Social Entrepreneur : Istilah yang Mengacaukan Logika dan Membodohi Masyarakat 21

Selasa, 31 Mei '11 00:59

Akhir-akhir ini, saya cukup sering melihat dan mendengar sebuah istilah yang cukup mengusik telinga dan pikiran saya. Istilah itu : Social Entrepreneur atau Pengusaha Sosial.

Dalam sebuah iklan yang mempromosikan privatisasi air, yang secara tidak sengaja saya lihat di TV beberapa jam lalu, saat sedang makan di sebuah warung angkringan, saya diingatkan kembali dengan istilah itu.

Dalam iklan tersebut tertulis : Sandiaga Uno, Entrepreneur Sosial.

Entah siapa yang pertama kali mencetuskan istilah yang meng-ilusi (terutama kalangan mahasiswa) ini. Namun, bagi saya, istilah ini sangatlah mengacaukan logika dan membodohi masyarakat.

Mengapa?

Kamus Oxford mengartikan kata entrepreneur sebagai “A person who undertakes an entreprise or business, with the chance of profit or loss”, atau seseorang yang bertanggung jawab atas sebuah bisnis dengan memikul risiko untung atau rugi.

Lalu, apa makna dari istilah Social Entrepreneur ini?

Pengusaha yang berjiwa sosial?

Berusaha tapi untuk tujuan sosial?

Mengusahakan kesejahteraan sosial dengan membuka bisnis?

Bisa saja berarti ketiganya. Tapi, pertanyaannya kemudian adalah :

Apakah mungkin seorang pengusaha yang bertujuan mencari keuntungan dengan mengakumulasikan modal dari hasil penghisapan atas nilai lebih yang dihasilkan para buruh yang bekerja di perusahaan (yang katanya) milik pengusaha tersebut, dapat begitu saja menyerahkan keuntungannya untuk tujuan sosial?

Atau, ketika pun mungkin, bukankah itu hanyalah sebuah kamuflase, untuk menutupi penghisapan yang telah dilakukan? sebagaimana CSR atau Corporate Social Responsibility yang diterapkan perusahan-perusahaan selama ini?

Seperti perusahaan Aqua yang memberikan “nilai-nilai sosial” nya dengan menyediakan sumber air yang dekat dengan masyarakat di NTT dan kemudian dengan tanpa rasa bersalah membuat anak-anak disana berterima kasih pada Aqua, padahal air, memang merupakan hak setiap orang.

Atau Freeport yang menyumbangkan 1 trilyun/tahun kepada rakyat Papua dari ratusan trilyun keuntungan yang didapat dari rampasan atas kekayaan tambang di Papua setiap tahunnya.

Bukankah itu semua hanya kamuflase?

Kata pengusaha, jelas tak pantas dan tak bisa disandingkan dengan kata sosial karena kedua kata ini sangat bertentangan :

Selama masih memperoleh keuntungan dengan cara menghisap hasil kerja/nilai lebih manusia lain yang bekerja keras, selama itulah jiwa sosial itu hanya sebuah kebohongan dan kamuflase yang manipulatif. ~

 

300511, Fildzah Merah.


Tag: social entrepreneur, logika kacau, membodohi rakyat

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Lenny 0 0
Semangat nulisnya bagus...

tapi tulisan kamu tentang social entrepreneur ini sudah pake riset belum? yah setidaknya apa kamu sudah cari di google definisinya?

jangan sampe pas kita sudah upload tulisan kita, malah diketawain sama orang banyak karena kebodohan kita

saya bilang tulisan kamu diatas bukan tulisan ilmiah, tapi opini pribadi. kamu kan anak persma, jadi harus terbiasa nulis base on riset... : )

di web banyak kok yang kasih definisi social entrepreneur..easily to find it..

kalo kamu gak setuju dengan social entrepreneur bantah juga dengan dalil yang seimbang, bukan lantas membuat definisi sendiri

related organization : www.ashoka.org , www.csef.ca , grameen bank , skoll foundation , www.youngdonor.or…meetings.pdf and sooooooo mannnnyy...

sekedar sharing

cheers

lina.budianti@gmail.com
fildzah merah 0 0
@Lenny

Hallo salam kenal :')

Terima kasih ya tanggapannya :')

Tentunya tulisan saya bisa dipertanggungjawabkan dan tentu saja tulisan saya juga memiliki dasar, Lenny...

Bukan karena saya memiliki akun persma, lantas saya harus menulis based on riset, tapi sebagai seorang mahasiswa, seorang yang terpelajar, tentunya saya harus selalu berlaku demikian.

Membuat definisi sendiri pun tak salah, Lenny... selama ada dasar dan argumentasi yang kuat...

Cheers juga,

fildzah.izzati@gmail.com



Lenny 0 0

fildzah merah

terima kasih ya untuk responnya..

betul sekali dengan statement kamu nih:

"...Bukan karena saya memiliki akun persma, lantas saya harus menulis based on riset, tapi sebagai seorang mahasiswa, seorang yang terpelajar, tentunya saya harus selalu berlaku demikian..."

tapi kenapa saya merasa kontradiktif dengan kalimat kamu sendiri..?

"..Membuat definisi sendiri pun tak salah, Lenny... selama ada dasar dan argumentasi yang kuat..."

argumen apa yang sudah kamu pakai disitu untuk menyatakan bahwa social entrepreneur itu sebagai istilah yang menyesatkan?

sepengetahuan saya argumen kamu hanya mengartikan dari kamus oxford saja.. : )

".....Kamus Oxford mengartikan kata entrepreneur sebagai “A person who undertakes an entreprise or business, with the chance of profit or loss......"

apa kamu sudah pernah googling sebelumnya di internet untuk mencari istilah "social entrepreneur" ? tolong dijawab dengan jujur ya sist ?

sebenarnya saya sering menggunakan kamus juga untuk menerjemahkan kata-kata asing...tapi satu hal yang mesti kita ketahui ketika menerjemahkan kata...ada yang namanya makna gramatikal dan makna leksikal..penjelasannya bisa dicari di buku linguistik dasar

yang saya lihat kamu menggunakan makna gramatikal semata untuk menerjemahkan frase "social entrepreneur" padahal ada juga konteks leksikal nya..

saya ambil contoh frase dalam bhs. Indonesia " daun telinga" kalo secara gramatikal dua kata tersebut sangat
jauh sekali hubungannya...tapi secara leksikal kita bisa mengartikan cukup dengan "telinga" saja... coba cek di KBBI

kalau dalam bhs inggris misalnya "traffic jam", 2 kata yang berbeda tapi jika menjadi satu frase akan mempunyai makna yang baru. (coba cari arti kata traffic dan jam secara terpisah, lalu kamu gabungin secara langsung...pasti kacau). bisa dilihat di kamus oxford, webster, collins.

jadi, sama seperti "traffic jam" maka "social entrepreneur" pun akan menjadi arti yang berbeda jika diartikan secara leksikal...

bisa di search kok di google.com / id

selamat meng-klik

Selamat malam

lenny




fildzah merah 0 0
Terima kasih juga atas tanggapannya :')

Untuk infomasi, sebelum menulis ini, saya sudah melakukan googling terlebih dahulu (sebagai langkah awal saya sebelum menulis).
Namun, saya tidak bersepakat dengan yang saya temukan di google tersebut, yang tentunya kebanyakan menyandingkan kata social dengan kata enterpreneurship seolah merupakan kata yang memilki makna yang memang benar-benar layak untuk disandingkan. Karena menurut saya (yang tentunya based on riset), seperti yang tercantum dalam tulisan saya di atas :
"...kata pengusaha, jelas tak pantas dan tak bisa disandingkan dengan kata sosial karena kedua kata ini sangat bertentangan :

Selama masih memperoleh keuntungan dengan cara menghisap hasil kerja/nilai lebih manusia lain yang bekerja keras, selama itulah jiwa sosial itu hanya sebuah kebohongan dan kamuflase yang manipulatif."

Kata-kata tersebut tentu tidak datang begitu saja tanpa dasar, atau datang begitu saja dari langit. Karena (mungkin) seperti yang kawan Lenny ketahui, riset tidak saja merupakan hasil studi literatur (pencarian di internet, dll), tapi juga bisa berdasarkan wawancara, pengamatan langsung, dsb. Jadi, ketika saya tidak bersepakat dengan apa yang saya temukan di google dan lebih bersepakat dengan apa yang saya lihat, saya rasakan, secara langsung, tentu kawan Lenny pun (mungkin) mengetahui, bahwa adalah hak masing-masing penulis, untuk mencantumkan mana yang ia ingin cantumkan dan mana yang tidak ingin ia cantumkan. Lagipula, setiap kata yang tercantum atau setiap teks yang ada di google (kata, gambar,. dsb), tentu bukanlah hal mati yang tidak bisa diinterpretasikan ulang.

Kalau kawan Lenny tidak bersepakat dengan saya, kenapa tidak kawan Lenny membuat tulisan yang baru, yang tentunya juga based on riset, yang tidak hanya menrupakan hasil dari pencarian di internet, karena sekali lagi, riset tidak sesempit itu.

Terima kasih,

Selamat menulis,

Fildzah
rooma 0 0
@lenny, sebagai seorang terpelajar dengan tradisi berfikir ilmiah, saya pikir penting menangkap gejala-gejala yang muncul pada realitas dalam analisisnya, bukan hanya dari kamus; google; atau situs web yang kebanyakan milik pengusaha atau dikelola dengan dana founding. apalagi hal ini terjadi didomain sosial, maka penting untuk mengaitkannya dengan gejala-gejala sosial yang muncul dimasyarakat dan realitas politik yang terjadi.

komentarmu barangkali akan dibantah dengan mudah apabila diceritakan ditengah-tengah buruh yang menjadi korban kebijakan pengusaha, yang dengan mudah menendang mereka keluar pabrik setelah puluhan tahun bekerja dengan upah yang sama sekali tidak seimbang dengan keuntungan (untuk pengusaha) yang dihasilkan dari kerja mereka. atau apabiila diceritakan ditengah-tengah rakyat di negara-negara afrika, dimana di daerah mereka air dimonopoli kepemilikannya dan dijual dengan harga sangat mahal (jauh lebih mahal dibanding disini), hingga penduduk yang tinggal di desa-desa banyak yang lebih memilih untuk meminum air kotor sebagai gantinya.

saya pikir keadilan tidak dapat jalan beriringan dengan penghisapan manusia satu terhadap manusia yang lainnya. termasuk kampanye dari para pengusaha tersebut, barangkali tetap saja terselip kepentingan usaha mereka. setidaknya promosi.
Lenny 0 0

fildzah merah

terima kasih kalau kamu sudah riset sebelumnya di google..

diskusinya...dari masalah linguistik jadi ke pertentangan kelas marx nya nih...no probs,

saya ke penggunaan istilah dulu...karena ini yang menjadi titik awal diskusi.
dari saya sih tetap kita harus ada kaidah-kaidah yang dipakai untuk mengartikan suatu frase...memang juga harus diakui bahasa itu 'hidup' dalam zamannya..

saya coba ambil dari www.ashoka.org tentang definisi social entrepreneur:

Social entrepreneurs are individuals with innovative solutions to society’s most pressing social problems.
They are ambitious and persistent, tackling major social issues and offering new ideas for wide-scale change.
(www.ashoka.org)

disitu gak disebut2 businessman atau wealthy people... everybody can be social entrepreneur...mengajar anak2 jalanan dengan sukarela adalah aktivitas social entrepreneur, butet manurung yang masuk pedalaman anak rimba she is social entrepreneur, skoll foundation yang buat laptop murah untuk anak2 tidak mampu adalah bagian dari social entrepreneur..

ya...kalau memang kamu masih berpendapat bahwa istilah social entrepreneur adalah istilah yang menyesatkan...silahkan saja..its free...karena diskusi ini sejak semula gak ada tujuan untuk merubah pendapat seseorang... : ) you still you



rooma and fildzah merah

selanjutnya tentang pertentangan kelas...

temen2 tau jumlah tenaga kerja yang bisa diserap oleh pemerintah Indonesia?..kurang dari 15 % dari jumlah angkatan kerja (www.ukm.go.id)...trus yang 85 % mau dikemanain ? disuruh nganggur? ongkang-ongkang kaki? bahwa seluruh warga negara adalah tanggung jawab pemerintah? hehehe...kasian amat..

kalo hal seperti itu bisa diterapkan tentu Uni Soviet yang 79 tahun menjadi negara komunis gak hancur berantakan...

Coba deh dicari definisi arti kata pengusaha dibuku? apa artinya orang2 kaya raya? pasti bukan.....
orang jualan gado2, sate padang, mie ayam...itu juga termasuk pengusaha...karena mereka menjual jasa...dsb

Trus apa kalo jadi orang kaya gak boleh jadi orang baik? suka bantu karyawannya, kasih biaya pendidikan, kasih bantuan bencana alam?

trus kalo ada pengusaha kaya yang berbuat seperti itu. mereka pasti sedang cari dukungan politik...?

ini pola pikirnya apa gak terlalu negatif ya?

Lilian Stanford pengusaha kereta api di Amerika, dia bikin universitas Stanford...dia Salah ? gak boleh gitu peduli sama pendidikan ?

bob sadino dulu jualan keliling pake sepeda, sekarang dia bisa mempekerjakan ratusan orang, karena usahanya maju... Apa dia salah ? trus knp karyawannya pada mau kerja sama dia gitu kalo Bob Sadino salah ?

So many orang2 yang punya kelebihan rizki tapi tulus dalam memberi...

waduh repot deh kalo pola pikir yang dipake selalu mainstreamnya adalah pertentangan kelas....
kalo si Marx bisa hidup lagi....pengen banget rasanya saya ngopi-2 bareng sama dua orang itu.. : )


hihihi...kalo gerakan socialism di Eropa sekarang sudah lebih mature sekarang ini...gak nelen mentah2 Das Kapital saja sepertinya,











Lenny 0 0

Oops, sorry, revisi:
kalo hal seperti itu bisa diterapkan tentu Uni Soviet yang 79 tahun menjadi negara komunis gak hancur berantakan...

harusnya 83 tahun bukan 79 tahun...karena uniSoviet dihitung sejak revolusi bolshevik 1917...dan glasnost perestroika itu tahun 1990an

mohon maaf
fildzah merah 0 0
@Lenny

Saya pikir anda membuat tulisan seperti yang sarankan, tapi ternyata tidak. Tidak apa-apa.

Mengenai istilah, siapapun tentu bisa membuatnya. Tapi, apa yang menjadi dasar dari pembuatan istilah tersebut, paradigma, ontologi sampai epistemologi si pembuat istilah tentu tak bisa diabaikan.

Mengenai definisi arti kata pengusaha, tentu dengan mudah dapat kita peroleh dari berbagai buku. Apalagi buku-buku ekonomi mainstream. Tapi, apakah hal tersebut dapat menjawab apa perbedaan antara
orang jualan gado2, sate padang, mie ayam...dengan
Lilian Stanford pengusaha kereta api di Amerika, yang membuat universitas Stanford? Tentu saja tidak, Lenny.

Saya jelaskan. Orang yang berjualan gado2, sate padang, mie ayam, selama mereka berjualan sendiri, dan tidak mempekerjakan orang lain, jelas mereka bukan pengusaha. Apalagi kebanyakan pedagang kecil itu berjualan hanya sekedar untuk mempertahankan kehidupan dan bukan untuk menumpuk laba.

Tapi Lilian Stanford yang pengusaha kereta api tersebut tentu memang seorang pengusaha, karena dia pasti tidak menjalankan kereta sendiri, mengatur jadwal perjalanan kereta, dsb seorang diri. Dan dengan begitu ia pasti mempekerjakan orang banyak sehingga pastilah Universitas yang didirikannya itu juga merupakan hasil penghisapannya atas nilai lebih yang dihasilkan para pekerjanya. Di,mana saya pun yakin tidak semua pekerjanya dapat menempuh pendidikan di Universitas tersebut secara gratis alias cuma-cuma.

Kalau mau baik, ya jangan menghisap. Basis produksi di dalam masyarakat kan hanya ada 2, kerja penindasan atau kerja kolektif. Kalau mau baik, mau jadi orang baik., ya sama-sama bekerja. Punya modal, bukan untuk mempekerjakan orang lantas untungnya yang dinikmati sendiri. Tapi sama-sama bekerja, membuat usaha bersama, dan keuntungan yang dihasilkan dibagi rata. Itu baru baik dan tidak bersalah. Tapi, kalau maunya hanya ongkang-ongkang kaki lalu dapat untung (mentang-mentang ke Bank minjem modal dan cicilannya pun dibayar dari upah yang seharusnya dibayarkan pada pekerja), itu sih, meskipun menyumbang bencana alam, tetap saja basisnya dari kerja penindasan. Toh bencana alam juga terjadi tak lepa karena keserakahan kaum pengusaha alias kapitalis yang mabuk untung kok.


Ohiya, menghayalkan Marx bisa hidup lagi itu ga ada gunanya juga lho, toh ga akan mengubah realita apa-apa : )

Saran saya, kalau mau menghayal, hayalkanlah masa depan, karena siapa tahu kalau diperjuangkan bisa mengubah realita.

OIa, menelan mentah-mentah Das Kapital itu ga baik. dan saya yakin, orang-orang yang belajar Marxisme dengan baik tidak akan melakukan hal tersebut karena selalu mengaitkan teks dengan konteks, selalu mengaitkan teks dengan keadaan/kondisi material yang terjadi/konteks.

Kecuali kalau memang seseorang itu malas belajar, argumennya pasti terbatas hanya pada teks-teks buku mainstream dan tak pernah berusaha mengaitkannya, menghubungkannya dengan realita : )

Demikian,

Salam Hangat : )

Fildzah Izzati
Lenny 0 0

tks fildzah...I have been wait for a few days for your answers...

sudah banyak tulisan yang membahas social entrepreneur...So, it wont need another thesis from me.

my big concern is how to understanding word "social entrepreneur" not only grammatically
but also in lexical meaning. : )

karena banyak teman2 saya yang aktif sebagai social entrepreneur bukanlah konglomerat, but they spirit to develop community are higly appreciated...dan istilah SE pun sudah dikenalkan oleh ashoka.org sejak tahun 1980-an....long period sebelum si pengusaha itu jadi bintang 'It's in me'

ada tulisan seorang teman mengenai studi riset via Internet. written by roby muhammad today at Media Indonesia, nice to read..you may agree or you may not...no probs

http://anax1a.pre…/index.shtml

keep writing ya....

Salam semangat : )




fildzah merah 0 0
@Lenny

Ya maklum lah, kegiatan saya kan ga cuma buka situs ini... kalau lagi senggang, ya saya buka... : )

"...sudah banyak tulisan yang membahas social entrepreneur...So, it wont need another thesis from me."
Mental seperti itu namanya mental pemalas.
Malas melakukan riset, malas menulis, Lenny : )

Saya juga punya banyak teman yang punya semangat tinggi (dan ga hanya semangat tentunya, tapi juga praktek nyata) untuk membangun tata kehidupan masyarakat yang lebih baik. Dan saya yakin mereka pun tidak akan sepenuhnya setuju kalau dijuluki social enterpreneur. Karena kalau mmang punya jiwa sosial yang sesungguhnya, kan ga perlu diteguhkan dengan berbagai istilah, apalagi yang mengacaukan logika dan membodohi masyarakat : )

Selamat belajar dari kehidupan,
dari orang-orang yang paling dipinggirkan,
yang paling ditindas.

"... tempat kakimu berpijak
adalah diantara orang-orang
yang paling kecil, paling miskin, dan
paling terpinggirkan..."
(R. Tagore)

Jangan malas menulis, meski sudah banyak yang menulis : )

Salam semangat juga : )
rooma 0 0
@Leny

aih, pola pola pikir kamu mainstream sekali. oia, tapi kau tahu kan apa yang menjadi mainstream dalam segala aspek kehidupan saat ini ? tentang siapa yang mengkontruksikan, untuk apa, dan agenda siapa.

"temen2 tau jumlah tenaga kerja yang bisa diserap oleh pemerintah Indonesia?..kurang dari 15 % dari jumlah angkatan kerja (www.ukm.go.id)...trus yang 85 % mau dikemanain ? disuruh nganggur? ongkang-ongkang kaki? bahwa seluruh warga negara adalah tanggung jawab pemerintah? hehehe...kasian amat..". kasihan sekali ya kalau rakyat harus menanggung nasibnya sendiri sementara mereka harus menjalankan kewajibannya membayar pajak. atau yang lebih parah, pengangguran dan kemiskinan yang dialami rakyat juga tidak lepas dari campur tangan pemerintah, ini problem yang struktural loh. ini umum lah kalo ga tau kebangetan, hhe.

soal data yang persen-persenan itu. 85% hasil keuntungan pembangunan ekonomi di Indonesia dinikmati oleh 15% masyarakat yang menjadi pengusaha dan pejabat, sementara sisa keuntungan yang 15% harus diperebutkan oleh 85% masyarakat golongan bawah di Indonesia (sumber diskusi-diskusi di Kampus IISIP), makanya banyak bentrokan; perkelahian; dan kerusuhan akibat persoalan ekonomi. bisa tepat ya data kita.

ini jelas-jelas ketidakadilan, itu juga apa bila kau masih menganggap kita sama semua sebagai manusia. oia, yang kau sebut-sebut dan maksud dalam panjang lebar perdebatan kita disini itu masuk kedalam golongan serakah yang 15% itu barangkali.

Lenny 0 0
to be shared with you....about social entrepreneurship, a bunch of social entrepreneurs activities around Indonesia and some of world wide, semoga teman2 semua terinspirasi dengan dedikasi mereka...tapi kalo gak mau dibaca, ya terserah kamu : )

salam hangat



http://indonesiap…ak-lulus-sd/

http://rumahusaha.com/portal/

http://www.c sef.ca/about.php

http://www.aksi-indonesia.org/

Ashoka Indonesia: www.ashoka.or.id

BINUS Entrepreneurship Center: www.binus.ac.id/bec

Elsppat : www.elsppat.or.id

Jarimatika Indonesia: www.jarimatika.com

Mahkotadewa Indonesia: www.mahkotadewa.com

Mien R. Uno Foundation: www.mruf.org

Mitra Bisnis Keluarga (MBK – Ventura): www.mbk-ventura.com

Perkumpulan Telapak: www.telapak.org

Provisi Education: www.provisieducation.com

Rumah Perubahan: www.rumahperubahan.com

Yayasan Bina Swadaya: www.binaswadaya.org

Yayasan Nurani Dunia: www.nuranidunia.or.id

Save Emergency for Aceh: www.sefa.or.id

New Ventures Indonesia: www.new-ventures.or.id

Daughter of Klaten: www.daughterofklaten.com

Villa Hutan Jati : www.villahutanjati.com

Jaringan Rumah Usaha: www.rumahusaha.com

Koperasi LAWE: www.houseoflawe.com

Jogja Trust Fund: www.jogjatrustfund.org
fildzah merah 0 0
@Lenny

Ya lagi-lagi soal istilah yang mengacaukan logika dan membodohi rakyat.

Kalau kamu bangga dengan kamuflase-kamuflase, seperti yang sudah saya jelaskan panjang lebar sebelumnya, ya silahkan. It's up to you.

Sekedar saran aja, mau diikutin boleh, ga juga gapapa :
Belajar dari kehidupan itu,
dari orang-orang yang paling dipinggirkan,
yang paling ditindas.

Hayatilah baik-baik : )

"... tempat kakimu berpijak
adalah diantara orang-orang
yang paling kecil, paling miskin, dan
paling terpinggirkan..."
(R. Tagore)
Lenny 0 0
dari blog seorang mahasiswi : )

http://dhioradanb…preneur.html

Lenny 0 0
Halo semua,

first of all I would like to say happy Ramadhan for those brothers and sisters who Fasting. May Lord accept all of our good deeds
herewith i am quoting a series from global social entrepreneurs activities. Hopefully you will enjoy it

Best regards

Lenny

============================== =============
Solar Power Solutions for Rural Africa

By DBMA Social Ventures | August 1st, 2011

This post is part of a series by dMBA students as part of their Social Venture summer course.

Kerosene lantern in Mzee's house
By Anna Acquistapace

Rural electrification is a serious challenge all over the world. In Tanzania, 75% of the population lives in rural areas with an electrification rate so low, it’s barely worth mentioning. The Lighting Africa Project estimates it to be around 2%. While people in urban and sub-urban areas aspire to get access to the national power grid, despite its unreliable service, rural areas some will be waiting a lifetime before seeing an electrical line come their way. During a home stay with a rural farming family outside of Dar es Salaam, we were able to see first hand the necessity and opportunity of developing solutions for off-grid electrification that are accessible for these rural populations.

Mzee Mganga, our host, and his family have been farming their land for over 20 years. They grow cassava, sweet potatoes, millet, bananas and watermelons to bring to market. Their house, which is about an hour’s walk from the nearest bus stop, does not have electricity. Nor do most in the area. They use typical sources for their energy needs: wood charcoal for cooking, kerosene for small lamps and batteries for LED headlamps and the radio, which was an almost constant buzz in the background. While these sources are not ideal–they cause indoor air pollution, provide low quality light and increase risks of accidental fires–they are readily available at local markets.

As we observed Mzee’s sons using their mobile phones, we realized there was one thing they couldn’t stock up on at the market: a way to charge their mobile phones. So, we asked where they charge their phones and were surprised to find out that they just drop it off with their neighbor who recently installed a home solar system. For about 20 cents, they get a full charge. This is a big change from walking more than an hour to the nearest town for a recharge.


Their neighbor, Issa, is a retired army officer who moved out to the countryside to live the simple life. About eight months ago, he installed a small 40W solar panel to run two lights and charge his phone. When we asked him what motivated him to install solar, he explained that he was used to living with electricity in Dar es Salaam. But now, he told us with a chuckle, he has unintentionally started a phone charging business that charges up to 14 batteries a day.

We wondered why there weren’t more people with solar in the area. In talking with Mzee, Issa and other neighboring farmers (with the help of our trusted translator Glory!), we quickly realized that, although solar power was widely desirable, the price tag for a solar home system was far beyond what most in the area could afford. We asked if they had considered more affordable portable solar products, but none of them had heard of these options.

This brings us to one of the major issues about solar that we’ve uncovered in the field. Several companies, like d.light and Barefoot Solar, are making good headway in developing affordable consumer solar products. They are making portable lights that can charge phones and don’t require installation.

The problem is, these products are nowhere to be found in the most frequented markets. While mobile phone stores are ubiquitous and televisions, radios and generators fill the stands at central marketplaces, solar products are reserved for specialty stores that sell expensive solar packages or for limited distribution by NGOs.

It’s apparent that there is a huge commercial potential for solar solutions, especially in places beyond the grid. Annual expenditures on kerosene alone in Sub-Saharan Africa is $17 billion, according to the World Bank. But, the lack of consumer awareness and effective distribution of affordable solar products remain serious challenges to getting the market off the ground. Solar provides a clean, convenient and, after the initial investment, free energy source. For several of the farmers we spoke with, the prospect of owning their own energy source, like they own their land, is very appealing.

The price of solar technology components are expected to fall significantly in the next 5 years, reducing the overall cost of products by up to 40%. This will help with the affordability, but there is also a real need for innovation on the business and distribution side to get solar into the hands of the people who want to buy them.

What if solar products were as accessible as kerosene lanterns? What if they were as widespread as mobile phones?

How can solar products be widely distributed for an affordable price?

The “Social Ventures – Energy in Africa” series follows three MBA in Design Strategy students in their Social Venture summer course. Starting with research and fieldwork conducted in and around Dar es Salaam, Tanzania, Anna Acquistapace, Olivia Nava and Eric Persha explore how business can be used to create positive social impact. California College of the Art’s MBA in Design Strategy is a groundbreaking program preparing the next generation of innovation leaders through a curriculum that unites design methodologies, business fundamentals, leadership and systems thinking. You can follow along with the series here.

http://www.triple…beyond-grid/
bangaip 2 suka | 0
eh saya mau ikutan nimbrung komen gpp yaa hehehe, telat gak sih? ;p

keren ihh ini tulisan, soalnya bisa memancing diskusi yang seruu hehehe... insights artikelnya asik, dan tanggapan2nya juga pinter2 euy

tapi maaaaaffff banget karena sementara ini saya sih masih kurang setuju yah kalo "social entrepreneur" dipukul rata menyesatkan : ) *kalo ada yg anggap saya salah, maaaapppp, gak usah dihiraukan ;p*

eh iya, kenapa kurang setuju? karena setahu saya entrepreneur itu bukan nama profesi gitu, tapi lebih ke konteks sifat; semacam spirit gitu kira2

jadi kalo "social entrepreneur" sepemahaman saya ya lebih ke movement atau spirit untuk berkegiatan dengan background kepentingan sosial; jadi yaa bisa jadi murni tanpa pretensi bisnis atau kapital kok hehehe

Sekian dan maaf kalau kurang berkenan; salam kenal : )

Lenny 0 0
Bang Aip, terima kasih commentnya...i really appreciated

another piece about Social Entrepreneur, taken from Nurahhman Arif's blog. pls enjoy

======================================= =====

Social Entrepreneurship
24 02 2009

Sejarah dan Pengertian

Seiring dengan berbagai kejadian yang merupakan indikasi terpuruknya perekonomian Indonesia saat ini, seperti imbas krisis di Amerika Serikat, harga minyak tanah yang melambung tinggi, dan PHK besar-besaran, maka pembahasan pemulihan ekonomi dengan cara yang tidak bergantung sepenuhnya kepada pemerintah menjadi aktual. Dikemukakan berbagai konsep alternatif seperti pemberdayaan ekonomi mikro (misalnya UKM; usaha kecil menengah), pengembangan sumber energi alternatif, penerapan konsep ekonomi kreatif (creative economy) sampai entrepreneurship atau kewirausahaan. Hal terakhir, yakni kewirausahaan menjadi topik hangat bila diperbincangkan di kampus.

Jika ditinjau secara ilmiah, sudah sejak ratusan abad yang lalu, istilah entrepreneurship dibahas. Antara lain Richard Cantillon pada tahun 1755 dan J.B. Say pada tahun 1803 (Santosa, 2007). Cantillon menyatakan entrepreneur sebagai seseorang yang mengelola perusahaan atau usaha dengan mendasarkan pada akuntabilitas dalam menghadapi resiko yang terkait ( a person who undertakes and operates a new enterprise or venture and assumes some accountability for inherent risks). Di dalam konsep sebuah entrepreneurship, terdapat unsur pemberdayaan atau empowerment di dalamnya. Menurut Webster dan Oxford English Dictionary, empowerment bisa diartikan sebagai to give power to atau authority to, atau memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain. Bisa juga diterjemahkan sebagai to give ability to or enable atau usaha memberi kemampuan. Salah satu unsur yang termaktub dalam kewirausahaan memang bermakna sebagai sebuah usaha untuk memberikan kemampuan dan mengalihkan kekuatan seseorang atau beberapa orang menuju sebuah kemandirian. Kemandirian secara finansial misalnya.

Sedangkan Social Entrepreneurship merupakan sebuah istilah turunan dari kewirausahaan. Gabungan dari dua kata, social yang artinya kemasyarakatan, dan entrepreneurship yang artinya kewirausahaan. Pengertian sederhana dari Social Entrepreneur adalah seseorang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship untuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan dan kesehatan (healthcare) (Santosa, 2007). Sesungguhnya Social Entrepreneurship sudah dikenal ratusan tahun yang lalu diawali antara lain oleh Florence Nightingale (pendiri sekolah perawat pertama)dan Robert Owen (pendiri koperasi). Pengertian Social Entrepreneurship sendiri berkembang sejak tahun 1980 –an yang diawali oleh para tokoh-tokoh seperti Rosabeth Moss Kanter, Bill Drayton, Charles Leadbeater dan Profesor Daniel Bell dari Universitas Harvard yang sukses dalam kegiatan Social Entrepreneurship karena sejak tahun 1980 berhasil membentuk 60 organisasi yang tersebar di seluruh dunia. SE mencoba melayani pasar yang belum digarap, menghilangkan kesenjangan dalam kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, demografis dan peluang bekerja (Elkington, 2008).

Konsep secara umum dari Social Entrepreneurship, sebenarnya berarti bukan merupakan sebuah lembaga atau organisasi bentukan atau turunan dari perusahaan swasta (misalnya hasil dari CSR, Corporate Social Responsibility) dan lembaga pemerintahan (dalam hal ini yang terkait dengan Dinas Kesejahteraan Sosial). Akan tetapi murni merupakan sebuah usaha entrepreneurship yang bergerak di bidang sosial. Pada awalnya, Social Entrepreneurship mempunyai inti pemberdayaan dalam bidang kemasyarakatan yang bersifat voluntary atau charity (kedermawanan dan sukarela). Dalam hal ini membentuk sebuah lembaga-lembaga sosial seperti panti asuhan, anak asuh atau donasi untuk beasiswa di bidang pendidikan. Konsep awal mula Social Entrepreneurship tidak menekankan pada usaha untuk menghasilkan profit (non-profit). Jikalau ada profit, bukan menjadi tujuan utama dan nilainya bisa dibilang kecil. Karena inti utama dalah pemberdayaan untuk kemaslahatan bersama. Social Entrepreneurship akhir-akhir ini menjadi makin populer terutama setelah salah satu tokohnya Dr. Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di Bangladesh yang mendapatkan hadiah Nobel untuk perdamaian tahun 2006 (Santosa, 2003). Yang dikembangkan oleh Yunus, dengan pemberdayaan masyarakat di segmen kurang mampu secara finansial, tidak hanya menghasilkan kesejahteraan sosial masyarakat tetapi ternyata juga mendatangkan sebuah keuntungan secara finansial. Bisa dilihat dengan banyaknya tenaga kerja yang terserap (6 juta wanita), seperti phone-lady, ribuan pengemis, dan tumbuhnya UKM (Usaha Kecil Menengah) yang terbentuk dari usaha peminjaman uang atau kredit uang dengan bunga murah.

http://nurrahmana…preneurship/
rein 0 0
Hai, saya pribadi merasa social entrepreneur skr definisinya terlalu luas.

Apalagi ditambah berbagai macam teori marketing seperti
1. Community Marketing
2. Targeting the bottom of the piramid.

Cukup sulit membedakan SocEnt yg benar dan yang abal2. Lebih membingungkan lagi apabila seseorang menggunakan kegiatan sosial untuk personal branding atau jualan.

Ada seorang pengusaha yang membuat social movement untuk memenangkan kampanye sebagai ketua Hipmi .. lalu skr menyebut diri sbg SocEnt.

Ada lagi yang membuat website dengan domain .org padahal sifatnya bukan non profit.

Sekarang udah ruwed. Saya tidak ingin menjudge mana yang benar dan mana yang salah. Dari semua kebingungan yang ada, saya berpendapat sbb :

http://www.jcasualc.com/?p=180 (ini postingan dari blog saya)

Pada suatu hari saya ketemu dengan wirausaha sosial yang asli.. dan pesan-pesannya sangat menohok perasaan saya..

“Jika kamu seorang social entrepreneur, kamu seharusnya tidak usah bilang bahwa diri kamu seorang social entrepreneur, karena jika kamu bilang2 begitu, berarti kamu mengklaim diri kamu lebih baik daripada entrepreneur yang lain”

Devastating… tapi cocok dengan prinsip bahwa “Jika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan ngetweet” … yang merupakan penyakit jaman sekarang …

You can find the real soul of social entrepreneur when you’re not announcing what are your contributions for society

ecky agassi 0 0
maaf, saya kurang setuju dengan pendapat anda bahwa social entrepreneur adalah membodohi masyarakat,
anda lebih menjelaskan bahwa social entrepreneur adalah seorang pengusaha, yang mendapatkan keuntungan, lalu membagikan keuntungan kepada asyarakat (yang menurut anda bahwa itu memang hak masyarakat)

definisi dan kesimpulan yang agak tedensius,
saya cenderung setuju dengan pendapat-pendapat Lenny : )
Lenny 0 0
Hi semua, mohon maaf lahir batin ya.
Ini ada artikel bagus dari teman di Persma :
http://persma.com…donesia.html

Salam,
Lenny
Lenny 0 0
oopss ada yang lupa...

@Eckyagassi : makasih ya *tosjempol

@semuanya + Fildzah merah : kemarin sebelum lebaran saya sempat ke Jateng dan Jatim untuk menyapa dan bertemu dengan teman2 yang aktif sebagai social entrepreneur disana....takjub dengan kemandirian mereka dan semangat mereka....

jadi teringat essay karya Vaclav Havel dari Czech (dulu negara cekoslovakia) yang berjudul "The Power of The Powerless...." essay yang membuat rezim berkuasa diruntuhkan

Silahkan login untuk memberikan pendapat