Prajurit-prajurit Jaga Malam 1

Senin, 21 Feb '11 20:29

PADA mulanya adalah ketidakpastian. Begitulah ECPOSE ini direncanakan, dikerjakan, hingga akhirnya sampai di tangan Anda.
Mungkin tidak satu pun dari kami kelak bakal lupa rapat kerja kepengurusan yang senyap itu. Meski telah ditetapkan majalah sebagai program kerjanya tak ada satu pun dari kami yang benar-benar yakin bisa membawa majalah ini sampai pada pembacanya. Kami sadar, menerbitkan media, apalagi majalah, tidak cukup sekedar berbekal semangat awak redaksinya. Ketersedian dana sebabnya.
Sempat sih rasa putus asa hampir menghampiri. Namun kami selalu berhasil menemukan gairah berkarya kembali. Bait-bait puisi Chairil Anwar, Perjurit Jaga Malam, selalu bisa menginspirasi. "Aku tidak tahu apa nasib waktu," tulis Chairil untuk pemuda-pemuda bermata tajam, yang sedang bertaruh nyawa di garis batas revolusi demi mimpi-mimpi kemerdekaan. "Aku suka pada mereka yang berani hidup," lanjutnya. Seperti itu pula, kami tak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Hanya saja kami merasa tak patut menyerah pada keadaan.
Kami pun mencari jalan keluar. Dari buka studio foto "dadakan" saat wisuda sampai menjelma distributor koran dilakoni. Supaya kerinduan pembaca terhadap majalah bacaannya mahasiswa FE Unej ini segera terobati.
Kerja panjang tapi menyenangkan, usai sudah. ECPOSE edisi 29 kami serahkan pada sidang pembaca.
ECPOSE ini menjadikan Bank Gakin: Ketika Si Miskin Ingin Mandiri sebagai tema Laporan Utama-nya. Tema ini mengingatkan kita pada problema akut bangsa yang belum juga terselesaikan. Kemiskinan. Bank Gakin merupakan salah satu upaya pengentasan masyarakat dari jerat kemiskinan. Program ini terinspirasi oleh peraih Nobel Perdamaian bidang ekonomi 2006 asal Bangladesh, Muhammad Yunus, dengan Grameen Bank-nya.
Berbagai penghargaan memang telah diraih Bank Gakin. Bahkan, kini Jember menjadi daerah percontohan bagi daerah lain yang hendak membuat program sejenis. Yang kami hadirkan tentu tidak sebatas itu. Bagaimana bank ini mampu melawan kemiskinan di Jember?
Di samping itu, kami akan memaparkan sebuah tragedi di halaman rumah kita yang sampai sekarang mengambang penyelesaiannya. Tragedi itu adalah fenomena pembantaian massal dengan dalih dukun santet yang merebak di daerah Tapal Kuda pada 1998. Sampai sekarang kasus ini belum tuntas. Banyak keluarga korban yang belum mengetahui siapa pembunuh keluarga mereka.
Bukan saja belum tuntas. Kasus serupa kerap terjadi sampai saat ini di tengah-tengah masyarakat. Apakah ini menjadi penanda masih ada "penyakit" dalam masyarakat kita? Adakah obat penyembuhnya? Selengkapnya kami rangkumkan dalam Laporan Khusus Santet: Luka Terpendam di Tapal Kuda.
Sajian istimewa kali ini adalah Senggang. Secara khusus reporter ECPOSE mengikuti perayaan 35 tahun kemenangan komunis di Vietnam. Lalu di Kilas Kampus kami mengulas persiapan lima jurusan di FE Unej dalam menghadapi akreditasi pada tahun ini. Tentu sajian menarik lain masih bisa Anda temukan saat membuka lembaran demi lembaran majalah ini.
Kami menyadari bila usaha penerbitan ECPOSE ini bukan upaya pribadi kami. Ada banyak pihak yang membantu. Mereka yang telah memberi sumbangan, baik materiil dan non-materiil, bagi terbitnya ECPOSE edisi 29 ini. Serta kawan-kawan di kompleks UKM FE yang selalu menemu malam bersama sambil berbagi kopi serta teh hangat. Terima kasih. Iqra! []


Tag: jember, Ecpose, Majalah, Gakin

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Luki 0 0
Mengapa ECPOSE mengikuti perayaan 35 tahun kemenangan komunis di Vietnam?

Silahkan login untuk memberikan pendapat