Sebuah Refleksi 2
Jumat, 1 Apr '11 12:52
Menjelajahi dunia kampus, menginjakkan kaki didunia bebas tanpa aturan mungkin adalah saat ditunggu oleh manusia. Mereka bisa bebas berekspresi, tanpa takut dikekang, tanpa aturan yang ketat. Semua tergantung kita, kuliah adalah pilihan. Tidak hanya kuliah yang menjadi pilihan, cara kita menjadi seorang mahasiswa juga pilihan. Kita tetap seperti masa sekolah atau berubah menjadi seorang aktivis (dengan bangga membawa jas alma), berdemo, atau dengan cara santun berdemo melalui tulian.
Menjadi anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) mempunyai kebanggan tersendiri. Bagaimana tidak bangga, disaat para mahasiswa sibuk dengan kuliahnya, mahasiswa pasif dengan keadaan sekitar, kami sebagai anggota lpm diberikan anugerah luar biasa menjadi salah satu mahasiswa yang dipercaya melihat sejarah-sejarah kecil disekitar kampus, memprotes kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pejabat kampus, yang dianggap merugikan civitas akademik. Otak ini seakan dibentuk dengan sendirinya, bagaimana menjadi insan pers, bagaimana berbicara kebenaran, belajar konyol, belajar ikhlas, belajar hidup susah dan belajar mengarang. Karena semua ini tidak kita dapatkan di bangku kuliah kita. Bagi sebagian anak pers mahasiswa, menjadi anggota lpm bisa menjadi ajang balas dendam karena tidak bisa kuliah di jurusan komunikasi, ada juga yang memang tidak niat kuliah jurusan komunikasi tapi mempunyai minat untuk jurnalistik. Kami bisa mengekspor kemampuan kami di media massa yang kami buat dengan susah payah. Belajat benar-benar menjadi wartawan tanpa bayaran (itu tadi kenapa saya mengatakan, persma belajar ikhlas, hidup susah). Terkadang media yang dirancang sedemikian rupa oleh persma tidak direspon baik oleh kampus. Membuat para insan pers kampus ini memutar otak untuk mencari jalan keluar bagaimana mereka tetap bisa berekspresi.
Situasi ini ditangkap baik oleh media masa di Banjarmasin, mereka tahu seolah para pers mahasiswa haus ilmu, haus media berekspresi. Bersaing untuk mendapat awak dari pers mahasiswa, mulai dari diklat jurnalistik, workshop jurnalistik (salah satu lpm fakultas diunlam menjadi panitia hari H), memberikan kolom khusus untuk lpm menggarap. Sebagai persma, tentu ini merupakan kabar gembira, karena kami mulai dilirik, diperhitungkan dalam kancah pers umum ini. Ajang bersaing sesama persma menunjukkan eksistensi kepada pembaca, kepada petinggi kampus (dengan harapan mendapat perhatian lebih). Terdapat banyak benang merah positif yang dapat diraih dari sebuah persaingan memperebutkan kami. Tapi tidak menutup kemungkinan ini juga menjadi hal yang negatif bagi kami. Bersaing, beradu gengsi yang mengarah kenegatif, saling menjatuhkan. Sedikit catatan, ada lembaga pers mengajak pers lain bergabung salah satu media masa tp justru yang mengajak lari ke media masa lain.
Semua tergantung persma itu sendiri, lembaga itu sendiri memposisikan diri dimana mereka berpijak. Menjadi lembaga yang tergantung pada media masa atau menjadi persma yang belajar dari pers umum dan memilah bagaimana sebuah pers itu sendiri. Persma adalah media pembelajaran kita, entah suatu saat nanti kita sebagai persma terjun sebagai insan pers umum atau hanya sampai disini berjuang, berekspresi. Ingat kawan persma bukan ajang mencari uang, tapi bagaimana kita belajar kebenaran, belajar menjadi peka terhadap lingkungan.
Tag: dk, banjarmasin
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
andi_tulungagung: Bagus
-
arman dhani bustomi: Penting
-
dewi alfath: Responsif
-
Tatu: Bagus
-
tna: Responsif
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat