Memutus Mata Rantai Kemiskinan 0
Senin, 27 Jun '11 10:13
Semilir angin terus menggerus sebuah gumuk yang tegak berdiri di pantai Seruni, desa Payangan, Ambulu Jember. Langit cerah, sinar matahari hangat, dan aroma terasi yang dijemur selalu menjadi panorama sehari-hari disana. Beberapa anak kecil yang sedang bermain pasir tertawa berderai, sementara ibu mereka tengah duduk menikmati bekal. Sebuah pagi yang sempurna di surga kecil Indonesia.
Semenyara itu Sri Wahyuni, seorang pedagang makanan, tengah menata warungnya. Wajahnya tirus, rambutnya sedikit memerah dan ada lingkar hitam dibawah matanya. Dengan penuh cekatan kursi di atas meja dibalik dan diatasnya ditaruh berbagai macam minuman. Lantas beralih kepada tungku yang di atasnya telah siap panci dengan isi bakso. Ani, begitu ia disapa, tengah asyik sendiri mempersiapkan warungnya.
Sementara itu di belakang warung Ani seorang pria tengah berdiri mengatur parkir motor. Di tangannya ada tumpukan kertas yang bertuliskan nomor-nomor. Setelah para pemilik motor pergi, pria itu lalu duduk sendiri ditemani secangkir kopi dan pisang goreng yang masih mengepul panas. "Panggil saja saya Maskur," katanya singkat. Pria itu tampak sangat tegap, wajahnya hitam legam dengan kerutan di dahinya. Sekilas ia tampak seperti orang yang berusia diakhir 20 tahunan. "Saya masih 19 tahun, keliatan tua ya? Namanya juga nelayan," katanya bergurau.
Hari itu Maskur tak melaut. Angin timur yang sudah seminggu menerpa membuatnya tak berani menentang ombak. "Ya jaga motor saja, lumayan buat makan sama ngopi," katanya singkat. Jika tak sedang menjadi penjaga parkir, Maskur terkadang membantu Ani di warungnya. Tapi ini tak sering karena hanya saat-saat tertentu saja ia membantu. "Pas lagi rame saja, selebihnya ya nganggur," katanya pelan.
Ani sendiri sudah empat tahun berjualan, ia meneruskan usaha keluarganya yang dirintis sejak 2005. Seperti kebanyakan warga di desa Payangan ia memutuskan untuk tak melanjutkan sekolah dan bekerja. "Enakan cari uang, sekolah ngabisin duit," katanya. Meski demikian ia tak ingin adik atau anaknya kelak putus sekolah. Ia yakin jalan keluar dari kemiskinan adalah pendidikan yang baik dan bermutu.
Untuk pedagang semacam Ani yang ia butuhkan adalah pelanggan yang banyak. "Kalau banyak yang makan ya untung nambah," ujarnya singkat. Namun di Pantai Seruni Desa Payangan ini masih sedikit sekali pengunjung yang datang. Jalan yang rusak, lokasi tersembunyi dan minimnya promosi membuat pantai Seruni tak banyak dikunjungi. "Ramenya itu kalo lebaran, karena di Watu Ulo dan Papuma rame jadinya pindah ke sini," kata Ani.
Angin pagi bulan Juni menerpa pantai seruni dengan keras. Membuat ombak yang hadir meninggi dan menerjang kuat pasir yang ada. Beberapa orang yang nekat tengah bermain selancar. "Di sini kadang dibuat latian selancar sama orang Jember," kata Ani. Keelokan pantai, ombak yang tinggi dan pasir yang indah harusnya bisa membuat pantai ini menarik.
Maksum yakin jika dikelola dengan baik pantai Seruni bisa menjadi salah satu alternatif wisata Jember. Sejauh ini para warga Desa Payangan belum tertarik untuk mengelola pantai Seruni dengan maksimal. Selain itu usaha pariwisata dianggap tak mampu memberikan uang secara langsung. "Kebanyakan orang di sini nelayan, dapat ikan langsung jual dapat uang," ungkapnya.
Sebagai nelayan, Maksum tahu pendapatanya tak seberapa. Belum lagi musim yang tak bisa ditebak membuat kondisi ekonominya tak jelas. "Maunya kalau ada pelawangan bisa membantu sekali," ungkapnya. Pelawangan yang dimaksud adalah sebuah dermaga untuk menyandarkan kapal dan menurunkan ikan. "Kalau gak gitu tengkulak bisa seenaknya kasih harga," kata Maksum.
Selama ini para nelayan Payangan menumpang pantai Papuma untuk menurunkan ikan. Di sana para nelayan menjual ikan berdasarkan keranjang. "Satu keranjang biasanya 20.000 tapi kalau sudah panen, tengkulak seenaknya beli ikan 5.000 perkeranjang," kata Maksum. Jika ada pelawangan hal itu bisa dicegah. Karena akan banyak pembeli yang datang dan penawaran bisa bervariasi. "Gak usah dibikinkan Balai Pelelangan Ikan (BPI), cukup pelawangan sama jalan yang bagus sudah cukup," katanya mantap.
Ani juga menyetujui ide ini. Dengan perbaikan jalan dan pembangunan pelawangan maka pengunjung yang hadir bisa semakin banyak. "Kalo hari-hari biasa yang beli kan gak ada, kalo ada pelawangan bisa banyak yang beli di warung saya," ujarnya singkat. Dengan begitu para penduduk desa Payangan meyakini kehidupan ekonomi mereka akan semakin meningkat.
Hari sudah beranjak siang padahal pengunjung di warung Ani baru satu orang. Nasib yang lebih baik dialami Maksum. Setengah hari ia sudah menerima 10 motor parkir. "Satu kali parkir 3.000, dibagi sama yang punya lahan saya dapat 20.000," katanya berbinar. Angka itu sudah cukup baginya untuk makan hari itu.
Tapi sampai kapan kondisi ini akan terus berjalan? Ani sudah tak lagi bisa berharap dengan warungnya tersebut. "Terlalu sepi, ramenya kan pas lebaran sama minggu, masak saya harus puasa," katanya geram. Ia berencana ingin jadi TKW, namun kabar banyaknya kematian TKW membuatnya patah arang. Ia tak ingin keluarganya khawatir tetapi ia juga bingung hendak bekerja apa di kampungnya.
Banyak dari warga laki-laki di desa Payangan menjadi apatis dan antipati kepada orang-orang pemerintahan. "Sudah terlalu sering dibohongi, dulu ada dinas yang datang moto-moto pelawangan yang ada, tapi itu tok gak ada tindak lanjut," kata Maksum. Ia kini sudah tak lagi mau berharap kepada pemerintah yang dianggapnya gagal. "Kami ini sepertinya memang dibuat miskin sama pemerintah, gak tau maunya apa," seru Maksum lemah.(Arman Dhani)
Tag: nelayan, laporan jurnalistik
Terkait:
-
Nelayan Indonesia Harus Berdaulat di Negeri Maritimnya Sendiri
Rabu, 6 Apr '11 12:19 -
GoTOnG ikan
Sabtu, 10 Okt '09 16:02

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat