Aku, Persma, dan Tulisanku 4

Rabu, 31 Agu '11 19:17

Gila adalah kata yang terlintas di pikiranku ketika teringat perjalananku di Persma. Aku bukan orang yang kritis. Aku hanya seorang remaja biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa saja. Persma menuntutku untuk kritis di segala hal. Bisakah aku membuat perubahan itu? Ya, aku bisa dan perubahan itu juga karena Persma. Persma tak hanya menuntutku untuk menjadi seseorang yang kritis, namun juga menuntunku untuk menuju ke sana. Sebuah pengalaman yang berharga!

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, sekitar 2 tahun lalu, aku mendatangi stan Persma di Expo UKM kampusku untuk mendaftar dengan kemauan sendiri. Kemudian, aku mengikuti diklat, melakukan wawancara, menulis berita, menjadi panitia kegiatan yang diadakan Persma dan sekarang aku menulis sebuah artikel untuk situs Persma.com. Oh, kalau dulu tidak mungkin aku melakukannya karena dulu aku hanya peduli dengan nilai-nilaiku. Memikirkannya saja belum tentu.

Alasan utamaku bergabung di Persma adalah karena aku ingin punya pengalaman di jurnalistik, tapi aku tak mau menekuni bidang ini di pendidikan formalku. Bahkan, bekerja di dunia jurnalistik bukanlah prioritas utamaku. Aku terlanjur suka dengan ilmu pengetahuan alam dan bidang pilihanku saat ini adalah teknologi pangan. Jauh dari hingar bingar jurnalistik.

Yang ku pikirkan ketika itu adalah dengan bergabung di Persma dan kuliah di jurusan Teknologi Pangan, aku mempunyai keahlian di dua bidang. Dengan demikian, aku tidak begitu khawatir akan kesulitan mendapatkan pekerjaan kelak. Untuk melamar pekerjaan di jurnalistik, umumnya bisa dari semua jurusan. Jadi, kedua-duanya benar-benar bisa diandalkan.

Perubahan yang aku rasakan sejak bergabung di Persma, tak sekedar menjadi orang yang lebih kritis. Sekarang, aku merasa lebih percaya diri menunjukkan karakterku, menunjukkan kepada orang banyak tentang siapa diriku melalui karya. Selain itu, Persma juga mengajarkanku untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitar. Inilah yang ku peroleh dari Persma.

Seiring dengan berjalannya waktu, manfaat yang ku rasakan tak hanya sekedar rasa aman dalam mendapatkan pekerjaan. Pengalaman menulis berita di Persma membuatku tidak begitu kesulitan dalam menulis apapun termasuk menulis laporan praktikum dan makalah yang menjadi makanan sehari-hariku di perkuliahan. Tak sedikit teman-temanku yang kesulitan dalam menulis karena kendala pemilihan kata atau tak tahu harus menulis apa sehingga tulisannya tak begitu banyak. Aku pun berharap, ini akan membantuku dalam mengerjakan skripsi nanti. He he he

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya jurnalistik masih berhubungan dengan Teknologi Pangan. Bisa saja seorang lulusan Teknologi Pangan bekerja di jurnalistik yang fokus di bidang teknologi pangan, misalnya menulis jurnal penelitian atau artikel dan sejenisnya. Setidaknya tulisan lulusan teknologi pangan yang berpengalaman di jurnalistik akan lebih baik daripada yang tidak berpengalaman di jurnalistik.

Ya, itu hanya salah satunya. Seharusnya teknologi pangan juga bisa diganti dengan berbagai bidang lainnya yang menarik untuk didokumentasikan melalui sebuah tulisan. Bagi seseorang yang tak terlalu percaya diri bercerita seperti aku, berbagi melalui tulisan adalah kesempatan yang berharga. Tulisan bisa mempengaruhi banyak orang yang membacanya termasuk meyakinkan dosen memberikan nilai yang baik untuk laporan praktikumku.

Aku tidak tahu apakah tulisan ini berarti untuk orang lain, namun tulisan ini sangat berarti bagiku. Tulisan ini telah membangkitkan rasa percaya diriku bahwa aku bisa membuat sebuah tulisan. Terima kasih persma.com, mau memberikan ruang untuk tulisan ini.

 


Tag: Persma, pengalaman

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

bangaip 0 0
keren! gimana kalau mulai merintis sebagai citizen journalist yang melaporkan berbagai hal yg berhubungan dengan teknologi pangan, pasti asik tuh! dan teknologi pangan itu isu seksi loh sekarang hehehe
tna 0 0
Iyaa.. memang skrng teknologi pangan sedang booming.. mulai bnyk orng yg memperhatikan kesehatan dgn memperhatikan makanan yg mereka makan..
Wah, ide bagus itu. Kalau ada pengalaman menarik ttg teknologi pangan, boleh kan dishare d sini? hehe
Kyo 0 0
kamu benar sekali...
aku dulu anak persma, dan kuliahq dulu adalah Desain Komunikasi Visual.
jadi anak persma itu gak sekedar dapat ilmu, tapi juga punya banyak koneksi. aq dulu gak pengen kerja di bidang jurnalistik, tapi ketika lulus, aq langsung direkrut oleh sebuah media jurnalistik di kota malang. tes yang aku jalani untuk mendapat pekerjaan itu hanya 1: tes wawancara. itupun gak lebih dari 3 menit, sedangkan yang lain diwawancarai hingga 10 menit.

dan sekarang, aku direkrut oleh mantan kampusku di bagian humas yang mana sedikit banyak membutuhkan dasar2 seorang jurnalis. disana, aku menjadi layouter, fotografer, sekaligus penulis dan seorang tim editor. bahkan hanya berselang 1 hari aq kerja disana, oleh atasanku, aq direkrut menjadi asisten dosen jurnalistik.

yang lebih keren, aku yang pengidap demam panggung, kini harus menjadi guru dan asdos sekaligus. semua karena persma. Persma memberiku banyak hal hingga aku menjadi aku yang sekarang.

good luck Tna,
semoga persma memberi banyak hal untukmu lebih dari sekedar membantu pengerjaan script-shit (tapi emang benar sekali, semakin sering kamu menulis, skill mu itu akan sangat ngefek di script-shit)
cakyoh 0 0
horee akhirnya ada yg mau nulis lebih mendalam tentang technologi pangan..

Silahkan login untuk memberikan pendapat