Bola di Tengah Masalah Bangsa 5
Jumat, 14 Jan '11 09:39
Desember lalu masyarakat Indonesia dihebohkan oleh euforia prestasi Timnas Indonesia dalam laga Suzuki AFF. Kerja keras kesebelasan anak bangsa dalam ajang tersebut menuai simpati dari seluruh lapisan rakyat Indonesia. Buktinya, penonton rela antre berjam-jam bahkan seharian untuk mendapatkan tiket. Di sisi lain kostum timnas, jaket sepakbola, syal Indonesia, sampai kaos bergambar Garuda Pancasila laris dibeli dan dipakai untuk menunjukkan Identitas Indonesia. Tidak hanya itu, banyak suporter yang rela menjual harta benda untuk mengongkosi biaya transportasi demi mencapai stadion Gelora Bung Karno, bahkan banyak yang patungan untuk mencarter pesawat dan mendukung Timnas yang berlaga di Stadion Bukit Jalil. Pemberitaan media massa pun dipenuhi ulasan sepak terjang timnas asuhan Alfred Riedl tersebut. Pelatih sepak bola berkomentar, pengamat olahraga berpendapat, khalayak ramai mengkritik, pejabat PSSI membela diri sambil tetap berbangga diri, kalangan politisi ikut unjuk diri, artis dan seniman tidak ikut ketinggalan, bahkan kalangan pengacara juga ikut bicara. Semua orang mendadak gila bola dalam waktu yang singkat!
Hal ini menjadi dilema tersendiri yang seharusnya dikritisi. Begitu laga Suzuki AFF muncul dan merebut perhatian, berbagai persoalan bangsa lainnya mulai luput dari perhatian masyarakat. Kita terkecoh, teralihkan, dan terlarut dalam hingar bingar sepak bola. Kita lupa bahwa tahun 2009 lalu ditutup dengan sekian banyak permasalahan yang sebagian besar juga belum dituntaskan. Mulai dari naiknya harga cabai hingga ratusan ribu rupiah dengan merugikan rakyat yang ironisnya tanpa bisa dinikmati petani, hukum yang berlaku tidak adil, perkasa di hadapan orang kecil seperti Prita, pedagang pasar yang digusur, Ibu yang tidak mampu membayar biaya persalinan, dan orang kecil lainnya namun hukum lumpuh di hadapan para koruptor, kerdil di hadapan Gayus, di hadapan Artalita, dan kriminal kelas kakap lainnya. Ini diperparah dengan berbagai daerah korban bencana seperti Wasior, Mentawai, hingga Yogya serta ancaman lain akibat cuaca ekstrim yang menuntut perhatian dari kita semua selaku masyarakat Indonesia.
Hal-hal tersebut seharusnya membuat kita belajar untuk tidak mudah larut dalam situasi. Memang tidak salah bila kita turut mendukung anak-anak bangsa yang berusaha mengukir prestasi, tapi jangan sampai kita terilusi, terjebak pengalihan isu, dan lupa untuk memikirkan hal lain yang tak kalah pentingnya. Euforia dan semangat dalam mendukung Timnas rentan ditunggangi pihak-pihak tertentu yang haus kekuasaan. Kita tahu, prestasi kesebelasan Indonesia ini dilirik oleh para politikus maupun pengusaha. Termasuk Aburizal Bakrie yang tiba-tiba saja menghibahkan tanahnya untuk Timnas dan menyewakan pesawat untuk dicarter ke Malaysia. Bahkan Kongres PSSI berikutnya di Bali pun akan menggunakan resor Bakrie. Ini Bakrie yang sama dengan Bakrie yang bertanggung jawab atas nasib korban-korban lumpur Lapindo.
Oleh karena itu saya menulis karangan ini untuk mencoba membuka pikiran masyarakat Indonesia. Masyarakat yang bijak seharusnya dapat memilah persoalan-persoalan bangsa untuk dipikirkan. Dukungan bukan berarti sebuah fanatisme yang berlebihan, karena persoalan-persoalan di Indonesia yang menyangkut kehidupan orang banyak nyatanya belum tuntas juga. Mulai dari skandal Bank Century, kasus mafia hukum dan mafia perpajakan, bencana alam, dan segunung permasalahan lainnya. Sehingga marilah mulai sekarang kita berusaha berpikir lebih rasional, lebih jernih agar tidak mudah dikecoh, dialihkan, larut dalam suatu kondisi atau euforia dan mudah ditunggangi.
*Penulis adalah Siswa SMAN 4 Malang
Tag: indonesia, Sepakbola, Timnas
Terkait:
-
Penguasa kita 'Menang' Lagi
Kamis, 6 Okt '11 08:10 -
Ketika Manusia Mencari Rumus Tuhan
Selasa, 28 Jun '11 06:53 -
Sejenak Ingin Mengasihimu
Minggu, 22 Mei '11 15:32
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
andi_tulungagung: Responsif
-
ketoles ARBIMAPALA: Responsif
-
Luki: Penting
-
Defy Arbimapala: Perlu
-
dewi alfath: Perlu
-
sadam husaen mohammad: Responsif
-
Rizki: Bagus

Komentar:
Kapan waktu untuk media alternatif itu?
Setuju saudara Luki. untuk itulah ada Persma.com ini...
ada ribuan mahasiswa yang mengaku Persma di seluruh Indonesia, masak forum penyadaran media publik ini sepi..???
apa tidak sayang???
inilah sebenarnya kita ada disini. Untuk menghalau apa yang dinamakan "kepentingan Media" yang sudah dikuasai oleh pemilik modal. Jikalau sang pemilik modal dari pers umum masih memiliki nurani yang dominan ya tidak masalah. malah akan lebih meningkatkan kualitas peradaban.
Akan tetapi masalahnya yang terjadi saat ini sebaliknya. Kita taukan dampaknya sekarang seperti apa???
Pembelokan-pembelokan atas nama kepentingan tertentulah yang ada. Contohnya, jangan kira skandalCentury adalah murni untuk menguak fakta. bayangkan, waktu, tenaga, pikiran negri ini terbuang sia-sia hanya untuk menacari 6,7 T. kita sampai lupa hal-hal besat lain seperti Perikanan kita yan selalu kecolongan rata2 setoap tahunnya sejumlah 300 Triliyun. Belum Freeport, belum pembalakan hutan, Pertambangan dikalimantan yang tidak habis-habisnya terkuras. dan banyak hal lain dari yang kecil, hingga besar yang jauh lebih penting, dari hal-hal yang selama ini dihadirkan pers komersil.
Sekali lagi, inilah sebenarnya tugas kita saat ini. Kalau dulu kita punya musuh yang benama Orba, Saat ini tugs kita adalah menjadi media penyadar publik, penyadar hal-hal penting di negeri ini.
"Hanya kita harapan berbicara kejujuran,Wartaman tak berbayar"
Pers Mahasiswa Indonesia
Salam Persma....
Silahkan login untuk memberikan pendapat