Tantangan Eksistensial Pers Mahasiswa 1
Kamis, 10 Feb '11 14:34
PERS mahasiswa adalah pena perubahan. Dalam konteks Indonesia, pers mahasiswa punya peran yang sangat penting dalam gerakan demokrasi, terutama gerakan untuk melawan rejim otoriter. Di bawah rejim otoriter, wajah pers umum adalah wajah negara. Pers umum, sadar atau tidak, suka atau tidak, berada dalam arus utama, yang sekadar menjadi corong atau pembawa berita atau pesan, dari negara (penguasa). Para cerdik pandai, melalui watak pers umum yang demikian, lebih sekadar menjadi pekerja pembuat alas pembenar dari tindakan rejim, dan bukan sebagai kontrol yang berpihak kepada masyarakat. Nalar bisnis dan ancaman pembreidelan, membuat pers umum sangat sulit keluar dari jalur utama tersebut.
Berkebalikan dengan pers umum, pers mahasiswa di bawah rejim otoriter mengambil jalur lain - yang dipandu komitmen dan keberpihakan pada rakyat. Dalam semua keterbatasan, mulai dari tampilan, tiras, daya jangkau, sampai pada teknologi penulisan, pers mahasiswa mampu menembus tembok konvensional, dan tampil membawa suara rakyat. Mereka tidak memperdulikan ijin, dan kadang muncul sebagai media yang dilarang, atau media illegal dihadapan rejim otoriter. Para pelaku pers mahasiswa tidak diburu deadline yang berujung pada pencapaian ekonomi, sebaliknya diburu oleh ancaman, teror dan mungkin dakwaan di meja hijau: menyebarkan kebencian pada pemerintah, atau melawan pasal-pasal haatzai artikelen. Memang tidak ada bukti khusus bahwa kerja pers mahasiswa dapat secara kongkrit merubah kebijakan. Namun, tidak dapat diingkari bahwa pers mahasiswa menjadi bagian yang tidak terpisah dari gerakan demokrasi.
Tantangan mulai berkembang, manakala pers umum mendapatkan ruang bebas, dan menjalankan apa yang di bawah rejim otoriter tidak dapat dijalankan. Ketika pers umum, mampu mengartikulasikan kepentingan rakyat, menjadi wahana control yang efektif, dan bahkan memandu arah control public, maka pers mahasiswa mendapatkan tantangan eksistensial. Tidak ada lagi yang istimewa dari pers mahasiswa, kecuali para pengelolanya, dan mungkin kemurnian dan kelugasan pikiran. Terlebih di jaman digital, dimana kemunculan berita, bukan dalam skala bulan, minggu, atau hari, tetapi detik, bahkan lebih cepat lagi. Di luar itu, informasi yang menyebar secara horizontal, membuat model jaringan informasi menjadi berubah, dan dengan itu pula format media akan berubah.
Dalam kondisi yang demikian ini, pers mahasiswa perlu menata ulang posisinya, dengan tidak menyimpang pada hakekat keberadaannya. Pers mahasiswa seharusnya dapat menangkap realitas tersembunyi yang kini berlangsung, agar tidak silau dengan slogan demokrasi. Sejarah menuntut pers mahasiswa mampu membongkar selimut manipulasi, dan memblejeti realitas agar rakyat mendapatkan kesadaran aslinya, dan terbebas dari kesadaran yang diciptakan penguasa. Di jaman serba terbuka ini, rahasia justru bersembunyi dalam keterbukaan. Pers mahasiswa memang harus meningkatkan kemampuannya. Tentu bukan kemampuan teknik semata, tetapi ketajaman ideologis: agar pena bermata elang, yang mampu melihat celah tersembunyi di balik citra yang dapat memutar roda sejarah.
Tag: Pers, Mahasiswa, tantangan, eksistensial
Terkait:
-
Nikmatnya Jika Sedang Ereksi
Kamis, 8 Jul '10 04:17 -
Sejarah yang Menjadi ’Biasa’
Jumat, 25 Jun '10 10:28 -
PPMI..
Kamis, 3 Jun '10 07:40
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Rizki: Penting
-
dewi alfath: Penting
-
Wahyu Eko P: Perlu
-
ketoles ARBIMAPALA: Penting
-
lysuw: Penting

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat