Cerita Sedih Menyambut Liburan 0
Rabu, 10 Agu '11 10:17
Siang itu, baru sebentar saya tiba dirumah saudara saya di daerah Kayu Gede II, Rt02/04, Regency Graha Raya, Serpong, Tangerang, saya mendengar cerita yang sangat mengetuk hati bagi siapa saja yang mendengarkanya. Adalah Wildan 11th, siswa kelas 5 SD, putra dari Ade Nasarudin seorang tukang ojek dan Lamsa buruh nyuci di kompleknya yang tak lain adalah pengasuh anak dari saudara saya itu.
Awal cerita dimulai dari, sekitar 5 bulan yang lalu, Wildan dibawa kedua orangtuanya ke pengobatan tradisianal didaerahnya karena menderita lemas disertai panas, saat itu orangtuanya mengira Wildan hanya sakit demam biasa. Dipengobatan tradisional tersebut Wildan mendapat perawatan dengan cara dipijit dan disembur oleh sang ahli pengobatan tradisional yang konon bisa mengobati bermacam penyakit. Beberapa hari kemudian kondisi Wildan kian memburuk dan orangtuanya mendapat masukan dari tetangganya untuk memberi Wildan air putih yang dicampur dengan tanah kuburan dari mendiang kakeknya dan meminumkannya, sangking bingungnya merekapun melakukan masukan dari tetangganya yang tidak bisa dinalar dengan akal sehat itu.
Sehari kemudian tak ada hasil apapun dari nasehat tetangganya itu, ditambah kondisi Wildan yang makin memprihatinkan, orangtuanya pun segera memerikasakan Wildan ke beberapa Dokter-dokter umum terdekat, dan salah satu dari mereka memvonis bahwa Wildan menderita Typus dan harus segera dirujuk ke Rumah Sakit yang lebih lengkap fasilitasnya. Beberapa waktu kemudian, orangtua memutuskan agar Wildan dirawat di salah satu Klinik di daerah Pabuaran Paku Jaya Serpong, selama satu minggu sebelum akhirnya dibawa pulang dengan alasan ingin dirawat dirumah.
Dua hari kemudian kondisi Wildan kian parah dari sebelumnya, lalu orangtua pun membawanya ke Rumah Sakit Sari Asih Ciledug, disana Wildan mendapat perawatan yang cukup intensif dan Dokter mengambil tindakan City Scan, walhasil terdapat benjolan kecil dibagian Otaknya, dan Dokter yang merawat Wildan memvonis bahwa anak tersebut menderita Kanker Otak, keluarga semakin sedih dan tangisan pun pecah. Pada akhirnya keluarga hanya pasrah dan membawa Wildan pulang dengan alasan kembali dirawat dirumah sembari mengobatinya dengan cara alternative dan ke klinik-klinik terdekat. Sampai dengan tulisan ini diterbitkan keadaan Wildan masih parah, ia tak bisa jalan, sulit bicara, dan hanya bisa berbaring diatas kasur lusuh dirumah kecilnya, pemandangan yang sangat miris dihati bagi setiap pasang mata yang menatapnya. Kondisi ini kian parah, mengingat keluarga Wildan tidak mampu lagi untuk membiayai pengobatanya, karena hasil dari narik ojek dan buruh nyuci yang tak tentu hanya bisa untuk makan setiap harinya.
Ironisnya ditengah perkembangan jaman dan alat medis yang semakin maju tak cukup mengembangkan senyum sang penderita penyakit kronis seperti kanker otak yang dirasakan oleh Wildan, dan lagi-lagi masalah biaya adalah kendala nomer satu yang sangat sulit dihilangkan oleh masyarakat miskin, dalam hal ini peran pemerintah tak dirasakan oleh penderita saat ia menjadi pasien, gembar-gembor Jamkesmas (jaminan kesehehatan masyarakat) tidak dia dapatkan karena birokrasi dengan tetekbengeknya yang cukup menyita waktu, tenaga, maupun fikiran.
Tag: liburan
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat