Kutu Buku VS Kutu Google 5

Jumat, 28 Jan '11 14:14

DI SEBUAH seminar di Balai Bahasa Yogyakarta, 19 Oktober lalu, moderator bertanya kepada para peserta, apakah sudah memiliki Undang-Undang (UU) No. 28 Tahun 2009? Sebagian besar mengaku belum punya. "Bapak dan ibu yang belum melihat UU No.28 Tahun 2009, bisa minta petunjuk Mbah Google," imbaunya lantang.

Pada kesempatan berbeda, di sebuah universitas swasta, seorang mahasiswa terburu-buru menuju kafetaria. Tanpa membuang waktu ia mengeluarkan laptop. Apa yang dia lakukan? "Sedang googling nih, ngejar SKS. Sistem kebut semalam." Dua peristiwa tadi hanyalah sedikit contoh, betapa saat ini wabah google telah mewarnai kehidupan kampus, dan menjelma menjadi gaya hidup kaum terpelajar perkotaan.

Dari pengamatan di lapangan, trend pragmatisme mahasiswa untuk mengakses pengetahuan lewat google memang menonjol. Seorang mahasiswa, Santi, Dewi Jayanti, dan sejumlah mahasiswa yang lain, misalnya, mengaku lebih memilih membuka google daripada harus repot ke perpustakaan. Meski mereka semua menyatakan tak begitu saja menelan mentah-mentah. Namun, betulkah sekarang ini terjadi pergeseran perilaku dalam proses penggalian pengetahuan?

"Mahasiswa jaman sekarang memang berbeda dengan jaman saya dulu. Jaman saya dulu, memiliki buku adalah suatu kebanggaan," ungkap Prof. Dr. Farida Hanum, dosen Jurusan Filsafat dan Sosiologi Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Menurutnya, minat baca buku mahasiswa sekarang semakin menurun. Akibatnya, mahasiswa jadi sulit menulis.

Fenomena ini merupakan salah satu dampak teknologi yang menciptakan kemudahan hidup. "Teknologi menciptakan, mengutip istilah Taufik Ismail, mental nerabas. Kita jadi lebih suka mencari jalan pintas. Perilaku manusia selalu dipengaruhi lingkungan. Bila lingkungan menyediakan kemudahan, tentu manusia akan memilih yang mudah".

***

KALA mahasiswa sudah nyaris sebagian besar menenteng komputer jinjing, apakah perpustakaan konvensional jadi sepi peminat? Tak semua kecenderungan ternyata mengarah ke sana. Seluruh wilayah kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Karangmalang sudah tercakupi sinyal wi-fi. Tak sulit menemukan mahasiswa yang sedang berselancar di dunia maya di sudut-sudut kampus.

Namun, ternyata tak berarti perpustakaan menjadi sepi. Perpustakaan pusat UNY buka sejak pukul 07.30 hingga 17.30. Senin, 18 Oktober lalu, misalnya, hingga pukul 14.30 sudah tercatat 1068 mahasiswa yang masuk. Dari ribuan pengunjung itu, sekitar tiga perempatnya datang untuk meminjam buku. Menurut T. Sukardi, salah satu pegawai perpustakaan UNY, rata-rata ada 800 buku yang dipinjam setiap hari. Umumnya, mahasiswa menyambangi perpustakaan untuk mencari buku referensi kuliah yang ditunjukkan dosen.

***

APAPUN, revolusi atas akses terhadap dunia ilmu pengetahuan, tampaknya sudah menjadi keniscayaan. Pengajar Ilmu Pemerintahan, Fisipol UGM, Dr Abdul Gaffar Karim, pun mengakui hal itu. "Searching engine seperti google, telah menjadi bagian dari dunia intelektual yang luar biasa, saat informasi bisa diperoleh secara cepat. Sayangnya, sedikit dari mereka yang benar-benar bertujuan mengembangkan pengetahuan."

Dari sisi sosiologis, pengamat sosial Arie Sudjito menambahkan, inilah konsekuensi era digitalisasi, di mana sebuah referensi dan dokumentasi dibentuk berdasar teknologi yang semakin ringkas dan cepat. Ini tentu akan mengubah relasi sosial. Proses kedekatan serta pendalaman secara fisik atau interaksi sosial tidak terjadi, karena cukup diwakili melalui dunia maya. Dari kaca mata psikolog, Dr Tina Afiantin MSi dan Dra Aisah Indati MS - keduanya dosen Fakultas Psikologi UGM -- mereka pun memberi warning, penggunaan google di kalangan mahasiswa meskipun tidak salah, jangan sampai menjadikan program itu sebagai satu-satunya sumber referensi dalam proses pembelajaran.

"Ini berarti kegigihan untuk mencari ilmu patut dipertanyakan," jelas Tina. Hal senada diungkapkan Aisah Indati. Kebiasaan mahasiswa mengunyah dan menelan yang serba permukaan, akan menyebabkan ia akan terbelenggu dalam budaya instan.


Tag: Buku, Instan, Google

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

ketoles ARBIMAPALA 1 suka | 0
Kecenderungan mencari jalan pintas mungkin menjadi alasan "mbah google" menjadi alternatif utama
arman dhani bustomi 1 suka | 0
ouccch! hahaha
plak sekali rasanya
Hendra Yudhanto 1 suka | 0
menarik tulisanya , realitanya emang seperti itu mahasiswa cenderung mencari di google daripada mencari buku di perpustakaan...
sepertinya jaman sekarang sudah memuja keperaktisan.
Swara Kampus 0 0
sepakat kawan-kawan...
m2t 0 0
plak..
kenyataan jaman sekrang...
buku hnya bantal

Silahkan login untuk memberikan pendapat