Perang Libiya dan Hegemoni Negara Maju 1

Sabtu, 26 Mar '11 16:01

 

Libiya adalah negara penghasil minyak terbesar di benua Afrika. Cadangan minyak Libiya lebih dari 46,4 miliyar barel. Tiap harinya negara yang tengah bergolak ini menyuplai 1,3 juta barel kebutuhan minyak dunia. Negara yang selama ini bergantung pada pasokan minyak Libiya tidak lain adalah negara-negara di kawasan Amerika dan Eropa. Tercatat 6 % ekspor minyak Libya untuk Amerika, 13 % untuk Italia, 32 % untuk Spanyol, dan sisanya untuk negara di kawasan Eropa lainnya termasuk Prancis.

Setelah sekian waktu Libiya mengalami konflik, pasokan minyak dunia cukup terganggu. Harga minyak dunia naik hingga  105,75 dollar per barel. Padahal, minyak bumi adalah energi utama dalam menggerakan roda perekonomian. Bisa saja pertumbuhan ekonomi negara maju seperti Amerika menurun atau bahkan mengalami krisis jika Libiya terus bergolak.

Konflik di Libiya memang sangat memperihatinkan. Untuk alasan apapun tindakan Presiden Khadafi yang menggunakan kekuatan militer untuk menyerang rakyatnya sendiri tidak bisa dibenarkan. Meski demikian tindakan pasukan sekutu dibawah komando Prancis yang melakukan agresi terhadap Libiya juga bukan tindakan yang arif. Walaupun penegakan demokrasi dan kemanusiaan yang diklaim menjadi alasan utama agresi, motif ekonomi negara-negara maju tak bisa dielakan.

Serangan sekutu disinyalir merupakan usaha negara maju untuk mengamankan pasokan minyak dalam negerinya. Jika kelak Khadafi tumbang dan Libiya memiliki pemerintahan baru, tentu ada balas jasa yang diminta negara sekutu. Salah satunya adalah kontrol terhadap produksi minyak Libiya.

Agresi militer sekutu membuktikan bahwa rumor hegemoni dan intervensi negara maju terhadap negara berkembang adalah nyata adanya. Kesenjangan negara maju dan negara berkembang bisa disebut sebagai ketetapan dunia. Negara maju akan selalu mencoba mempertahankan posisi keunggulannya meski harus mencegah negara berkembang untuk menjadi maju sekalipun.

Konflik Libiya juga berdampak bagi Indonesia terutama pada soal minyak. Meski kaya kandungan minyak, produksi dalam negeri Indonesia ternyata masih rendah. Mau tak mau Indonesia mesti mengimpor dan ini berarti kita mesti mengikuti standar harga minyak dunia yang tengah melonjak. Barangkali ini kelak menjadi alasan bagi pemerintah untuk menaikan harga BBM.

Bangsa ini mungkin tak bisa berbuat banyak bagi Libiya. Tetapi, kita menjadi sama-sama paham soal tingkah laku negara maju terhadap negara berkembang. Kontrak korporasi asing terhadap eksploitasi kekayaan alam kita sebaiknya dievaluasi. Kita pula mesti hati-hati terhadap hegemoni barat. Jangan sampai suatu saat ketentraman kita terkoyak oleh skenario barat seperti halnya di Libiya.

Kita wajib mengingat rumusan jenius pendiri bangsa bahwa politik luar negeri Indonesia adalah bebas-aktif. Sebagai negara muslim terbesar Indonesia mesti mengusahakan perdamaian di Libiya. Di sisi lain kita tak boleh terjebak dalam polarisasi negara-negara maju. 

 

 


Tag: perang libiya

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

arman dhani bustomi 0 0
same shit, different day

Silahkan login untuk memberikan pendapat