Social Entrepreneur untuk Indonesia 0
Minggu, 21 Agu '11 04:07
Sudah bukan masanya lagi menyesuaikan diri dengan keinginan dunia, melainkan menyesuaikan dunia dengan keinginan diri.
Sudah terlalu lama atau memang dari awal didirikannya, media yang mudah diakses dan tersebar luas di seluruh pojok wilayah nusantara lebih menyukai menyampaikan kabar buruk dan kritik, dibandingkan memancing ide baru dan menginspirasi masyarakat. Informasi perkembangan dunia hanya akan menjadi konsumsi sebagian orang saja. Padahal, ditengah perkembangan agenda dunia yang semakin pesat, inspirasi menjadi hal penting yang perlu diciptakan, bukan ditunggu.
Tak banyak yang menyadari atau bahkan tak peduli, dunia sedang menjajaki awal dari perubahan besar yang kuat dan menyeluruh. Perubahan yang akan mempengaruhi politik, budaya, pendidikan, terlebih ekonomi dunia. Indonesia, dengan segala keterbatasan akses informasi, hanya mendapat potongan kabar. Kisah tentang satu generasi dengan relevansi pemikiran mengenai penciptaan nilai, pandangan baru, model bisnis, serta gaya kepemimpinan berkeputusan mainstream. Satu generasi yang siap membangun Indonesia, bahkan dunia.
"Entrepreneurship" atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai "kewirausahaan" telah menjadi wacana besar yang dibicarakan banyak pihak. Perbincangan tersebut, sejauh ini telah bersinggungan dengan banyak bidang lain, seperti sosial, budaya, seni, dan teknologi. Dalam pandangan dunia, sebutan wirausaha tak hanya mengarah pada pelaku usaha yang bersifat ekonomi, melainkan seseorang yang dapat melihat tantangan sebagai peluang dan memperjuangan penciptaan nilai multidimensi dalam setiap bentuk usaha mereka.
Kita bisa melihat kompleksitas tantangan yang menjadi wajah Indonesia saat ini. Kemiskinan, layanan buruk bagi masyarakat tidak mampu, perusakan lingkungan, dan segala hal lain bagi sebagian orang adalah peluang untuk berteriak dan menyalahkan pemerintah. Kita seperti berada dalam fase awal sebuah era penghancuran kreativitas oleh kapitalisme yang senantiasa menjadi monster bagi rakyat dan istana bagi pengusaha besar.
2% telah menjadi patokan banyak orang mengenai jumlah entrepreneur di Indonesia. Stereotip yang memaku pikiran kita dan menantikan berjuta perusahaan besar yang akan menciptakan lapangan kerja raksasa bagi masyarakat Indonesia. Perusahaan besar yang akan menambah jumlah buruh dan pekerja, dari perbudakan modern hingga proletarisasi. Menganggap kaum proletariat akan selamanya menjadi objek yang butuh lapangan pekerjaan dan hidup mengabdi pada perusahaan besar selamanya tanpa suksesi yang berarti.
Tidak bisa kita pungkiri, meski dalam pengertian positif, jiwa entrepreneur telah terbentuk dengan sifat dasar inovatif, penuh akal, praktis, dan oportunis. Kita dapat mengatakan kita masih terjajah oleh kapitalisme bangsa asing. Lalu, apa jadinya jika kapitalisme itu justru terbentuk oleh bangsa sendiri. Kehancuran dari dalam. Kesenjangan akan menjadi suguhan nyata di depan mata. Jika kita ingin mengakui, tanggung jawab sosial korporat atau Corporate Social Responsibility (CSR) memang cukup untuk sekadar membantu masyarakat sekitar. Hanya saja, sesuatu yang terdorong oleh tanggung jawab, dan bukan tujuan, tetap tidak akan menciptakan perubahan yang berarti bagi sistem manusia.
Ada beberapa alasan yang membuat CSR belum cukup mengatasi masalah masyarakat menurut Muhammad Yunus dalam buku "Menciptakan Dunia tanpa Kemiskinan":
- Sebagian pemimpin korporasi menyalahgunakan konsep ini untuk menghasilkan keuntungan sendiri bagi perusahaan mereka. Filosofi mereka kira - kira seperti ini: Hasilkan uang sebanyak mungkin, meski kalian harus mengeksploitasi orang miskin itu - tetapi kemudian sumbangkan sebagian kecil dari keuntungan itu untuk tujuan sosial atau dirikan yayasan untuk melakukan berbagai hal yang akan mempromosikan kepentingan bisnis Anda. Lantas beritakan betapa dermawannya Anda! Jelas perusahan semacam ini bukan rumus untuk memajukan masyarakat.
- Perusahaan dengan pemimpin idelis, bertambah banyak seiring naiknya para manajer dari generasi yang lebih muda ke posisi puncak. Eksekutif muda saat ini, lebih paham persoalan dunia ketimbang generasi sebelumnya. Para pemimpin baru akan mengupayakan CSR menjadi bagian penting filosofi bisnis. Hanya saja, upaya ini membentur masalah dasar. Manajer korporasi akan senantiasa bertanggung jawab kepada pemilik bisnis yang mereka jalankan. Mereka harus memberi prioritas tertinggi kepada keuntungan. Jika tidak, CSR akan dianggap sebagai pelalaian tanggung jawab keuntungan korporasi, meski disisi lain wacana tentang "trio prinsip utama" yaitu keuangan, sosial, dan lingkungan akan selalu berusaha dibangun oleh para eksekutif muda di suatu perusahaan.
Dua hal tersebut terlontar dengan cukup beralasan, sebagaimana contoh di tahun 1990-an ketika produksi mobil jenis SUV yang menimbulkan pencemaran luar biasa terus diproduksi dengan alasan permintaan konsumen yang mencapai jutaan. Korporasi memang tak dilengkapi untuk menghadapi masalah sosial. Korporasi dibangun oleh para entrepreneur yang berkemampuan menciptakan peluang hingga bisa menjadi besar. Bisa dengan masuk ke dalam ranah industri dengan penciptaan teknologi baru, bisa melalui industri kreatif. Tujuan sosial memang bukan menjadi fokus korporasi. Bukan karena keserahakan eksekutif, melainkan karena konsep bisnis saat ini yang diakui atau tidak, menjadi pusat kapitalisme.
Jika entrepreneur dengan korporasi besar bukanlah solusi yang relevan bagi masalah sosial yang ada saat ini, maka lebih dari 200 juta manusia Indonesia membutuhkan bentuk baru yang dapat menjawab tantangan global yang semakin kompleks. Disfungsi sistem dan eksploitasi sosial. Ketidakseimbangan yang kemudian memancing jiwa - jiwa entrepreneur yang lebih idealis. Kreativitas rakyat yang kini dikerdilkan dengan iming - iming lapangan kerja, harus ditumbuhkan kembali. Kubangan pekerja telah menanti ide - ide baru yang menutup telinga pada stereotip yang berkembang, menciptakan nilai multidimensi, dan tak hanya bermimpi tentang bagaimana menciptakan sebuah kesepakatan, tapi menuju pada kondisi ideal.
George Bernard Shaw yang menyebut entrepreneur semacam ini dengan sebutan "unreasonable people" atau "orang yang tidak waras", mengatakan "Reasonable people adapt themselves to the world. Unreasonable people attempt to adapt the world to themselves. All progress, therefore, depends on unreasonable people." Suatu gambaran akan generasi yang dibutuhkan dunia untuk menciptakan transformasi besar yang radikal dan menyeluruh. Generasi yang ambisius, senantiasa ingin mengubah sistem, digerakkan emosi, menganggap mengetahui masa depan, mengabaikan stereotip yang ada, dan segala hal yang akhirnya menggerakkan mereka untuk menjadi bibit perubah dunia.
Masalah sosial adalah tantangan bagi mereka yang memiliki jiwa gabungan, entrepreneur dan kepedulian sosial. Merekalah yang akan memperjuangkan nilai multidimensi (sosial, ekonomi, lingkungan) di setiap aspek yang mereka tekuni. Potensi besar yang akan menciptakan perubahan. Kemampuan mereka menganalisis kondisi akan sangat berguna untuk menciptakan keharmonisan bagi dunia. Kemampuan dan tindakan yang dilakukan oleh seorang entrepreneur sosial.
Potensi tersebut yang di tahun 1998 dirangkum dan dikembangkan oleh Profesor Klaus Scwab (Pendiri dan komisaris eksekutif World Economic Forum) ketika mendirikan Scwab Foundation for Social Entrepreneurship. Usaha serupa juga telah dilakukan oleh Ashoka serta Muhammad Yunus dengan Grameen Group yang dimulai di tahun 1974. Segala usaha tersebut yang berjasa menyebarkan dan menegaskan istilah entrepreneur sosial yang bahkan hingga tahun 1998 belum ada di kamus bahasa Perancis dan Jerman.
Secara luas, kita dapat mengatakan bahwa social entrepreneurship merupakan istilah dari segala bentuk aktivitas yang bermanfaat secara sosial. Entrepreneur sosial adalah orang - orang yang mampu menciptakan sesuatu yang dapat mempengaruhi paradigma dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam kepentingan nirlaba maupun prolaba, entrepreneur sosial bergerak dengan tujuan menyelesaikan masalah sosial.
Pierre Omidyar, seorang kolega Jeff Skoll yang merupakan pendiri Skoll Foundation, mengatakan, "Jika Ingin memiliki pengaruh global, Anda tidak boleh menomorduakan bisnis. Saya tidak berbicara tentang program CSR perusahaan, tetapi tentang model bisnis yang mampu memicu perubahan sosial."
Berkaitan dengan itu, dalam buku The Power of Unreasonable People yang ditulis oleh direktur non eksekutif SustainAbility, John Elkington dan Managing Director Schwab Foundation, Pamela Hartigan, entrepreneur sosial berhasil menciptakan struktur yang termasuk dalam tiga kategori atau model bisnis berbeda:
Pertama, model usaha "nirlaba pengungkit". Usaha jenis ini bisa kita lihat dalam gerakan yang dilakukan oleh LSM, komunitas peduli, badan amal, dan sebagainya. Model bisnis ini akan jauh lebih sulit ditingkatkan dibanding dengan model bisnis pro-laba. Ketergantungan pada kedermawanan orang lain, yang biasanya datang dari yayasan atau pemerintah, akan menghalangi peluang ekspansi. Publikasi permasalahan akan meningkatan pendanaan, sedangkan penghentian dana dari para filantropis akan mematikan kinerja. Entrepreneur sosial yang terjebak dalam model ini bukan berarti tidak memiliki pandangan luas dan visioner. Mereka adalah orang - orang yang bergerak dalam lingkungan terasing yang terperangkap dalam lingkaran kemiskinan dan terkunci oleh sistem yang terbangun. Gerakan semacam ini yang kemudian menjadi garda depan dalam perubahan sistem tersebut.
Kedua, usaha "nirlaba hibrida". Model bisnis ini mengalami eksperimentasi paling besar yang merupakan penggabungan imajinatif strategi nirlaba dan pendapatan yang dihasilkan dalam satu kesatuan dan membentuk kekuatan hibrida. Usaha ini menyediakan barang/jasa bagi populasi yang diasingkan oleh pasar pada umumnya, tetapi menghasilkan keuntungan bukan sesuatu yang harus dihindari. Organisasi jenis ini memiliki dua sisi, seperti Waste Concern di Bangladesh yang merupakan prototipe usaha hibrida, memiliki divisi nirlaba yang berfokus pada proyek percontohan energi bersih dan daur ulang, sedangkan divisi pro-labanya berfokus pada bidang energi lestari, proyek limbah, dan konsultan.
Ketiga, bisnis sosial, yaitu badan usaha pro-laba yang berfokus pada misi sosial. Keuntungan dihasilkan, tetapi tujuan utamanya bukanlah memaksimalkan pengembalian finansial bagi pemegang saham melainkan untuk memberi keuntungan secara finansial kepada kelompok berpenghasilan rendah serta menumbuhkan usaha sosial dengan investasi ulang. Dengan kemandirian paenghasilan tersebut, bisnis sosial mampu menjangkau dan terus berekspansi hingga melayani lebih banyak orang. Entrepreneur pendiri harus menerapkan peran kepemimpinan yang kuat, sehingga akan menyulitkan susksesi. Hal tersebut dapat teratasi dengan inisiatif entrepreneur sosial yang terlibat untuk menyalurkan visi dan misinya kepada generasi selanjutnya.
Setiap model memiliki kekuatan dan cara masing - masing. Persamaannya, ketiga model tersebut difokuskan pada penyelesaian masalah sosial. Masalah yang dipandang sebagai tantangan bagi para entrepreneur sosial dengan cara pilihannya.
Indonesia saat ini, memiliki jiwa - jiwa muda yang tengah menimba ilmu di berbagai perguruan tinggi. ITB, UI, UGM, ITS, IPB dan lain - lain merupakan potensi besar yang dapat mengantarkan generasi muda memiliki pengetahuan yang luas terhadap dunia dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Sudah saatnya bagi generasi muda untuk membuka mata terhadap pergolakan yang terjadi. Sudah saatnya untuk mempersiapkan diri datangnya perubahan radikal dan turut serta di dalamnya.
Jika kita memperjelas definisi dan meluaskan pandangan, social entrepreneurship telah mencakup segala bidang yang dapat diaplikasikan dan bermanfaat bagi setiap manusia. Teknologi, seni, dan ilmu pengetahuan apapun dapat menjadi pembangun negeri jika dipertemukan oleh para entrepeneur dengan kepedulian sosial, sociopreneur. Solusi yang perlu dikembangkan oleh generasi muda yang sadar akan perkembangan dunia. Solusi yang siap dikembangkan di Indonesia dengan segala sumber daya yang mendukung pembangunan.
Dengan perkembangan social entrepreneurship di Indonesia, kita tak lagi membutuhkan technopreneur yang hanya tahu tentang komersialisasi teknologi dan menciptakan kapitalisme baru. Kita akan menyangsikan keberadaan ilmuan yang mementingkan diri sendiri. Dunia tengah berkembang, sociopreneur perlu meluaskan pandangan untuk mencari peluang.
Kesalahpahaman tentang makna sociopreneur juga harus diluruskan. Perbedaan definisi sociopreneur di beberapa kalangan, bahkan di antara kaum intelektual, menghambat pembentukan impian bersama untuk menebarkan jiwa sociopreneur ini. Pada intinya, entrepreneur yang hanya menciptakan kapitalisme baru, termasuk didalamnya technopreneur dan creativepreneur tanpa tujuan sosial, hanya akan menambah riwayat panjang yang menjebak rakyat terhadap pencarian kerja, tanpa sedikitpun mendapat kesempatan menjadi aktor dalam peningkatan ekonomi negara.
Jika segala hal tersebut telah terdefinisikan dengan baik, maka 2% tak harus menjadi patokan. 2% hanya menjadi stereotip yang hanya menjadi angin lalu, karena perbaikan perlu sebuah rumus dasar yang berbeda. Penyelesaian masalah sosial tak bisa dipandang sekilas. Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang berpihak pada rakyat. Entreprenenur besar sekarang dibutuhkan untuk menjawab arus perkembangan ekonomi dunia, tapi bukan untuk masa depan. Kesadaran setiap manusia untuk mengangkat derajatnya sendiri jauh lebih diperlukan dibandingkan dengan lapangan kerja yang menambah jumlah kaum proletar. Demi penuntasan, Indonesia membutuhkan generasi yang siap akan suatu pemerataan, bukan hanya peningkatan pada usahanya sendiri.
Tag: Ekonomi, social entrepreneurship, perubahan dunia, entrepreneur, penyelesaian masalah sosial
Terkait:
-
Merdeka, Sebuah Cita-Cita Bangsa yang Kian Menjauh
Minggu, 5 Des '10 15:10 -
Analisis Dampak ACFTA bagi Indonesia, Peluang atau Hambatan.
Kamis, 29 Apr '10 00:22 -
Catatan Kaki: Titik Balik Awal Mula Perdagangan Internasional di Nusantara
Sabtu, 3 Okt '09 00:55
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat