Pengalaman Masuk Ahmadiyah 0
Selasa, 29 Nov '11 17:10
Aku sangat bersyukur karena aku mendapat karunia Ilahi untuk menerima kebenaran melalui Jemaat Ahmadiyah. Namun, sepenggal kisah dalam mencari kebenaran ini tidak akan bisa aku lupakan dalam kehidupanku ini.
Aku dilahirkan hari Kamis, 29 Maret 1984 di Parit No. 18 B Kelurahan Tagaraja, Sungai Guntung, Kec. Kateman, Kab. Indragiri Hilir, Riau. Aku menamatkan Sekolah Dasar di tempat kelahiranku sendiri, kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah di Kempas Jaya, Tembilahan. Ketika naik kelas II Tsanawiyah, aku harus pindah sekolah ke SMP Al-Muslim, Tambun, Bekasi, karena harus mengikuti ayahku.
Ketika duduk di bangku SMP inilah aku mulai tertarik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pengajian di Radio DAKTA, Bekasi. Aku sedikit banyak mulai mengenal aktivis-aktivis Islam seperti Ust. Sulaeman Sachawerus, beliau memiliki ilmu keagamaan yang waktu itu aku anggap cukup luas dan saat itu beliau menjabat sebagai pemimpin Pasukan Jihad Tentara Ababil yang akan dikirim ke Afghanistan. Kemudian Ust. Mahyuddin Hadisuratno, beliau boleh dikatakan sebagai Indeks Alquran karena beliau banyak hafal ayat-ayat Alquran, yang apabila ditanyakan suatu permasalahan ditanyakan kepada beliau, selalu beliau jawab lengkap sampai dengan nomor-nomor ayat Alquran. Ada satu Ustadz lagi yang cukup dekat denganku, yaitu Ust. Habib Hasan Al-Mahdaly, beliau selain guru Hadis ketika mengajar di SMP Al-Muslim, beliau juga hampir dikenal oleh masyarakat Bekasi, karena beliau sering mengisi ceramah dan pengajian, baik di radio maupun di acara-acara Majelis Taklim. Ketiga Ustadz inilah yang mengisi acara "Anta Tas'al wa Nahnu Nujiib" di radio DAKTA setiap pagi dan sore hari.
Aku dan ayahku mulai mengenal Ahmadiyah melalui ketiga Ustadz ini ketika mereka mengisi pengajian-pengajian dan mereka pun dekat dengan tokoh anti Ahmadiyah, yaitu M. Amin Jamaluddin dari LPPI. Aku mendapatkan buku-buku dari LPPI yang menyatakan bahwa Ahmadiyah sesat dan menyesatkan, serta Ahmadiyah telah membajak Alquran.
Pada tahun 1998 pihak LPPI mengadakan seminar pertama di Mesjid Istiqlal, Jakarta. Seminar yang dihadiri berbagai tokoh agama Islam ini mengambil tema: "Membongkar Kesesatan Ajaran Ahmadiyah". Kebetulan waktu itu aku dan ayahku mengikuti seminar tersebut, termasuk ketiga Ustadz yang menjadi guru pengajian kami. Setelah mengikuti seminar tersebut, tertanamlah kebencian terhadap Ahmadiyah di hati kami, "Ahmadiyah adalah sesat karena memiliki Nabi palsu dari India, yaitu Mirza Ghulam Ahmad, Ahmadiyah memiliki kitab suci sendiri, yaitu Kitab Tadzkirah yang isinya adalah bajakan dari ayat-ayat Alquran dan wahyu-wahyu yang dikarang oleh sang Nabi Palsu tersebut". Ujar hatiku. Maka, sejak saat itulah aku bertekad untuk memerangi ajaran Ahmadiyah. Setiap kali aku bertemu dengan teman-teman di sekolah, di pengajian atau di acara-acara perkumpulan remaja Masjid, aku selalu menceritakan bahwa Ahmadiyah sesat dan menyesatkan dan harus dimusuhi.
Pada awal tahun 1999, dalam perjalanan naik bus menuju ke sekolah SMP Al-Muslim, Tambun, Bekasi, duduklah seorang bapak-bapak di sebelah kiri tempat aku duduk, umurnya kira-kira 40 tahun. Sambil berkenalan (aku sudah lupa namanya), bapak-bapak tersebut menceritakan kepadaku mengenai kronologi penyaliban Isa Al-Masih as. dan tentang penebusan dosa. Aku sangat tertarik dengan cerita bapak tersebut, tampaknya ia memiliki ilmu yang cukup mendalam. Selang beberapa menit kemudian, bapak-bapak tersebut menyodorkan sebuah buku dan memberikannya kepadaku.
Tatkala aku membaca judul buku tersebut, yaitu "Perjalanan Nabi Isa dari Palestina ke Kashmir" dan dibawahnya tertera tulisan Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Spontan saja hatiku berubah marah bercampur kaget dan mengatakan dengan nada tinggi kepada bapak-bapak tersebut: "Lho...ini kan buku Ahmadiyah yang mempunyai Nabi palsu itu ya?" Bapak tersebut terdiam dan heran. Aku kembali mengucapkan dengan kata-kata yang lebih tinggi: "Bapak harus waspada dengan ajaran ini, Ahmadiyah adalah ajaran sesat dan menyesatkan". Mendengar ucapanku tersebut, para penumpang mengalihkan perhatiannya ke arahku. Bapak-bapak tersebut tidak meladeni ucapanku dan langsung mengambil buku yang ada di tanganku, lalu turun dari bus, yang waktu itu kebetulan di pasar Tambun lalu lintas sedang macet.
Setelah lulus dari SMP Al-Muslim, aku melanjutkan sekolah ke SMU Yayasan Tarbiyah Islamiyah, Cisaat, Sukabumi. Setelah pindah ke Sukabumi, aku tidak lagi berminat untuk mengikuti acara-acara kegiatan keislaman seperti halnya ketika di Bekasi. Pada tahun 2000 ketika duduk di kelas II SMU, suatu hari ayahku membawa satu koper buku dan semuanya diletakkan di atas meja belajar-ku. Judul buku-buku tersebut antara lain Nabi Isa dari Palestina ke Kashmir, Almasih di Hindustan, Analisa Khataman Nabiyyin, Bahtera Nuh, Jawaban Ahmadiyah terhadap tuduhan dari pihak LPPI, Filsafat Ajaran Islam dan masih banyak lagi buku-buku lainnya.
Begitu melihat judul-judul buku tersebut, aku teringat dengan kejadian di bus 2 tahun yang lalu, mendadak hati dan pikiranku menjadi tidak tenang. Yang terlintas dalam pikiranku waktu itu adalah dari mana ayahku mendapatkan buku-buku tersebut? Apakah ayahku sudah terpengaruh oleh Ahmadiyah? Tidak mungkin ayahku yang tadinya sangat menentang Ahmadiyah lalu bisa bergabung kedalamnya. Dalam pikiranku, mungkin ini akibat sihir yang digunakan oleh Ahmadiyah. Sebenarnya aku ingin menanyakan hal tersebut kepada ayahku, namun tidak ada keberanian dalam hatiku. Aku tidak ingin perbedaan paham dengan ayahku membuat hubungan menjadi tidak baik. Selama kurang lebih dua minggu perasaanku tidak nyaman, pikiranku bingung dan segala kegiatan membuatku patah semangat. Pekerjaanku hanya mengurung diri di kamar. Dalam masa dua minggu tersebut aku habiskan dengan membaca buku-buku baru yang telah bertumpuk di atas meja. Terkadang aku membandingkan antara buku dari pihak Ahmadiyah dengan buku yang dikarang oleh pihak LPPI, yaitu "Ahmadiyah Membajak Alquran". Yang jelas waktu itu keimananku menjadi goyah. Yang selalu menjadi tanda tanya dalam benakku adalah mungkinkah ada lagi Nabi setelah Muhammad saw.
Pada hari Jum'at berikutnya, ayahku mengajak untuk shalat Jum'at di Masjid Sukabumi, aku pun tidak merasa curiga dan mau mengikuti beliau. Namun setelah sampai di kota Sukabumi, ketika turun dari mobil angkot aku berpikir: Kok...tidak menuju Masjid Raya Sukabumi, tetapi malah menuju ke Jalan Sriwedari (Cabang Jemaat Sukabumi). Setelah sampai di suatu bangunan dua tingkat, aku melihat orang-orang sudah berkumpul untuk melaksanakan shalat Jum'at. Aku sangat terkejut ketika melihat di dalam Masjid ada kalender yang bertuliskan JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA. Pikiranku waktu itu bertambah bingung dan bercampur sedikit emosi. Namun, aku berusaha untuk tenang dengan emosiku tersebut. Aku kembali heran, ternyata orang-orang Ahmadiyah melaksanakan shalat juga, bahkan yang menjadi Mu'azzin adalah ayahku sendiri. Perasaanku mulai tenang ketika mendengar khutbah Jum'at yang isinya ada pujian terhadap Rasulullah saw, hatiku termenung, ternyata orang Ahmadiyah masih beriman kepada Nabi Muhammad saw.
Usai shalat Jum'at aku bertanya kepada anggota Jemaat Ahmadiyah Sukabumi, yaitu Bapak Jarkasih Ahmad mengenai ajaran yang dianut Ahmadiyah. Beliau menjawab semua pertanyaanku dengan dalil-dalil Alquran dan Hadits yang sangat memuaskan sekali dan bisa diterima oleh akal pikiranku. Setelah tanya jawab tersebut aku pulang ke rumah dan mulai kembali membaca buku-buku yang ada di atas mejaku.
Salah satu buku yang membuat keimananku tergugah yaitu buku Filsafat Ajaran Islam, karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi dan Almasih Mau'ud as. Ketika membaca buku tersebut aku benar-benar asyik dibuatnya. Dan pada akhirnya hatiku benar-benar kuat kembali dan aku yakin bahwa pengarang buku tersebut adalah orang suci yang benar-benar datang dari Allah SWT, tidak mungkin isi buku yang sedemikian bagusnya dikarang oleh seorang pendusta. Pada saat itu juga, yaitu 21 Juli 2000 aku mengisi formulir bai'at yang telah disediakan ayahku diatas meja. Puji syukur ke Hadhirat Allah SWT yang telah membimbingku ke arah pintu Hidayah-Nya.
Mulai saat itu tertanam kecintaan dan tekad untuk mengabdikan diriku kepada Jemaat Ilahi ini. Akhirnya, pada Juli 2002 aku mendaftarkan diri ke Jamiah Ahmadiyah Indonesia untuk mendapatkan pendidikan calon Mubalig yang akan menyebarkan Islam ke seluruh pelosok dunia. Keinginanku saat ini adalah semoga Allah senantiasa meridhai setiap langkah yang aku abdikan kepada Jemaat-Nya. Amin Yaa Rabbal ‘Alamiin.
Tag: pengalaman
Terkait:
-
Aku, Persma, dan Tulisanku
Rabu, 31 Agu '11 19:17 -
Bacaan Liburan: Tentang Saya dan Jurnalistik... (2)
Senin, 29 Agu '11 23:33 -
Bacaan Liburan: Tentang Saya dan Jurnalistik... (1)
Senin, 29 Agu '11 23:24
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat