Pancasila, Jangan Sampai Jadi Ideologi Tunggal (lagi) 6
Sabtu, 4 Jun '11 14:26
Depok, 4 Juni 2011.
Terutama menjelang dan setelah tanggal 1 Juni, dalam minggu-minggu terakhir ini,saya kembali dikagetkan dan diresahkan dengan pemberitaan berbagai media cetak dan elektronik mengenai : "Pudarnya Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara".
Saya sendiri sebenarnya tidak resisten terhadap Pancasila. *Meski sebenarnya, saya lebih setuju kalau sila ke 5 bertukar tempat menjadi sila ke 1 dan sila ke 1 menjadi sila ke 5. hehe* Dan bahwa Pancasila adalah the way of life dari republik ini, saya pun tidak keberatan.
Kekagetan dan keresahan saya muncul sebenarnya karena opini yang dibangun di berbagai media tersebut nyaris seragam (dan menghawatirkan) :
"Maka dari itu, perlu kembali diterapkan penanaman nilai-nilai dan butir-butir Pancasila, sejak dini."
"Butir-butir Pancasila wajib dipelajari sejak SD hingga Perguruan Tinggi"
dsb, dsb, dsb.
Mengapa menghawatirkan? Karena kecenderungan pemberitaan di berbagai media tersebut menurut saya adalah berusaha untuk menjadikan (kembali) Pancasila sebagai ideologi tunggal republik ini, seperti pada masa Orde Baru, yang penuh dengan kekerasan dan kekejaman itu. Dimana seperti diketahui, "pendalaman" ideologi tunggal Pancasila pada masa itu, memang dilakukan (juga) dengan cara "penghafalan" butir-butir Pancasila di semua sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan.
Terlebih, hingga saat ini, masih ada peraturan perundangan yang mengekang kebebasan berideologi warga negara Indonesia. Diantaranya TAP MPRS No. XXV/1966, mengenai larangan terhadap PKI dan disebarkannya marxisme dan leninisme.
Penyeragaman ideologi, seperti yang pernah dilakukan rezim militer Soeharto pada masa Orde Baru, tentu hanya akan menimbulkan pembantaian-pembantaian baru. Terlebih, jika RUU Intelejen, yang kabarnya akan disahkan dalam waktu dekat ini, benar-benar disahkan.
Jika kekhawatiran saya ini terjadi dan penyeragaman ideologi benar-benar (kembali) dilakukan, maka kita bisa simpulkan bahwa rezim yang berkuasa saat ini, rezim neolib SBY-Boediono ini, memang rezim yang ahistoris :
Mereka lupa bahwa Pemilu 1955, yang diisi oleh partai politik dengan beragam ideologi, merupakan pemilu paling demokratis se-Dunia.
Mereka lupa bahwa penyeragaman ideologi, seperti yang pernah terjadi pada masa Orde Baru, telah membunuh jutaan nyawa manusia.
Demikian kegelisahan saya.
Mari kita berdiskusi... ;) Mari... :D
Tag: Pancasila, Ideologi Tunggal, Meresahkan, Represifitas Negara
Terkait:
-
Lahirnya Pancasila
Senin, 18 Apr '11 17:28 -
Panca-Sila? "Belajar kembali mengeja spiritualitas Nation-State"
Jumat, 30 Okt '09 21:44
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Defy Arbimapala: Bagus
-
Luki: Perlu
-
fendi: Perlu
-
kesejukandariselatan: Perlu
Komentar:
kalo pancasila tak pantas kita agung-agungkan sebagai keabsahan fundamentelisme bangsa ini, kita musti pakai apa?
Sejarah membuktikan tak ada satupun bangsa di dunia ini yang mampu menjadi sebuah bangsa yang besar dan maju dengan cara meminjam karakter dan kepribadian bangsa lain.
Sebaliknya, seluruh bangsa yang saat ini mampu menjadi bangsa besar dan maju, karena tumbuh dan berkembang membangun dirinya dengan fondasi karakter dan kepribadiannya sendiri.
lha... di pancasila inilah fundamentalitas bangsa kita.
apa kita mau ke barat-baratan, ke arab-arapan, atau ke sosialis-sosialisan?
Kedua: kalau sila kelima atau keberapa saja dipindahkan ke sila pertama apa pengaruhnya? dalam sebuah diskusi sarasehan pancasila di kampusku, menghairkan beberapa pakar, di situ ada komentar yang sama, kalau menurut orang yang berkomentar itu sebaiknya sila kelima dipindahklan ke sila pertakma. serentak semua hadirin langsung tertawa. ada alasan orang tertawa, karena menurut hadirin, bukan masalah urutan, tapi mana yang mau menjadi fokus dari penguasa yang menjalankan roda pemerintahan. Ingat yang pertama bukan berarti yang utama.
ketiga: kalau anda bilang pada masa Orba sudah dijalankan ideologi tunggal yaitu pancasila, pertanyaannya, pancasila yang mana? pancasila yang dibuat Soeharto atau pancasila yang dibuat Soekarno?
sebenarnya dalam pncasila itu sendiri sudah tertanam dua ideologi besar di dunia ini yaitu ideologi komunis dan ideologi sosialis, ini adalah solusi terbaik yang diambil oleh soekarno utk membuat sebuah dasar negara. usulan praktis, banyaklah menghayati bacaan yang anda baca, Ty
Sosialisme Komunisme sendiri memberi pengaruh besar dalam Pancasila (selain Nasionalisme, Islamisme, dan Humanisme). Ini diakui baik oleh Soekarno, M. Yamin, hingga intelektual muda saat ini seperti Budiman Sedjatmiko. Terbukti dalam beberapa teks, Pancasila dinyatakan bermaksud menghabisi l'exploitation de l'homme par l'homme atau eksploitasi dari manusia terhadap manusia lainnya.
Memang ada perbedaan mendasar pula antara Pancasila dengan Komunisme. Antara lain Pancasila menghendaki kolaborasi kelas daripada perjuangan kelas seperti Komunisme.
Saya tidak ingin melanjutkan perbandingan lebih lanjut antara Pancasila dengan Sosialisme Komunisme, karena tema tulisan ini bukan itu. Apa yang ingin saya katakan adalah ada baiknya pembacaan pancasila dilakukan sesuai konteks dan disertai dengan pembacaan wacana-wacana lain. Mulai dari pidato lahirnya Pancasila, Djalannya Revolusi Kita, Manipol Usdek, dan lain-lain.
Silahkan login untuk memberikan pendapat