Pasar Apung dan Rumah Panggung Kalimantan Selatan 0

Kamis, 3 Nov '11 11:59

Awan gelap memberi tanda bahwa sore ini akan turun hujan. Kita dengan cepat berangkat ke Bandara Juanda, Surabaya. Sekitar pukul lima sore kita berangkat dari rumah saudara Sekretaris Jendral (Sekjen) Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Jember, Rizki. Kurang lebih 30 menit untuk sampai ke bandara.
Tak lama kemudian, air jatuh dari langit saat dalam perjalanan menuju bandara. Kian lama hujan tambah deras sekali, hingga kita sampai di bandara hujan bertambah deras saja. Setelah berpamitan dengan saudaranya Rizki, kita langsung bernaung di ruang tunggu bandara. Kami serombongan Persma Jember berangkat tujuh orang. Ketujuh delegasi yang berangkat dalam acara Dies Natalis PPMI IX di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan adalah Silvi dan Affrin delegasi LPM Plantarum, Musa dari LPM Ecpose, Umi dari UKPKM Tegalboto dan Sekjen PPMI Kota Jember dari LPM Alpha Universitas Jember, sedang dari LPM Aktualita Universitas Muhammadiyah Jember hanya aku dan Karin.
Pesawat lepas landas pukul 18.45 WIB, tapi sampai 18.00 Musa belum datang juga. Padahal sebentar lagi kita harus siap-siap untuk masuk. Hingga kurang lebih 30 menit pemberangkatan, akhir dia datang juga. Dengan segara kita langsung masuk untuk check in. Tapi sayang, dua orang harus berangkat besok, karena kita telat 20 menit untuk check in. Seharusnya 45 menit sebelum pemberangkatan harus check in. singkat cerita, Musa dan Rizki harus tinggal semalam di Surabaya.
Tanpa komando lagi, kita langsung berlari menuju pintu masuk pesawat. Melewati lorong-lorong beralas karpet berwarna merah, kita berlari dengan cepat seperti maling dikejar polisi saja. Dengan nafas ngos-ngosan kita masuk dalam tubuh pesawat. Kita berlima duduk di kursi paling depan. Karin dan Silvi di sebelah kanan, aku bersama Affrin, dan Umi di kursi kiri.
Setelah pengarahan keselamatan selesai diperagakan oleh seorang pramugari, namanya Dinda Ayu. Baling-baling pesawat mulai berputar, dan pesawat mulai berjalan. Laju pesawat kian cepat hingga akhirnya terbang. Cahaya lampu kota Surabaya terlihat terang dan ramai, membentuk sebuah pemandangan yang lain pada malam hari di kota Surabaya di atas pesawat. Rasanya seperti mimpi melihat kota Surabaya dengan cahaya lampu yang begitu banyak.
Tak terasa sudah 50 menit di atas pesawat, pulau Kalimantan Selatan mulai terlihat dengan cahaya lampunya. Tak seperti Surabaya dengan lampu yang begitu ramai dan padat, Kalsel begitu sepi dengan cahaya lampunya malam itu. Tak lama kemudian pesawat mulai turun, dan berhenti. Kita berlima bergegas mengambil barang di atas tempat barang yang berada di samping kiri dan kanan atas kursi penumpang. Setelah itu, kita langsung turun, menghirup udara malam bandara Syamsudin Noor. Ini adalah perjalanan terjauh dalam acara PPMI yang aku ikuti, Kalimantan Selatan tepatnya di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin tempat yang kutuju.
Malam itu pukul 20.35 WITA, 22 April 2011 kita sampai di Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan. Aku berjalan menuju pintu keluar bersama yang lain. Afrin dengan cepat berjalan mendahului kita. Ternyata saudaranya menanti di pintu keluar. Dia langsung disambut dengan jabat tangan, dan kita pun berjabat tangan sebagai tanda pengenalan diri. Kita dijemput dengan mobil menuju Desa Telaga Biru, Banjarmasin. Kurang lebih satu jam untuk sampai di rumah saudaranya Affrin. Kita disambut dengan hangat oleh keluarga itu. Setelah berbincang-bincang dengan keluarga itu, kita langsung makan dan setelah itu kita semua istirahat.
Hampir semua rumah di Banjarmasin adalah rumah panggung, termasuk rumah keluarga afrin. Rumah yang kita tempati tidak terlalu besar. Ada satu kamar tidur, satu ruang dapur dan tak lupa ruang tamu dengan televisi dan tempat duduk menghiasinya.
"Dulunya Banjarmasin adalah rawa, jadi orang-orang membuat rumah diatas sungai. Tinggi rumah tergantung dari dalamnya rawa," tutur istri dari keluarga itu. Dan hampir semua kayu yang digunakan adalah kayu hitam. Orang disana menyebutnya Kayu Ulin, karena kayunya berwarna hitam. Kayu ini sangat kuat dalam waktu berpuluh-puluh tahun. Apabila terkena air, kayu ini akan semakin bertambah kuat. Tapi kayu jenis ini semakin lama, bertambah sulit untuk diperoleh. Karena pertumbuhannya yang sangat lama dan ketersediaannya yang semakin terbatas. Bayangkan, tiga tahun pertumbuhan baru mencapai ketinggian 30 centimeter. Butuh berpuluh-puluh tahun untuk bisa ditebang.
Malam begitu cepat berganti pagi. Sinar matahari menyinari wajahku. Aku terbangun, dan teman-teman sudah bangun semua. Hanya aku yang baru bangun. Ada rasa tidak enak dibenakku. aku duduk untuk mengumpulkan nyawaku yang sudah berkelana entah kemana. Aku lekas ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Sudah tiga hari aku belum mandi.
Terlihat ikan berukuran jempol kaki orang dewasa di bawah rumah panggung. Memang hampir semua rumah panggung di Banjarmasin, terdapat Ikan Sepat. Jadi orang-orang banjar tinggal menyediakan jaring untuk menangkap ikan sepat. Tidak bersusah payah untuk melaut untuk mencari ikan. Sarapan pagi sudah siap, pagi ini memang istimewa. Betapa tidak, baru bangun tidur saja sudah disediakan makanan. Begitu enaknya, rasanya seperti raja. Kita dan keluarga itu makan bersama. Kita berbincang-bincang tentang asal usul daerah kita masing-masing. Termasuk keluarga itu.
Di Kalimantan Selatan, terdapat dua suku asli yaitu suku Banjar dan Dayak. Keluarga Afrin termasuk suku Banjar. Kalaupun ada yang bilang bahwa orang asli pulau Kalimantan dulunya berasal dari Dayak. Keluarga Afrin bukanlah dari suku Dayak, melainkan dari suku Banjar. Dari perbincangan dengan keluarga Afrin, suku Dayak di Kalimantan sudah bekerja ke ladang. Sudah mengenal teknologi, seperti handphone dan sudah membuka diri pada hal-hal yang baru.
Terbayang di pikiranku kalau orang dayak itu masih aktif melakukan perburuan hewan, tidak berpakaian dan hidupnya berpindah-pindah. Tapi setelah mendengar penjelasan dari keluarga Afrin, banyak perubahan yang mengubah kebiasaan masyarakat Dayak. Terutama di Kalsel. Setelah makan pagi selesai, langsung saja saya cuci piring di belakang rumah. Tak lama kemudian teman-teman ikut ke belakang untuk mencuci piring.
Pembicaraan berlangsung kembali setelah acara cuci piring selesai. Aku meneruskan pertanyaanku. Tak terlalu politis pertanyaannya. Hanya bertanya soal budaya yang khas Banjarmasin. aku masih ingat iklan station televisi RCTI yang menggambarkan suasana Pasar Apung di Banjarmasin yang begitu eksotis. Memang tidak terlalu jauh dari tempat keluarga afrin, kurang lebih 20 menit untuk sampai Pasar Apung naik Taxi. Jangan salah, sebutan Taxi yang dimaksud adalah angkutan umum. Orang banjar menyebutnya Taxi.
Pasar Apung yang terletak di anak sungai Barito yaitu sungai Alalak dan Muara Kuin. Disinilah aktivitas penjualan hasil bumi dan laut diperjualbelikan dengan perahu kecil . Afrin menyebut perahu kecil itu dengan sebutan ‘Klotok'. Sejenis perahu kecil berkapasitas tak lebih dari 10 orang. Pasar ini mulai melakukan aktivitasnya mulai pukul 03.00 pagi hingga pukul 07.00.
Aktivitas di Pasar Apung merupakan hasil dari budaya sungai Kalimantan Selatan pada masa silam. Terbentuk secara simbolis dari percakapan-percakapan di atas perahu. Pasar apung merupakan pasar yang menarik para wisatawan untuk mengunjunginya. Tak luput, aku juga tertarik untuk pergi kesana.
Pasar Apung yang legendaris ini merupakan pasar yang sudah ada sejak tahun 1520 pada masa Kerajaan Banjar berdiri. Habibi kawan dari LPM Kindai Universitas Lambung Mangkurat bilang bahwa Pasar Apung ini mulanya ada di anak sungai Muara Kuin dan bertambah ke sungai Alalak karena gelombang sungai Barito yang besar. Tapi sekarang Pasar Terapung kian lama kian sepi. Banyak masyarakat sudah berbelanja ke pasar darat, dengan pertimbangan ongkos perahu yang mahal dan tempatnya juga jauh. Penduduk sudah banyak berbelanja ke pasar darat.


Tag: liputan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat