Islam Indonesia Moderat? 0
Minggu, 30 Okt '11 06:05
Kini cermati dan renungkanlah, klaim moderasi Islam yang kerap diusung bangsa kita. Betapa absurdnya klaim tersebut. Tidak adanya relevansi antara yang digembor-gemborkan dan yang diejawantahkan.
Seorang diplomat Indonesia menjual citra Indonesia dalam dunia diplomasi. Menurutnya, Indonesia memiliki tiga citra unggulan yang dijual kepada dunia. Pertama, Indonesia adalah negara demokrasi dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Indonesia masuk tiga besar, selain India dan Amerika. Kedua, mayoritas Muslim Indonesia berpandangan moderat, tidak dikuasai kalangan ekstremis. Distingsi moderat-ekstremis ini dianggap penting untuk membedakan Indonesia dengan kawasan dunia Islam lainnya. Ketiga, selain demokratis dan moderat, Indonesia juga negeri yang pluralis dari segi apapun.
Itulah tiga citra Indonesia yang menjadi modal dasar Indonesia dalam berdiplomasi dengan dunia luar. Dan tampaknya, bukan hanya kalangan diplomat yang menjajakan ketiga citra itu. Dua wakil organisasi Islam terbesar di Indonesia yang dianggap moderat, pun tak ketinggalan dalam promosi citra Islam moderat ini ke dunia luar. Dalam rangka ini, beberapa waktu lalu Muhammadiyah menyelenggarakan World Peace Forum II, sementara Nahdlatul Ulama (NU) juga menggelar International Conference of Islamic Scholars (ICIS).
Kita pantas bangga dengan citra Islam Indonesia yang menjadi keuntungan strategis dalam berdiplomasi dengan dunia luar itu. Namun ada hal yang terabaikan oleh banyak pihak, tidak terkecuali organisasi-organisasi seperti Muhammadiyah dan NU adalah: Pertama, citra tidak selamanya sesuai dengan fakta dan realita. Kedua, citra tidak datang atau terberi dengan sendirinya. Ia merupakan bentukan dari pergulatan sejarah panjang Islam di Indonesia. Ketiga, sejalan dengan dua poin sebelumnya, citra dapat berubah sewaktu-waktu, terutama kalau kita tidak waspada dan senantiasa mendekatkannya dengan realita.
Wajah di Lapangan
Moderasi Islam Indonesia tampak absurd ketika kita melihat fakta lapangan. Konflik yang terjadi di tengah umat Islam bangsa kita menunjukkan bahwa citra yang dijual adalah citra palsu.
Kasus intimidasi Ahmadiyah baik secara fisik maupun sistemik dari beberapa kelompok adalah bukti adanya kesenjangan antara citra dan fakta tentang klaim tersebut. seperti penyerangan terhadap kaum Ahmadiyah yang terjadi beberapa waktu lalu di Cikeusik, Temanggung dan beberapa tempat lainnya.
Banyaknya gerakan sempalan atas nama Islam yang berupaya untuk menerapkan syari'at Islam sebagai landasan bangsa, seperti NII atau Darul Islam dan kelompok gerakan tekstualis-ekstrem lainnya. Pelbagai cara digunakannya, mulai dari cara doktrinasi negatif tentang pancasila dan NKRI pada masyarakat hingga aksi anarkis secara langsung di lapangan, seperti penyerangan terhadap golongan yang dianggapnya kafir dan perusakan fasilitas umum dan fasilitas pribadi sekalipun.
Alih-alih konflik antar pemeluk agama dengan dalih kebenaran masih terus eksis hingga saat ini. Tidak hanya di dunia nyata berupa aksi fisik, dunia maya pun menjadi gelanggang konflik emosi antar pemeluk keyakinan. Komentar-komentar tak beradab pada sebuah posting pelecehan agama tersebar di sebuah situs internet.
Sebuah Keabsurdan
Moderasi Islam adalah klaim yang digemborkan bangsa kita kepada dunia. Islam Indonesia adalah Islam moderat. Artinya, bukan islam yang ektrem ataupun islam yang lepas kendali (liberal). Sikap umat muslim Indonesia pun sangat jauh dari kungkungan hegemoni Islam garis keras (ekstrem).
Indonesia memiliki tiga citra unggulan yang dijual (dijajakan) kepada dunia. Pertama, Indonesia adalah negara demokrasi dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Indonesia masuk tiga besar, selain India dan Amerika. Kedua, mayoritas Muslim Indonesia berpandangan moderat, tidak dikuasai kalangan ekstremis. Distingsi moderat-ekstremis ini dianggap penting untuk membedakan Indonesia dengan kawasan dunia Islam lainnya. Ketiga, selain demokratis dan moderat, Indonesia juga negeri yang pluralis dari segi apapun.
Kini cermati dan renungkanlah, klaim moderasi Islam yang kerap diusung bangsa kita. Betapa absurdnya klaim tersebut. Tidak adanya relevansi antara yang digembor-gemborkan dan yang diejawantahkan.
Hal itu karena ketidakcermatan si penjual atau penjaja citra pada tiga prinsip pencitraan. Pertama, citra tidak selamanya sesuai dengan fakta dan realita. Kedua, citra tidak datang atau terberi dengan sendirinya. Ia merupakan bentukan dari pergulatan sejarah panjang Islam di Indonesia. Ketiga, sejalan dengan dua poin sebelumnya, citra dapat berubah sewaktu-waktu, terutama kalau kita tidak waspada dan senantiasa mendekatkannya dengan realita.
Maka dari itu, kiranya kita semua berkepentingan untuk merawat, mengawetkan, dan mendekatkan citra Indonesia yang demokratis, moderat, dan pluralis itu dengan realita. Jika tidak, bukan hanya orang lain yang tertipu karena membeli citra yang salah, namun kita pun akan terkena getah-getahnya.
Adang Saputra (Ucup Sunda)
Tag: pemerintah, masyarakat umum
Terkait:
-
Indonesia: Negara Yang Bukan-Bukan
Minggu, 30 Okt '11 06:31 -
Ancaman Fundamentalisme Ganda
Jumat, 21 Okt '11 12:02 -
Seharusnya bagaimana?
Jumat, 5 Feb '10 22:11
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Defy Arbimapala: Penting
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat