STOP EKSPLOITASI PEGUNUNGAN KENDENG! 2
Rabu, 4 Mei '11 09:25
Warga Tambak Kromo kini resah. Ratusan Hektar Tanah yang jadi mata pencaharian mereka sebagai petani terancam musnah. Pasalnya Pegunungan kendeng yang menjadi penghidupan ratusan hektar sawah warga akan dijadikan lahan ekploitasi pertambangan. Dikawasan itu akan dibangun pabrik semen oleh P.T. Sahabat Mulia Sakti (anak dari P.T. Indocement).
Meski mengaku telah mendapat ijin dari pejabat setempat, pendirian pabrik itu bisa dinilai kontroversial. Pasalnya pemberian ijin dari pejabat setempat tidak disertai kajian mendalam mengenai dampak lingkungan di kawasan tersebut.
Apalagi jika dirunut, pendirian pabrik tersebut dikawasan perbukitan yang sama (namun didaerah berbeda yaitu Sukolilo) telah dieliminir. Kala itu kasasi yang dilayangkan WALHI dikabulkan oleh Mahkamah Agung. Uniknya pada kawasan yang berbeda dalam perbukitan yang sama malah kembali diberikan ijin ekspoitasi. Hal ini yang kemudian menimbulkan tanda tanya besar.
Sedikit penjelasan mengenai Pegunungan kendeng. Menurut pakar lingkungan hidup, Pegunungan kendeng merupakan Kawasan Lindung Geologis. Pengrusakan kawasan pegunungan Kendeng dapat berdampak luas pada kerusakan alam di lingkungan sekitar. Bahkan bisa berdampak pada bencana alam dan pemanasan global yang cukup signifikan.
Dikutip dari artikel Armantxiv (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng Sekretariat: Rumah Gunretno, Dk. Bombong Ds. Baturejo), Pegunungan Kendeng merupakan deretan perbukitan yang memanjang mulai dari Wilayah Kabupaten Grobogan Jawa tengah hingga Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Pegunungan Kendeng yang berada di Kabupaten Pati lokasinya memanjang sekitar 35 kilo meter mulai dari Kecamatan Sukolilo hingga Kecamatan Pucakwangi. Di lokasi ini terdapat berbagai macam kekayaan alam mulai dari ratusan mata air, puluhan tebing yang indah, pepohonan yang asri sebagai pengendali air dan mengurangi banjir hingga puluhan goa yang eksotik.
Ratusan mata air di pegunungan Kendeng saat ini menjadi penopang sekitar 45% kebutuhan air masyarakat Pati, terutama air minum. Pegunungan Kendeng saat ini juga menghidupi ribuan masyarakat tepi hutan dengan budi daya pertanian dan pemanfaatan hutan untuk masyarakat, di samping juga menopang usaha peternakan dan industri rumah tangga yang jumlahnya tak terhitung. Masyarakat petani di wilayah bawah pegunungan bergantung pada pengairan di pegunungan tersebut.
Dalam hal ini pemerintah tidak mampu menyediakan saluran irigasi untuk petani. Aliran air yang berasal dari pegunungan ini menjadi satu-satunya penyuplai air untuk pertanian.
Di wilayah kecamatan sukolilo saja, terdapat ratusan hektar sawah yang pemenuhan airnya berasal dari pegunungan Kendeng.Selain itu keberadaan pegunungan Kendeng juga diyakini masyarakat sebagai "aling-aling" (penghambat) laju angin kencang sehingga masyarakat yang berada di sekitar Pegunungan Kendeng lolos dari ancaman angin puting beliung yang menjadi salah satu potensi bencana yang potensinya cukup tinggi di Kabupaten Pati.
Sunu Wijanarko mantan Sekretaris Yayasan Acintyacunyata Bidang Konservasi Lingkungan Karst dalam artikelnya (Kompas edisi 7 Maret 2011) menyebutkan perbukitan batu gamping di sekitar perbatasan Kabupaten Grobogan dan Pati, Jawa Tengah, memiliki peran dan nilai yang sangat penting bagi ekosistem di kedua kabupaten tersebut. Pengrusakan kawasan batu gamping ini akan mempengaruhi ekosistem untuk daerah yang jauh lebih luas daripada perkiraan. Ujung- ujungnya, korban terakhirnya adalah umat manusia karena alam memiliki mekanisme pertahanan yang sempurna. Jika tekanan terhadap dirinya makin berat, maka dia akan menyeimbangkan dirinya dengan cara membuat bencana agar dapat mengurangi populasi manusia.
Perbukitan batu gamping kawasan ini memiliki sifat-sifat kawasan karst. Yaitu, terdapat bentukan bukit dan lembah yang khas akibat proses-proses pelarutan, terdapat goa-goa, aliran sungai bawah tanah, dan mata air. Mata air epikarst, menurut studi Linhua (1996), dikenal mempunyai kelebihan dalam pertama, kualitas air. Air yang keluar dari mata air epikarst sangat jernih karena sedimen yang ada sudah terperangkap dalam material isian atau rekahan. Kedua, debit yang stabil. Mata air yang keluar dari mintakat epikarst dapat mengalir 2-3 bulan setelah musim hujan, dengan debit relatif stabil dan ketiga, mudah untuk dikelola. Mata air epikarst umumnya muncul di kaki-kaki perbukitan sehingga dapat langsung ditampung tanpa harus memompa. Selain potensi sumber daya air, sebagian goa di kawasan karst Grobogan dan Pati merupakan tempat tinggal bagi komunitas kelelawar. Kelelawar sangat berperan dalam mengendalikan populasi serangga yang menjadi hama dan vektor penyebaran penyakit menular.
Menurut peneliti kelelawar Sigit Wiantoro, kelelawar yang memiliki rata-rata berat tubuh sekitar 17 gram dan mampu memakan serangga seberat seperempat dari berat tubuhnya setiap malam, tentunya berperan penting dalam mengendalikan populasi serangga sehingga tidak terjadi ledakan populasi, yang berarti menjadi hama. Kita kalkukasi saja, andai ada sekitar 1.000 ekor kelelawar, tentu dapat memakan serangga hingga 4,25 kilogram. Setiap malam! Padahal, di dalam goa yang lingkungannya terjaga bisa menampung kehidupan ribuan hingga jutaan ekor kelelawar. Seperti yang ada di beberapa goa di Tuban dan Sukabumi. Fungsi kelelawar sebagai pengendali hama mampu mencapai daerah yang sangat luas karena daya jelajah terbangnya yang tak kurang dari 20 kilometer.
Karena tingginya nilai kelelawar dalam ekosistem, sudah selayaknya habitat kelelawar ini mendapatkan perhatian yang sangat serius. Jika dilakukan penambangan batu gamping, maka volume lapisan tanah dan batuan yang menjadi tempat penyimpanan air tanah (akuifer) pun menjadi berkurang. Secara langsung, akan mengurangi jumlah dan masa tinggal (residence time) air di lapisan batuan. Akibatnya, air tidak akan tersedia lagi pada saat sangat dibutuhkan, yaitu pada musim kemarau. Sedangkan di musim hujan, air akan dengan cepat mengalir menuju alur sungai permukaan, yang akhirnya menjadi penyumbang banjir yang belakangan ini sangat merusak di wilayah ini. Selain itu, penambangan yang menggunakan peledakan dapat merusak struktur dan sistem penyimpanan air yang sudah didesain dan dibangun secara sempurna oleh Tuhan Yang Maha Pengatur. Akibat getarannya, di suatu tempat rekahan baru dapat terbentuk atau melebar, tetapi di tempat lain, kanal air bawah tanah yang semula dapat tertutup oleh runtuhan.
Akibatnya, air akan mengalir tak beraturan menuju tempat lain, bukan ke mata air yang selama ini sudah ada. Mengusir kelelawar Akibat lain dari getaran, suara, dan gas beracun hasil dari peledakan, akan dapat membunuh dan atau mengusir kelelawar penghuni goa. Padahal, selama ini kelelawar menjadi predator serangga yang berpotensi menjadi hama tanaman padi dan wabah penyakit. Jika pengendali populasi serangga sudah tidak ada, maka tinggal menunggu bencana berikutnya, yaitu hama padi atau wabah penyakit yang langsung mengenai manusia. Krisis pangan yang sudah melanda negeri kita beberapa tahun terakhir ini, serta penyakit demam berdarah dan chikungunya, akan makin berat disandang oleh warga dan pemerintah kabupaten ini. Kelelawar pemakan buah, yang selama ini telah membantu penyerbukan dan menyebarkan biji-bijian dan secara alami telah membantu penghutanan daerah karst yang tandus dan pelestarian tanaman, juga akan tersingkir atau musnah.
Meski didaulat demikian, Pemerintah tetap mensyahkan pembangunan Pabrik Semen tersebut. Kontan warga mulai mempertanyakan pemberian izin pendirian pabrik tersebut. Permasalahan lingkungan semacam ini sebetulnya sudah sering terjadi. Semisal dapat dilihat dari dampak lingkungan yang disebabkan oleh Pabrik Semen Holcim yang terjadi di Cilacap.
Hingga kini pendirian pabrik itu mendapat penolakan keras dari warga sekitar. Meski warga mengakui dapat intimidasi dari pihak P.T. SMS, Warga bersikeras mempertahankan wilayah Pegunungan Kendeng. Usaha penolakan telah dilakukan warga. Meski dengan kekuatan yang tidak sepadan dengan ekspansi perusahaan semen terkait, mereka tetap menunjukan penolakan.
Penolakan tersebut ditunjukan pada aksi Demonstrasi di depan kabupaten. Selain itu warga juga melakukan aksi penanaman 2000 pohon pada tanggal 1 hingga 4 Maret 2011, digunung kendeng pada kawasan lahan petani.
Dan pada pada hari kartini tangal 21 April 2011, warga kembali melakukan aksi tolak semen. Sayangnya pada aksi tersebut warga justru kecolongan. Pada hari itu dilakukan pemetaan Oleh Sarekat Desa. Tanah yang belum mendapat ijin pendirian bangunan tersebut (bahkan AMDAL pun belum turun) kini telah diukur dan dipatok. Hal ini sontak membuat publik bertanya - tanya. Apa benar ijin dari pendirian sudah keluar?. P.T. SMS seakan - akan mengetahui hasil akhir dari tarik ulur pendirian pabrik semen tersebut.
Selain aksi - aksi diatas, warga juga menunjukan penolakan terhadap pembangunan pabrik semen dengan cara memasang tulisan "Tolak Semen" pada setiap rumah warga. Warga yang notabene sebagian besar adalah petani juga memasang tulisan tersebut pada caping mereka dan dikenakan saat mereka sedang bekerja. Warga berharap pendirian pabrik tersebut tidak terrealisasi.
Hingga kini warga masih bersikeras menolak pendirian pabrik tersebut. Ironisnya, warga tidak didukung oleh Pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat dan kalangan Akademisi di daerah setempat. Mereka justru dikepung oleh kekuatan - kekuatan besar yang seakan - akan berkoalisi untuk mencapai kepentingan tertentu.
Entah setuju atau tidak, kejadian semacam ini membuat mata terbuka, betapa pemerintah kini tidak memiliki visi pembangunan. Pemberian ijin pembangunan pabrik sama dengan pembunuhan sektor agraris. Menurut tokoh masyarakat pati Gunretno Indonesia sebagai Negara agraris yang subur dengan jumlah penduduk 200 juta jiwa dan lebih dari 70% penduduknya berprofesi sebagai petani masih harus dipusingkan dengan mengimpor berbagai kebutuhan pangan seperti beras, kedelai, jagung, gandum, susu dan daging.
Dikutip dari artikel Boga Sampir , Melihat persoalan krisis pangan yang semakin nyata, Jawa sebagai pulau dengan lahan pertanian yang paling potensial untuk dikembangkan harusnya ditempatkan sebagai prioritas dalam konsep pembangunan pertanian. Akan tetapi pada kenyataannya, pulau yang menyediakan 70% kebutuhan pangan bagi warga Indonesia ini mengalami perubahan tata guna lahan secara cepat dan besar-besaran yang digunakan untuk perluasan pemukiman, perluasan kawasan industry, perluasan kota, pengembangan infrastruktur dan juga pertambangan. Industri pangan seperti tidak mendapatkan perhatian dalam mengelola pulau yang dihuni oleh sekitar 65% penduduk Indonesia ini. Padahal Negara-negara seperti Amerika, Swiss, Belanda, Denmark, Thailand dan lain-lain menjadikan industry pertanian sebagai sector penting pembangunan mereka. Mengapa Indonesia yang diberkahi dengan kekayaan alam dan iklim tropis tidak juga berpikir demikian?
Berbagai potensi alam dan jumlah penduduk yang besar harusnya dapat dikelola menjadi sebuah rangka kerja pembangunan industry pangan yang kuat. Akan tetapi saat ini petani sebagai pemain kunci industri pangan ini menghadapi berbagai persoalan. Pertama, masyarakat tidak mengenal potensi sumberdaya yang dimiliki. Kedua, masyarakat tidak memiiki konsep pengelolaan. Ketiga, secara social budaya masyaraat tidak memiliki system dan mekanisme pengelolaan. Keempat, secara teknis masyarakat tidak menguasai teknologi dan informasi, salah satunya yang berkaitan dengan kbutuhan pasar. Kelima, secara ekonomi masyarakat tidak memiliki akses permodalan. Eenam, secara politik masyarakat tidak mendapatkan dukungan kebijakan. Dan akhirnya masyarakat tidak mampu mengelola sumberdaya yang dimiliki. Melihat berbagai persoalan yang dihadapi ini, akankah industry tambang dapat menyelesaikannya?
Melihat sederet kenyataan diatas maka sudah seharusnya kita mempertimbangkan kawasan pegunungan kendeng sebagai kawasan yang perlu dipertahankan. Jauh lebih banyak hal berharga yang dapat kita raih dari pegunungan kendeng, daripada hanya memanfaatkan pegunungan itu untuk sekedar ditambang. Bukankah negara dan bangsa harus mengedepankan kepentingan bersama daripada keuntungan segelintir orang?. (Dihimpun dari berbagai sumber)
Sukoharjo 4 April 2011
Tag: Persma
Terkait:
-
Media Persma dalam era Kekinian
Minggu, 12 Feb '12 20:00 -
Aku, Persma, dan Tulisanku
Rabu, 31 Agu '11 19:17 -
Kolaborasi Ramaikan Persma.com Yuk!
Jumat, 19 Agu '11 15:37
Komentar:
persolan lingkungan juga menjadi masalah serius, gumuk pasir di sepanjang pantai selatan kulon progo merupakan benteng alam dari tsunami. bagaimana jadinya bila itu ditambang?? blum lagi masalah kualitas pasir pasca ditambang, apakah masih bisa untuk ditanami?? dan bagaimana masalah penurunan tanah pasca ditambang, apakah tidak kemudian berpotensi banjir setiap adanya gelombang pasang??
pemerintah seakan tutup mata dengan persoalan ini, penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) jalan terus, dokumen ANDAL (analisis dampak lingkungan) sudah disetujui oleh tim penilai ANDAL, kini masuk proses penyusunan dokumen RKL dan RPL. Suara masyarakat pesisir di 3 kecamatan yang menolak rencana penambangan tersbut seakan hilang ditelan angin. (di persma.com kalah dengan isu baju dicuri,hehehe.. , di Yogyakarta kalah dengan isu keistimewaan, di nasional apalagi kalah sama isu2 bikinan pemerintah)
mari melawan!
Silahkan login untuk memberikan pendapat