Tragedi Enam Februari 5

Minggu, 6 Feb '11 23:48

Tuhan jadi propaganda paling murah buat bunuh-bunuhan - cin(t)a

                Hari ini boleh jadi menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Pagi tadi sekitar pukul 10 siang terjadi sebuah pembantaian terhadap tiga Jamaah Ahmadiyah Cikeusik, Banten. Diamana menurut radio KBR68H, mereka yang tewas sempat digantung massa di pohon depan rumah jamaah yang dirusak. Menurut saksi mata Jamaah Ahmadiyah. Ferdiaz, tiga orang tewas itu bernama Rony, Mulyadi dan Tarno. Kata dia Mulyadi merupakan penduduk Cikeusik dan dua lainnya berasal dari Jakarta. Sementara 20 an jamaah lainnya yang juga menjadi korban, belum dia ketahui kondisinya. Semoga mereka baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah.

                Sesaat membaca kabar tersebut tanpa sadar saya menangis. Karena marah yang seperti bara api. Buat saya pembunuhan terhadap seseorang yang meyakini sesuatu adalah tindakan paling bodoh yang bisa dilakukan manusia. Dimana nalaa mereka? Atau yang paling penting Hati mereka? Atau memang mereka yang melakukan ini bukan manusia. Mereka sekedar hewan bersorban yang kebetulan bisa bertakbir kala menebas leher manusia. Dalam salah satu halaman youtube dengan bangga mereka mengabarkan dan menyerukan pembunuhan dengan entengnya. Apakah ini Islam? Bukan ini adalah penistaan terhadap islam!

                Tidaklah satu manusia lain adalah saudara bagimu? Mungkin mereka lupa, mungkin mereka pura-pura tidak tahu, atau bahkan mereka tidak mau tahu. Entahlah, Cuma mereka dan tuhan yang bisa menjawab, itupun kalo mereka punya. Tidak ada manusia yang bertuhan bisa melakukan kekejaman semacam itu. Cuma pengikut iblis yang bisa melakukan kekejaman serupa genosida ini. Seorang umat yang meyakini keimanan dipaksa keluar dan dibunuh dihalaman rumah mereka. Masyarakat macam apa yang membiarkan sesamanya dibunuh karena memiliki keyakinan berbeda?

                Sebenarnya saya sudah cape membahas tentang ini. Mengingat hal ini tetapi kali ini, oknum pembunuh yang berlabel agama keterlaluan. Sangat keterlaluan karena bertingkah dengan sangat brutal dan membabi buta. Sesaat saya mengingat Heinrich Kramer. Seorang salih yang dipenuhi kedengkian kemudian melahirkan manifesto kebencian yang berjudul Malleus Maleficarum. Sebuah tuntunan pembantaian terhadap para penyihir. Yang dengan segala prasangka telah menewaskan lebih dari 60.000 wanita yang 'dituduh' menjadi penyihir. Ya, sejarah mengenal mereka yang membunuh atas nama kedengkian dan prasangka.

Tidak seperti biasanya, saya tidak menikmati saat-saat menyusun tulisan ini. Ada kemarahan yang teramat sangat dihati saya. Kemarahan terhadap keacuhan dan pendiaman yang selama ini terjadi. Pendiaman terhadap salah satu oknum pembunuh yang berlabel agama. Nyata-nyata melakukan kejahatan namun para pemimpin yang ada seolah diam. Mungkin mereka sudah terlalu tuli, terlalu bebal dan terlalu pengecut untuk mengakui ada hal tengik dalam organisasi pembunuh berlabel agama ini. Mungkin Ucok Homicide benar dalam salah satu syairnya, dengan atau tanpa label agama, fasis adalah fasis. Mereka mungkin telah fasis sejak dalam pikiran. Saya tidak tahu bagaimana harus bersikap, harus marah atau kasihan terhadap mereka.

 

 


Tag: Persma, pelanggaran ham, fasisme, FPI

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Defy Arbimapala 0 0
Astaghfirulloh...
Semoga Alloh mengampuni kita semua yang lalai.

Terima kasih kepada Sobat Dhani. yang sangat aktif dalam pengiriman tulisan-tulisan provokatifnya yang keren.

Sungguh diluar nalar memang, kerukunan kita terenggut tanggal 6 kemarin. Semua orang yang masih "manusia " pasti akan merasakan sama- marah, sedih, terperangah, dan tentunya malu. mungkin ini sesungguhnya adalaha hakikat "malu" yang paling hakiki. Malu pada alam semesta.

Saya pun sepakat jika mereka itu fasis sejak dalam pikiran. fasis yang berlebel pahala dan surga atas kebenaran sendiri.

Hal ini harus diusut tuntas. Hukum dan adili sang "Bodoh" yang mengkafirkan secara anarkis saudaranya sendiri itu. Pemerintah dan kepolisian di harapkan Peka dan tegas dalam masalah ini. Agar tidak ada lagi gantung-menggantung tubuh manusia di pohon atas dasar perbedaan keyakinan.
Rizki 0 0
yang paling men"gatelli" adalah adanya Polisi di depan halaman rumah yang diserbu oknum, mereka hampir tidak melakukan apapun, mungkin karena takut masuk Neraka kali, makanya mereka lari dan membiarkan pengrusakan dan pembunuhan tersebut.
Themmy 0 0
Ini bukan pertama kalinya di Indonesia. Tiap kali terjadi tindak kekerasan terhadap pemeluk agama maka kutuk dan cacian akan selalu kita ucapkan. Tiap kejadian itu pulah pemerintah dan pihak keamanan selalu mengumbar janji tanpa tindakan tegas...

Rasanya, kejadian kali ini sudah sangat keterlaluan. Tak salah bila kita mengirim Rok Mini juga alat kosmetik agar Pemerintah bisa kelihatan lebih cantik, sebelum melakukan pencitraan!!!
fendi 0 1 tidak suka |
Nice posting shobat..
Sebagai manusia " nobody is perfect. kita masih ingat pernyataan Hobbes " Homo homini lupus " bahwa manusia adalah srigala untuk lainnya yang bisa menyakiti dan memangsa lainnya. hukum alam selalu mengajarkan manusia untuk survival dengan cara apapun, hidup adalah panggung bersandiwara yang berisi tragedi penganiayaan terhadap umat manusia dan makhluk lainnya. Apakah kita perlu menyesalkan prilaku terhadap PEMBANTAIAN jamaah ahmadiyah. namun penyesalan adalah rasa bahwa kita juga manusia yang sesekali berbuat terhadap orang lain walau tidak sampai jadi isu regional ataupun nasional.

tapi kita harus garis bawahi kita juga manusia yang ada keinginan untuk selalu hidup jauh lebih dari pada orang lain. kesadaran ini perlu ditanam dalam jiwa biar hidup tambah bermamfaat dan ada toleransi antar sesama.

Bu kancit Arbimapala 0 0
nah mari ita saling mengkafirkan satu sama lain. kalau sekarang ahmadiyah dikafirkan dan di gantung ya itu wajar. sebab ahmadiyah adalah minoritas. disamping itu, salah satu oknum dari otoritas yang menjadi tokoh utama pembantaian yang mengaku "the real islam" sedang menjadi mayoritas.

saya jadi berpikir, bagaimana kalau ahmadiyah yang menjadi mayoritas di sini? mungkin mereka yang akan menggantung minoritas islam yang bersebrangan aliran dengannya. sebab ketika kita di tindas dan pada suatu ketika kita mempunyai kesempatan untuk menindas, maka kita akan turut menindas. dan bahkan lebih kejam. rumus yang memang masih perlu diperdebatkan untuk bisa dimaklumi.

Apakah kita perlu menyesalkan prilaku terhadap PEMBANTAIAN jamaah ahmadiyah?
ya iya cok!!!
FANATISME ITU DEKAT DENGAN ANARKIS.

Silahkan login untuk memberikan pendapat