Mengendus Geliat Pers Mahasiswa 2

Kamis, 10 Feb '11 14:31

KRAN keterbukaan yang menganga lebar saat ini, telah memberi keleluasaan pada pers umum untuk dapat bersikap kritis dan memaksimalkan fungsi kontrol sosialnya. Publik semakin bebas mengakses pembe-ritaan yang mereka butuhkan. Dalam per­kembangan seperti ini, bagaimana positio­ning pers mahasiswa (Persma) sekarang ini? Masihkah menjadi pers alternatif dan saluran idealisme mahasiswa? Bagaimana kiat Persma mempertahankan hidupnya? Apa manfaat yang tersisa dari kehadiran Persma, di tengah menyeruaknya budaya instan di kalangan mahasiswa?

Sejumlah aktivis Persma, saat dihu­bungi awak Swara Kampus (Swaka) mem­beri jawaban yang beragam atas sejumlah pertanyaan itu. Ulfatun N'mah, Pemimpin Redaksi pers mahasiswa "Arena" Univer­sitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogya, mengatakan, pers mahasiswa tetap harus bisa menempatkan diri pada fungsi kon­trol sosialnya, terutama terhadap kebija­kan kampus.

Memang, etos dan idealisme pers mahasiswa - dalam wujud keberanian untuk mengungkapkan realitas sosial dan memeberikan kritik-kritik yang tajam - seringkali menempatkan posisi Persma berhadapan dengan struktur sosial tempat dimana pers mahasiswa itu tumbuh dan berkembang.

Ulfa menguraikan, pada era pemerinta­han orde baru, "Arena" pun pernah dibre­del karena isinya tajam menyoroti kebija­kan negara yang tidak pro rakyat, maupun dibredel oleh pihak rektorat kampusnya saat itu. Meski demikian ditegaskannya, untuk saat ini visi itu pun tidak berubah.

"Kita tetap kritis. Tetapi kritis jangan asal mengkritisi. Perlu ada solusi, men­cari tahu permasalahan dan memberikan solusi, karena Persma berfungsi sebagai kontrol demokrasi kampus," jelas Ulfatun, saat ditemui Swaka di sekretariatnya, kampus UIN Sunan Kalijaga.

Pernyataan Ulfa ini secara tersirat men­jelaskan bahwa orientasi isu yang diangkat Persma adalah wacana, dan persoalan-persoalan yang berkembang di dalam kampus. "Arena" sendiri merupakan salah satu pers mahasiswa yang saat ini masih tetap eksis menerbitkan newsletter "Slilit Arena" dan majalahnya, untuk meng­kritisi kebijakan kampus. "Supaya pers mahasiswa bisa bertahan, Persma harus bisa membaca situasi, memberikan ide-ide yang cerdas tentang apa yang harus diangkat," kata Ulfa.

Di tengah serbuan informasi yang beranekaragam, baik dari media umum cetak, elektronik dan on line seperti saat ini, sinyalemen Ulfa memang terasa pas. Pilihan isu untuk penggalangan opini ha­rus semakin selektif, agar mahasiswa tetap bisa tertarik membacanya, dan syukur-syukur mau terlibat di dalamnya.

Pengangkatan isu di Persma sekarang ini, sepertinya mengerucut pada bata­san problematik internal kampus, yang langsung melibatkan kepentingan riil mahasiswa. Ini lain dengan Persma masa lalu, ketika lembaga media kampus itu dijadikan sebagai alat perjuangan politik, menembus dinding-dinding luar kampus, melawan kekuasaan di luar kampus yang otoritarian.

Pengelola pers kampus saat ini pun tampaknya juga harus kreatif membangun kegiatan agar tidak monoton dan membo­sankan. "Harus ada kegiatan lain, seperti diskusi kecil dan besar, wisata jurnalistik, pengadaan diklat, dan lain sebagainya," jelas Syarifatur Rahma Budiarti, Pemim­pin Umum Persma "Pendapa" Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST).

Menurut mahasiswi Jurusan Pendidi­kan Matematika UST itu, Persma harus melakukan pembenahan-pembenahan, mengikuti perkembangan zaman, tanpa harus kehilangan jati diri. Melakukan berbagai cara, bagaimana agar mahasiswa menjadi tertarik.

Senada dengan Ulfa, Rahma pun mene­kankan, Persma tetap harus mengedepan­kan fungsi kotrolnya terhadap kebijakan-kebijakan lembaga kampus.

Meski begitu, Richi Richardus P Anyan, Sekjen Perhimpunan Pers Mahasiswa In­donesia (PPMI) Dewan Kota Yogyakarta, menyatakan bahwa Persma sampai saat ini masih belum mampu menjadi pilar de­mokrasi kampus. Persma belum mampu mewadahi pihak yang pro dan juga yang kontra, meski sudah mewadahi pihak yang termarginalkan.

Menurut Richi, Persma belum menyo­rot tajam gimana sich yang sebenarnya terjadi, sehingga kampus mengeluarkan sebuah kebijakan seperti itu.

***

SEBAGAI media amatir, Persma selalu mengalami keterbatasan ruang gerak yang akut. Mantan Pimpinan Umum Persma "Teropong" STPMD"APMD" Sugianto, mengatakan bahwa timbul tenggelamnya Persma saat ini adalah karena problem re­generasi yang berjalan lambat, sedangkantuntutan akademik menurunkan antusiasme mahasiswa untuk tetap bertahan di organisasi yang bersangkutan. Selain itu, budaya hedonis mahasiswa juga sangat mempengaruhi sema-ngat militansi mereka.

Dalam menyikapi ketertarikan di Persma, be­berapa mahasiswa memberikan komentar yang sama. Menurut NT, seorang mahasiswa Teknik Otomotif UNY, "Saya tidak bisa mengikuti Pers­ma, karena jam kuliah yang padat". Ditambah­kannya, memang pengurus Persma juga selalu menawarinya untuk bergabung, namun karena alasan itulah dia tidak ikut.

Senada dengan NT, DH mahasiswa Pendidi­kan Bahasa Inggris UST, menambahkan, "Acara - acara Persma yang padat tidak membuat saya begitu tertarik, apalagi harus keluar kampus.Saya ingin mengikuti UKM yang acaranya simpel-simpel saja," jelasnya.

Sugianto menambahkan, masih ada problem lagi bagi Persma. Dilihat dari sektor finansial, Persma masih bergantung dari pihak kampus, sehingga seringkali mempengaruhi fungsi kon­trolnya terhadap kebijakan-kebijakan kampus. Meski demikian, para pengelola Persma menga­ku tidak mudah patah arang.

"Dari sisi pendanaan kami masih bergantung pada plotting dana dari kampus, tapi kami juga berusaha mengoptimalkan divisi perusahaan untuk bekerja sama dengan pengiklan," terang Rahma.

Rohmadie, Koordinator Divisi Jaringan LPM "Poros" Universitas Ahmad Dahlan Yog-yakarta, menegaskan bahwa Persma memang mendapatkan sumber dana yang paling besar dari kampus, tetapi bukan berarti mereka tidak berupaya mendapatkan sumber finansial dari luar. Dia menyebutkan adanya peluang juga mendapatkan iklan dari swasta. Bahkan, LPM "Arena" UIN Sunan Kalijaga, saat mengalami masa-masa sulit pernah melakukan patungan antaranggota. "Walaupun hanya satu lembar, kami harus tetap terbit," jelas Ulfatun Ni'mah.

Bagaimana pihak kampus merespon keter­batasan ruang gerak Persma tadi? Drs Widyo Hari MSi, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan STPMD"APMD" Yogyakarta, menjelaskan, "Persma harus didorong, karena sudah selayak-nya Persma itu tumbuh di kampus.

Pemikiran-pemikiran idealis mereka untuk membangun kampus yang lebih demokratis, tanpa mengesampingkan aturan harus didu­kung. Perannya untuk mengembangkan waca­na, mengembangkan kebebasan yang beretika, sebaiknya diberi ruang.

Dengan terlibat di Persma, daya kritis mereka dapat diasah untuk membuahkan pemikiran-pemikiran yang tajam dan kritis. Persma dapat dijadikan wahana "Kawah Candradimuka." Persma masih dapat dijadikan sebagai wadah pelatihan bagi mahasiswa sebelum menuju ke dunia kerja. Dalam dunia kerja, bukan aspek kognitif saja yang dibutuhkan, tetapi juga aspek skills dan keterampilan.

  • (minardi/eduardo)

 

dimuat pada Swara Kampus-KR, Selasa, 8 Februari 2011

 

 


Tag: Mahasiswa, Pers mahasiswa, mengendus

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Rizki 0 0
Sepakat!!!
arman dhani bustomi 0 0
bakaar!

Silahkan login untuk memberikan pendapat