Buku: Dari Sumber Ilmu Sampai Sumber Bencana 1

Jumat, 18 Mar '11 13:18

Beberapa hari terakhir, di sejumlah media massa, terdapat sebuah berita yang hampir seragam, yaitu teror bom yang ditanam di dalam sebuah buku tebal. Buku tersebut dikirimkan ke alamat seseorang yang dianggap oleh di pengirim, aktivis liberal atau apalah sebutannya. Meskipun sampai ke alamat yang dituju, tapi tidak menemui sasaran yang direncanakan, karena yang terkena ledakan adalah beberapa anggota polisi, yang salah satunya kehilangan pergelangan tangan kirinya. Terakhir, musisi Ahmad Dhani juga mendapat kiriman buku yang ditanami sebuah bom di dalamnya.
Ada yang menganggap bahwa ini merupakan pengalihan isu semata atas kasus-kasus lain yang belum terselesaikan di negeri ini. Akan tetapi ada juga yang menganggap kasus ini adalah permasalahan agama yang memang sangat sensitif. Apabila dilihat dari sudut pandang politik mungkin memang ada unsur-unsur pengalihan isu. Tapi akan berbeda kalau dilihat dari sudut pandang kebudayaan, atau "Bhinneka Tunggal Ika."
Kenapa menggunakan Bhinneka Tunggal Ika? Kenapa bahasa sansekerta?
Berbeda-beda tetap satu jua, adalah terjemahan bebas dari frasa di atas. Berbeda dalam hal apa? Tentu saja suku, ras, bahasa, dan agama. Dalam agama apapun diajarkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan itu Maha Segalanya. Dari ungkapan-ungkapan tersebut terlihat bahwa Tuhan itu universal, bukan milik umat Muslim saja. Tuhan bagi umat Muslim disebut Allah SWT, umat Nasrani menyebut Yesus Kristus, umat Hindu menyebut Sang Hyang Widhi, umat Yahudi menyebu Yahweh, dll. Dalam kasus ini, perbedaan hanyalah pada bahasa.
Permasalahan di Indonesia mungkin disebabka karena belakangan ini Ahmadiyah di berbagai daerah tengah mendapat sorotan. Kemudian, orang-orang yang merasa agamanya lebih baik meneror orang-orang yang mereka anggap bertentangan. Para penganut pluralisme mereka jadikan sasaran.
Sebagai perbandingan, ambillah Daerah Istimewa Yogyakarta. Di wilayah ini hampir tidak ada kekerasan atas nama agama. Mengapa? Karena mayoritas masyarakat Yogyakarta telah memahami frasa "Bhinneka Tunggal Ika" bukan hanya sebagai semboyan atau slogan saja, tetapi telah meresap ke dalam pikiran mereka. Itulah yang terjadi.
Indonesia mempunyai kebudayaan sendiri, maka pelajari. Kita mempunyai kebudayaan, tetapi malah menyenangi kebudayaan negeri orang. Sebenarnya hal-hal seperti itulah yang mampu menggerus nasionalisme, dan jika terjadi secara kontinyu hal tersebut akan berbahaya. Jika diibaratkan seragam, kebudayaan adalah simbol sekolah/instansi. Jadi kebudayaan dapat digunakan sebagai tanda pengenal. Apa jadinya jika dua negara berjauhan mempunyai kebudayaan yang sama?
Kebudayaan Indonesia terbentuk melalui proses yang panjang. Dari kebudayaan asing yang secara perlahan berubah menjadi kebudayaan-kebudayaan kecil yang kemudian bergabung, itulah kebudayaan Indonesia. Ketika masih dalam proses itulah frasa "Bhinneka Tunggal Ika" ditemukan. Di masa lalu, seorang Empu (Pujangga) bernama Mpu Tantular menulis sebuah kitab yang luhur, berjudul Sutasoma. Dari kitab itulah frasa "Bhinneka Tunggal Ika" berasal.
Pada masa proses pembentukan kebudayaan itu pula negeri ini (Nusantara) mencapai puncak kejayaan, dimana di Mojokerto, Jawa Timur, sebuah imperium besar lahir, yaitu Majapahit, yang menggantikan imperium besar sebelumnya, Sriwijaya. Itulah fungsi mengetahui sejarah. Sejarah dapat digunakan sebagai pembanding masa sekarang. Nusantara telah modern sekarang, tetapi malah lebih terpuruk daripada masa Sriwijaya ataupun Majapahit. Apa yang salah?
Akhirnya, agama adalah salah satu unsur pembentuk budaya. Agama tidak dapat dijadikan alasan untuk meyerang kelompok tertentu. Jika masih ada yang menggunakan agama sebagai alasan, mungkin saja ada yang salah dengan pemahaman agamanya. Agama bukan hanya dalam lingkup rasionalitas semata, tetapi juga pada masalah-masalah yang irrasional, tidak masuk akal, ataupun juga ghoib. Oleh karena itu, ada baiknya mempelajari agama dari awal, dengan bimbingan guru yang benar-benar paham, agar tidak tersesat. Disamping itu, dapat juga membaca buku sebagai usaha mengembalikan fungsi buku sebagai sumber ilmu, bukan sebagai sumber bencana.


Tag: budaya, agama

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

arman dhani bustomi 0 0
gak ada buku sumber bencana, yang baca aja terlalu tolol

Silahkan login untuk memberikan pendapat