Mama Pergi, Skorsing Datang 3
Kamis, 28 Jul '11 20:38
Tangisan Donis Katengar (20) tak mampu diredam. Surat skorsing diberikan Universitas Sam Ratulangi atas tindakannya yang dinilai mencemarkan nama baik universitas. Mahasiswa asal Halmahera Timur ini, menerima sanksi akademik karena ulah yang pernah dibikin. Beberapa media lokal menyoroti kasus ini. Pengamat juga praktisi pendidikan saling debat. Kesan arogan sempat dilabelkan beberapa tokoh masyarakat pada universitas yang menjadi barometer pendidikan di Sulawesi Utara ini.
Bukan sekedar skorsing universitas sebab air matanya. Pemuda kalem ini menilai skorsing sebagai konsekuensi dari perjuangan membangun kampus, menegakkan demokrasi juga aplikasi dari disiplin ilmu yang dipelajari selama ini. Namun, pesan Almarhumah Mama menjadi duri dalam pikirannya. Beberapa saat lalu, 21 Mei 2011, Tuhan memanggil Mamanya, wanita paling berjasa memompa semangat untuk tetap fokus menyelesaikan studi.
Donis adalah putra pertama pasangan Marthen Katengar dengan Almarhumah Aryani Dangir. Seorang wanita mendahului kelahirannya, Jein Katengar (23), yang sehari-hari menggantikan peran Mama untuk mengurusi segala tetek-bengek dalam rumah tangga. Adiknya, Ivon Katengar (17), baru saja menduduki bangku kelas 3 SMA. Otomatis, Donis merupakan harapan keluarga untuk merubah nasib. Ayahnya, seorang pandai kayu, berharap banyak akan kuliah Donis.
Beberapa bulan silam, tepatnya pada 13 Maret 2011, ia dan beberapa kawannya menggelar konfrensi pers berdasarkan hasil dikusi internal organisasi yang digawanginya, Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Diskusi Ilmiah Mahasiswa (UKM FODIM). Dalam konfrensi pers tersebut, mereka mengutarakan kegelisahan akan dinamika akademik dalam kampus. Unsrat dinilai tidak lagi menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, namun lebih condong pada pembangunan fisik. Selain itu, mereka menduga adanya upaya memperkaya diri beberapa pejabat kampus dengan memanfaatkan proyek pembangunan tersebut.
"Apa yang kami utarakan adalah bagian dari mimbar bebas sekaligus kritik membangun," ungkap Donis.
Sebelum menerima surat skorsing, dirinya mengaku, sempat beberapa kali dipanggil komisi disiplin untuk dimintai klarifikasi perihal pernyataannya dimedia massa. Namun, pertanyaan-pertanyaan yang menyerbunya saat itu, tak mampu dijawab dengan baik. Konsentrasinya terpecah. Jauh dikampung halaman, kondisi Mamanya mulai melemah.
Surat skorsing keluar saat pemuda 20 tahun ini, sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata Terpadu (KKNT) di Lembean Timur, Kabupaten Minahasa. Sempat beberapa kali dihubungi pihak universitas, namun ia tidak menggubris karena harus menyelesaikan beberapa program diposko. Namun, instruksi sekretaris panitia KKNT lewat Koordinator Posko membuatnya segera beranjak dari lokasi KKNT.
Keesokan hari, langkahnya semakin gontai menuju ruangan Pembantu Rektor Bidang Pengawasan (PR VI). Tak ada firasat mengenai skorsing terhadap tindakannya beberapa bulan silam. Pikirannya masih menerka-nerka. Di ruangan, staff PR VI menyambut. Surat skorsing disodorkan. Irama jantung tak bisa diaturnya. Pikiran bergelut hebat. Wejangan Mama terngiang sporadis ditelinganya.
"Biar Papa dan Mama hanya makan pisang atau ubi, Donis tetap harus kuliah," tuturnya mengikuti pesan Mama mengakhiri perdebatan sengit sebelumnya.
Perasaan tak bisa diajak kompromi. Ingatan akan pesan mama selalu hadir ditiap detik dan menitnya. Wajar, beberapa hari menjelang kepergian sang Mama, Donis setia berada di Rumah Sakit meski harus meninggalkan beberapa urusan kampus.
Beberapa saat sebelum meninggalkan rumah sakit untuk membasuh diri, ucapan terakhir yang disampaikan Mamanya benar-benar membuat perasaan Donis semakin gundah. Dia tidak menyangka, percakapan hari itu menjadi percakapan terakhirnya. Gurauan hari itu menjadi gurauan terakhir. Ada ketakutan yang sempat diucapkan tanpa ada penjelasan, hingga Donis memaksa untuk mencari tahu sebabnya.
"Tempat mayat sudah datang kemari," ucap Mamanya kala itu.
Kata-kata barusan menjadi penutup kata-kata sebelumnya. Tuhan menginginkan kawan baru disamping-Nya. Satu bagian penting keluarga harus meninggalkan cerita manis yang cukup lama dirajut. Hidup harus terus dijalani tanpa Mama disamping Donis Katengar.
Kepergian mama bukan akhir dari derita yang menunggu. Tak lama setelah itu, skorsing datang untuk menahan Donis lebih lama lagi di kampus. Dua semester bukanlah waktu singkat bagi orang yang sedang berusaha melunasi "hutang".
Namun, apa mau dikata, "Dewi Keadilan" tertutup matanya. Siapa saja yang bersinggungan akan ditebasnya termasuk Donis, pemuda skeptis dengan sejuta kegelisahan dibenaknya. Tentu, keinginan untuk membayar hutang pada Mama tidak bisa dihapuskan dengan surat skorsing. Hanya saja, menyelesaikan kuliah lebih cepat masih terpatri dihatinya.
Tag: kampus
Terkait:
-
Krisis Kritis
Jumat, 28 Okt '11 18:10 -
Kolaborasi Ramaikan Persma.com Yuk!
Jumat, 19 Agu '11 15:37 -
Belajar = Proses, Bukan Urusan Ponten
Selasa, 9 Agu '11 13:22
Komentar:
pihak kampusnya tidak menegosiasi soal permasalahannya ?
rara w : donis diskorsing selama 2 smester dan itu akan berakhir pada tahun depan. Pihak kampus? Mereka (baik itu pemimpin dan mahasiswanya) menganggap kritik sebagai pemberontakan.
Cakyoh : Saya juga kurang paham, sudah lama tidak berkomunikasi dengan dia. Saya belum bisa menuliskan cerita selanjutnya (Tentang donis atau siapa pun), namun ku pikir, siapa pun yang mengkritik sistem akan mendapat sanksi, tapi semoga saja saya salah...
Silahkan login untuk memberikan pendapat