ITB? Institut Tanpa Biaya! 0
Minggu, 21 Agu '11 21:16
Awal perjalanan, awal dari semua hikmah yang membuatku menemukan kehidupan baru. Awal yang membuatku kembali membangun impian yang sempat (ku)hancur(kan). Serangkai bunga pelangi yang menghiasi sebuah gerbang kokoh, Gerbang Ganesha. Mengukir kenangan tentang perjuangan, harapan, keikhlasan, persahabatan dan impian. Meyakinkan aku bahwa Allah mempunyai rencana terindah bagi hamba-Nya yang senantiasa berusaha dan berdoa.
Semua yang terjadi ketika itu benar - benar mempengaruhi hidupku. Lulus SMA, tanpa tahu kemana akan kulanjutkan pendidikanku. Sebisa mungkin menahan rasa optimis dan pengharapan dalam jiwa. Sembari membayangkan tempat tinggalku di tahun 2010, Samarinda, Jakarta, atau tetap di Balikpapan, hanya tiga pilihan itu. Universitas Mulawarman, PPA BCA, atau STAN. Tidak ada keinginan lebih untuk mendaftar ITB, UGM, ITS, atau yang lainnya. Aku pesimis oleh kesulitan - kesulitan klasik. Formulir mahal dan belum tentu diterima.
Tak bisa kupungkiri, ada rasa "sakit", ketika teman - temanku telah diterima oleh berbagai perguruan tinggi. Mereka bertanya kepada guru - guru tentang jurusan, grade, formulir,peluang, dan semacamnya. Aku hanya diam dan sungguh, aku ingin ditelan bumi saat itu juga. Memang agak berlebihan, tapi aku serius, aku benar - benar merasakan itu. Menuju kantor guru, hanya mengantarkan temanku untuk mengambil formulir. Aku tidak ingat jawabanku ketika ada yang bertanya tentang rencanaku ketika itu. Mungkin aku menjawab "Belum tahu", "Belum kepikiran", atau entahlah. Dulu, aku ingin jadi dokter hewan, psikolog, arsitek, atau insinyur lingkungan. Tapi ketika lulus SMA, harapanku menjadi cukup satu, aku ingin kuliah.
Berhari - hari aku menguatkan mental menghadapi guru - guru. Ketika itu sudah tidak ada pelajaran, setelah UAN. Jadi kami ke sekolah memang hanya untuk mengurus administrasi dan sebagainya. ITS, UGM, UI, telah menerima beribu mahasiswa baru dan aku bukan salah satunya. Putus asa tentu bukan hal yang menyenangkan. Aku mencari beasiswa. Bolak - balik warnet bersama Anti Mangi Mangampa, sahabatku. Setidaknya, aku merasa tidak sendiri.
Ternyata PPA BCA tidak menerimaku. Aku hampir putus asa. Tapi aku yakin, Allah tidak akan memberi cobaan yang tidak mampu dilalui hamba-Nya. Aku percaya janji-Nya. Aku masih (berusaha) optimis. Meski tak bisa kupungkiri, saat itu aku menangis. Masih ada harapan. Aku yakin, selalu ada harapan. Aku punya niat baik, Allah pasti menolongku.
Minggu, 12 Juli 2009. Tibalah hari dimana langit muram menjadi biru. Gerimis terlihat sangat indah pagi itu. Anugerah yang kurindukan. Bapak menerima telepon dari seseorang yang dulu selalu membantu keluarga kami. Terutama berkaitan dengan biaya sekolahku. Aku menangis. Spontan. Bukan karena senang, tapi entahlah, ada perasaan tidak mau menerima bantuan itu (lagi). Aku takut, segan, tidak mau bergantung, tidak mau merepotkan orang lain, dan berbagai alasan lain yang membuatku menghindari hal itu. Aku tahu niat baik mereka yang ingin aku menjadi pendongkrak ekonomi keluarga. Tapi, aku tidak mau menerima tanpa usaha. Pemberian itu akan terasa hampa bagiku.
Tawaran beliau benar - benar mengguncang jiwa dan pikiran. Aku tahu beliau akan menawarkan bantuan untuk biaya kuliahku. Tapi yang aku kagetkan, ternyata beliau memintaku mendaftar pada salah satu perguruan tinggi yang tak pernah terlintas dalam pikiranku sedikitpun untuk menjadi mahasiswanya. Institut Teknologi Bandung. Subhanallah... Betapa ibu dan bapakku akan bangga jika aku benar - benar ada disana. Apalagi mendengar cerita tentang kalimat penyambutan "Selamat datang, putra - putri terbaik bangsa...". Aku bisa merasakan harapan besar mereka terhadapku.
Jadilah aku mendaftar Ujian Saringan Masuk terpusat. Mencari informasi di warnet. Membuka website yang begitu asing bagiku, website resmi USM ITB. Aku mengcopy setiap detail persyaratannya hingga mataku terpaku pada satu link diujung halaman, Beasiswa ITB. Tanpa berpikir dua kali, dengan harapan besar aku membuka link itu. Dengan semangat dan tekad, aku memutuskan mendaftar Beasiswa ITB Untuk Semua. Semua biaya ditanggung selama 4 tahun menempuh perkuliahan. Subhanallah...
Masih kuingat kerepotan mengurus administrasi, fotocopy, legalisir, dan sebagainya. Ini adalah jalan bagiku untuk menerima bantuan dengan usaha. Tidak hanya menjadi pihak menerima, tapi dengan kompetisi dan kerja keras. Ada pembuktian dan kebanggaan untuk orang tuaku. Jawaban atas doa - doa kami.
Aku lolos seleksi tahap pertama dan berangkat ke Bandung. Dengan perasaan yang tak bisa lagi dideskripsikan, aku menjalani segala aktivitas padat hingga USM berlangsung. Berkumpul bersama 200 orang penuh harapan dari pelosok negeri. Persahabatan, satu tujuan, satu impian, bersatu bersama menuju kampus Ganesaha. Kami tidak lama bersama, hanya beberapa hari. Tapi, perasaan kami menyatu. Kami adalah putra - putri dengan semangat dan daya juang luar biasa hingga bisa berkumpul dan berbagi cerita. Keikhlasan ada untuk menerima bahwa ini tetap medan juang kami, meraih impian menggapai cita - cita berwarna pelangi.
Doa tiada henti menghiasi mimpi. Ikhtiar telah kulakukan, aku tinggal menunggu keputusan terbaik-Nya. Aku akan menjadi guru lulusan Universitas Mulawarman atau merajut cita - cita di ITB, Allah Mahatahu apa yang kubutuhkan. Malam itu sungguh terasa panjang. Website ITB tak terbuka, terlalu banyak pengunjung. Harapanku semakin menipis seiring terbukanya halaman itu. Aku takut mengecewakan ibu dan bapakku, tidak bisa menjadi kebanggaan mereka, tidak bisa meraih cita - citaku, semua membayangi pikiranku hingga tengah malam ketika website itu terbuka sempurna. Ternyata Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, menjadi jalan pilihan Allah untukku. Allahu akbar!
Begitu indah, perasaan berdebar, takut, kecewa, merajai hari - hari ketika itu. Menjadi kenangan ketika aku kini telah melangkah memasuki kelas - kelas, koridor, dan hamparan luas kampus ITB. Kampus idaman banyak orang. Aku tak peduli sebagian dari mereka berkata kampus ini akan melahirkan robot - robot perusahaan asing. Aku tak peduli mereka berkata kami mahasiswa apatis dan oportunis. Aku tidak peduli apapun itu, karena mereka semua salah! Kami punya impian, kami punya harapan. Kami berjuang demi bangsa menjadi agen perubahan daerah tempat kami dilahirkan, dididik, dan dibesarkan. Kami, 40 mahasiswa Beasiswa ITB Untuk Semua (BIUS) yang bertahun- tahun merasakan langsung bagaimana hidup menjadi rakyat pantang menyerah. Berjuang menuntut ilmu dengan beasiswa dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Kami adalah bukti bahwa biaya bukan hambatan dalam pendidikan. Kami berada disini dengan segala daya dan upaya belajar, menjadi aktivis yang bukan hanya sekadar mahasiswa, namun juga sebagai manusia...! Dengan satu visi bersama seluruh penerima BIUS, Agent of Change...!
Akan selalu ada jalan, ketika ada keinginan...
Tag: BIUS, Beasiswa ITB Untuk Semua, Ganesha, ITB, Gerbang Ganesha
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
rohmadie soesanto: Responsif
-
cakyoh: Perlu

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat