Mencerdaskan Kehidupan Bangsa 1
Jumat, 23 Sep '11 14:16
Hari Jumat (19/8) kemarin, gue memasuki bab baru dalam sejarah hidup gue: Mencerdaskan kehidupan bangsa. Heheh.
Mencerdaskan kehidupan bangsa dalam hal ini artinya sudah jelas, MENGAJAR. Ya, hari ini adalah hari pertama gue jadi guru dan entah sampai kapan akan berakhir. Jadi, ini adalah pengalaman baru buat gue.
Well, sebenernya gak cukup baru.
Dulu waktu masih kuliah, gue sering diminta jadi pemateri di beberapa instansi yang bergerak di jalur jurnalistik. Kebanyakan, gue nyampein materi tentang fotografi dan layout. Selain itu, gue pernah jadi ‘mentor' waktu organisasi gue UKMP, lebih seringnya LPM Siar, bikin acara diklat.
Tapi tentu saja, jadi pemateri itu sangat berbeda dengan menjadi guru. Setidaknya buat gue. Gue punya penyakit dimana membuat orang bakal males jadi guru. Penyakit yang luar biasa dahsyat yang bahkan bisa bikin pengidapnya mengalami gagal jantung: Demam!
Demam dan Iwak Koi
Bukan, yang gue bicarain ini bukan demam sejenis flu atau demam yang berdarah-darah, tapi demam panggung.
Demam panggung, atau kadang disebut stage fright, adalah kekhawatiran, ketakutan, atau fobia yang berhubungan dengan penampilan di depan penonton atau kamera (wikipedia). Seorang yang mengalami demam panggung akan mendapat tremor (inggrisnya: ndredeg), diare, dan mulut kering. Syukurlah, gue cuma ngalami tremor dan mulut kering.
Berdasarkan pengalaman gue, biasanya demam panggung akan diikuti oleh pesimisme alias minder, gak gaul alias kuper, introvert alias pendiem, dan rasa takut berlebihan alias pengecut. Dengan kata lain, pengidap demam panggung itu gak jauh beda ama ikan koi. Ikan koi yang pendiam itu kalo ditangkap pasti bakal berontak pengen melepaskan diri. Ya, ikan koi adalah pengecut yang tidak menyadari betapa besarnya potensi dalam dirinya. Seandainya ikan Koi bisa ngaca dan tahu betapa sexy tubuhnya, ia gak akan melawan saat ditangkap karena menyadari bahwa ia akan hidup bagaikan raja dan manusia adalah budaknya.
Bandingkan dengan ikan Mujaer dan ikan Bandeng.
Berbeda dengan ikan Koi, ikan Mujaer dan ikan Bandeng melakukan perlawanan saat ditangkap karena mereka tahu benar betapa besar potensi dirinya. Why you ask? It's obvious, isn't it? Ketika Mujaer dan Bandeng telah dewasa, otaknya yang sangat kecil itu akan bekerja sangat keras sehingga menyadari bahwa mereka akan berakhir di piring seseorang setelah berenang di minyak panas. That's why!
Well, gue udah menyadari bahwa gue ini adalah ikan koi yang tak akan pernah bisa maju sebagai pemimpin karena penyakit demam aneh ini. In fact, gue udah nyadari ini sejak masa SMA.
The Bravest Loser!
Waktu kelas 1 SMA (kalo sekarang namanya kelas X), guru bahasa Indonesia (Bando) gue, Bu Ni'Amah, sering bikin diskusi di kelas. Diskusi yang dibahas simple, hanya masalah SPOK pada sebuah kalimat. Terkadang, diskusi juga terjadi pada waktu pelajaran sejarah yang mana antar siswa saling ‘membantai' mengenai sejarah bangsa Indonesia (sekarang gue baru nyadar bahwa ini bodoh sekali. Kita saling berargumen dan sok tahu, padahal kita belum lahir pada waktu sejarah itu terjadi).
Di diskusi tersebut, temen sebangku gue, Nicko, adalah seorang yang cukup pinter dan cermat. Ia suka sekali menyanggah pendapat siswa lain walau ia tahu bahwa siswa itu memberi alasan yang benar. Gak cukup disitu, di pelajaran bando, si Nicko ini bakal menyanggah jika siswa lain salah menulis walau hanya satu huruf saja.
Bersama Nicko selama 1 caturwulan (waktu itu masih pakai sistem cawu, bukan semester), bikin gue jadi orang yang kritis. Di cawu-cawu berikutnya, sama seperti Nicko, gue suka sekali menyanggah hal yang sangat kecil, bikin masalah yang gak penting, dan mengemukakan pendapat yang sebenernya tanpa dikatakan sekalipun orang lain sudah tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya, kita berdua dijuluki ‘the destroyer' karena suka sekali mencari kesalahan dan menjatuhkan mental para pemberi materi.
Karena seringnya kita menyanggah, kita yakin sekali bakal banyak yang ingin balas dendam ama kita. Dari situ, kita belajar sebaik mungkin biar bener semua karena kita gak pengen ada orang lain yang menyanggah kerjaan kita. Guess what, we did it! Kita berdua jadi orang yang kritis sekaligus paling pinter di kelas.
Well, gue bohong.
Waktu kelas 1 cawu 1, gue termasuk siswa yang bodoh di banyak mata pelajaran eksak, seperti fisika, kimia, biologi, matematika, agama, dll. Jadi, gue menutupi kekurangan gue di pelajaran enteng sejenis bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Perancis, seni, sejarah, dan atau sejenisnya yang mana kebanyakan berisi diskusi.
Lucunya, gue yang suka menyanggah dan berpendapat ini punya demam panggung. Walhasil, kalo gue yang mengemukakan pendapat, semua siswa lain dan guru pasti ketawa. Mengapa? Karena:
Gue ngomongnya sambil gemetaran. Dan apapun yang gue sentuh akan ikut bergetar.
Ritual yang gue lakukan sebelum maju ke depan kelas lumayan unik: gue keluar kelas, teriak menyemangati diri di depan kelas, loncat-loncat, dan melakukan pemanasan layaknya pemanasan olahraga.
Ketika ambil raport, nyokap diceritain ama Bu Ni'amah, wali kelas gue tentang hal ini. Pada saat sampai di rumah, gue diceritain ama nyokap bahwa Bu Ni'amah berkata (sedikit banyak) seperti ini:
"Bu, dua tahun ini saya lihat putra ibu ini sebenarnya pintar, tapi dia ini penakut. Dia ini selalu ketakutan kalau disuruh maju ke depan kelas. Tapi kalau diamati, putra ibu ini punya keinginan kuat untuk berubah dan mengatasi ketakutannya. Menurut saya, dia jauh lebih berani daripada teman-temannya yang lain. Dengan didikan yang tepat, putra ibu ini kelak bisa jadi orang pintar yang bisa memimpin orang lain."
Yeah! Gue adalah penakut yang paling berani.
The rise of Iwak Koi!!!
Singkat kata, gue yang kuper (waktu SMA) ini gabung ama UKM Penulis dimana salah satu misi gue adalah mengatasi rasa minder dan demam panggung. Syukurlah, di UKMP juga ada diskusi sastra (dimana gue gak bisa apa-apa) dan ladang pembantaian para pengurus yang dinamakan Sidang Umum a.k.a sidum yang dilaksanakan tiap tahun.
Di diskusi sastra, well, you know, gue cuman bisa angguk-angguk doang layaknya sapi mabok saat mereka membicarakan tentang puisi-puisi karya Sutarji Calzoum Bahri, Sapardi Djoko Damono, Zawawi Imron, Putut E.A., A.S. Laksana, Ria A.S., S.A. Wibowo, dll. Tapi ketika sidum, hell yeah, ini adalah momen tepat untuk menguji nyali. Kau tahu, nyali ngomong di muka umum maksudnya.
Wes, intine, di UKMP itu gue belajar bersosialisasi. Disana, gue udah lumayan gak minder, gak kuper, gak pendiem, dan kini gue telah lulus dari universitas kepengecutan. Iwak Koi Strikes Back!
Iwak Koi Strikes Back!
Berkat jaringan lumayan gak kuat dan kemampuan komunikasi yang not bad enough yang gue pelajari di berbagai organisasi, sebelum lulus gue kerja di sebuah media cetak sebagai fotografer. Gak lama kemudian, setelah lulus, gue hijrah ke Ibu Kota buat cari kerjaan laen dan diterima di perusahaan pasar berjangka Bursa Efek Indonesia sebagai Personal Finance Consultant.
Setelah beberapa hari kerja disana, gue bosen dan plop, tiba-tiba gue udah ada di Malang lagi. Soon enough, gue disuruh gantiin kakak sepupu gue ngajar atap kota Malang: Batu City
Living The Dream
Living the dream, atau hidup menjalani mimpi, adalah keinginan tiap manusia. Benar begitu?
Of course, mimpi disini semuanya hal-hal yang positif. Punya hidup bergelimang harta, istri setia nan rupawan, pekerjaan yang diinginkan dan sangat menghasilkan, mobil mewah berbagai merek terparkir rapi di teras rumah, rumah mahal di banyak negara, punya wanita simpanan seorang presenter acara memasak, dompet tebal berisi ATM berbagai bank. Siapa yang tidak ingin menjalani hidup yang bagaikan mimpi itu?
Tentu saja, mimpi cuma mimpi. Layaknya roulette, menjalani mimpi ala raja hanya akan dialami oleh orang bernasib baik. Ada yang bilang itu adalah keputusan sepihak Tuhan yang kita sebut takdir.
Ada banyak tanggapan menarik mengenai takdir. Bob Sadino dalam bukunya berkata, "harapan adalah milik beberapa orang saja, jadi buat apa berharap," Avril Lavign berteriak "WHAT THE HELL!," orang jawa kuno -sambil memegang tasbih- selalu mengajarkan untuk ikhlas dengan kalimat "terimo ing pandum." Dan yang paling heboh belakangan ini adalah, gue jadi trensetter di kalangan anak muda atas respon gue terhadap takdir bernama "whatever laaahhh."
Karena takdir, kentut itu baunya gak enak, Susilo Bambang Yudhoyono jadi presiden, upil berserakan di hidung seseorang, Sri Mulyani jadi sekjen IMF, M. Nur jadi menteri pendidikan di Indonesia, perekonomian Indonesia semakin membaik, dan karena takdir pula sekarang penghasilan dan kesejahteraan guru meningkat pesat; begitu pula dengan tingkat perceraian. Dengan meningkatnya kesejahteraan guru karena program sertifikasi, maka kini banyak sekali WNI yang ingin jadi guru.
Tapi tidak buat gue.
Buat gue, jadi PNS dan guru adalah hal yang tidak mungkin, tidak akan, dan tidak boleh terjadi, bahkan dalam mimpi terburuk sekalipun. Gue pernah bermimpi buruk menjadi tentara revolusioner yang sedang berperang melawan Godzilla sebelum gue berubah jadi Ultramen dan menyelamatkan Surabaya dari ingus si Godzilla tadi. But still, menjadi seorang guru adalah mimpi buruk terburuk yang pernah gue alami.
Living The Nightmare
Kebalikan dari mimpi indah, siapa yang ingin bermimpi buruk? Saking mengerikannya sebuah mimpi, ada doa khusus untuk seseorang yang mengalami mimpi buruk:
"Allahumma inni a'uudzu bika min ‘amalisy syaithaani wa sayyiaatil ahlaami" which means "Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syetan dan keburukan mimpi."
Sayangnya ketika mimpi buruk menjadi nyata, seperti misalnya ketika loe bercermin, gak ada doa yang sesuai. Sebenernya ada sih, tapi harus disesuaikan dengan konteks yang bersangkutan.
Nah, dalam kasus gue, menjadi seorang guru adalah mimpi buruk yang jadi nyata. Kejadian ini sama bombastisnya seperti saat wartawan LPM Siar mengetahui bahwa seorang artis telah hamil 11 bulan padahal ia baru menikah 1 bulan yang lalu, atau seheboh ketika negara tetangga ngembat Ambalat dan reog dari tanah Ponorogo.
Kenapa gue segitu najisnya menjadi seorang pendidik, well, sudah jelas karena gue punya fobia panggung. Sampai saat gue menulis ini, gue masih bertanya-tanya, dari semua kemungkinan, kenapa harus guru? Kenapa? Kenapa??
Romance Dawn
Suatu sore di hari Sabtu yang cerah, nyokap yang (kayaknya) waktu itu baru saja pulang nyekar makam eyang di Ponorogo, tiba-tiba telpon gue.
"Le, kamu mau tah jadi guru? Di Batu, nggantiin mas Rinta jadi guru seni rupa."
"HAHH??"
"Wes, gapopo, jadio guru dulu aja ben kamu gak nganggur dirumah." Beliau gak tau kalo sebelum beliau nelpon itu gue lagi ngitung modal buat bikin usaha.
"HEEEEEHHH??? Mulai kapan kerjanya?"
"Hari Selasa besok."
Blaaaaaaaarrrr...!!!! Sia-sia sudah gue bikin reng-rengan usaha.
Singkat kata, syukurlah, tenggat 3 hari menjadi 3 minggu dan gue baru ngajar hari Jumat kemarin. Disinilah sejarah tercipta.
Preparation For The Greatest Battle Ever
Kira-kira seminggu sebelum acara mengajar dimulai, gue disuruh menghadap pemilik sekolah atau pemilik yayasan (bukan kepala sekolah). Setelah menghadap pemilik yayasan, gue menuju lokasi sekolah.
Disana, gue bertemu seorang cewe yang memperkenalkan dirinya bernama Utari. Dari wajahnya, gue yakin umurnya gak jauh beda ama gue. Yang gue gak tahu, ternyata dia ini guru sekolah sekaligus sebagai waka kurikulum. Yang bikin gue kaget lagi, dia manggil gue dengan sebutan ‘PAK.' Gue pikir ini ngeledek, ternyata eh ternyata, emang semua guru disana diwajibkan memanggil dengan sebutan pak-bu.
Bu Utari menjelaskan secara singkat tentang agenda sekolah dan lainnya. Tapi pokok permasalahan utama adalah gue disuruh bikin Rencana Program Pembelajaran (RPP) beserta silabus selama 1 tahun. Gila. Gue orang murni, bukan pendidikan. Orang pendidikan aja bikin RPP butuh 2 minggu, gue yang notabene orang murni cuman punya 1 minggu. Ini cobaan berat!
Akhirnya, selama 1 minggu itu gue mati-matian belajar tentang pendidikan, cari materi pembelajaran, belajar metode pembelajaran, bikin silabus, bikin RPP, bikin materi untuk pertemuan pertama, dll. Gue harus ke warnet bolak balik hanya untuk mencari semua itu.
Setelah seminggu penuh berjuang tanpa henti (sebenernya pake berhenti juga sihh..), akhirnya minggu menegangkan dimulai.
Great Teacher Kikyo
Jamannya Onizuka jadi guru sudah usai! Sekarang saatnya gue membuat sejarah baru dalam hidup gue yang tertatih ini. Setelah darah dan doa berceceran, rahmat Ramadhan jatoh tepat di kepala gue. Hari Kamis malam (18/8), gue dapet ilham setelah mendengar ceramah ustad waktu habis salat Traweh dan diberi pencerahan dan doa agar dapat melalui semua dengan baik. Esoknya, gue siap menjalani hari-hari sebagai guru.
Oke, gue bohong lagi. Gue belum siap jadi guru.
Ketika dulu gue jadi pemateri, entah mengapa tekanannya gak seberat ketika menyandang status sebagai guru. Dulu, gue bisa nyampeikan materi dengan nyantai dan tanpa beban. Tapi menjadi seorang guru butuh nyali lebih. Kadang gue berpikir, "apa latihan gue di UKMP dulu itu gagal? Ataukah memang gue yang gak punya jiwa pendidik?"
Tegang. Jalan terakhir yang bisa gue pikirkan untuk memotivasi diri adalah, "gue ini pemateri, bukan guru! Gue ini pemateri, bukan guru!"
Setelah salat Jumat, gue langsung ganti baju. Dengan rambut ala Lee Min Ho, gue pakai hem coklat bergaris abu-abu, dasi perak, celana hitem, pantofel hitem, dan jaket kulit gue yang bertuliskan Billabong. Hari itu gue berangkat ke sekolah 1 jam lebih awal. Bukan karena tidak ingin terlambat, tapi karena salah lihat jam. Gue baru mulai ngajar jam 14.45, tapi datang 1 jam lebih awal itu lumayan tepat. Gue bisa nyiapin hati dan mental sebelum berperang, salah satunya dengan membaca Alquran.
Mungkin karena melihat gue begitu tegang dan grogi, Bu Utari berkata, "tenang aja, Pak. Kelas yang ini pendiem kok. Kalo yang atas itu emang rame, tapi anaknya nurut-nurut semua. Dibikin nyantai aja wesz."
Well, sedikit banyak, gue jadi lebih tenang karena ada kata ‘pendiem' dan ‘nurut.' Gue berpikir bahwa kalo mereka pendiem dan nurut, gue bakal nyuruh mereka memperkenalkan diri sendiri ampek bel pulang tiba. Jahat.
Semua Baik-Baik Saja
Bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Dengan membawa laptop dan chargernya, gue berjalan ke kelas dengan berusaha untuk lempeng dan cuek seperti biasa, berharap agar informasi dari Bu Utari tentang ‘pendiam' adalah benar adanya. Begitu masuk kelas X-A, gue disuguhi keramaian yang luar biasa. Ada yang masih nulis di papan, ada yang lagi bayar utang, ada yang ngitung duit, ada yang ngaca, dll.
Dalam perjalanan gue dari pintu ke meja yang jauhnya gak lebih dari 6 meter, gue dapet celetukan dari seorang murid cowok. "Pak, bapak orang korea tah?" gue cuman bisa noleh dan berucap, "HAH???" belum berhenti ngomong, murid cewe di barisan belakang teriak, "PAK, BAPAK SUKA JAPANESE STYLE YA?" gue cuman mangap (Gue langsung terbayang kesan pertama mereka kalo gue pakai baju dalang, mungkin mereka bakal bilang kalo gw suka OVJ). Lalu murid cowok yang tadi langsung nambahin, "pak, kenalan dulu pak! Kenalan dulu pak!"
Gue grogi abis. Pengen banget rasanya gue ke luar kelas lalu teriak dan loncat-loncat kayak kebiasaan gue pas SMA dulu. Tapi itu akan sangat sangat memalukan.
Begitu nyampek meja, gue naruh leptop gue, dan cewek di barisan ke 2 dari belakang teriak "PAK, NAMANYA SIAPA? KENALAN DULU DONK?"
Gue tambah grogi. Tremor gue mencapai level separah ketika jaman SMA. Gue nge-blank, gak tahu harus ngapain. Akhirnya gue sok sibuk dengan cari kabel proyektor. Gak taunya, para murid makin menjadi. Mereka minta untuk gue segera memperkenalkan diri. Gue menyerah. Begitu memperkenalkan diri, eh, ada yang teriak, "PAK NOMER HAPENYA BERAPA?" dan "PAK, PUNYA FESBUK??" Gue curiga darimana bu Utari bisa bilang bahwa mereka ini pendiem padahal ramenya menggila. Kalo ramenya kelas ini dibandingin ama neraka, ya jelas aja di bilang mereka pendiem.
Setelah memperkenalkan diri dan mengabsen mereka satu-persatu, gue nyoba ngebetulin proyektor yang masih belum bisa nyala. Waktu nyalain proyektor, tangan gue masih gemetaran dengan hebat, walhasil, yang harusnya dipencet sekali udah nyala, gue jadi mencetnya berkali-kali. Biar gak ketauan kalo grogi, gue pencet-pencet aja tombol lainnya sambil sok gak paham tentang proyektor.
Gue makin sebel karena si proyektor gak mau konek ama leptop gue. Akhirnya gue minta tolong orang TU buat ngebantu gue ampek 2 kali. Parah.
And guess what, pelajaran dimulai.
Semua baik-baik saja kecuali tremor di tubuh gue. Walaupun gue pendiam, banyak yang bilang kalo gue ini gokil. That is why, maybe, acara pelajaran di kelas itu seasik waktu gue jadi pemateri. Semua baik-baik saja sampai si siswa cowok yang di awal tadi kembali nyeletuk, "Pak, bapak mirip Joshua." Semua tertawa dan semua baik-baik saja. Semua baik-baik saja.
AAAAAAAAAARRRGGGHH!!!!
And This Is How it Goes
Hari itu, setelah lelah bekerja selama 80 menit, gue pulang. Bukan ke kosan gue di Malang, tapi di rumah saudara gue, Bupuh Tari.
Setelah satu sesi curhat singkat, Bupuh Tari, yang notabene adalah pensiunan guru, mengatakan satu hal yang saat itu sangat mendalam buat gue. Biar orang non jawa bisa ngerti, bakal langsung gue translate ke Bahasa Indonesia:
"Jadi guru itu pahalanya besar, Nak.. Guru itu pasti dapet jaminan surga Allah.." Gue langsung teringat ada hadist riwayat yang mengatakan "pahala yang tidak akan terputus amalannya walau orang yang bersangkutan sudah meninggal itu ada tiga: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh." Hmm... Siapa yang gak mau dapet pahala? Siapa yang gak pengen masuk surga?
Beliau juga menginformasikan bahwa menjadi seorang guru itu enak, karena hari liburnya lebih banyak daripada PNS lainnya. Hahaha. Tambah satu lagi alasan untuk gue mau jadi guru.
Besides, gue paham benar kalo gak semua orang bisa ngedapetin apa yang dia inginkan. Allah bekerja dengan caranya. Jika kita meminta sesuatu kepada-Nya, Ia akan memberikan apa yang kita inginkan. Jika Ia tak mengabulkan apa yang kita minta, Ia akan memberikan apa yang kita butuhkan. Jika Allah tak jua memberikan apa yang kita minta tetapi malah memberikan cobaan, berarti Ia sedang menghapuskan dosa kita. Allah kan Maha Adil terhadap umatnya..
Well, kebahagiaan itu bukan tentang pemenuhan kebutuhan dan memuaskan keinginan, tetapi kebahagiaan yang hakiki adalah mengenai rasa syukur atas apa yang telah kita miliki.
NB:
May Allah Bless Us All
"Allaahumma inni a'uudzu bika min zawaali ni'matika wa min tahawwuli aafiyatika wa min fuj'ati ni'matika, wa min jamii'i sakhatika," which means, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya nikmat-Mu (yang Engkau berikan padaku) dan dari perubahan afiat-Mu, dari pembalasan-Mu yang datang mendadak serta dari segala kemurkaan-Mu"
Batu, Sabtu 20 Agustus 2011. 10.03 WIB
Tag: guru
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
cakyoh: Bagus
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat