Dulu, Ketika Sempat Jadi Jurnalis Kampus... 5

Selasa, 9 Agu '11 02:13

Sejak pertama kali bergabung ke dalam jejaring salingsilang.com, dari sekian banyak situs yang menjadi bagiannya, perhatian saya langsung tertuju pada persma.com.

Kenapa? Karena dulu, saya sempat menjadi jurnalis kampus, berkegiatan di dalam sebuah organisasi berlabel Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang secara sederhana disebut persma, ya persis sama seperti nama situs partisipatif ini :)

Mau cerita sedikit, dulu ketika saya sempat menjadi jurnalis kampus; pemahaman saya tentang persma itu agak "serem" kedengerannya hehehe... persma itu pers alternatif yang menjadi motor gerakan mahasiswa; jeng jeng! gerakan mahasiswa ketika itu sangat identik dengan kegiatan demonstrasi, protes turun ke jalan.

Persma tempat ketika saya bergabung dulu, seperti melting pot para mahasiswa yang ngaku kritis ;p obrolan alias diskusi di dalamnya cenderung berat dan berlarut-larut sampai begadangan; biasanya saya dan teman-teman menyebutnya obrolan "menggagalkan pagi" ;p

Suasananya sangat kental gaya aktivis hehehe; ruangan agak berantakan dengan buku-buku berserakan dan diletakkan sekenanya, diimbuhi pula dengan bau apek dan pengap karena ruangan berukuran 4x2 meter itu tergolong sempet dibandingkan jumlah penghuninya yang (kalau saya tidak salah --rata-rata) 10 orang perokok jarang mandi -_-

Padahal ketika itu, menurut saya, era aktivis tipikal sudah hampir habis zamannya hehehe... Begini, saya itu masuk kuliah tahun 2001, ketika gerakan mahasiswa yang fenomenal pada 1998 sudah mulai memasuki wilayah adem dan turun dari klimaksnya.

Tren dan atmosfer gerakan yang sebelumnya kental di lingkungan persma mulai terlihat pudar saat itu; yang tersisa tinggal simbol-simbol fisik seperti ruangan berantakan, pengap, dan apek tadi hehehe...

Seiring waktu, saya mulai melihat bahwa generasi mahasiswa angkatan saya masuk ke dalam jenis yang berbeda :) budaya popnya sudah beda, ceritanya juga sudah lain lagi; tak heran ketika angkatan saya mulai kebagian tongkat kepengurusan, beberapa hal mulai berubah.

Diklat ala mahasiswa gerakan diubah formatnya menjadi lebih "lunak"; mulai ada pertimbangan untuk menerapkan kesepakatan tidak merokok di ruangan. Pendingin ruangan dan kebersihannya ditata lebih rapi dan proper. Lebih dalam lagi, orientasi pada proses yang sangat tegas di era sebelumnya, agak berbaur dengan orientasi pada hasil (result) ala generasi baru; generasi saya.

Ceritanya, angkatan baru ini terlihat agak lebih disiplin, bersih; salah? Tentu tidak. Karena setiap era punya corak dan warna masing-masing.

Ketika dulu sempat jadi jurnalis kampus di persma, saya dan teman-teman seangkatan "dipoles" senior dengan gaya, pendekatan, dan strategi ala mahasiswa gerakan; tapi kami tidak menerapkan itu pada angkatan baru di bawah kami. Polesan para senior itu adalah salah satu pengalaman terbaik dalam hidup saya; tapi mentah-mentah menerapkannya ke angkatan baru tanpa peduli dengan konteks dan karakteristik mahasiswa generasi baru ini juga konyol.

Maka, ketika saya dan teman-teman menjadi pengurus, sepanjang periode 2001 sampai 2004, tanpa kami sadari, kami berdiri di atas alas yang rentan dan menegangkan... yaitu, transisi.

Ya, era transisi, ketika persma harus mulai evaluasi, melihat ke dalam dan me-refresh definisi sebagai pers alternatif di kampus; peran dan posisi apa yang harus dimainkan?

Ketika itu, saat saya masih jadi jurnalis kampus di persma, saya dan teman-teman seangkatan banyak berdiskusi, membaca dan mengikuti perkembangan industri komunikasi terbaru (karena ilmu komunikasi adalah lini studi kami di kampus), dan mempelajari perkembangan persma dari kampus lain melalui forum seperti FPMJ (Forum Pers Mahasiswa Jabotabek).

Hasilnya, kami kebingungan memprediksi dan memutuskan, mau dibawa kemana persma ini? Bertahan menjadi pers gerakan yang berorasi lewat tulisan sepertinya sudah tidak seksi dan cocok dengan pembacanya (baca: mahasiswa); kalau tidak menarik untuk dibaca lagi, maka fungsi apapun menjadi nihil, percuma.

Mengubah diri menjadi media hedon yang ngepop sepol-polnya juga tidak menjadi minat kebanyakan teman-teman di persma ketika itu.

Belum rampung solusinya, saya dan teman-teman sudah sampai di penghujung masa studi di kampus. Kami sudah harus menyerahkan tongkat estafet kepengurusan pada angkatan muda; maka kami serahkan dengan bangga dan senyum penuh harap, bahwa mereka kelak akan menuntaskan solusi dari urusan ini.

Urusan mengembalikan persma ke trek yang cocok dan kembali punya posisi kuat sebagai motor gerakan mahasiswa; tidak sempit pada definisi turun ke jalan berdemonstrasi, tapi gerakan produktif dalam bentuk apapun.

Ketika dulu, saat saya meninggalkan organisasi persma di kampus, optimisme itu masih kenceng; sayangnya, perlahan pudar, karena sepertinya kebingungan dan ketidaktuntasan yang saya dan teman-teman tinggalkan lah yang tersisa dari generasi ke generasi, hingga saat ini...

Dan ketika sekarang, saat saya sudah lepas jauh dari jurnalis kampus, saya merasa punya beban moral dan tanggungjawab untuk kembali membantu teman-teman yang kini menjalankan persma di kampus, yang sepertinya kian pudar geliatnya.

Jadi, selain karena dulu saya sempat menjadi jurnalis kampus; alasan lain ketertarikan saya tertuju pada persma.com adalah keresahan; untuk menuntaskan jawaban, bagaimana sebaiknya persma berperan sebagai motor gerakan produktif mahasiswa di kampus? Saya ingin belajar dari warga di sini, dan meraba bentuk yang pas untuk (setidaknya) bisa membantu adik-adik mahasiswa saya yang masih sibuk ngelola persma di kampus saya dulu.

Menambal kekurangan kontribusi saya, ketika dulu sempat menjadi jurnalis kampus...

Saya, dulu, pengurus Lembaga Pers Mahasiwa Media Publica, di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama) dari tahun 2001-2005.


Tag: kampus, Persma

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Oo Zaki 0 0
Semua titik dan era barangkali ialah transasi. Kita hanya senang menyebutnya sebagai pembeda.
bangaip 0 0
wahh bener juga yaa hehehe... cuma kadang lucu ya, kalo setiap era itu sebetulnya bertransisi, kok ada aja elemen2 tertentu yg agak segan utk berubah di tiap era itu? mungkin menarik juga kali kalo ada ulasan transisi persma dari masa ke masa ya? tulis dong Zak, biar nambah nih wawasan kita hehehe
Rizki 0 0
bangaip: Sebagian dari persma masih agak gaptek dengan TI, alasan kedua yang gak bisa dipungkiri yah masih "Malas" buat nulis mas,Makanya situs ini masih sangat SEPI.
bangaip 0 0
eh menarik tuh ki, kira2 knp ya ada/sebagian persma msh gaptek dgn TI? maksudnya, pdhal kan semua anggotanya besar/tumbuh di jaman internet lg hot2nya; kalo malas nulis sih kayaknya masalah dr dulu ;p
Rizki 0 0
bangaip: Sebagian dari mahasiswa sekarang jarang memanfaatkan Lab Komputer di kampus dengan maksimal bang, rata-rata hanya berFB ria, lainnya pake google.com buat nyarik tugas kuliah. Yah hanya ini-ini saja mas, jangankan menulis, membaca saja masih malas, ada e-book (yang lebih murah daripada buku) saja tidak banyak dimanfaatkan.

Silahkan login untuk memberikan pendapat