Berbagi cerita 0

Senin, 22 Agu '11 04:41

Edisi I

Setelah cukup lama clingak-clinguk blog akhirnya saya bertemu kembali dengan blog yang satu ini. Sudah di up-date, senang juga membaca-baca tulisannya. Dan, saya jadi kepingin ikut juga nihhh meramaikan ruang mlompong ini. Kali ini, saya kepengen ngucapin dulu terima kasih banyak sama insomnia saya. Berkat ketidakinginan untuk tidur cepet yang bisa saya lakukan adalah jalan-jalan diinternet. Hee...

Karena ini edisi pertama, saya kepengen ini menjadi tulisan perkenalan yang romantis. Yahhh, biar terasa akrab dan bersahabat. Membaca blog ini seperti menaiki mesin ruang waktu keempat tahu yang lalu, dulu. Belum lama banget juga sihh, tapi cukuplah untuk menjadi kenangan yang paling berkesan selama periode hidup ini.

Nampaknya, kita punya pengalaman yang sama: pernah eksis-narsis di Persma sewaktu kuliah. Dulu, saya juga sama. Kuliah di Bandung, saya aktif di LPM SUAKA (Suara Kampus). Ada enam semester saya khatamkan di LPM ketimbang di jurusan, terus terang belajar di kelas terasa membosankan, enggak keren, jenuh dan enggak sangat menantang. Tapi, hal itu enggak membuat saya frustasi. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di LPM, kedengarannya keren. Itu saja,

Alih-alih menghindari pencitraan mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang), saya memilih LPM sebagai tempat 'pulang'. Termotivasi dari jurusan kuliah yang saya ambil waktu itu, kebetulan jurnalistik. Jadi, enggak dosa kalau saya aktif di LPM ketimbang organisasi lainnya.

Jadi jurnalis kampus, berasa jadi jagoan. Berasa bisa tahu banyak hal, yang semakin banyak tahu soal-soal yang saya ketahui kemudian dikampus adalah soal kebobrokan. Soal dana mahasiswa yang enggak jelas dialokasikan kemana, permasalahan pembukaan fakultas baru yang enggak ada kelasnya, tentang poliklinik yang enggak memberikan pelayanan prima. Setelah LPM memberitakan ini, ada peringatan dari PR3. Semester berikutnya kami dilarang menarik dana penjualan produk penerbitan langsung dari mahasiswa dengan alasan dana yang LPM tarik adalah pungli  (pungutan liar). Padahal, kami melaporkan neraca keuangan dan sebelum penarikan dana sudah ada pembicaraan hingga tingkat rektorat. 

Mahasiswa dan segala permasalahannya, saya sempat mencicipi cukup waktu dan menyaksikan banyak fakta bagaimana gerakan politik mahasiswa yang berkembang di kampus. Jujur saja, secara pribadi saya tidak suka politik. Dan, dalam tataran mahasiswapun politik tetap terlihat licik.

Semisal ketika pemilihan BEM, akan terlihat seperti apa buasnya para mahasiswa dan kehausan kekuasaan meracuni mereka. Saya jadi serem sendiri, kalau ditataran mahasiswa sudah begitu apalagi yang benernya-di Indonesia sana. Ohhh tidak....

Peranan Pers Mahasiswa

Seperti yang sudah digariskan dalam garis demokrasi perpolitikan kampus, posisi LPM adalah lembaga keempat setelah BEM, MPM dan DPM. Lalu, berubah menjadi UKMK (Unit Kegiatan Mahasiswa Khusus) setelah perubahan menjadi DEMA. Posisi LPM dengan istilah UKMK buat saya jadi tidak menarik, tidak spesial. Karena hal ini tidak membuat kesan kritis melainkan seperti kerajinan.

Kebetulan, saya kuliah disalah satu Uninersitas yang berbasis Agama. Buat saya ini adalah hal sulit, dimana ada penekanan kalau jurnalis yang diusung adalah jurnalis Islami. Saya menolak itu dan loncat-loncat dari keharusan membudayakan wacana pemikiran yang berbasis Agama. Tapi, saya sedikit belajar. Bukan belajar bagaimana beragama atau soal Agama, enggak. Saya hanya menulis sedikit ihwal wacana Agama. Dan saya tahu, itu jauh dari sempurna. Terbit juga sukur karena sudah enggak ada lagi yang bisa nulis.

Akhirnya, saya menyadari sesuatu bahwa menjadi jurnalis tidak hanya saja cukup dengan menulis. Tapi juga ini: isi dan perspektif.


Tag: wacana, agama, cerita, suaka

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat