Si Dalang Ki Anom... 2
Selasa, 9 Agu '11 13:37
Posting-an ini merupakan hasil wawancara saya dengan dalang keren Ki Anom Suroto, yang sempat saya ubah ke dalam format Twitter hehehe... jadi ini kumpulan tweet saya dari artikel wawancara saya dengan si dalang kondang ini :)
Saya tumbuh dari lingkungan pedalang. Ayah dan kakek saya dalang kondang, sehingga saya sudah terbawa suasana itu sejak kecil. #KiAnom
Semangat sy awalnya: dikenal banyak org. Akhirnya, sy masuk RRI Surakarta pd 1968. Lakon sy yg terkenal saat itu: Semar Boyong. #KiAnom
Kursus dalang tiga tahun, selalu sy tempuh tiga bln; dr Himpunan Budaya Surakarta, Gaya Kraton Surakarta, smpai Kraton Yogyakarta. #KiAnom
Tingkatan kursus dalang: sulukan (nyanyian dalang), ngomongnya, baru pendalaman materi cerita. Terakhir, semuanya. #KiAnom
Saya ngedalang di lima benua. Propinsi di Indonesia sudah nyaris semuanya. Bahkan, Eropa sudah nyaris "habis" kecuali Swiss. #KiAnom
Bangga seni tradisional Indonesia disukai masyarakat internasional! #KiAnom
Banyak org luar negeri serius belajar kesenian kita. Anehnya, kok org kita sendiri kurang tertarik ya? #KiAnom
Ngedalang di daerah manapun, di Negara manapun, tetap pakai bahasa Jawa. #KiAnom
Cerita 18 parwa itu awalnya; lalu ditambah para pujangga tanah Jawa, termasuk para Wali yang menyebar Islam dgn wayang #KiAnom
Main wayang spt baca kehidupan; lahir-mati, harapan-kebengisan, politik, kekuasaan sampai peperangan, semua ada! #KiAnom
Dlm wayang, pria tdk prnah aniaya wanita, tp menjaganya. Wanita dianggap simbol kemenangan. #KiAnom
Wanita dianggap simbol kmenangan: makanya Arjuna istrinya banyak. Tp jgn ditelan mentah-mentah utk punya banyak istri, hahaha! #KiAnom
Pemimpin sbaiknya dalami lakon Astabrata. Pak Harto prnah ngaku bahwa ia bisa bertahan sampai 30 tahun krn filosofi lakon ini. #KiAnom
Budaya kita bergeser. Globalisasi dan budaya asing membuat posisi kesenian tradisional kita semakin lemah. #KiAnom
Intensitas ptunjukkan wayang menurun. Di era 1990-an, dpt 15 ptunjukkan sebulan itu biasa. Skrg, sepuluh saja kok sudah "ramai". #KiAnom
Dalang skrg suka gabungin wayang dengan musik. Sbg variasi ya boleh saja. Tapi, sebaiknya tetap berpegang pada gamelan. #KiAnom
Wayang dengan gamelan, meskipun klasik, tidak berarti basi disajikan di era modern kan? #KiAnom
Masa keemasan wayang: saat era Pak Harto. Dibandingkan saat itu, pemerintah skrg jelas kurang perhatian thdp pedalang. #KiAnom
Terlepas dari semua keburukan pak Harto, komunitas pedalang merasa kehilangan sosok seperti Pak Harto. #KiAnom
Ngedalang itu cuma main wayang. Harus paham jg detail lain spt sound system, persiapan penabuh gamelan dan kelayakan alatnya. #KiAnom
Pak Harto itu penggerak kemajuan tradisi wayang. Ia selalu menggelar pertemuan dengan semua dalang profesional di istana. #KiAnom
Komunitas pedalang skrg "cair"! Semua sibuk masing-masing. Walaupun ada Persatuan Dalang Indonesia, tp tdk ada kontribusi nyata! #KiAnom
Bayu Aji Pamungkas, putra saya, dalang jg; tantangan dia lbh besar, krn saya dulu blm ada internet dgn Facebook-nya, hahaha! #KiAnom
Dalang itu harus rajin nonton wayang, siapapun dalangnya. Senior atau amatir, harus belajar dan mendapat masukan dari situ. #KiAnom
Saya "jatuh" saat istri saya meninggal. Jd tdk ada gairah lg. Saat ada tawaran sy jd bingung, buat siapa lg saya bekerja? #KiAnom
*Artikel aslinya diterbitkan dalam rubrik "What I've Learned" yang diterbitkan di majalah Esquire Indonesia edisi April 2011.
Tag: wawancara, Ki Anom Suroto, dalang
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sisca civitas: Penting
-
rohmadie soesanto: Bagus
-
cakyoh: Penting

Komentar:
masih punya tempat di hati masyarakat disana kah? atau...
Silahkan login untuk memberikan pendapat