Panggung Impian Revolusioner 2
Minggu, 21 Agu '11 04:12
Di negara ini, aku suka menyepi dan bermimpi tentang segala hal yang ingin aku lihat. Aku hanya butuh istirahat. Butuh waktu untuk tidak bergabung dengan kenyataan dan sistem manusia yang terbentuk di otak - otak birokrasi dan media. Suatu alur berpikir yang terpengaruh oleh terjangan informasi. Segala hal yang tampak dan menelusuri barisan di setiap televisi, internet, radio, dan koran.
Bad news is good news hampir mengakar di setiap kolom media, di setiap gelombang yang sampai pada kotak informasi, dan melukis wacana negatif pada hidup manusia. Menceritakan kriminalitas, kecurangan, dan parahnya, menyuguhkan kebohongan - kebohongan yang di akui sebagai suatu kenyataan. Betapa setiap orang akan merindukan kata dan kisah inspiratif yang dahulu pernah menjadi wacana bangsa ini. Kisah nyata yang diceritakan turun - menurun, oleh ibu kepada anaknya sebelum tidur. Suatu keinginan untuk menyaksikan kisah besar yang tercetak oleh orang besar yang terlahir di negara ini. Lebih banyak orang yang menunggu, daripada orang yang sadar bahwa ia sedang ditunggu oleh lebih dari 200 juta warga negara Indonesia, untuk memberikan karya terbaiknya, demi perubahan sosial.
Sebelum lebih jauh aku meracau, aku ingin mengapresiasi sebuah buku, The Power of Appreciative Inquiry atas pembalikan pandangan untuk kehidupan yang lebih menenangkan. Kita bisa berkata, bahwa "ketenangan" bukanlah yang dibutuhkan oleh bangsa ini. Sebagian besar kaum intelektual menyatakan bahwa negara ini butuh "gangguan", butuh penyadaran bahwa ada masalah besar yang siap menghadang perjalanan panjang. Ada kebobrokan yang menyelimuti pembuat keputusan. Ada kehancuran yang mengintai, siap menerkam kapan saja bangsa ini lengah dan lelah.
Hanya saja bukan itu yang dibutuhkan oleh jiwa manusia. Orang kota, orang desa, kaum intelektual, ataupun kaum intelektual yang berasal dari desa, semuanya tetap manusia yang hidup dengan pembentukan pikiran oleh manusia lain, oleh wacana - wacana yang tersebar di seluruh media. Keserakahan akan menginspirasi keserakahan. Kebencian akan melahirkan kebencian yang lebih besar. Pencarian masalah akan menemukan masalah, dan bukan solusi bersama.
Sampai kapan manusia akan mendambakan popularitas dan keinginan untuk memajukan kelompoknya sendiri. Sampai kapan masalah kecil akan menjadi berita besar dengan bumbu yang diberikan oleh penulis naskah. Sampai kapan stasiun televisi terhidupi oleh drama picisan dibandingkan dengan kisah inspiratif yang tayang di tengah malam. Betapa kini media telah memiliki peran penting dalam sistem pembentukan alur berpikir manusia penikmat informasi tanpa filtrasi.
Panggung kehidupan berkelebat memanjakan mata. Penangkapan pelaku korupsi ditayangkan dengan memberi lampu sorot pada kebobrokan pemerintahan dan praduga bahwa setiap wakil rakyat bukanlah orang jujur. Kinerja KPK yang telah mengusut hal tersebut, kandas. Menjadi buih dilautan yang hilang tak berbekas.
Pandangan kita telah terbanting pada kenyataan dan realita. Impian, harapan, dan pandangan tentang tujuan masa depan hanya milik segelintir orang yang percaya bahwa Indonesia punya potensi untuk menjadi bangsa yang besar. Hanya saja, orang - orang seperti itu akan semakin menipis, seiring dengan semakin negatifnya pembicaraan di setiap media. Akibatnya, setiap orang akan semakin egois, merasa tak dihargai, dan fokus pada perbaikan, tanpa impian tentang kehidupan yang lebih baik.
Betapa kita sebagai rakyat merindukan penabuh semangat yang mengajak setiap warga negara untuk turut serta dalam pembangunan. Betapa wacana negatif yang menjadi "berita besar" bangsa ini perlahan namun pasti telah membentuk jiwa - jiwa desperate. Betapa orang - orang dengan percakapan visioner dan antusias telah menipis di pojok - pojok ruangan gelap dan sepi, karena begitu sempit ruang di panggung megah yang dikuasai drama picisan dan gosip - gosip pengincar popularitas.
Jika mengambil istilah mahasiswa, sistem "kaderisasi" bangsa, dari generasi ke genarasi telah dihantui oleh wacana negatif tentang pemerintahan. Menimbulkan kebencian dan penyakit hati yang masal. Pemimpin tak lagi berbentuk sosok teladan. Karya - karya besar dan inovasi yang tersembunyi, meringkuk di otak anak bangsa. Tanpa rasa percaya diri, tanpa merasa dihargai. Mencari sebentuk penghargaan di luar negeri, merelakan tenaga dan otaknya di pakai oleh bangsa asing.
Gerakan rakyat melambat. Berbisik - bisik, "Rakyat kecil bisa apa, kalau pemerintahnya saja sudah tidak bisa dipercaya." Makian, sindiran, dan cibiran bergemuruh. Penjelasan dari pemerintah tak pernah tersampaikan, tertutup oleh berita negatif baru yang berkaitan. Tanpa putus mencari kambing hitam dan justru menimbulkan masalah baru.
Ciptakan panggung utama tempat orang - orang revolusioner positif dapat menampilkan diri.
-David L. Cooperrider-Bangsa ini membutuhkan satu panggung kosong, tempat pejuang dan pemikir revolusioner dapat menyuarakan impiannya. Ketika kontribusi yang tulus ditayangkan dengan jujur, tanpa audisi atau acting pemain teater. Kuasa media perlu dimanfaatkan sebagai penyebar inspirasi. Menebar benih positif untuk anak bangsa yang inovatif.
Terlalu banyak manusia yang hidup dalam prasangka, mengungkit masalah, dan sakit hati oleh masa lalu. Tidak salah memang, berjuta rakyat tengah kelaparan. Wacana defisit diperlukan dalam situasi dengan waktu terbatas dan teknis instrumental. Hanya saja, sebagian besar pandangan bangsa teralihkan oleh berita - berita negatif. Bangsa merindukan pejuang dan pemikir yang memberi perhatian pada gerakan visioner. Fokus pada langkah kedepan, dan bukan permasalahan masa lalu.
Masih ingatkah kita pada pelajaran kewarganegaraan di sekolah dasar? Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan. Silahkan jika ingin mengatakan, yang lalu biarlah menjadi kenangan. Bukan, bukan itu. Ini adalah tentang penghargaan kita terhadap hal besar yang telah dicapai bangsa ini, kedaulatan sebagai negara yang diakui dunia (setidaknya, Indonesia tertulis di peta dunia kan? :) )
Bangsa ini telah bertahan puluhan tahun. Bangsa ini telah melangkah jauh, dengan ukiran - ukiran sejarah tokoh besar seperti Soekarno, Mohammad Hatta, B.J. Habibie, Sutan Sjahrir, HOS Cokroaminoto, dan lain - lain. Ada potensi masa lalu, ada kisah inspiratif yang menjadi nafas kehidupan bangsa. Cerita yang lama tak diperbincangkan. Cerita lama yang berdebu. Itulah bahan bakar yang dibekukan jaman. Kisah dan perjuangan mereka tentunya jauh lebih positif untuk mengalihkan kasus - kasus pemerintahan dibandingkan dengan gosip artis ibukota. Rakyat butuh teladan yang tampil di dunia nyata. Jika pemimpin tak lagi dapat dipercaya, hidupkanlah tokoh - tokoh masa lalu dan hadirkan kisahnya. Bukan kriminalitas yang terus dieksplorasi setiap hari, bukan kelaparan dan kemiskinan yang menjadi satu bidang komersial baru di dunia televisi, dan bukan korupsi yang terus menjadi wacana besar. Kuncinya, fokus pada yang telah dicapai, impian yang diharapkan, dan kenyataan yang ingin diwujudkan. Dalam skala kecil, dimulai dari individu masing - masing. Jadilah perubahan yang ingin kita lihat.
Bukan saatnya menggambarkan apa yang kita lihat, melainkan lihatlah apa yang kita gambarkan. Renungkan daftar impian kita, bucket list kita. Mungkin tertulis oleh hal - hal yang meningkatkan kesejahteraan hidup kita, terisi oleh kebahagiaan kita sendiri. Impikanlah sejenak, tentang dunia yang indah bagi setiap orang. Tentang bangsa yang besar dan anak bangsa yang teguh prinsip dan tidak mudah menyerahkan dirinya pada bangsa asing. Temukan celah - celah keegoisan dalam impian kita dan sadarilah pilihan ada di hadapan kita semua. Celah itu bisa kita ganti dengan impian tentang masa depan bersama, perjuangan yang akan mengantarkan kita pada kejayaan dan kebahagiaan yang jauh lebih indah dan abadi.
Lalu mulailah mencari cara, mencari jalan, dan tindakan. Hingga akhirnya kita dapat menemukan ide - ide baru yang inovatif dan kreatif. Disanalah kita akan menyadari betapa sebagian besar rakyat telah tersandung batu - batu wacana defisit yang menghambat munculnya ide inovatif. Impian anak bangsa telah remuk oleh kenyataan yang jauh dari keinginan. Realita telah mengaburkan ingatan kita akan mimpi masa kecil yang optimis dan memiliki kekuatan besar.
Kita hanya perlu berbagi pengalaman, bercerita, didengarkan, membangun impian, dan mewujudkannya bersama hingga menjadi kenyataan. Kini jika aku bermimpi sendiri, maka itu hanyalah sebuah mimpi. Menyepi di balik hiruk pikuk teriakan yang memancing pemikir gila menggali solusi. Terlalu banyak energi terbuang untuk menebar wacana negatif tentang pemerintahan, tanpa ajakan untuk berbuat lebih jauh. Bukan hanya kita, penguasapun butuh bukti bahwa kita bisa merdeka dan tidak asal bicara.
Diam tenang, membuang masalah dan doktrin dunia. Bertanya pada masa depan, apa yang perlu diambil dari masa lalu. Simpan saja prasangka dalam kotak besi lapis tujuh. Jika cahaya masih mengandung prasangka, diamlah dalam gelap untuk merenungkan segalanya. Mengeluarkan diri dari tekanan hasil dikotomi manapun. Keluarlah jika tujuan telah begitu nyata terbayang. Lakukan yang dapat dilakukan. Ambil pelajaran dari kegagalan, bukan terus mengeluhkannya pada orang lain. Bangun percakapan positif dan antusias. Jika kembali lelah, diam tenang, dan impikan tentang dunia yang lebih baik dengan seribu mata khayalan. Dunia dengan panggung besar bagi pejuang dan pemikir revolusioner yang hidup melawan kehancuran dunia.
Tag: revolusi, the power of appreciative inqiury, peran media
Terkait:
-
Di Sebelah Makam Soekarno (Chapter 3)
Selasa, 29 Jun '10 11:36 -
Di Sebelah Makam Soekarno (Chapter 2)
Selasa, 29 Jun '10 11:34 -
Di Sebelah Makam Soekarno (Chapter 1)
Selasa, 29 Jun '10 11:32
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Rizki: Bagus
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat