PUASA PECEKLIK, 1

Jumat, 25 Feb '11 02:11

sebuah renungan berfikir pragmatis untuk problematis yang kronis dan kritis

Pengalaman hidup memang menyimpan berbagai simponi indah dan tidak. Namun itu semua kembali pada posisi pikiran bagaimana menilainya, sehingga menggerakan jawarih, tubuh untuk memaknai hidup ini. Judul diatas terinspirasi dari pengalaman kehidupan yang berhubungan dengan dunia materialisme, sebut saja makan, sesuatu yang menjadi kebutuhan dasar kalau mengacu pada tingkatan hirarkinya Abraham Maslow. Katakan saja maksud puasa paceklik disini mengacu pada puasa yang dilakukan karena tidak ada makanan untuk dimakan sehingga ia berpuasa.

Puasa pada hakekatnya merupakan ibadah yang sangat mulia menurut pandangan Allah SWT. Sehingga Allah tidak sungkan-sungkan bahwa diri-Nya lah yang akan membalas pahala ibadah orang yang berpuasa. Disamping itu pula telah banyak pula ibroh, pelajaran dari mahluk lain seperti binatang yang melakukan puasa karena untuk meningkatkan derajat. Misalnya saja ular yang akan berganti kulit, ia melakukan puasa. Ulat yang akan menjadi kupu-kupu yang indah, ia berpuasa untuk mendapatkan kesempurnaan bentuk rupa menawan.

Tidak hanya binatang, manusia pun yang katanya adalah ahlu tarbiyah(ahli proses berpendidikan)memiliki cara dan pengalaman yang unik dalam berpuasa. Banyak pengalaman orang yang telah melakukan puasa wajib seperti Ramadhan dan puasa Sunnah seperti puasa ‘ala Nabi daud, senin dan kamis dan puasa-puasa yang lainnya, telah menemukan miracle masing-masing dengan taraf yang berbeda-beda.

Disamping itu juga ada puasa yang dilakukan untuk menyelamatkan diri dari kondisi paceklik. Ia tidak punya harta untuk dimakan di suatu hari, maka ia berpuasa. Inilaha saya namakan puasa penyelamat. Tapi ini pun tidak naif, puasa ini lebih bermanfaat daripada melakukan cara-cara yang kotor untuk mencari harta dengan keserakahan dan menanggalkan sikap kemanusiaan misal mencuri dan menyamun. Puasa macam ini lebih baik. Secara psikologis akan menundukan nafsu agar tidak membabi buta dan kufur (tertutup mata hati) dari anugrah hidup.

Puasa semacam ini masih bisa menyelamatkan diri dengan pahala yang tak ternilai dan efek yang bagus bagi kejiwaan. Dengan begitu jiwa dan mental akan terlatih dari keserakahan dan terdidik untuk hidup sederhana. Dengan demikian sebetulnya esensi puasa yakni untuk pendidikan jiwa dapat tercapai. Riyadhoh (latihan) semacam ini agaknya perlu untuk dibudayakan ditengah gerusan arus materialisme dan konsumerisme serta keserakahan merajalela, apalagi para koruptor yang terjebak di lembah hitam nafsu tamak.

Naifkah puasa paceklik? Manakah yang lebih naif bila keserakahan yang diikuti? Kalau salah (masih bisa dibetulkan), Rasulullah sendiri pernah menanyakan istrinya, kurang lebih maknanya: apakah ada makanan hari ini? Istrinya menjawab: Tidak,. Rasulullah berkata: baiklah kalau begitu aku mau puasa. Inilah teladan yang baik agar terhindar dari ketamakan dan keserakahan serta pernyataan syukur yang kuat melalui perbuatan nyata. Subhanallah.


Namun diakhir refleski ini ada satu penegasan bahwa apapun yang dikerjakan hendaknya dikembalikan pada konsep la ilaha illalloh. Sir muhammad Iqbal memiliki konsep la ilaha illalloh yang mantap dan tegas. Ia berkonsep bahwa la ilaaha artinya menegasikan yang selain Allah dan illallah artinya mengafirmasi Allah saja. Negasikan niatan yang tiada bermuara pada Allah dan menujulah pada Allah yang maha abadi. Kalaulah ada niat rendahan yang tidak bermuara pada Allah maka enyahkanlah itu dan meningkatlah pada yang maha tinggi. Mari simak ibnu ‘Athoillah dalam Hikam La tarhal min kaunin ila kaunin walakin irhal min kaunin ila mukawwin (jangan berjalan dari alam ke alam, tetapi beranjaklah dari alam kepada pencipta alam).

Generalisasi dari pernyataan Ibnu ‘Athaillah ini dapat mewarnai semua tindakan, termasuk melaksanakan ibadah puasa yang jelas merupakan ibadah secara kasat mata. Namun terkadang tidak menutup kemungkinan ibadah yang terlihat secara kasat mata dapat menjadi fatamorgana disisi Allah karena niatan yang tiada menuju Allah, tanpa ketulusan dan pamrih karena ingin prestise makhluk semata. wallahu a'lam


Tag: renungan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

ketoles ARBIMAPALA 0 0
@Hindu, Budha, Toaisme, dan hampir semua agama dan kepercayaan juga mengenal istilah puasa. Puasa ibadahkah atau untuk diri kita?

Silahkan login untuk memberikan pendapat