Pragmatisme Penyusunan Skripsi 1
Rabu, 2 Mar '11 11:54
Mereka yang pernah mengunjungi barisan iklan cilik di media massa (cetak dan online), tentu akan mudah menemukan tawaran jasa konsultasi pembuatan skripsi dan karya akademi lainnya. Dari waktu ke waktu, tawaran semakin terus-terang, tidak sekedar konsultasi, tetapi juga sudah mengarah kepada jasa pembuatan. Gencarnya iklan, tentu bukan kabar miskinnya peminat, sebaliknya dapat diduga sebagai adalah jejak dari tingginya permintaan.
Iklan dan plagiarisme, dapat ditempatkan sebagai petunjuk bahwa menyusun skripsi, memang bukan hal yang mudah. Undangan bagi pihak ketiga untuk mengurus tugas yang semestinya dilakukan sendiri oleh mahasiswa, menjelaskan dengan adanya kisah ketidakmampuan. Praktek jiplak-menjiplak, adalah bukti lain ketidakmampuan yang telah berbaur perilaku jalan pintas. Cerita ini bertambah kompleks ketika bertemu dengan realitas tertundanya kelulusan mahasiswa, lantaran tugas akhir (skripsi) tidak kunjung dapat dirampungkan. Daftar masalah meluas, melibatkan pihak eksternal, mulai dosen yang sulit ditemui, kelangkaan bahan, sampai pada sistuasi pembelajaran yang dirasakan kurang mendukung.
Kadang jawaban dibuat pragamatis, yakni peniadaan skripsi - baik dalam bentuk penggantian mata kuliah, ataupun penyusunan karya akademi lain, dengan bobot yang jauh berada di bawah kualitas skripsi. Pikiran pragmatis, menggoda keberadaan skripsi dengan pertanyaan liar seperti, apa makna skripsi bagi kepentingan mencari kerja? Ada pula yang membandingkan kualitas skripsi antara satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi lain, dengan kuantitas keberhasilan lulusan masuk ke pasar kerja. Barangkali kesemuanya inilah yang memaklumkan munculnya iklan jasa pembuatan skripsi dan menambah argumen bagi mereka yang kurang daya dalam menyelesaikan skripsi.
Bagi kita kesemuanya itu menambah jelas dimana letak masalah dan apa yang harus dilakukan. Iklan, penjiplakan, dan kemacetan dalam penyelesaian skripsi, tidak dapat dilihat sekedar masalah motivasi mahasiswa. Jauh di belakang itu, adalah pertanyaan yang serius mengenai system pendidikan tinggi kita. Pertanyaan itu, akan memperjelas suatu kenyataan tentang datangnya keadaan dimana etos dan tradisi keilmuan kita merosot tajam. Kita berharap perguruan tinggi melihat masalah dengan seksama, agar segera ditemukan jawaban yang membawa optimisme.
Tag: Mahasiswa, skripsi, swara kampus
Terkait:
-
Mahasiswa Bukanlah Suatu Entitas Homogen
Sabtu, 31 Mar '12 23:27 -
Inspirasi Besar: Mahasiswa Harus Bangun Solusi
Senin, 6 Feb '12 16:35 -
Indonesia: Negara Yang Bukan-Bukan
Minggu, 30 Okt '11 06:31
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
rohanisyawaliah: Bagus
-
vina: Penting

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat