Krisis Kritis 1
Jumat, 28 Okt '11 18:10
Belum lama ini, saya mendengar kabar bahwa ada mahasiswi UIN Jakarta yang dicutikan mendadak oleh pihak fakultasnya sendiri. Alasannya cukup sederhana, karena si mahasiswi melakukan komplen atas sistem akademik -yang terkadang tidak bisa diakses, terkadang juga masih tetap susah diakses di hari kemudiannya- di sebuah jejaring sosial. Saya sendiri cukup kaget ketika mendengarnya, kok bisa ya mahasiswi itu dicutikan mendadak? Padahal dia hanya mengungkapkan kekesalannya berupa kritik atas kinerja sistem yang memang patut di'kritik'. Kok bisa?
Kisah di atas hanya sebagai contoh kecil saja mengenai krisis yang tengah terjadi di kampus kita ini. Kenapa saya menyebutnya sebagai sebuah krisis? Karena memang dalam kurun dua tahun belakangan ini berbagai persoalan silih ganti menerpa kampus. Dari mulai kekisruhan dalam pelaksanaan pemira yang telah berlalu, tidak jelasnya sistem lembaga kemahasiswaan yang sedang dan akan diterapkan, sampai pada persoalan pelaksanaan propesa atau sekarang menjadi OAK yang bisa dibilang "lucu", bahkan "aneh", dan masih banyak lagi yang tak mungkin saya sebut satu persatu di dalam tulisan yang terbatas ini.
Berangkat dari sana, terlihat bahwa dewasa ini yang namanya "kritik" itu sangat mahal, karena begitu langka dan begitu besar ongkos yang akan dikeluarkan nantinya. Bila kita membuka mata, hati dan pikiran kita dengan seksama, maka kita akan melihat banyak persoalan yang perlu dikritisi pada kampus ini. Dalam hal ini tentu mahasiswalah yang harus berperan aktif dalam melakukan kritik kepada pemegang kebijakan kampusnya. Tentunya dengan mengkritisi sesuatu dengan objektif dan tiada maksud untuk memperkeruh keadaan, tapi demi mencapai suatu yang baik pada akhirnya.
Apa lacur sebuah penerapan kebijakan yang katakanlah masih rabun, lalu kita diam tiada kritik? Saya kira sebuah hal yang lumrah ketika mahasiswa mengkritisi para elit kampusnya. Tak ada yang tabu dalam hal ini, apa lagi untuk ditakuti. Jangan sampai mahasiswa menjadi tiada daya, mengikuti arahan yang diberikan tanpa ada satu dua kritikan. Kesannya mahasiswa itu seperti kerbau saja, manut pada si pemegang pecut. Apa mau disebut kerbau? Saya kira tentu tidak ingin.
Sebagai mahasiswa yang dituntut mengatur diri dalam segala hal, selayaknya kondisi ini kita jadikan momen untuk mencoba melakukan pembenahan terhadap kesemerawutan yang terjadi selama ini. Selain itu perlu juga untuk turut aktif dalam menyuarakan berbagai aspirasi, serta aktif mengawasi dan mengkritisi secara masif kebijakan-kebijakan yang diterapkan dalam kampus.
Kita perlu tegaskan di sini, bahwa sebuah universitas merupakan bagian dari masyarakat. Sehingga kebijakan-kebijakan sampai persoalan penentuan masa depan universitas tidak hanya berasal dari pihak rektor, lembaga-lembaga pemerintah, dan akademisi. Tetapi juga para mahasiswa, bila perlu sejumlah organisasi masyarakat sipil turut serta. Dari hal itu akan terlihat sebuah upaya demokratisasi kampus, sehingga segala kebijakan yang diputuskan diambil secara demokratis. Tentunya ini demi penentuan masa depan sebuah universitas yang baik.
Tentu bukanlah suatu yang mudah demi menciptakan kondisi yang kondusif dan tertata dengan baik, karena tidak bisa dikesampingkan akan adanya sebuah konflik. Kritik sendiri menunjukkan adanya gejala ke arah sana, tapi tidak semua konflik itu buruk. Tidak terlalu salah juga kita untuk menjalankan sebuah peran, karena kehidupan kampus menuntut kita untuk bergerak lebih dari sekarang.
Mengenai kritik sendiri, saya teringat dengan kutipan dari Soe Hok Gie (1942-1969), pemuda yang sangat kritis pada masanya. Semenjak dari bangku sekolah dasar hingga bangku kuliah sangat aktif dalam mengkritisi segala hal yang menurutnya patut untuk dikritisi. Menurutnya, "Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau." Selamat mengkritik.
*Kolom di Tabloid Institut edisi XV
Tag: kampus, uin jakarta, tabloid institut
Terkait:
-
Kolaborasi Ramaikan Persma.com Yuk!
Jumat, 19 Agu '11 15:37 -
Belajar = Proses, Bukan Urusan Ponten
Selasa, 9 Agu '11 13:22 -
Dulu, Ketika Sempat Jadi Jurnalis Kampus...
Selasa, 9 Agu '11 02:13
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Defy Arbimapala: Perlu
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat