tentang perempuan 0
Selasa, 14 Jun '11 20:21
Aku tidak tahu, apa yang difikirkan perempuan ‘sedang’ di depanku ini. Perempuan angkuh ini benar-benar membuat aku geram. Gaya bicaranya yang selalu memojokkan, lengkap dengan teori-teorinya. Ah… dia terlalu cerdas untuk ukuran perempuan di sekitarnya.
“semestinya rencana anggaran yang ada, bukan disesuaikan dengan keinginan, tapi kepada kebutuhan masing-masing peserta diklat.” Katanya.
“misalnya?” kataku sambil ku tatap lurus ke arah matanya, yang empat itu.
“rokok, anggaran rokok. Apakah itu bukan malah termasuk keinginan? Kalau dikatakan kebutuhan, rasanya bukan termasuk kebutuhan. Karena itu tidak mewakilkan kebutuhan semua peserta, apalagi perempuan. Kalau ada anggaran rokok, itu artinya kita membuat mereka ‘butuh’ terhadap rokok, terhadap nikotin, iya kan..? lagi pula, itu juga tidak mewakilkan kebutuhan seluruh laki-laki..” katanya sambil tersenyum sinis ke arahku.
Gila!!! Yang benar saja? Bukan kebutuhan? Aku bisa gila tanpa rokok. Apalagi bila harus menjadi ketua dan mengurusi kegiatan seperti ini. Ah, dasar perempuan. Tahu apa mereka tentang rokok? Mereka bahkan tak mengerti sama sekali apa itu nikotin, apa itu rokok.
“lalu…” kataku sambil menatap kembali matanya yang empat itu.
“ya tidak usah dianggar. Kalau kebutuhan akan kopi, saya kira itu bisa dimaklumi. Karena peserta membutuhkan kinerja kafeinnya untuk memacu jantung yang sedang begadang. Walau sebenarnya itu tidak terlalu baik, kopi bisa membantu mereka. Tapi kalau rokok? Menjadi perokok pasif saja rentan, apalagi aktif…”
“betul…” kata perempuan di sebelahnya, yang tak kalah sedangnya.
“ehm…” aku berdehem.
“baiklah, untuk anggaran rokok, bisa aku bicarakan dengan Koordinator konsumsi. Soal rokok, kopi atau hal-hal yang lainnya kita anggap fleksibel saja. Rasanya terlalu teknis banget bila meributkan hal seperti ini, Oke?” kataku merajuk. Aku hanya tak ingin melihat perempuan angkuh ini terus berargumen.
“ya.. bisa dimengerti. Aku memang hanya bisa mengusulkan, karena aku pikir itu perlu. Kita harus bisa menghemat pengeluaran agar tidak membludak.”
“iya.. aku faham.” Dia mulai beranjak pergi. Aku memandang perempuan sederhana itu.
“ehm… Kamu bendahara?” tanyaku padanya.
“iya, sebagai ketua, kamu tidak kenal dengan bendahara? Hmm… memang benar kata orang, pak ketua kali ini benar-benar tidak mau down to earth ya. Namaku Mira pak ketua. Dari pada nanti suatu saat anda memerlukan saya kemudian tidak tahu siapa nama bendaharanya..” katanya sambil berlalu kembali, bersama perempuan ‘sedang’ di sampingnya.
Mira? Ah siapa peduli, lagi pula setelah pemilihan ketua panitia diklat kepenulisan ini, aku juga tidak ambil pusing dengan siapa yang akan membantu kinerjaku.
Aku mengambil jaket hitam yang aku letakkan di dalam ruangan saat rapat anggaran tadi. Membawanya keluar ruangan, ku lirik jam sekilas. Pukul 10 malam, hmm.. melihat bintang di teras rumah rasanya pasti akan nyaman.
Aku berjalan keluar, di teras rumah, terdapat kursi memanjang, yang sebelumnya terdapat di ruang tamu, yang kini telah disulap menjadi ruangan rapat, ruang tidur laki-laki. Multi fungsi memang.
Aku mengamati sekilas, beberapa teman semester kecil yang sedang asyik bermain catur, ada yang sambil memainkan ponselnya, ada pula yang asyik ngobrol. Aku mengambil duduk di pojokan, dimana aku bisa memandang langit malam ini. Sambil mencari taburan bintang, seketika aku merogoh saku celana, mencari sebuah tembakau. Ya rokok, ini adalah kebutuhanku, kalau laki-laki yang lain tidak butuh, memang Mira mau apa?? Jantung punyaku sendiri, uang buat rokok juga punyaku sendiri, ah siapa peduli dengan Mira.
Mira, namanya memang sederhana, sesederhana orangnya. Tak ada make up, tak ada pernak-pernik yang gemerlap. Aku mematikkan korekku, mendekatkannya di ujung rokokku, namun tiba-tiba aku teringat,
“…Menjadi perokok pasif saja rentan, apalagi aktif…”
Aku akui memang, bibirku mulai menghitam. Terkadang aku juga terbatuk-batuk, saat asap rokok mengepul terlalu banyak merasuk di jantungku.
Ah, ini kan jantungku…bukan jantung orang lain, atau jantungnya mira.
****
Keesokan harinya, aku terbangun agak siang. Mentari telah menyirami tubuhku dengan sinarnya, ku lirik jam yang tertera di layar ponselku. Kini sudah pukul 6 pagi. Aku memang sengaja tidur di sofa teras ini, sambil menjaga kendaraan para peserta yang diparkir di luar rumah.
Aku membuka mata, mendudukkan diriku dengan nyaman di sofa, mengumpulkan nyawaku yang berserakan entah dimana saat aku tidur tadi. Kali ini, aku ingin mencari kamar mandi. Rasanya aku hanya ingin menjamah air.
Aku meletakkan jaket yang aku gunakan untuk menutupi tubuhku semalam. Memasukkan ponsel ku ke dalam saku celana, melipat bagian bawah celanaku sampai ke lutut. Mengambil sikat dan menorehkan pasta gigi di atasnya. Aku langsung berjalan mencari kamar mandi, melewati samping kiri rumah.
Jalan ini seperti lorong kecil yang menghubungkan teras rumah dengan kamar mandi belakang, dari kejauhan aku melihat seorang gadis berjilbab sedang menunduk sambil memegangi perut. Samar-samar aku mendekatinya, jangan-jangan dia peserta lagi..
“hey kamu tidak apa-apa..?” tanyaku. Perempuan itu menoleh ke arahku, perempuan sedang yang tadi malam berdebat soal rokok, menatapku, kali ini tidak dengan mata empatnya. Wajahnya sedikit berbeda, hmmm… manis, pikirku.
“kamu kenapa ..Mi..ra..?” tanyaku, yang teramat ingat namanya.
“a..a..a..aku..ah..” dia menggenggam perutnya, sepertinya dia sedang merasakan sakit yang teramat dalam. Aku tidak tahu, apa dia kena maag? Atau apa..? aku meletakkan sikat gigi yang sudah kuberi pasta itu di meja, ujung lorong ini. Aku mendekatinya,
“katakan padaku, kamu kenapa…?” Mira hanya diam saja, aku hanya mendengar dia mangaduh-ngaduh. Kemudian aku mendengar dia terisak, apa..? Mira menangis?? Perempuan angkuh pun juga bisa menangis??
“hey… katakan apa yang bisa aku lakukan untukmu?” tiba-tiba naluriku menyuruhku untuk membantunya beridiri, dan mendudukkannya di kursi samping meja tadi. Dia masih menunduk, ku lihat air mata itu masih mengalir. Dia bergumam, seakan dia ingin mengatakan sesuatu. Aku mendekatkan telingaku di dekat bibirnya,
“iya katakanlah, akan aku dengarkan..”
Dengan lirih dia berkata seakan berbisik lembut di telingaku, tak seperti saat aku beradu argument tentang rokok tadi malam. Ternyata aku tahu, dia sedang menstruasi, dan dia sedang nyeri haid. Ah..penyakit apa itu? Hingga seorang Mira yang aku tahu begitu angkuh pun menangis.
“apa yang bisa aku lakukan untukmu…?” kataku sambil menatapnya yang kian tertunduk. Dia membisikkan sesuatu kembali, dan aku menyetujuinya. Aku meninggalkannya sebentar, menuju belakang rumah. Bertanya kepada pemilik rumah, tentang yang Mira minta. Ternyata aku harus mencarinya sendiri.
Aneh…kenapa orang sakit kok malah minta kelapa muda? Perempuan itu aneh. Namun entah mengapa, aku juga tak banyak tanya, aku hanya ingin mencarikannya untuknya.
Melihat sekeliling belakang rumah, beberapa pohon kelapa yang terayun-ayun, aku mencari yang paling rendah. Ternyata, pak Banu, sang pemilik rumah sudah di sampingku.
“tak bantu mas, mas paling belum pernah manjat pohon kelapa kan.?” Aku tersenyum. Ternyata dia tahu, aku memang tak pernah memanjat pohon kelapa. Lagian, biasanya kalau ibuku memasak, dia langsung membeli kelapa di warung mak Surti, tanpa aku harus susah-susah memanjatnya.
Pak Banu sangat sigap, dia memilihkan kelapa muda yang sesuai. Sebelumnya, memang aku katakan padanya, bahwa temanku sedang nyeri haid. Pak Banu turun, dan menyerahkan kelapa itu setelah ia melubanginya dengan sabit yang dia bawa.
“segera berikan pada pacar mas.. kasihan kalau lama menunggu…” ah, pak Banu ini, ada-ada saja. Aku langsung berjalan cepat, mencari Mira.
Dia tidak ada? Hanya ada sikat gigiku yang tergelatak sendiri di meja. Aku mencarinya di sekeliling, ternyata ia tertidur lemas di dipan dekat kamar mandi. Meski jam 6 lebih, tak banyak teman-teman yang bangun, mungkin itulah mengapa Mira hanya kesakitan sendiri.
Aku melihatnya sekilas, dia masih memegangi perutnya, wajahnya memang pucat. Masih ku lihat bekas air mata yang mengalir di sudut matanya.
Aku membangunkannya pelan, “Mir.. Mira..” dia membuka mata, begitu melihatku dia langsung terduduk, seolah tak terjadi apa-apa. Ah.. sudah sakit masih angkuh rupanya dia.
“kamu..?”
“ini sudah aku bawakan kelapa muda. Tinggal diminum airnya..” dengan sedikit ragu dia mengambil kelapa muda yang aku sodorkan padanya. Aku tahu, mungkin karena sebelumnya kita tidak pernah mengenal satu sama lain, jadinya dia merasa kikuk. Ah.. kenapa harus aku fikirkan perasaanya?
“terimakasih Pak Ketua… anda bisa melanjutkan aktivitas, maaf merepotkan…” dia beranjak berdiri.
“rasanya sakit banget ya…?” tanyaku sebelum melangkah pergi.
Dia menoleh, dan tersenyum kepadaku. Gila!! Gadis sedang ini membuat aku gila. Tiba-tiba ada yang berbisik, aku ingin sekali selalu ada di sampingnya kala dia sedang begini. Ah… gadis angkuh ini nan sedang ini… tiba-tiba saja aku ingin melindunginya.
Dia berpaling, dan aku langsung berdiri sambil berkata, “bila masih perlu bantuan, ..” dia menoleh ke arahku lagi.
“kamu bisa mencari ku … bendaharaku…” dan dia tersenyum, senyum yang tiba-tiba meruntuhkan keegoanku sebagai laki-laki.
7.47 pm. 13 june 2011
Tag: cerpen
Terkait:
-
Terperosok di Sudut Kota
Minggu, 8 Mei '11 08:44 -
Ironi sebuah kelulusan
Rabu, 4 Mei '11 19:25 -
Surga Ani
Selasa, 14 Des '10 00:46
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat