Perspektif Islam memandang Feminisme 3
Kamis, 27 Jan '11 19:49
Dewasa ini di mata dunia Internasional memandang agama islam adalah agama yang paling mengekang hak perempuan, apalagi di perkuat dengan islam memperbolehkan poligami. Di negara arab para lelaki di perbolehkan memiliki istri berapapun sedangkan islam melarang perempuan mempunyai suami lebih dari satu. Seorang perempuan harus mengenakan burkha yang hanya meninggalkan mata untuk melihat, perempuan hanya berdiam di rumah mengerjakan semua pekerjaan rumah, perempuan tidak boleh jadi pemimpin dan banyak lagi. Bahkan ada film dokumenter buatan orang amerika menggambarkan bagaimana menderitanya kaum perempuan hidup di tengah peradaban islam. Apakah benar islam mengajarkan hal seperti itu atau apakah umat islam yang salah menafsirkan tentang ajaran islam bagaimana memperlakukan perempuan. Tetapi bukan hanya islam yang di pandang mendiskriminasikan wanita, sesuatu di luar agama pun seperti budaya budaya di berbagai belahan dunia banyak yang memandang perempuan lebih rendah dari pada laki laki.
Pemikiran Feminisme lahir dari banyaknya fakta yang mediskriminasi dan membatasi kaum perempuan khususnya banyak terjadi di negara negara muslim. Perempuan menginginkan persamaan gender, bebas menentukan hidupnya, tampil sebagai figur pemimpin yang lebih baik dari laki laki, bebas untuk berpakaian sesuai keinginannya, bebas menentukan untuk tidak menikah atau mengandung anak bahkan feminisme radikal ingin membuat perilaku penyimpangan seksual seperti lesbian di anggap normal dan menggangap dunia tanpa laki laki lebih baik, menjadikan laki-laki bukan lagi sebagai mitra atau partner tetapi sebagai saingan (rival) bahkan musuh.
Ajaran islam di nilai begitu mengekang perempuan di anggap melanggar kebebasan individu khususnya perempuan. Dalam Al Quran Q.S. Al Ahzab : 59 mewajibkan perempuan menggunakan jilbab yang menutupi semua anggota tubuh selain muka dan telapak tangan, jelas dalil tersebut sangat berlawanan dengan pemikiran feminisme. Jika kita tinjau mengapa islam mewajibkan kaum perempuan mengenakan jilbab sebenarnya untuk dirinya sendiri agar tidak di lecehkan oleh laki laki. Sedangkan pemikiran feminisme sebaliknya memperjuangkan agar perempuan bebas memakai pakaian apa saja. Bahkan Unjuk rasa yang diprakarsai Raelian Movement di Amerika menyuarakan wanita agar boleh bertelanjang dada di depan umum dengan beralasan lelaki boleh bertelanjang dada di depan umum mengapa perempuan tidak boleh. New York adalah satu-satunya negara bagian yang memperbolehkan perempuan mengumbar puting mereka di hadapan publik. Itupun berkat perjuangan panjang di pengadilan pada 1992 lalu.
Di Indonesia, wacana liberalisasi dan feminisme sangat diminati. Perempuan dan seks sengaja menjadi isu utama dalam membentuk opini Liberal, bahkan seorang kandidat doktor sebuah kampus di AS yang juga pejuang feminisme dan liberalisasi, mengatakan “Saya rasa Tuhan tidak mempunyai urusan dengan seksualitas”. Menurutnya, praktik seks bebas tidak secara jelas diatur dalam diktum keagamaan. Bahkan yang lebih ekstrim dia berkomentar “Agama yang masih mengatur seks, beserta hukumnya, adalah agama kuno”. Bukankah pemikiran tersebut merupakan salah satu pemikiran yang akan menjerumuskan umat manusia ke dalam jaman jahiliyah modern.
Masyarakat non muslim melihat ajaran islam sangat menyudutkan wanita dalam berkehiduan di berbagai bidang. Jika kita benar benar mendalami islam dan tidak hanya sepotong potong mempelajari islam maka agama islam adalah agama yang paling baik perlakuannya terhadap perempuan menjujung tinggi perempuan dan agama yang indah untuk perempuan. Banyak ayat ayat Al Quran yang memberi keistimewaan untuk perempuan seperti membebaskan dari keterjepitan (QS. 16: 58-59) membebaskan dariI kehinaan (QS 17: 31) membebaskan dari kubur hidup - hidup (QS. 81: 8-9) membebaskan dari anggapan sebagai harta waris (QS.4: 19) membebaskan dari kerusakan keluarga karena perkawinan (QS. 4: 22-23). Ada seorang sahabat bertanya pada Nabi Muhammad siapakah orang yang harus saya hormati Nabi Muhammad menjawab ibu ibu ibu dan ayah, sungguh suatu kehormatan besar bagi kaum perempuan menjadi orang nomor satu yang harus kita hormati. Ketika kekalahan islam dalam perang, uhud banyak isteri isteri yang di tinggal mati suaminya karna perang, Allah SWT membolehkan seorang laki-laki Muslim untuk menikahi dua, tiga, atau empat perempuan demi menyelamatkan perempuan-perempuan tersebut bersama anak-anak mereka. Hal ini lah yang sering salah di tafsirkan oleh orang, padahal seseorang boleh melakukan poligami hanya karna untuk menolong seorang perempuan. Sungguh perintah mulia yang di tujukan oleh Allah SWT untuk menolong perempuan agar tidak kekurangan dalam segi materi maupun rohani tentunya dengan persetujuan isteri sebelumnya. Tapi sayangnya ajaran islam sering di salah tafsirkan oleh umatnya sendiri yang menjadikan kaum perempuan tidak mendapatkan haknya.
Isu yang santer terdengar oleh para aktivis feminisme adalah memperjuangkan persamaan gender (equlity) kebebasan untuk kaum perempuan. Aktivis feminisme barat yang mempelopori liberalisme perempuan menggaungkan kebebasan dan kehormatan perempuan tapi faktanya barat pula yang melanggar hak hak keperempuanan. Berdasarkan laporan PBB tahun 2006, kasus kekerasan terhadap perempuan dan diskriminasi gender di lingkungan kerja Prancis sangat mengkhawatirkan. Menurut laporan tersebut, dua pertiga pekerja rendahan yang semuanya perempuan dalam kondisi mengkhawatirkan. Di Inggris, kasus hamil di luar nikah, aborsi dan eksploitasi tubuh wanita oleh media juga menjadi menghiasi laporan PBB tahun 2008. Kondisi di AS lebih tragis, menurut laporan FBI AS, pada tahun 2003 sebanyak 93 korban perkosaan dan pelecehan seksual di AS tidak ditanggapi serius oleh pengadilan. Negara negara barat ini lah yang paling meyuarakan isu bahwa islam adalah agama yang mendiskriminasikan perempuan mengekang perempuan dan membatasi perempuan tapi faktanya lebih banyak kasus pelecehan seksual yang merendahkan martabat perempuan terjadi di barat. Aktivis feminisme menyuarakan pornografi sebagai suatu karya seni yang perlu di apresiasikan dan kebebasan berpakaian untuk perempuan sesuai keinginan agar terlihat cantik bukannya di bungkus oleh kain longgar yang menutupi aurat mendoktrin para perempuan dengan menutup aurat adalah rasa tidak bersyukur pada Tuhan karna telah di beri tubuh indah tapi tidak di perlihatkan. Ketika, korban-korban video porno yang menimpa anak-anak dan remaja semakin banyak, aktivis feminis dan liberal ‘tiarap’ tak dengar ‘nyanyian’ argumentatifnya.
Tragisnya di Indonesia banyak orang yang mendukung feminisme. Feminisme memunculkan persepsi dalam benak perempuan Indonesia bahwa kebangkitan perempuan perlu di lakukan dan di tingkatkan namun pejuang perempuan kebanyakan telah menyimpang mereka berusaha menyaingi laki laki dalam berbagai bidang yang bahkan melewati kodratnya sebagai perempuan. Laki laki dan perempuan sebenarnya sudah mempunyai tugasnya sendiri sendiri di dunia ini. Tapi kadangkala perempuan memperjuangkan kesetaraan yang melewati kodratnya. Tanpa di sadari mereka telah memperjuangkan feminisme dengan membawa ide ide kapitalis yang akan menjerumuskan dirinya sendiri dan akan menghancurkan tatanan masyarakat dan negaranya.
Islam sudah mengatur apa yang baik untuk kaum perempuan tapi para perempuan membangkang dengan beralasan ajaran agama islam sudah tidak relevan di jaman sekarang dan melahirkan pemikiran feminisme dan liberalisme yang membuat seolah pemikiran tersebut menjadi sosok pahlawan yang membela dari aturan agama yang mengekang dan banyak membatasi. Lalu apa bedanya dengan kaum nasrani yang menulis dan mengubah kitabnya sendiri dengan alasan yang sama sudah tidak relevan dengan jaman sekarang dan bangsa Yahudi yang menulis kitab Talmud dan megesampingkan Taurat, beranggapan menuruti pemikiran sendiri jauh lebih baik dari pada mengikuti ajaran Tuhan. Faktanya perempuan muslimah lebih senang mengikuti pemikiran feminisme yang membuatnya terlena oleh glamornya dunia dan kecantikan dari pada mengikuti ajaran agamanya yang sudah di anut dari kecil. Wanita sekarang merasa malu bila berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan merasa lebih inferior bila berprofesi sebagai dokter, pengacara atau pengusaha dalam sikap ini kita dapat melihat sampai dimana feminisme telah merasuk ke setiap sel otak perempuan. Mereka meninggalkan tugas utama sebagai ummun wa robbatul bait (ibu dan pengatur Rumah tangga) dan posisi mereka sebagai muslimah yang harus terikat dengan hukum-hukum syara’. Mereka telah terbelenggu kepada perjuangan yang bersifat individual dan semata-mata mendapatkan keuntungan.
Tag: Feminisme
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Defy Arbimapala: Penting
-
dewi alfath: Perlu
Komentar:
Tetapi dalam feminis sendiri terdapat berbagai macam aliran, tidak hanya feminis liberal, ada juga feminis marxis, bahkan ada juga feminis muslim, dan sekarang yang mulai marak adalah third wave feminism.
Pada akhirnya pemikiran feminis liberal pun mulai banyak pertentangan karena tidak mencapai tujuan dari cita-cita yang diharapkan. Feminis itu sendiri muncul sebagai bagian dari social movements dalam memperjuangkan keadilan bagi perempuan, yang selama ini terintimidasi oleh kaum pria. Feminis sendiri adalah sebuah bentuk advokasi agar muncul hubungan yang lebih berimbang antara laki-laki dan perempuan.
Dan pada akhirnya ketika feminis liberal menekankan kepada kebebasan, tentunya disini penting untuk mengutamakan kebebasan yang bertanggung jawab.
Jika kita telusuri lagi, J.Paul Sartre pun menggagas feminis eksistensialis, hanya untuk merebut hati Simone de beauvoir saja, tak lebih. kalaupun masih ada lelaki yang mengaku-ngaku penganut feminis terutama di Indonesia, perlu kita pertanyakan, sesepakat apakah dia dengan paham ini?. apakah dia rela istrinya menyukai lelaki lebih dari dia? apakah rela pasangan hidupnya bertindak semaunya? yang lebih ekstrim, apakah dia rela jika wanita pujaannya bercinta dengan bebasnya dengan orang lain?.
Dan apakah orang-orang yang benar mengamini gerakan ini (terutama wanita) mendapatkan kebahagiaan yang hakiki? baik jasmani dan rohani? jika jwabannya "iya", perlulah kita mempertanyakan , "apakah dia benar-benar bahagia, atau hanya menjaga kebohongannya?".
Terlepas dari jenis-jenis gerakan feminis yang saya anggap pemlopornya rata-rata gila itu, kurang elok jika kita sebut semua ini dengan "persamaan gender". karena sudah menjadi "kebenaran" bahwa antara wanita dan pria di ciptakan berbeda. Volume otak, bentuk fisik, serta kepekaan perasaanpun sudah beda.
Betapa arifnya jika sebuah masyarakat bukan lagi membelenggu, ataupun berkata kesetaraan gender itu yang terbaik. Akan tetapi menyebutnya sebagai "Keadilan Gender". karena adil bukab berarti pukul rata.
ngelu
hehehehe
Silahkan login untuk memberikan pendapat