata manusia menembus perut bumi, sehingga letak jebakan mineral dan bahan tambang lain, dapat diketahui dengan akurasi makin tinggi, untuk kemudian diangkut ke permukaan guna melayani gerak maju peradaban. Bukan hanya itu, tepi alam semesta disambangi, demi suatu gambar utuh kehidupan, dengan seluruh rahasianya yang agung.
Menyusuri alur tutur tersebut, kita akan sampai pada suatu tekad untuk membangun tata hidup baru yang mulia, suatu kehidupan yang punya masa depan, dan sekaligus makna yang dalam: oleh karena kita manusia. Di seberang rute itu, kita menemukan kejadian tanpa suratan: suatu gerak yang berkebalikan. Persis kisah tentang air laut yang mengalir ke sungai-sungai. Sang kala berbalik arah, yakni suatu tata hidup yang tidak mencerahkan, sebaliknya menebarkan virus yang mematikan. Hidup bersama, bukan tantangan untuk membangun tatanan yang menyelamatkan semua, tetapi siasat jahat yang menjegal, mematikan dengan cara mengambil milik yang lain, menjadikan yang berhak kehilangan hak asasinya.
Barangkali inilah fragmen yang akan menutup tahun 2011, dan mengawali tahun 2012. Dalam konteks keIndonesiaan, drama pembusukan, sebetulnya telah di mulai pada paruh abad XX, tatkala tata hidup yang dimaksud konstitusi digantikan dengan tata hidup yang memuliakan ukuran kebendaan. Awal abad XXI menjadi saksi ketika pembusukan menjadi-jadi. Jantung masalah pertama-tama tentu bukan pada perkara penggelapan uang negara dan pengerukan kekayaan negeri, tapi pada hilangnya tiga segi pokok fundamen hidup bersama, yakni: (1) ajaran tentang martabat hidup yang dibangun dari kemuliaan sikap dan tindakan; (2) ajaran tentang hidup bersama dan menemukan makna hidup dalam kebersamaan; dan (3) ajaran tentang kerja keras sebagai prasyarat hidup yang dewasa, berarti dan manusiawi.
Kita segera menemukan konfirmasi ketika datang kepada realitas. Pertama, kita menyaksikan dengan sangat jelas perburuan kekuasaan, yang tidak dimaksudkan untuk menjadi jalan pengabdian pada kehidupan bersama, sebaliknya untuk memenuhi nafsu rendah yang melawan kemanusiaan. Kedua, kita menyaksikan bagaimana mereka yang memegang jabatan publik, seperti telah dilucuti sifat-sifat keluhurannya, karena punya sejuta dalih untuk menemukan pembenaran atas tindakan yang cela dan melawan hukum. Ada kecenderungan dimana satu kebenaran hendak dipatahkan oleh dua atau lebih kesalahan, atau menjadikan dua tiga kesalahan sebagai pembenar tindakan yang salah. Ketiga, kita menyaksikan terjadinya adonan moralitas baru, dimana mereka yang berkelebihan mudah mendapatkan penghormatan, sedangkan mereka yang berjalan di atas nilai digiring ke sudut yang sunyi. Berpegang pada prinsip dan keluhuran, dipandang sebagai cela atau tidak lagi punya dasar pembenar dalam realitas kekinian.
Masyarakat dibawa masuk dalam lumpur hidup pragmatisme - makin bergerak, makin dalam tenggelam. Semua-mua seperti tengah merayakan instanisasi seluruh sendi kehidupan. Bahkan kitab-kitab yang mengajar cara untuk cepat sampai tanpa berjalan, menyerbu toko-toko buku, dan dengan cepat diborong habis, menggeser minggir kitab-kitab ajaran-ajaran kebajikan, Ilmu dan pengetahuan lain yang memuliakan hidup. Maka tidak heran jika PNS muda mampu melakukan akumulasi yang melampaui posisinya. Atau beroleh sertifikat sarjana dengan sedikit membuka buka. Dan jenis-jenis lain. Seluruh sel-sel otak masyarakat, seperti dipaksa menemukan teknologi yang paling mutakhir, yakni cara untuk mendapatkan manfaat tanpa harus bekerja, atau memanen tanpa harus menanam. Inilah etos yang menjadi nadi dari pembusukan peradaban, dan praksisnya akan mengantarkan bangsa kepada palung gelap sejarah. Kalau kita tidak ingin sampai kesana, jalan berbalik, harus kembali ditemukan jalan kemuliaan.
Tag: korupsi
Terkait:
-
Berbohong Demi Citra Kampus, Pantaskah...?
Selasa, 14 Jun '11 15:32 -
Pendidikan Moral dan Pemberantasan Korupsi
Senin, 26 Jul '10 09:50 -
Korupsi, Kesalahan Yang Terus Terulang.
Jumat, 15 Jan '10 00:28
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Defy Arbimapala: Perlu

Komentar:
Dari palung jiwa yang masih cerah, tulisan ini layak dijadikan referensi. Perfecto!
Silahkan login untuk memberikan pendapat