Ketika Media Dipersalahkan 1
Rabu, 9 Feb '11 19:03
Tergelitik saya menulis ini, ketika saya membaca coment orang dan menyebut dengan lantang “orang-orang dimedia adala calon penghuni neraka dan bangsat”
Wow sangat fantastis ketika saya membaca ini, dan agak tersinggung ‘saya bukan salah satu wartawan media manapun’, saya cuma aktif disatu lembaga pers mahasiswa di salah satu universitas negeri di negara ini. Orang-orang dimedia berarti tak lain dan tak bukan banyak sekali, karena dimedia itu sendiri tidak hanya wartawan, ada pimpinan umum, pimpinan perusahaan, pimpinan redaksi, staf redaksi dan lain-lain.
Saya ingat ada yang pernah bilang kepada saya
“wartawan itu diantara 2 kaki, kaki kanan ada disurga dan kaki kiri ada dineraka, tergantung wartawan itu sendiri akan menyeret kaki yang mana ”
Bila dihubungkan dengan caci maki yang disebut oleh coment yang menyebutkan orang-orang media (lebih ditunjukkan kepada wartawan) itu penghuni neraka. Tergantung yang menjalani profesi tersebut. Kalo kita ingat sejarah-sejarah yang ada di negara kita bahkan di dunia, tak terlepas dari namanya media. Media juga yang menginformasikan kebobrokan, kecurangan bahkan tak menutup kemungkinan media juga yang memuji sebuah sistem. Lalu apakah salah kalau sebuah media memberitakan fakta yang ada. Kalau memang ada mahasiswa tewas dikontrakannya, media memberitakan itu apakah itu salah? Kadang media memang berlebihan memberitakan agar laku. Ini tak saya pungkiri, banyak kasus-kasus seperti merapi yang tak sesuai, kasus demontrasi yang kadang dibuat anarkis padahal tak senarkis itu ‘ada seorang mahasiswa (sama-sama aktif dipersma) yang dari sana cerita, sebenarnya kami tak seperti itu’. Media juga mengambil untung, mana yang laku itu yang diberitakan, ‘pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul ketika saya mengikuti kegaiatan jurnalistik’, bed news is good news. Kasus-kasus dulu belum tuntas tapi kasus baru digembor-gemborkan. Kasus lumpur lapindo kalah pamor dengan kasus aril, beberapa hari belakangan ini saya ganti-ganti chanel, hampir semua staisun tv memberitakan aril peterpan. Sangat sedikit yang meberitakan kasus yang satu ini, bahkan hampir saya temui dipastikan sebagai penutup berita, saya sudah melihat diberbagai televisi yang memberitakan masalah sampai orang tersebut bilang orang di media bangsat. Dibeberapa stasiun tv hanya memberitakan mahasiswa tewas dikontrakan, sebelum tewas mahasiswa itu muntah-muntah. Dimana yang salah ? Atau memang sudah sensi dengan media karena sebelumnya kebobrokannya terkuak. Jangan pernah menyalahkan media karena media hanya menyalurkan informasi, memberikan fakta, karena bill kovac pernah bilang tugas juranalis adalah meliput dan menganalisis informasi. Saya yakin media tidak ingin membuat kampus dan mahasiswa yang menimba ilmu didalam kacau karena berita yang tidak benar. Tidak seperti berapa tahun lalu yang bener-bener menggegerkan semua, karena memang kekerasan. Tapi toh kenyataanya memang begitu.
Banjarbaru, 31 Desember 2011
Tag: media
Terkait:
-
Cerita Saya di Hari Pers Nasional…
Jumat, 17 Feb '12 22:15 -
Arbitrary Definitions of the “Upcoming News”
Jumat, 17 Feb '12 22:07 -
Personal Branding untuk Jurnalis | #catatan bangaip
Jumat, 17 Feb '12 21:59
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
arman dhani bustomi: Perlu
-
Rizki: Penting
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat