Potensi Sumber Daya Alam Kabupaten Lumajang 0
Minggu, 27 Mar '11 03:41
Kabupaten Lumajang yang terletak pada 112゚53' - 113゚23' Bujur Timur dan 7゚54' 8゚23' Lintang Selatan. Luas wilayah keseluruhan Kabupaten Lumajang adalah 1790,90 km2. Kabupaten Lumajang terdiri dari dataran yang subur karena diapit oleh tiga gunung berapi yaitu Gunung Semeru (3.676 m), Gunung Bromo (3.2952 m) dan Gunung Lamongan (1.668 m). Hal ini membuat tanah di Kabupaten Lumajang sangat subur.
Ketinggian daerah Kabupaten Lumajang bervariasi dari 0-3.676 m dengan daerah yang terluas adalah pada ketinggian 100-500 m dari permukaan laut. Hal ini menjadikan sebagian lahan di Kabupaten Lumajang adalah lahan perkebunan dan pertanian. Dampak dari adanya Gunung Semeru bagi Kabupaten Lumajang adalah belimpahnya tambang pasir di Kabupaten ini. Kondisi Gunung Lamongan yang diapit tiga danau atau penduduk local biasa menyebutnya "ranu" ini juga dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat sekitar sebagai tempat pembudidayaan ikan karamba. Selain itu keindahan alam Kabupaten Lumajang juga menjadikan Kabupaten ini memiliki obyek daya tarik wisata.
Perkebunan dan pertanian di Kabupaten Lumajang ini adalah salah satu sumber pemasukan Kabupaten Lumajang. Kondisi awal perkebunan di Lumajang sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Terdapat dua pabrik, yaitu Pabrik Gula Jatiroto (1884) dan Pabrik Teh Kertowono (1910). Pabrik Gula Jatiroto adalah Pabrik Gula Terbesar, sehingga pada masa penjajahan Belanda, dimana saat itu Belanda yang dipimpin oleh Ratu Wilhelmina pernah berkunjung ke Jatiroto sebagai ungkapan syukur karena pabrik gula Djatiroto memberikan keuntungan yang sangat besar, sekitar 20 persen setiap tahunnya, sehingga mampu menyelamatkan perekonomian Negeri Kincir Angin.
Selama ini PG Jatiroto menyumbang 50% produksi gula nasional, namun mengapa masih belum mampu banyak membantu perekonomian nasional? Jelas masalahnya ada pada Teknologi Pabrik tersebut yang tidak lagi muda. Mesin-mesin dipabrik tersebut rata-rata adalah masih asli sejak jaman Belanda dan hanya mengalami peremajaan, bukan penggantian mesin-mesin baru yang mampu berproduksi lebih banyak. Padahal PG Jatiroto juga didukung dengan pasokan yang cukup oleh kebun tebu rakyat. Semula kapasitas produksi adalah 5000 ton gula pertahun. Sehabis peremajaan beberapa tahun lalu kini PG Jatiroto mampu menarget produksi 10.000 ton gula pertahun, dan diharapkan mampu mendorong perekonomian local dan nasional.
Konstribusi Kebun Teh Kertowono sendiri juga cukup besar bagi Kabupaten Lumajang. Proses produksi yang langsung diawasi oleh tester dari Inggris dimana sebagian besar produk ini diekspor ke Inggris dan sisanya dipasarkan di koperasi PTPN XII Kertowono. Produk teh ini adalah jenis black tea yang pertahunnya mampu diproduksi sekitar 1000 ton pertahun.
Pertambangan Pasir di Lumajang terbentang disepanjang pantai selatan Kabupaten Lumajang dan sungai-sungai yang bermuara di pantai selatan tersebut. Secara umum pasir besi tersebut merupakan endapan telakan (placer) alluvial pantai yang terkonsentasi ombak dari hasil erupsi gunung semeru dan terbentuk dari batuan andesitan yang merupakan perselingan breksi,lava dan tuva dengan komposisi utama andesitan basaltip yang tergerus arus sungai besar dan mengalir ke laut selatan yang terdiri dari mineral opak bercampur butiran-butiran dari mineral non logam seperti, kuarsa, kalsit, feldspar, ampibol, piroksen, biotit, dan tourmalin. Mineral tersebut terdiri dari magnetit, titaniferous magnetit, ilmenit, limonit, dan hematit. Titaniferous magnetit adalah bagian yang cukup penting dan merupakan ubahan dari magnetit dan ilmenit. Mineral bijih pasir besi terutama berasal dari batuan basaltik dan andesitik vulkanik.
Dengan luas daerah tambang sekitar 10.000m2 adalah merupakan SDA yang paling besar jika Pemerintah Kabupaten Lumajang mampu mengelolanya secara maksimal. Menurut Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Prof Dr Ir Muhhamad Naim Potensi dan deposit mineral iron sand di kabupaten Lumajang diprediksikan mencapai jutaan metric ton dengan asumsi sebarannya mencapai hampir 8,495,6 Ha atau 8.495 x 10.000 M2 x 4 M (asumsi kedalaman), maka akan mencapai jumlah 339.800.000 MT (raw macterial). Dari jumlah tersebut yang mempunyai kadar Fe sekitar 50 % sehingga diproyeksikan jumlah deposit mencapai 339.800.000 x 50 % = 169.900.000 MT. Apabila pemerintah kabupaten mendapat kontribusi Rp. 5.000/ton, maka secara garis besar akan tembus pada angka Rp. 849.500.000.000,-.
Menurut Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Prof Dr Ir Muhhamad Naim dalam salah satu symposium memaparkan, eksploitasi pasir besi dengan memanfaatkan teknologi dari Finlandia terbukti paling bagus dan ramah lingkungan, karena menggunakan magnet penghisap. Pasir besi hanya akan diambil sekitar 4 - 6 meter dari permukaan tanah. Sebab bila ditambah lebih dari 6 meter maka yang ditemukan bukan pasir besi namun kerakal. "Penambangannya pun berjarak 200 meter dari bibir pantai sehingga tidak akan terjadi abrasi dan bersifat ramah lingkungan," paparnya.
Untuk mengurangi pencemaran lingkungan akan ditanam sejumlah tanaman seperti pohon cemara udang, jarak, pandan dan lainnya. Sementara lahan yang sudah ditanam akan dibuat landscape untuk meratakan pasir. "Rehabilitasi lahan ini dimaksudkan untuk reklamasi dan memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi lahan sehingga daya dukung, produktifitas dan peranannnya dalam mendukung fungsi lahan tetap terjaga," imbuhnya.
Juli 2008, Investor asal China telah mengelola tambang pasir seluas 500m2 dan Juni 2009, PT Indo Modern Mining yang berkantor di Jember tersebut mengantongi ijin ekplorasi hingga seluas kurang lebih 8.000 hektare dan masih belum semua telah dieksplorasi. Sebagai follow up tahapan eksplorasi pasir besi, pemerintah kabupaten sudah memikirkan Commonity Development pada dasawarsa pertama investor dengan alokasi 11,5% dari gross profit untuk community development. Dan pada 10 tahun berikutnya kontribusi akan ditingkatkan sampai 20%. Pengusaha mineral tambang pasir besi pada 10 tahun pertama harus memberikan kontribusi ke daerah (Kabupaten) sebesar 1,5% dari penjualan masing-masing untuk Regional Development dan Community Development dan setelah 10 tahun meningkat menjadi sebesar 2%. Setiap hasil produksi (pasir besi) sebelum diangkut, pemegang KP harus membayar di muka dulu retribusi pengangkutannya yang dihitung berdasarkan berat muatan dikalikan 1,3-Dolar/ton. Kewajiban investor tersebut merupakan pendapatan bagi daerah untuk PAD sebesar 1,3 Dolar/ton, AMDAL-nya 0,5 Dolar/ton, pemberdayaan untuk masyarakat setempat sebesar 0,2 Dolar/ton, dan retribusi pelabuhan ( kalau ada pelabuhan), belum lagi akses jalan, jika ada kerusakan.
Pembudidayaan Karamba Ikan di lereng Gunung Lamongan, tepatnya di Ranu Klakah tidak begitu besar, namun cukup untuk memenuhi permintaan masyarakat Lumajang. Ikan yang dibudidayakan adalah jenis ikan air tawar seperti ikan mujair dan gurami. Selain di daerah ranu, ada pula budidaya karamba ikan yang dilakukan disungai. Sebagian besar yang melakukannya adalah masyarakat tengah kota.
Kondisi geografi Lumajang yang diapit oleh tiga gunung membuat Lumajang dianugrahi pemandangan yang eksotis sehingga memiliki obyek daya tarik wisata yang sebagian besar adalah wisata alam. Salah satu wisata alam yang paling terkenal se-Indonesia adalah Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Tiap tahun wisatawan asing maupun domestik datang ke TN BTS dengan berbagai latar belakang. Saat peringatan kemerdekaan banyak para pendaki dari seluruh Indonesia datang TN BTS untuk upacara bendera di Gunung Semeru. Tak hanya itu, beberapa peneliti dari luar negeri juga banyak melakukan penelitian di TN BTS.
Ditengah liarnya alam di TN BTS, pemerintah setempat tetap menyediakan fasilitas bagi mereka yang mau berkunjung ke daerah tersebut. Perjalanan menuju TN BTS bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor selama dua jam dari pusat kota Lumajang. Di TN BTS wisatawan ditawarkan berbagai keindahan alam mulai dari keindahan segitiga ranu ( Ranu Pane, Ranu Regulo dan Ranu Kumbolo), padang savana oro-oro ombo sampai dengan keindahan di Puncak tertinggi Pulau Jawa yaitu puncak Mahameru. Di Puncak kita bias menemui monumen meninggalnya dua orang demonstran era 60-an yaitu Soe Hok Gie dan Idhan Lubis. Selain itu kita bias melihat puncak-puncak gunung lain dari puncak Mahameru.
Puji Syukur Tuhan Yang Maha Esa memberikan limpahan berkat yang besar kepada masyarakat Lumajang. Sekarang adalah bagaimana kita mengelola dengan baik dan tetap menjaga kelestarian lingkungan agar tidak terjadi bencana akibat ekstraksi yang melebihi daya dukung.
Tag: Lumajang, SDA, Pasir besi, PG Jatiroto, Kertowono, PTPN XI, PTPN XII, Gula, Teh
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
dewi alfath: Responsif
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat