Ironi sebuah kelulusan 0
Rabu, 4 Mei '11 19:25
Jummat, 26 November 2010
"BIAS KUSUMA HALIM lulus dengan pujian"
Seharusnya aku berdiri ketika suara dari mikrofon memanggil namaku. Seharusnya aku berjalan dari sudut ruangan, maju menuju podium untuk sebuah sertifikat, dan aku dapat melihat semua rupa yang hadir. Raut muka kedua orang tuaku yang seolah ragu harus berperas apa, sedih, bahagia atau gabungan keduanya. Yang jelas aku melihat diriku didalam bola mata ibu dan ayahku. Seharusnya kedua orang tuaku tersenyum padaku dan aku balik membalasnya. Jauh didalam pikiranku, tiba-tiba aku teringat ketika aku yang masih kecil. Aku yang masih nakal. Aku yang masih manja. Aku yang menangis untuk memperoleh keinginanku. Aku yang berlari kedalam pelukan bunda ketika aku dimarahi tetangga gara-gara mencuri buah mangganya. Aku teringat ibuku yang menangis malam-malam sambil menunggui diriku di rumah sakit akibat serangan demam berdarah yang menjangkitiku. Tapi kini, tak kan ada lagi, aku yang seperti itu. Inilah aku sekarang. Bias yang telah dewasa, Bias yang telah memperoleh gelar Sarjananya.
"BIAS KUSUMA HALIM lulus dengan pujian"
----0----
4 tahun yang lalu
---juni 2006----
"Ya tuhan....sekarang telah pukul enam pagi lebih empat puluh sembilan menit. Artinya sebelas menit lagi upacara pembukaan ospek akan segera dimulai dan aku masih berdiri di kamar kosan." Teriakku dengan kaget sambil melengok ke arah jam dinding "ohh..tidak mati diriku". Baru kali ini rofik taulani terlambat. Sebuar rekord baru dalam murr (MUseum Record Rofik).
Secepat kilat, tanpa mandi, tanpa sikatan dan hanya membasuh muka dengan air, aku bergegas segera memakai baju putih polos dengan krah dan celana kain hitam serta sepasang sepatu pantofel. Aku berlari tergerasa menuju honda berwarna coklat. Kunyalakan sahabat cokletku itu. Ku tarik gas sekencangnya. Namun sesaat kemudian aku melihat sesosok berpakain serupa denganku dan ia sedang berjalan kaki. Ah sudahlah berbaik hati tak ada salahnya, pikirku kala itu.
"mas ospek juga ya???? Sampeyan kuliah di unej juga mas?? Mau bareng tah mas??" tanyaku bertubi-tubi dengan tergesa-gesa lantaran aku memang sedang dikejar oleh waktu.
"boleh mas...maaf merepotkan" jawabnya singkat dan iapun langsung duduk di jok belakang motorku
Tanpa membalas lagi ucapannya, kali ini aku benar menarik gas motorku sekencang yang ku bisa. Sesampainya di tempat upacara. Aku terkejut. Oh upacara telah dimulai rupanya. Kulirik jam tanngan yang membelit di lengan kiriku. Astaga, sekarang sudah pukul tujuh lewat tiga menit. Rupanya panitia sedang rajin, sehingga jam tujuh pas upacara telah dimulai. Pintu depan menuju lapangan dijaga oleh beberapa mahasiswa dengan jaket berwarna biru tua atau biru donker mungkin itu adalah jaket almamater universitas jember. Tiba-tiba salah satu dari mereka menghampiri kami.
"Dik, kalian maba ya??"
"iya mas, upacaranya sudah dimulai dari tadi ya mas" tanyaku dengan ragu kepada mahasiswa tersebut.
"hmmmm....begini saja, karena adik telat, silahkan kalian berdua menunggu dipojok sebelah sana sampai upacaranya selesai"
"jammmbrettt....."kataku dalam hati. "BARU TELAT TIGA MENIT JUGA. Ah dasar si tampang kusut lebay. Bunda gua telat 3 bulan aja malah seneng. grrrrrrr" kutukku dalam hati semakin menjadi. Rupanya raut muka kesalku terbaca oleh teman asing yang gw bonceng tadi.
"Waduh kepripun iki mas, ngaputene yo mas, cobi kolo wau mas'se mboten ngajak aku, ngapetenne sanget-sanget yo mas " katanya dengan logat jawa kental lengkap dengan bahasa jawa yang tidak ku mengerti sama sekali. Hanya dua kata yang berhasil ku pahami yaitu kata "mas" dan "aku"
Otak isengku sedang bekerja, meskipun masi sedikit emosi dengan percaya diri saya berkata "Behhh...ngocak apa ben cong??? Marah pa jelas..." cukup pendek dan singkat. Aku yakin dia juga kebingungan dengan bahasa yang baru saja ku lontarkan. Mimik mukanya yang seperti bantal kusut ditambah aksinya yang sedang menggaruk-garuk kepala, semakin membuatku yakin dia kebingungan.hahahahahaha.... "satu sama" kataku dalam hati
"mas,maaf saya tidak menyerti , sampeyan ngomong apa??saya kira mas'nya orang jawa. Makanya tadi saya bicara pake jawa mas."
Dengan senyum-senyum puas merasa sedikit senang sayapun menjawab "hahahahaha....gak papa kok,omong-omong kita belum kenalan nih, kenalkan saya rofik," kataku sambil menyerahkan tangan kanan saya untuk dia genggam dan balik memperkenalkan namanya.
"saya Bias mas" wuih keren banget nih nama si jawa, orang madura aja jarang-jarang punya nama sebagus itu. "enggih mas, yang tadi maaf ya, gara-gara mbonceng saya, mas'nya juga jadi ikut telat"
Uhhhhhhhhh....kok diingetin lagi sih kalo telat.hmmmm "ah gak papa kok, tumben-tumbenan lagi baek aja, lagi kerasukan setan baik" ups.....keceplosan, kata yang gak kesensor dan sedikit kasar keluar dari mulutku. Lupa, kita kan baru kenal. Lagian dia juga sih ngingetin soal telat, jadi buruk kan suasana hatiku. Hehehehehe....minus satu untuk diriku.
Setelah perkenalan itu, kamipun saling berdiam diri. Si mahasiswa yang tadi menegur kami nampak memperhatikan kami. Dengan gaya yang dibuat-buat kamipun sok berdiri dengan tegap. Kamipun saat itu kami tak menyangka jika berdua akan menjadi sahabat sejati.
Tak terasa hampir 4 tahun telah berlalu sejak awal pertemuan tak terduga kami tersebut. Tak terasa pula hampir 4 tahun kami bersahabat. Kuliah di satu jurusan membuat persahabatan kami semakin akrab.
Saat ini adalah masa terberat dalam kehidupan kami. Tugas akhir agar kami layak disebut sebagai seorang sarjana telah menanti. Seminar Proposal Skripsi, Revisi ini-itu, Dan tibaLah pada bagian klimaks. Sidang untuk skripsi masing-masing. Kamipun merecanakan untuk sidang pada hari yang sama.
Sehari sebelum sidang Skripsi (18 november 2010)
"Sialan, mataku bengkak" umpatku, menyalahkan diriku sendiri yang tak segera dapat tidur. Sekeras apapun kupejamkan mataku, aq tetap tak bisa tidur. Otak kiri dan kananku terus bekerja tanpa henti. Terbayang 4 dosen duduk didepanku menenyakan hal-hal sulit yang belum mampu ku telaah lewat otak mungilku . Perasaan takut dan khawatir menyemuti hati. Tiba-tiba saja jantungku berdebar. Pikiranku bercampur aduk, sepintas teringat rupa teman-teman dan tingkah polah narsis,heboh, lebay yang selalu kami usung, semenit kemudian terpintas raut kedua orang tuaku yang tersenyum. Sedetik kemudian bayangan 4 dosen dengan tampang serius muncul lagi. Ah sebenarnya ini perasaan macam apa sih. Akhirnya kuputuskan untukber-SMS dengan sahabatku selama hampir 4 tahun-- BIAS KUSUMA HALIM-
"cong, sialan aku gak bisa tidur, kepikiran sama sidang besok" selesai kuketik singkat pesan di hape jadul tanpa kamera, langsung ku kirim pesan tersebut kenomor Bias.
Tak lama kemudian hapeku berbunyi. "sama, aku yo ndak bisa tidur. Duh piye iki, aku takut ee kalo pengujinya ngasih pertanyaan sulit"
"HEH....gimana kalo nanti setelah sidang beres, dan kita berdua lulus, len-jelanan??"
"wah aku setuju nek itu....kita touring, mbolang ke pulau sebelah -BALI- piye?"
"sip.....oke...deal"
SMS kamipun terhenti sampai disitu, diakhiri oleh SMSku yang mengiyakan usulan Bias. Meskipun mataku masih tak dapat kupejamkan lantaran otakku masih bekerja, aku tetap berusaha melupakan semua kalut dan ketakutanku.
Rofik, sebuah nama yang diberikan oleh kedua oranng tuaku, aku memiliki karakter yang keras, kasar, cenderung ceroboh dan ingin semua terlihat mudah. Sedangkan Bias merupakan sosok malaikat dengan logat jawa sopannya. Tidak mudah menyerah, memiliki kesabaran tingkat tinggi, dan selalu giat berjuang demi tercapainya sebuah tujuan yang telah ia susun.
Ada saat dimana aku kecewa berat, disaat dunia menekanku dengan kata deadline dan mengharapkanku melakukan sesuatu yang besar. Hatiku ciut, hatiku kecut. Aku seorang yang tak ingin diatur dan tak ingin mendengar kata "DIPAKSA". Egoku yang kasar dan keras tak sanggup melampuinya. Semua orang menjadi sasaran amuk masalku. Kutekuk wajahku sepanjang hari kala itu. Tak kuhiraukan senyum bahkan sapa orang disekitarku, terparah kusentak Bias lantaran mengganggu perenunganku yang penuh kekesalan. Namun Bias bertindak diluar nalarku, ia justru duduk di bangku sebelah. Ia temani aku duduk sendiri tanpa suara, tanpa kata. Hingga sebuah curhat melayang dari bibirku (Tak terasa air mataku mulai menetes, membasahi bantal yang sedang aku gunakan). Pikirku kita akan segera berpisah, hidup sendiri menuju kesuksesan masing-masing. Tak kan ada lagi sahabat yang menyemangatiku seperti Bias. Satu hal yang aku lupa, aku lupa berterimakasih pada Bias atas semangat yang ia berikan kala itu hingga detik ini, dan aku terlalu gengsi, terlalu angkuh untuk berucap "TERIMAKASIH".......
Keesokan harinya, SIDANG SKRIPSI
Hatiku tak bisa tenang menunggu 4 dosen penguji. Berkali-kali kutengok jam ditangan. Berkali-kali aku mengalihkan perhatianku dengan mengajak temanku bercanda. Berkali-kali aku menyemangati diri dalaam hati dengan kata-AKU PASTI BISA-. Jantungku semakin berdebar ketika 4 pasang kaki berjalan memasuki sebuah ruangan kosong dengan menenteng beberapa buku. Dengan mulut yang semakin giat mengucap doa, aku mengikuti mereka memasuki ruangan kosong tersebut. Bisikan kata -semangat- dari Biaspun masih belum mampu 100% mengobati grogi yang aku alami. Meskipun senyum bermekaran di wajahku, namun hatiku masi takut.
Detik berubah menjadi menit, dan menit merangkak menuju jam. Satu jam sidang yang membuat bulu kudukku berdiri akhirnya selesai. Ketika 4 dosen keluar ruangan sontak sahabatku menghampiriku, berbasa-basi mengenai sidangku tadi. Aku melihat wajah Bias masi tegang, namun aku memakluminya. Karena setengah jam lagi, iapun akan sidang skripsi. Kali ini giliranku untuk menyemangatinya. Namun hanya kata-semangat- yang kusampaikan. Selebihnya kami saling melempar jokes untuk menurunkan ketegangan .
Empat pasang kaki lagi-lagi melintas di depan kami, namun kali ini aku tidak merasa gemetaran seperti tadi. Aku hanya berbagi senyum sambil mengangkat tangan dan berkata "pasti kamu bisa, kita pasti wisuda bersama" pada Bias.
--------0------
Seminggu Sebelum wisuda kelulusan
Sesuai rencana yang sudah jauh-jauh hari telah kami rencanakan. Kamipun bersiap-siap melakukan touring jember-bali-jember hanya dalam waktu 4 hari dimulai dihari sabtu dan berakhir hari selasa-beberapa hari sebelum wisuda kelulusan kami-. Tak kan kusia-siakan kesempatan yang mungkin tak akan kita lalui bersama lagi. Aku yang berencana bekerja dan menetap dulu di jember setelah kelulusan sedangkan Bias yang berencana langsung menempuh pendidikan profesi di salah satu Universitas negeri di bandung, menjadi alasan kuat kita akan jarang bertemu.
HARI PERTAMA-Sabtu, 20 november 2010
Tas ransel berisi perlengkapan touring telah kusiapkan, kini kunyalakan motor coklat, dan akupun segara bergegas menuju kosan Bias. Setibanya di sebuah bangunan berlantai 2, aku langsung menuju lantai 2, kuketuk pintunya 3 kali dan kusebut nama Bias 3 kali sesuai anjuran nabi. Tak lama kemudian, sosok yang telah lama kukenal muncul.
"HAH.....kamu belum siap yas???" ucapku kaget melihat muka Bias yang masi muka bantal.
"maaf fiq...semalam aku gak bisa tidur,, ini saja nek kamu ndak kesini aku ndak mungkin bangun" jawab Bias menimpali kekagetanku.
"emang mikirin apa bro??? Kita kan mau have fun"
"Yaaaaaaaaaa...itu....aku juga bingung....tiba-tiba saja aku kangen ibuk, bapak, rumah dan temen-temen...eeee.... efek mau wisuda paling ya??? DAG-DIG-DUG aja gitu, gak jelas. Tiba-tiba aja perasaanku gak enak ajaaaa."
"Santai bro, ya mungkin itu efek kebanyakan pikiran aja...this is our celebrate...we cann't miss it...ini moment kita....cepetan mandinya...awas lama"
Yah keberangkatan yang aku rencanakan mundur satu jam. Berkali-kali aku menengok jam ditangan. Itulah kebiasaanku, selalu tergesa-gesa atau mungkin bahasa elitnya selalu tepat waktu. Aku tak suka membuang waktu hanya untuk dandan atau sekedar menyisir rambut. Jika saat ini kau ada diselahku, mungkin akan tampak tatanan rambutku yang tampak asal, bekas cetakan helm. Memakai kaos oblong plus jaket hitam dan celana jin ala kadarnya ditambah sandal japitpun sudah siap menuju bali.
AT Bali Holiday's
2nd day at Sanur beach
"GILA bro, baru kali ini gw liat bule.... assoy mukanya ada yang mirip miyabi pula.... hahahahaha" ujarku pada Bias
"iyo,, tuh ada juga yang mirip sama maria ozawa" timpal Bias
Gw hanya garuk-garuk kepala mendengar jawaban Bias. Sedikit menyelidik, gw bertanya pada Bias "emang lo tahu sapa si maria ozawa yas??"
"ya itulah, itu lho kan orang asia yang kayak jepang-jepang gitu."
Gw semakin garuk-garuk kepala. Orang asia yang mirip jepang??? What the kamsud??? Gw tanya lagi ama Bias "Bias,, emang orang asia, beda ya dengan orang jepang??"
"Ya seperti itu sudah. Cerita teman gw ya maria ozawa itu orang asia mirip jepang gitu"
"oalah yas, dasar orang katrok"
"biarlah fik, seng penting ada maria ozawa. Eh foto sama maria ozawa yang itu yuk". Ucap Bias sambil menunjuk cewek jepang yang dianggapnya sebagai maria ozawa.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Tapi itulah Bias. Sosok yang apa adanya. Sederhana dan aku yakin iapun belum pernah menonton film yang diperankan oleh maria ozawa yang memiliki nama lain miyabi.
"Oke, oke. But kamu bisa ngomong bahasa inggris gak yas???"
"KALO ngomong inggris itu gampang. Bias ahlinya" Ucap Bias sombong padaku
Tanpa kusuruh lagi Bias menghampiri si MARIA OZAWA-nya. Dari jarak 50 centian kuperhatikan Bias mengajak bicara si bule jepang itu.
"hi miss......." kata bias sambil mengangkat tangan kanannya kemudian menjabat tangan si bule (sampai disini tampak meyakinkan).."would you.....eeee....jepret me???" lanjut bias sambil menunjukkan kamera yang ia bawa pada si bule (Gubrak-Cuma itu expresiku). "please jepret my picture, i want jepret with you" Sejurus kemudian Bias memberikan kamera di tangannya dan memintaku untuk memotret dirinya dengan si bule.
Beatiful day at sanur beach. It's so much fun. Unforgetable moment. Berfoto dengan bule jepang menjadi kenangan tersendiri yang tersimpan dalam memori otakku. Bukan karena bule jepangnya. Bukan karena indahnya pantai sanur. Tapi karena aku menikmati pantai ini bersama sahabatku. Seorang sahabat yang selalu sukses membuat perutku terasa terkoyak gara-gara tingkahnya yang polos namun lucu. Aku menyebutnya LUGU, singkatan dari Lucu Ngguwateli.
3th day
It's all about friendship
Pagi yang cerah di kota denpasar. Masjid dikota ini sangat langka, tak semudah menemukan gedung dengan ornamen lambang bulan-bintang dibagian atasnya ketika kami berada di pulau jawa. Semalaman kami berjuang mati-matian untuk menemukan sebuah masjid. Uang saku yang kami bawa tak cukup bila harus chek-in di hotel. Bukan pilihan yang buruk jika masjid menjadi tempat tujuan untuk bermalam. Perutku tiba-tiba memanggil, memberikan sinyal untuk diisi. Kuraba bagian belakang celanaku, kuambil dompet hitam andalanku. Kulihat isinya, astaga sisa 20rb doang. Mati,, pikirku seketika. Bagaimana bisa pulang ke jawa ini dengan uang segini. Akhirnya kutanyakan sisa uang di dompet Bias
"Yas, di dompet lu ada berapa duit?? Uang gw tinggal 20rb nich"
"sebentar fik, aku lihat dulu ya" kata bias sambil merogoh saku celananya "wah di dompetku Cuma ada uang 40rb"
"Waduh, buat bensin pulang mungkin 40-50rb, trus berarti sisa buat makan berarti 10rb doang nich??"
"Tenang teman, cukup kok 10rb buat makan sampe besok, kalo tidak kita cabut dari bali nanti malam saja. Ngirit ongkos makan"
"kali ini, aku harus setuju sama idemu yas, padahal aku masi betah di bali"
Dengan uang Cuma 10rb kami memutuskan makan nasi sebungkus berdua. 5rb per bungkus, 2 kali makan sehari. Ah tapi nasi ini tetap terasa nikmat. Alhamdullilah, terimakasih tuhan atas makanan yang kau berikan. Terimakasih pula atas kawan yang kau utus untuk menjadi sahabatku. This is true friendship, saling berbagi saat susah, bukan berbagi hanya disaat senang. Hari terakir di bali kami jalan melihat-lihat pura yang ada di bali. Bali pulau yang sangat unik. Adat yang masih dijunjung tinggi. Aku semakin cinta dengan keberagaman indonesia.
Hari beranjak sore, kamipun berencana segara meninggalkan pulau bali. Saat kulihat jam yang melekat ditangan kiriku, jarum pendeknya mendekati angka 9. Saat ini Bias yang memboncengkanku menuju pelabuhan, setelah di pelabuhan, kami berencana tukar shift. Pemandangan malam di pelabuhan bisa dibilang sedikit romantis. Lampu pelabuhan yang bersinar terang, memantul pula dari laut malam. Ditambah lagi sinar remang-remang bulan sabit yang seakan-akan ada dua. Bulan sabit yang terlihat jelas namun terkadang bersembunyi di balik hembusan awan yang lewat, sebentar lalu nampak kembali indahnya bulan sabit. Bintang yang bertaburan di cerahnya langit malam menambah suasana romantis malam itu. Aku hanya bisa berkhayal kotor, seandainya saat ini aku dan cewekku berada di tempat ini, pasti aku sudah pegang tangannya. Aku belai rambutnya dan................................
"Toooooooeeettttttttttthhhhhhhh" Bunyi Klakson Kapal yang sangat memekakkan telinga. Sekejap itu pula lamunanku terhenti. Well kamipun telah berbiapindah dari darat kini diatas air. Setibanya didarat, sesuai kesepakan setir motor gw yang pegang.
Saat itu keadaan jalan sangat lenggang, beberapa lampu jalan disepanjang jalur mati. Bentuk sabit dari bulan yang telah mengikuti kami dari pelabuhan turut memandu kami untuk menemukan jalan pulang. Seharian berjalan-jalan berkeliling kota membuat kami ingin segara tiba dikosan kami. Kupacu si coklat dengan kecepatan hampir 100 km/jam. Dinginnya angin malam banyuwangi tak kuhiraukan. Hanya satu yang aku inginkan saat ini. Aku ingin kasur empuk ditambah bantal dan guling. Mataku sudah memerah dan tampak besar karena ku belalakkan agar aku semakin jelas melihat jalan tanpa lampu di sepanjang jalur. Sebentar kumudian mataku yang merah memejam 5 detik. Hanya 5 detik, kutahan kedua kelopak mataku saling bertemu, berpelukan dan menjaga si bulat putih didalamnya. Aku terbangun saat Bias memukul pundakku seraya berteriak-teriak yang tak dapat ku dengar dengan jelas. Kurasakan goyangan yang dibuat oleh gerakan panik Bias. mataku yang yang lelah tak dapat melihat dengan jelas.
Begitu tersadar aku tiba-tiba melihat sorot lampu terang sebuah tronton tepat menuju arahku. Di iringi oleh bunyi klakson yang sangat nyaring. Kucoba mumutar setir 90 derajat ke arah kiri. Namun usahaku justru malah membuat motorku oleng, meliuk-liuk bagai ular sawah yang ketakutan. Mataku yang semula memerah langsung membiru. Jantungnya yang semula berdenyut hanya 50an kali permenit kini denyut itu meningkat hingga 2 kali lipat. Aku dalam keadaan panik, suara terikan Bias beradu nyaring dengan suara klakson tronton.
Dan tiba-tiba...... Hanya gelap yang kulihat, Hanya hitamnya malam, indahnya bulan sabit dan bintang yang tadi kukagumi seolah kabur. Sesaat kemudian kudengar hiruk pikuk. Aku merasakan bahuku terangkat, ragaku tertarik, jiwaku melayang, mengembara ke alam entah berantah. Ku rasakan ketenangan jiwa, untuk itulah aku memutuskan memejamkan mata. Hanya itu kejadian yang dapat ku ingat. Jiwaku yang seolah lepas dari raganya melayang dan tak kepikiran untuk mencari tahu keadaan sahabatku Bias. Hanya titik-titik hitam, bulat-bulat hitam, garis-garis hitam dan akhirnya semua menghitam....
----0----
Jummat, 26 November 2010
"BIAS KUSUMA HALIM lulus dengan pujian"
Hening, sunyi dan tak ada suara........ Suara panggilan dari mikrofon yang nampaknya diacuhkan oleh si milik nama.
"BIAS KUSUMA HALIM lulus dengan pujian"
Kali ini aku terhenyak dari lamunanku. Aku tersadar dari lamunanku, seharusnya tidak ada kata "Seharusnya" dalam lamunanku. Kalimat itu layak menjadi "Aku berdiri ketika suara dari mikrofon memanggil namaku. Aku berjalan dari sudut ruangan, maju menuju podium untuk sebuah sertifikat, dan aku dapat melihat semua rupa yang hadir. Raut muka kedua orang tuaku yang seolah ragu harus berperas apa, sedih, bahagia atau gabungan keduanya. "
Kata Seharusnya yang hilang karena Bias memang maju dan mengambil sertifikat kelulusannya. Air mataku menetes, aku hanya tertunduk pada foto ukuran postcard. Dengan gambar latar birunya laut sanur dan foto 2 lelaki nista yang sedang berpose najis memasang senyum lebar. Pikirku tak kan ada lagi moment seperti itu, tak kan ada lagi kesempatan aku berpose gila bersama Bias. Tak kan ada, semuanya tak kan ada. Yang paling kusesali tak akan ada lagi sahabat yang akan duduk disampingku ketika aku badmod, menemani kegilaan hariku yang nampaknya akan menjadi hampa. Tak akan ada lagi sosok yang mengajak maria ozawa berfoto yang dengan sukses membuatku tertawa. Dan untuk kata TERIMAKASIH yang tak pernah terucap dari mulut egoku, "Sialan kau mulut keparatku".
Aku berdiri, Mataku semakin merah saat melihat foto Bias dibawa ke depan podium untuk disandingkan dengan baju toga dan sertikat yang tak akan mungkin diambil oleh si pemiliknya. Aku hanya bisa bisa memandang kalu, membanyangkan apa yang terjadi "jika". Jika saja tak kubiarkan mataku terpejam kala itu, jika saja aku menggubris firasat buruk Bias sebelum berangkat, jika saja kami tak memiliki rencana pergi ke pulau bali, jika saja semua hanya tentang jika saja. Otakku semakin jauh melamun, jauh menyelami masa lalu yang penuh dengan warna. Sosok rofik yang menyebalkan, yang sering menjadi neraka bagi Bias karena keogisannya.
Hanya doa selamat jalan yang bisa kusampaikan saat ini. Aku menyesal karena tak sempat berucap terimakasi. Terimaksih karena sudah menjadi sahabatku, terimakasih kerena mau menerimaku dengan segala egoku. Ucapan terimakasih yang terlambat untuk terlontar, ucapan terimakasih di depan foto pria hebat dengan menggunakan jas almamater. Terimaksih SAHABAT TERBAIKKU. SEMOGA SURGA MENJADI TEMPAT PERISTIRAHATANMU.
Didekasikan untuk semua sahabat yang telah mendahuluiku melihat indahnya surga, merasakan ketentraman akhirat. Semua mahasiswa yang dapat mengambil ijazah kuliah lantaran maut menjemput. [adhie]
Tag: cerpen, kelulusan, cerita pendek, ironi sebuah kelulusan
Terkait:
-
tentang perempuan
Selasa, 14 Jun '11 20:21 -
Terperosok di Sudut Kota
Minggu, 8 Mei '11 08:44 -
Surga Ani
Selasa, 14 Des '10 00:46
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
arman dhani bustomi: Penting
-
richy: Responsif

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat