Pers Mahasiswa : Sekedar Celoteh 1
Jumat, 18 Mar '11 21:25
"Our integrity sells for so little, but it is all we really have. It is the very last inch of us, but within that inch, we are free." Valerie of V for Vendetta
Dalam suatu kesempatan kawan saya pernah mengeluh, isinya kira-kira betapa ia menyesal mengikuti unit kegiatan yang bernama Pers Mahasiswa. Intinya ia merasa terasing dalam lingkungan dan pergaulannya. Ia merasa menjadi orang yang terlalu banyak tahu dan sok tahu karena sering kali harus berbeda pendapat dengan orang kebanyakan. Mendengar itu saya jadi terdiam, sepertinya kawan saya itu mengalami hal yang sekarang saya alami. Sebuah kegamangan akan pilihan dalam satu fase kehidupan. Terus berproses dalam aktivisme mahasiswa atau kembali menjadi orang kebanyakan dengan menjalani hidup yang 'biasa-biasa saja'.
Setelah bertemu dengan kawan saya itu perasaan saya jadi amburadul. Seolah-olah yang namanya hidup ini jadi roller coaster. Apa iya keputusan saya untuk bergulat bersama absurditas bernama pers mahasiswa ini sudah benar adanya? Atau saya telah salah melangkah menjalani proses kehidupan? Serius deh, tanpa sadar saya merekonstruksi jenjang hidup saya selama kuliah dan keterkaitannya dengan pers mahasiswa. And voila, dalam banyak hal ternyata Pers Mahasiswa telah banyak memberikan saya sebuah kebanggan dan pengetahuan. Dimana dalam beberapa kasus tertentu, lebih banyak memberi ilmu daripada apa yang diberikan oleh matakuliah kepada saya.
Kira-kira medio 2007 saya iseng main di kampus pada sore hari. Sekedar maen futsal dan cuci mata pada mahasiswi jurusan pajak yang memang saat itu masuk sore hari. Mata saya terpaku pada sebuah selebaran undangan masuk UKM. Karena desain yang mencolok dan agitasi yang merangsang, saya memutuskan untuk membaca secara utuh dan jelas apa yang coba disampaikan oleh selebaran itu. Ealah ternyata itu merupakan undangan dari UKM Pers Mahasiswa. Awalnya saya pesimis, paling juga cuma diajari nulis. Kalo sekedar nulis mah, dari TK - SMA juga diajari, apa bedanya? Pikir saya saat itu. Tetapi saat saya baca lebih lengkap ternyata. UKM tersebut juga mengajarkan tentang Fotografi, Desain Grafis, Wacana Filsafat dan keorganisasian. Okelah untuk fotografi dan desain grafis menarik buat saya, tapi filsafat dan organisasi? Oh Come on how lame they are, I think they mad.
Serius deh, hare genee siapa juga yang mau belajar filsafat atau sibuk berorganisasi? Filsafat itu kegiatan orang kurang kerjaan yang cuma bikin pusing dan membosankan. Saya pikir anda pasti setuju. Filsafat dalam banyak hal mengkaji hal-hal yang tidak terlalu praktis dalam kehidupan. Misalnya Wittgeinstein dan Derrida yang mengkaji filsafat dalam bahasa, St Agustinus dan Ibnu Rusyd yang mengkaji teologi, atau Frantz Fannon dan Edward Said yang membahas Kolonialisme. Please deh, apa coba hubungan filsafat tadi dengan harga rawon di semanggi atau video klip baru Justin Bieber? Gak ada. And yet UKM tadi mencoba menawarkan Filsafat sebagai salah satu hal yang diajarkan di UKM tersebut. Saat itu saya pikir mereka antara goblok atau kurang waras.
Keorganisasian, makanan apa itu? Memang sih di kampus diajarkan tentang mata kuliah Manajemen Organisasi. Sedikit banyak intinya tentang bagaimana menempatkan diri sebagai bagian dari kelompok, atau kalau sial, bagaimana menjadi pemimpin yang mengatur sekelompok orang. Tetapi keorganisasian yang dimaksud dalam UKM tersebut adalah bagaimana seorang mahasiswa menempatkan dirinya dalam suatu kelompok dan memanfaatkan kemampuannya untuk melakukan kegiatan beresiko semacam advokasi atawa penyelenggaraan suatu event. Atawa dalam kaitannya dengan pers mahasiswa, pencarian dan pengolahan sebuah reportase hingga menjadi sebuah berita. Ah buat saya itu gak lebih asik daripada duduk nongkrong berjam-jam wifian di café sambil gaul bersama teman-teman. Siapa tahu malah dapet pacar, bukannya sibuk capek mikirin ini itu yang gak bikin kaya atau menghasilkan duit.
Yah kira-kira itu gambaran awal buat seseorang yang asing dengan pers mahasiswa. Jangan salah, saya juga pernah menjadi seperti mereka yang skeptis dengan keberadaan UKM. Apapun itu, mau seni, pecinta alam, olahraga atau kerohanian. Buat saya segala sesuatu yang tidak memberikan manfaat prakstis itu non sense dan useless. Itu kenyataan yang seringkali tidak mau dipahami oleh kebanyakan UKM termasuk persma. Pertanyaan sederhananya adalah "apa yang akan saya dapatkan dari Pers Mahasiswa?" kemampuan menulis? Kemampuan fotografi? Atau sekedar kegiatan pengisi waktu senggang?
Sebelum banyak bicara tentang itu ada baiknya saya sedikit bahas Pers Mahasiswa punya sejarah. Hal ini penting, sebagai basis pemahaman mengenai keberadaan Pers Mahasiswa dan posisinya dalam perkembangan bangsa ini. Berikut adalahs edikit dari petikan dari tulisan Agus Lenyot, sejarawan cum eks pegiat Pers Mahasiswa dari Universitas Udayana. Tulisan yang berjudul "Menggugat Eksistensi Pers Mahasiswa". Pers mahasiswa generasi awal adalah pers yang dikelola oleh mahasiswa Hindia di Belanda, sebelum Indonesia merdeka. Tercatat Hindia Poetra, Oesaha Pemoeda, Jong Java, Soeara Indonesia Moeda pada medio 1920-an mewarnai coretan sejarah bangsa. Kebanyakan Pers Mahasiswa saat itu mendorong pemberlakuan dan pemerataan politik etis di Hindia dan advokasi terhadap penyimpangan yang terjadi pada culturstelsell.
Periode berikutnya adalah periode zaman pendudukan Jepang. Saat itu pers Mahasiswa tidak mencatat kesuskesan berarti, karena periode pendudukan jepang yang singkat. Hanya ada brosur stensilan yang umumnya dikeluarkan oleh pemuda. Itu pun susah sekali dibedakan apakah itu dikerjakan oleh pemuda atau mahasiswa. Karena universitas yang ada kebanyakan adalah lembaga pendidikan milik Belanda yang kemudian diadopsi sebagai sentra pendidikan Jepang. Baru setelah indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1950-1955 pers mahasiswa tumbuh serupa cendawan.
Puncaknya adalah pada bulan Agustus 1955 atas inisiatif Majalah GAMA di Yogyakarta maka diselenggarakanlah Konferensi Pers Mahasiswa. konferensi dihadiri oleh GAMA, Gajah Mada, Criterium, Media, Vivat, Ta Hsueh Ta Chih, Mahasiswa, Intelegensia, Duta Mahasiswa dan Fiducia. Kuatnya pengaruh media umum sehingga konferensi ini melahirkan dua organisasi yaitu Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia (IWMI) dengan ketua Teuku Jacob dan Serikat Pers Mahasiswa Indonesia (SPMI) dengan ketua Nugroho Notosusanto. Konferensi ini juga berhasil melahirkan anggaran dasar serta Code Jurnalistik Mahasiswa.
Pada zaman demokrasi terpimpin pada era Soekarno 1960-1965. IWMI dan SPMI bersinergi membentuk Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia. Dengan kebijakan Soekarno yang mewajibkan segala bentuk oganisasi menggunakan dasar MANIPOL USDEK. IPMI menolak melakukan keberpihakan terhadap sisi Sosialis Komunis dan sisi Liberal Keagamaan. Hal ini tentu menyulitkan IPMI namun dengan berakhirnya rezim Soekarno IPMI tetap dapat bertahan dan malah berkembang. Namun tidak segala yang dilakukan IPMI menorehkan tinta emas, sedikit banyak IPMI juga terpengaruh oleh propaganda Soeharto paska G30S PKI. Dengan membantu menyebarkan message of hatred terhadap orang-orang yang dianggap PKI.
Beberapa contoh media Pers Mahasiswa yang menjadi kanon pada zamannya adalah Mahasiswa Indonesia, Harian KAMI, Mimbar Demokrasi. Yang juga kebetulan merupakan surat kabar terkemuka yang dikelola oleh pengurus IPMI. Pada era orde baru sekitar tahun 1973-1974 terjadi tragedi Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) yang kemudian melahirkan NKK/BKK. Membunuh segala macam organisasi kemahasiswaan termasuk Pers Mahasiswa. Dengan demikian dimulailah periode klandestein Pers Mahasiswa yang justru membuat mereka menjadi organ paling revolusioner pada zamannya. Awal 1978, beberapa harian umum seperti Kompas, Sinar Harapan, Merdeka, Indonesian Times, Sinar Pagi dan Pelita dibredel. Kekosongan ini dimanfaatkan oleh pers mahasiswa untuk unjuk gigi.
Pada era orde baru Soeharto pernah menganggkat Prof. Dr. Fuad Hassan, Guru Besar Fakultas Psikologi UI menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Gaya rileks Fuad Hassan diharapkan memecahkan kebekuan dunia kemahasiswaan yang beku akibat kebijakan NKK/BKK. Selanjutnya Fuad membentuk tim yang diketuai Suripto untuk meneliti keadaan dunia kemahasiswaan. Dari hasil pertemuan Suripto dengan mahasiswa di perguruan tinggi negeri dan swasta di Jakarta, Bandung, Bogor, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Medan dan Ujung Pandang diketahui bahwa 99,5% mahasiswa hanya study oriented. Jumlah ini nyaris seluruhnya cuek, apatis, dan acuh tak acuh terhadap NKK/BKK. Hanya 0,5% yang peduli dan dibagi menjadi dua jenis. Yaitu yang berpandangan kritis idealistis dan radikal. Yang radikal inilah yang dengan harga mati mempersoalkan Dewan Mahasiswa (Editor:2/12/1989).
Setelah itu selebihnya hanya kabar euforia reformasi 1998. Semua organ mahasiswa berebut mengambil kebanggaan sebagai pihak yang paling berperan dalam penggulingan rezim Orde Baru. Buat saya itu konyol, reformasi yang setengah hati boleh kalian akui, boleh kalian klaim. Toh tak banyak mengubah keadaan. Pers Mahasiswa juga demikian, beberapa dari mereka mengklaim bahwa tumbangnya orde baru merupakan sumbangsih Pers Mahasiswa. Padahal sejatinya mereka adalah organ paling intelektual karena memungkinkan segala gerak perjuanggannya melalui pena dan tulisan. Tentu saja bukan tulisan yang asal terbit. Tetapi juga tulisan yang didasari oleh logika, fakta, dan argumen yang kuat.
Penulis besar dan nominator Nobel Sastra Dunia Pramoedya Ananta Toer pernah berujar, "orang boleh pintar setinggi langit" ujarnya, "tetapi selama ia tidak menulis, ia akan dilupakan sejarah". Pentingnya Pers Mahasiswa dalam kebudayaan literasi sudah sangat jelas. Mereka adalah agen pencerahan, apabila Mahasiswa masih terjebak pada dikotomi Agent of Change, change on what? Sudah bukan waktunya kita terjebak pada romantika masa lalu.
Jika kalian ingin lulus cepat, meraih IPK tinggi dan tidak ingin disibukan dengan tetek bengek masalah sosial dan bahan bacaan. Saya sarankan untuk tidak masuk Pers Mahasiswa. Mereka seringkali hanyalah organ yang buang-buang waktu dan tenaga. Tetapi jika kalian ingin dikenang dan menjadi bagian dari sejarah. Pers Mahasiswa adalah salah satu caranya. Disana pemikiran dan kemampuan kalian akan digenjot dengan sedemikian rupa untuk menjadi yang terbaik. Mungkin kalian akan terasing, dijauhi, dan terjebak pada idealisme. Namun serupa kata Valerie dalam film V for Vendetta "kehormatan kita dijual sangat murah, tetapi hanya itu yang kita punya" katanya, "itu adalah hal terakhir yang kita punya, tetapi dalam yang sedikit itu kita merdeka!"
Tag: Tegalboto, Pers mahasiswa, jurnalisme kampus
Terkait:
-
Menggugat Proses Literasi
Minggu, 27 Mar '11 17:33 -
Catatan perihal Peti Mati Kekasihku
Jumat, 1 Apr '11 15:54 -
Mengendus Geliat Pers Mahasiswa
Kamis, 10 Feb '11 14:31
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
dewi alfath: Penting
-
ilham_pena: Penting
-
Daniel Jones: Penting
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat