Belajar = Proses, Bukan Urusan Ponten 3
Selasa, 9 Agu '11 13:22
"Saya tidak bisa mengajarkan siapapun tentang apapun. Saya hanya bisa membuat mereka berpikir." -- Socrates
Sebetulnya, saya tuh kepingin banget langsung banyak ngobrol tentang peran persma di kampus, dan nggak sabar mendapatkan tanggapan dan masukan dari warga di blog partisipatif ini. Tapi sebelum itu, saya tiba-tiba terpikir untuk sharing dulu soal bagian yang sangat mendasar, yaitu tentang pendidikan.
Loh persma itu kan entitas pendidikan juga, jadi masih nyambung yaa :) Yok mari saya mulai dari sini...
"Yak, seratusss! Pinterrr!" ungakapan ini mungkin sudah akrab kita dengar sejak dini dalam berbagai ruang pendidikan; baik secara formal di sekolah, maupun secara non formal di lingkungan keluarga dan pergaulan. Ponten dianggap sebagai tolak ukur utama kepintaran seseorang; mari, sementara kita anggap betul, karena memang tidak sepenuhnya salah :)
Kalimat itu ibarat mantra yang jadi tolak ukur keberhasilan seseorang dalam proses pendidikan tadi. Sayangnya, ujaran sakti itu kok seringkali keliru dipahami, minimal meleset lah.
Karena, bukankah niat menerima atau mengalami pengalaman pendidikan itu sebetulnya untuk membekali kita semua dengan masa depan yang baik? Baik tidak selalu sama dengan kepentingan diri sendiri, tapi juga baik untuk orang lain di sekitar kita; lebih luas lagi untuk negara, tsaaah hehehe...
Tapi, ujung-ujungnya saat topik pendidikan disenggol, pertanyaan praktis yang kerap muncul adalah: "Kamu sekolah dimana?", "Siapa yang mengajar?", "Seperti apa kurikulumnya?", "Di universitas mana? Bergengsi atau nggak?", "Fasilitasnya oke nggak?", dan ungkapan lain yang sejenis. Deretan keingintahuan ini tanpa disadari memicu berbagai instansi pendidikan, mulai dari nasional sampai internasional, untuk memenuhi harapan itu dengan janji-janji dan elemen fisik yang menggiurkan; tanpa perlu terlampau menyentuh kebutuhan pendidikan yang sebenarnya.
Emang seperti apa sih yang menyentuh kebutuhan pendidikan? Sebenernya gini, saya sering mikir kalau pendidikan itu ibarat agama hehehe, harus ada niat, keyakinan, dan kemauan tulus untuk do above and beyond. Ceritanya, proses beragama akan menjadi baik ketika penganutnya passionate terhadap apa yang diyakini; pendidikan pun begitu, akan lebih mengalir dan kondusif ketika semua stakeholders di dalamnya (siswa, mahasiswa, guru, dosen, dll.) passionate terhadap ilmu dan prosesnya.
Salah satu teman saya di kampus dulu lulus lancar dengan IPK 3,80 dalam tempo empat tahun; dia nyaris tidak pernah absen selama masa perkuliahan, tugas dikerjain semua, nilai-nilai UTS sama UAS-nya cantik melintirr deh hehehe... Sayangnya, temen saya ini pernah curhat kalo dia itu sebenernya pengen ikutan seru seperti anak-anak organisasi dan mahasiswa aktif lain di kampus, tapi dia khawatir akan mengganggu kuliah. Well, kekhawatiran yang bisa dimaklumi; mengingat mahasiswa yang biasanya aktif di kampus itu suka sok sibuk dan gak punya waktu belajar yang katanya bener hehehe...
Kasiannya lagi, setelah lulus ia mengalami kesulitan untuk mencari kerja... Jeennngg! Percaya atau nggak, teman saya ini sempat nganggur sampai enam bulan setelah wisuda. Saya inget dia pernah sharing, "Apa yang salah ya? kayaknya requirement gue udah oke deh ip." Menurut saya, asli nyariss nggak ada yang salah sama dia, kecuali dia lupa bahwa output pendidikan berupa manusia yang kompeten di bidang tertentu tidak lagi hanya diukur dari nilai; tapi lengkap dengan karakter dan attitude, passion, serta banyak akal dari pengalaman yang dinamis.
Pendidik Anies Baswedan pernah berujar dalam wawancara di sebuah program televisi, "Bahwa IPK yang baik, paling jauh hanya membawa seseorang sampai tahap wawancara kerja!" :)
Nah, teman saya tadi itu jadi korban pendidikan berorientasi hasil, dan bukan proses. Ia menjalani dengan baik masa studinya di kampus hanya untuk menumpuk bekal mendapat pekerjaan yang baik kelak, jaminan masa depan cerah dengan nafkah yang baik pula. Keadaan ini membuat fase pendidikan menjadi sekadar pra syarat untuk melangkah ke jalur profesional. Separahnya, pendidikan tidak menjadi sesuatu yang dirasa perlu diperjuangkan; bahkan jika terjebak dalam kisah inspiratif orang sukses yang bisa kaya tanpa menuntaskan sekolah seperti om Bill Gates, Steve Jobs, atau kang Bob Sadino, maka jangan-jangan pendidikan formal sudah tidak diperlukan lagi hehehe...
Padahal pendidikan tetap perlu dan penting; banyak level yang bisa dilampaui dalam proses atau masa studi di sekolah dan kampus secara filosofis. Persoalannya adalah, lingkungan pendidikan sebisa mungkin jangan sampai keliru dipahami. Spirit dan passion untuk melakoni proses pendidikan yang harus terus dijaga temperaturnya agar tetap panass; karena pendidikan lebih jauh lagi bukan sekadar sistem, tapi bagian kehidupan yang sangat penting untuk dijaga semangatnya selama masih bisa napas dan kentut ;p
Sedikit kembali ke konteks peran persma; sebagai saluran kontrol sosial di lingkungan kampus, saya pikir tugasnya bukan hanya menghantam birokrat yang sembarangan mengelola kampus, protes soal fasilitas, atau menguak secara rinci alokasi dana kemahasiswaan misalnya; tapi juga menjaga eskalasi emosi dan passion untuk lebih aktif dan partisipatif dalam proses pendidikan di kampus.
Jika mengeluh dan teriak-teriak berujung nihil, sepertinya tindakan nyata bisa diinisiasikan oleh persma lewat berbagai cara seperti social movement, kegiatan inisiatif, sampai riset. Saya sering menganggap, bahwa cara melakukan perlawanan bisa dilakukan dengan dua cara: satu menyerang secara frontal pihak lawan, kedua tidak menyerang tapi sibuk mengembangkan kualitas, jaringan, dan pengaruh kolaborasi komunitas secara strategis untuk jadi lebih stand-out dibandingkan pihak lawan; meskipun saya lebih suka yang kedua, tapi tak ada salahnya kalau dilancarkan dua-duanya :)
Merujuk pada pernyataan Socrates di awal tulisan ini; sepertinya lebih baik tidak perlu capek protes tentang apa yang tidak bisa diajarkan (atau disediakan kepada kita dalam proses pendidikan) jika yang diprotes sudah terlampau bebal dan bolot ;p sebaiknya mari sibuk berpikir tentang: Apa yang bisa kita pikirkan bisa kita lakukan? Karena masa studi itu bukan hanya untuk belajar nyaman dan dapat nilai baik, tapi ruang training untuk jadi generasi yang kreatif dan produktif.
Berhubung saya membuka tulisan dengan quote, kayaknya asik juga kalau saya tutup pula dengan quote lain ;) mantan presiden Amerika Serikat John F. Kennedy pernah melontarkan ujaran populer tentang sesuatu yang menurut saya relevan dengan topik ini:
"Don't ask what your country can do for you, but what you can do for your country?"
Tag: Pendidikan, kampus
Terkait:
-
Tuntutan Dipenuhi, Semua Mahasiswa Dapat Ikut Ujian
Rabu, 9 Jun '10 11:47 -
Mahasiswa Berangkat Kuliah
Senin, 8 Feb '10 03:45 -
Stop Pesimis Terhadap Pendidikan!
Senin, 19 Mar '12 13:16

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat