Berbohong Demi Citra Kampus, Pantaskah...? 2
Selasa, 14 Jun '11 15:32
Pertanyaan itulah yang kulontarkan untuk seluruh civitas akademika Unimal, pertanyaan sangat mudah untuk dijawab dan tidak akan membuat bingung mahasiswa. jawabannya sangat mudah dan sudah pernah diajarkan di taman kanak kanak bahwa bohong itu dosaaaaaa sambung anak TK menyahut ucapan ibu gurunya.
Meskipun pertanyaan mudah, tetapi pertanyaan itu hampir membuat bingung satu kampus, bahkan ada yang mencoba untuk merasional dan membenarkannya "bohong demi kebaikan itukan ngak apa apa", mendengar jawaban itu saya berfikir ternyata misil pencucian otak yang sangat gencar dilakukan dikampus itu berhasil, buktinya ada juga orang yang membenarkan yang salah.
Membenarkan yang salah memang telah lama terjadi sebelum terpilihnya Apridar sebagai rector baru Unimal, saya kira Unimal akan lebih baik dengan adanya rector baru, tidak taunya ternyata kampus makin tidak jelas, praktik-praktik korupsi kolusi dan nepotisme malah di elus elus bagai boneka Barbie (dilindungi).
Hal itu terlihat oleh public diakibatkan oleh pemberitaan media dalam membongkar upaya pembohongan di kampus tersebut mulai dari bantuan beasiswa miskin (BBM), beasiswa dari program peningkatan prestasi akademik (PPA), dana almamater tahun 2010, honor satpam, karyawan, petugas kebersihan kampus, begitu juga tunjangan makan, beasiswa kredit dosen juga tidak disetor dan hilang begitu saja bagai ditelan syetan, belum lagi yang dielus-elus oleh pejabat kampus tersebut sehingga tidak mencuat ke public alias masih aman.
Nah untuk menyembunyikan hal tersebut agar tidak sampai diketahui oleh public Rektor baru Universitas Malikussaleh beserta jajarannya mencoba merasionalkan kepada mahasiswa, karyawan dan dosen terhadap berbagai penyimpangan yang pernah terjadi dikampus dengan istilah "kritik dapat merusak citra kampus" dan diikuti oleh istilah awai "lheh tapajoh, tatoh lom hinan atau toh ek lam kanot bu, itu disampaikan dengan bijak kepada beberapa mahasiswa, karyawan dan dosen dan beliau mengakui apa yang telah terjadi di era rektor sebelumnya, tetapi katanya dia tidak bisa berbuat apa apa karena kepemimpinannya mulai 1 januari 2011, rektor baru Unimal hanya bisa mengkomunikasikan hal itu dengan paduka yang mulia Prof A Hadi Arifin berserta pembantunya.
Setelah itu tanpa dikomandoi sang kepala mahasiswa itu dengan gagahnya mendakwahkan hal tersebut kepada pengiku pengikutnya "sesungguhnya kritik itu dibolehkan, tetapi cobalah kritik oknumnya lansung, jangan kritik kampus karena dapat merusak citranya, seperti itulah kira kira nasehat kepada sang pengkritik yang membuat sipengkritik itu heran, dan berguman dalam hatinya ini orang apa melarang kritik atau ingin menjebloskan saya ke penjara dengan tuduhan pencemaran nama baik gara gara mengkritik menyebut nama pribadi.
Diikuti juga oleh pesan agar setiap kebohongan dikampus tidak perlu dipublikasi keluar karena mereka beranggapan bahwa itu bisa diselesaikan secara internal, kalau itu tetap diposting di wall facebook, blog dan media online lainnya dikhawatirkan akan berdampak pada support anggaran dari pemerintah. Ini disosialisasikan demi kenyamanan para pembohong agar tetap aman dan tidak dikejar kejar oleh hokum. Secara lansung maupun tidak lansung pembohong pembohong itu dilindungi dari jeratan hukum karena telah menyalahgunakan milik public.
Secara tidak lansung kritik dilarang dengan alasan dapat mencoreng nama baik atau citra kampus, dan secara lansung kita sebagai insan intelektual diajarkan untuk berbohong demi nama baik atau citra kampus. Disamping itu, untuk meredam reaksi mahasiswa karena kondisi kampus memang diajak untuk berbohong dan yang tetap bicara tanggung sendiri akibatnya. Nha... disini ni yang membuat mahasiswa tidak berkutik, siapa sih yang tidak takut ditekan dan ancaman DO? Karena semua ingin meraih cita cita untuk memakai baju toga dan mendapat gelar sarjana sebagai mana harapan orang tua maka terpaksa kami berbohong.
Kami mahasiswa hanya bisa berbuat dan berharap kepada rektorat untuk tidak lagi dibohongi oleh kampus di negeri sendiri mulai dari praktik begitu juga dalam teori. Dan segala hal yang pernah terjadi tolong untuk diselesaikan tetapi bukan secara internal, selesaikan secara hokum yang berlaku, salah laporkan, kami mahasiswa tetap berpihak pada kebenaran dan akan selalu mendukung, membantu serta melindungi siapa saja yang melakukannya. Kalau memang bapak tidak sanggup melakukannya, cobalah untuk memberi peluang dan persilahkan kami untuk melakukan dengan ihklas.
Penulis adalah anggota FKMA yang juga mahasiswa fakultas ekonomi Unimal
Tag: kampus, Mahasiswa, korupsi
Terkait:
-
Kolaborasi Ramaikan Persma.com Yuk!
Jumat, 19 Agu '11 15:37 -
Tuntutan Dipenuhi, Semua Mahasiswa Dapat Ikut Ujian
Rabu, 9 Jun '10 11:47 -
press release: "Tolak Neo-NKK/BKK"
Senin, 7 Jun '10 16:53
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
bangaip: Bagus

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat