Perspektif Pers Kampus 4

Minggu, 20 Nov '11 01:24

Pada sebuah pagi di ujung tangga bercat hijau yang menyerupai huruf ‘S’, papan tangganya berjumlah delapan seingat saya, ukurannya hanya cukup untuk satu tubuh. Kecil dan bagi sebagian teman saya terlihat curam. Buat saya tangga itu menarik, ada kesan kesabaran disana. Kenapa? Sebab butuh tenaga tambahan untuk sampai keujungnya. Ke kamar kost saya.

Pagi disana adalah pagi yang puitis, suara cicit burung saling menyahut. Bau basah embun yang menempel di pohon rambutan tercium. Aroma batang kecoklatan seperti kenzo daun yang dijual per mili dari teman saya dikelas.

Saya tidak menghitung seberapa sering saya terbangun pada pagi dengan cicit burung di sangkar Pak RT. Empat tahun lalu saya masih mahasiswa dan merasa begitu sibuk, setiap harinya hampir tidur menjelang subuh. Apa yang saya lakukan? Terkadang mengerjakan makalah, itupun kalau sudah deadline. Keseringan saya main game, bounce dan keseringan kalah.

Dan pagi itu, saya melamun separuh ngantuk. “Apa perananya pers mahasiswa di kampus?” pertanyaan tengil tiba-tiba muncul. Sejak bergabung dengan LPM di kampus saya jadi agak sok sibuk, sok penting-pengen tahu segalam macam soal ini-itu. “Laaaah, jurusan saya kan jurnalistik”, seolah tak harus mencari alasan.

Pagi yang masih berkabut tipis dibalik dedaunan kebun tebu dan singkong di sebelah kosan berlantai dua di daerah Manisi, Cibiru. Saya galau, mengotak-ngatik ingatan yang karatan digerus suasana hati.

Bosan. Bosan dengan keadaan kampus yang harus saya beritakan ceritanya begitu-begitu melulu: BEM yang curang di pemilu, Rektorat yang absen dari mahasiswa, SPP yang naik setiap semesternya, WC yang enggak terawat, Poliklinik yang enggak ada dokter, minim pasien dan obat murah. Bosan.

Kemudian hening. Pagi larut di sapu mentari hingga mentereng. Pagi itu dan pagi setelahnya saya mulai mencari, kemana pers mahasiswa ini meski berjalan?.

Kelak, saya ketahui entah di hari keberapa, barangkali sudah tak lagi pagi. Bahwa jadi anggota Pers Mahasiswa itu enggak cuman sekedar menginformsikan soal kampus. Jadi wartawan itu enggak cuma butuh menguasai teknik 5W 1H (apa aja yaa???) tapi juga ini: perspektif.

Kenapa perspektif?

Perspektif atau cara pandang yang perlu dimiliki oleh seorang wartawan. Kenapa? Biar ketika menuliskan berita ia tidak menuliskannya mentah-mentah. Gagasannya harus muncul, membuat berita jangan memakai kepercayaan pribadi. Menulis berita sebaiknya menggunakan nurani dan tentu saja pandangan yang objektif pada suatu hal yang terbaik.

Semisal menulis tentang Gay.

Media, entah kenapa begitu berselera untuk memberitakan ihwal Gay dengan berita-berita yang sarkasme. Gay itu dosa, Gay itu penyakit dan begitu banyak media yang memberitakan bahwa mereka yang memiliki seksualitas selain hetero adalah kesalahan besar.

Tapi, media tidak hanya semata-mata menerbitkan berita jika tak ada yang menuliskannya. Disini, wartawan memiliki peranan amat besar. Wartawan yang gagasannya sebatas memberi label salah dan benar akan lebih suka menuliskan tentang LGBTQ dari pandangan yang satir. Pandangan kebanyakan orang yang lebih suka memojokan, menstigma negatif. Padahal, bukan tidak mungkin untuk menulis bagaimana eksistensi kaum LGBTQ sebagai minoritas. Bagaimana mereka yang memiliki orientasi seksualitas yang berbeda dari dirinya (wartawan:red) mampu bertahan hidup ditengah-tengah hujatan dari dalam dan di luar dirinya.

Pemahaman mengenai beragam hal seharusnya dimiliki oleh seorang wartawan, baik itu wartawan di kalangan mahasiswa dan lebih bagus lagi di media massa pada umumnya.

Saya tidak bermaksud mengajari dalam tulisan ini, bagi saya tulisan ini adalah catatan pribadi yang ingin dibagi.

Setahun ini, saya telah mengikuti beberapa pelatihan pers mahasiswa di berbagai kota. Pelatihan ini mengambil konsep pelatihan perspektif, bukan lagi pelatihan jurnalistik. Jika pelatihan kebanyakan adalah pelatihan mencari, membuat dan menulis berita. Dalam pelatihan ini, ditambah dengan bagaimana menuliskan ide dalam sebuah berita. Ide yang berperspektif  keberagaman, dimana peserta diajak lebih dalam untuk mendalami bermacam gagasan-gagasan yang bisa dituangkan dalam sebuah berita.  

Pelatihan ini seluruhnya adalah serangkaian diskusi antara peserta dari kalangan pers mahasiswa mengenai beragam isu, diantaranya: media dan agama, media dan perempuan, media dan keberagaman, media dan HAM. Selanjutnya adalah praktek dalam memberitakan sebuah berita dengan gagasan-gagasan keberagaman yang berperspektif.   

Bersambung


Tag: agama, media, keberagaman, gay

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Oo Zaki 1 suka | 0
#nunggusambungan he
Miliyya 1 suka | 0
bersambung ....
(semoga tidak lama)
cahyadi 0 0
hmm perspektif ...
lalu?
cahyadi 0 0
hmm perspektif ...
lalu?

Silahkan login untuk memberikan pendapat