Buah manis Orangtua Aktif 0

Selasa, 12 Apr '11 12:16

 

Judul : Dasyatnya Otak Anak Usia Emas

Penulis : Eka . W. Pramita

Cetakan : I, Juli 2010

Tebal : 1 – 188 halaman

Penerbit : Intreprebook, Yogyakarta

Apakah orangtua telah memberikan waktu yang banyak bagi anak-anak mereka?Apakah orangtua memberi kesempatan lebih pada anak untuk berkembang? Apakah orangtua telah memberi model perilaku bagi anaknya? Itulah sebagian pertanyaan-pertanyaan yang disodorkan Eka W. Pramita dalam bukunya yang bertajuk Dasyatnya Otak Anak Usia Emas. Pertanyaan-pertanyaan itu untuk mengajak pembaca (baca: orangtua) merenungkan kembali pada apa yang selama ini telah dilakukan pada buah hati mereka. Jika dilakukan survai, tidak semua orang telah mendampingi secara optimal perkembangan anak-anak kesayangan mereka.

Buku karya alumnus Universitas Negeri Yogyakarta ini perlu Anda miliki, sekiranya Anda belum sepenuhnya memahami mengapa pertumbuhan usia emas buah hati Anda perlu diperhatikan. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, Anda tidak akan merasa digurui, sehingga Anda akan merasa lebih menikmati saat menyelami pembahasan tentang golden age”. Pada akhirnya, Anda akan mendapatkan metode yang pas untuk mendidik buah hati Anda terutama saat menginjak usia emas.

Golden age atau usia emas adalah usia pertumbuhan anak dari 0 – 5 tahun. Kenapa usia emas itu penting, sebab dalam masa itu, pertumbuhan otak sedang sangat cepat. Hal ini menjadi kesempatan bagi orangtua untuk memberikan stimulus dan rangsangan yang mengoptimalkan pertumbuhan otak. Ditegaskan oleh Eka bahwa pertumbuhan otak anak mengalami perkembangan yang pesat pada trisemester pertama atau 18 bulan setelah dilahirkan hingga balita berusia 3 tahun. Ketika bayi lahir volume otak sekitar 25 % dari otak orang dewasa, kemudian pada usia 1 tahun, volumenya sudah mencapai 80 % otak dewasa ( hal 178 ).

Sangat sayang bukan ! ketika masa-masa itu terlewatkan begitu saja. Usia emas tidak akan datang dua kali, jadi saatnya sekarang juga, sebelum terlambat untuk ikut berperan aktif memberikan rangsangan/stimulus dalam masa pertumbuhan anak. Maria Montesori menegaskan bahwa periode usia emas inilah semua kehidupan pribadi anak manusia dimulai, di bentuk dan diarahkan ( hal. 16)

Menurut Eka, stimulus yang diberikan pada masa usia emas mempunyai tahapan. Hal ini dikukuhkan oleh Didik Hermawan, penulis buku Bagaimana Mencerdaskan Anak. Stimulus disesuaikan dengan usia anak dan dikemas dengan cara bermain yang menyenangkan. Sebagai contoh, anak usia 0 – 12 bulan perlu mendapatkan stimulus untuk melatih kerjasama mata dan telinga, melatih kerjasama mata dan tangan, melatih obyek yang ada tetapi tidak kelihatan, mengenal sumber suara dan melatih perabaan.

Eka turut menjelaskan bentuk-bentuk permainan yang sesuai bagi anak usia emas. Anak usia 1 – 2 tahun bentuk permainannya antar lain menyanyi, bertepuk tangan, lempar tangkap bola, mendorong dan menarik. Untuk usia 2 – 3 tahun, stimulus yang diberikan bisa dengan mencari gambar wajah, cerita tentang buah atau hewan, Lalu untuk anak usia di atas 3 tahun, permainannya dengan mengulang kata, atau mencari harta karun. (hal. 184)

Tak lupa Eka mengingatkan kembali tentang multiple intellegence yang dikenalkan oleh Howard Gardner. Delapan kecerdasan itu adalah: kecerdasan linguistik, kecerdasan logis matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan musikal, kecerdasan antarpribadi, kecerdasan intrapribadi dan kecerdasan naturalis. Dengan memahami adanya delapan kecerdasan ini, para otangtua dapat lebih aktif dan kreatif dalam memberikan stimulus bagi anak-anaknya. Untuk merangsang anak Anda, tak perlu dengan mainan yang mahal. Penulis mencontohkan, dengan menggunakan kardus bekaspun bisa dijadikan permainan yang mengasyikan bagi anak, yaitu ketika kardus bekas itu dijadikan “rumah” bagi si anak.

Selain dengan barang-barang bekas, Anda bisa mengoptimalkan pemberian stimulus pada anak usia emas bisa dengan memasukkan anak ke lembaga pendidikan anak usia dini, atau lebih kenal dengan Playgroup. Di lembaga ini, anak akan bersosialisasi dengan teman yang sebaya sehingga dapat mengenalkan mereka pada lingkungan sosial dan aturan sosial yang termasuk didalamnya. Akan tetapi, ada sebagian masyarakat yang kurang setuju mengikutkan anaknya pada lembaga pendidikan usia dini, karena mereka khawatir buah hatinya akan menjadi jenuh sekolah. Andaikan orang tua bisa memilihkan playgroup yang bisa menyenangkan bagi anak, tentu buah hati mereka tidak merasakan jenuh sekolah, justru sebaliknya, selalu bersemangat saat masuk sekolah. Kuncinya cukup satu, hargai anak Anda.

Playgroup adalah lembaga yang ikut membantu menjadi pendamping saat pertumbuhan usia emas anak Anda. Tapi perlu diperhatikan juga bahwa tak sedikit orangtua yang lepas tangan ketika anak-anak mereka sudah memasuki sebuah lembaga pendidikan anak usia dini. Seharusnya lembaga pendidikan anak usia dini ini dijadikan sarana untuk menjembatani kebutuhan anak dengan metode yang pas. Jangan berharap banyak dari sekolah yang hanya beberapa jam, keluargalah yang punya peran paling besar (orangtua), yang penting adalah ketika anak di rumah, beri stimulus untuk rangsangan kecerdasannya (hal. 102). Tak heran jika Eka, lewat bukunya meneguhkan kembali perlunya keaktifan orangtua bagi buah hatinya.

Buku ini mengusung metode keaktifan komunikasi verbal dan non verbal. Penulis menjelaskan bahwa orangtua perlu lebih intens dan aktif dalam berkomunikasi dengan anaknya. Ajak buah hati Anda bicara apa saja, karena hal ini dapat mengaktifkan syaraf-syaraf pada perkembangan otak anak Anda. Misalnya dengan mengajak anak Anda jalan-jalan ke taman. Dalam perjalanan ke taman, ajaklah buah hati Anda untuk berkomunikasi. Anda bisa jadi terlihat lebih cerewet atau seperti pemandu wisata yang ekspresif karena menceritakan benda-benda yang Anda dan buah hati Anda temui di sepanjang jalan. Maka walaupun jarak ke taman sebenarnya dekat, tetapi bisa menjadi panjang dan menjadi perjalanan petualangan bagi Anda dan anak Anda. Bisa jadi, anak Anda akan berhenti dan terlihat serius mengamati semut yang berjalan atau ulat yang ia temukan di rumput. Lalu bisa jadi baru beberapa langkah, anak Anda akan berhenti dan mengamati kotak pos, lalu mencoba memasukkan benda-benda ke kotak pos. Apapun itu nikmatilah dengan bercakap-cakap dengan buah hati Anda. Jika itu semua telah menjadi rutinitas, lihatlah jerih payah Anda, akan terlihat.


Tag: Resensi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat