sampah...untuk dimakan?? 2
Minggu, 9 Jan '11 18:55
Mengapa saya diciptakan untuk selalu mengeluh. Sering saya mengeluhkan keadaan saya. Misalnya suatu ketika saya mengeluhkan tentang kedua orang tua saya yang selalu mendikte saya. Belum lagi tak terhitung betapa seringnya saya menyalahkan bunda saya atas jurusan kuliah yang telah saya tempuh.
Suatu ketika, seusai ujian akhir semester yang saya jamin saya tak bisa untuk mengerjakannya. Dan saya rasa saya pantas memperoleh nilai D ataupun nilai yang lebih buruk. Seandainya saya memperoleh nilai C itulah adalah mukzizat bagi saya. Lagi-lagi untuk duka inipun saya masih menyalahkan orang yang sama. Hati saya seolah telah dibutakan oleh kesalahan masa lalu sampai saya tak dapat melihat apapun untuk dapat maju.
Kebetulan waktu itu adalah hari jummat, hari dimana umat islam islam terutama kaum adam untuk menunaikan sholat wajib di masjid. Seperti pria yang lainnya, saya berangkat dari kosan menuju masjid. Di pinggir jalan saya menyaksikan beberapa pria sedang asyik tidur di atas becak-becak yang parkir di pinggir jalan. Bukan urusan saya mempedulikan mereka. Hati saya saat itu masih kelam, masih buta akan apa yang terjadi disekitar tempat saya. Saya hanya bisa mengeluh....mengeluh....dan mengeluh...
Beberapa saat kemudian, saya melihat sebuah pemandangan yang membuka mata hati saya. Saya melihat seorang wanita tua dengan pakaian ala kadarnya mengerigiti sepotong semangga sampai bagian putihnya. Beberapa detik kemudian ia pergi meninggalkan semangga tak bersisa tersebut. Saya terkejut ketika saya melangkah melewati tempat wanita tadi makan semangga. Di sebelah mobil tempat saya menemukan wanita tua dan kulit semangganya, saya melihat beberapa buah semangga yang telah dimakan habis namun belum benar-benar bersih seperti buah semangga yang dimakan wanita tua tersebut. Di sebelah ceceran semangga tersebut saya melihat bungkus nasi kotak yang tergeletak begitu saja bersama kulit semangka. Saya langsung berpikiran macam-macam. Hati saya tiba-tiba menjadi sangat miris. Namun saya juga merasa sedikit mual membanyangkan apa yang telah saya lihat barusan
Hati buta saya terbuka saat itu juga. Ini adalah bagian dari kehidupan yanng jauh dari yang bayangkan. Terlalu nyata untuk saya lihat. Untuk sampah yang telah ia dapat hari itu. Apakah ia mensyukurinya?? Untuk sisa kulit semangga yang ia makan. Apakah ia berterimaksaih karena telah menghilangkan dahaganya?? Apakah wanita tua tersebut akan mengucapkan doa untuk orang yang telah membuang kulit semangga yang ia kais??
Teruntuk diri saya sendiri dan keluhan brengsek didalamnya. Masi pantaskah dirimu untuk mengeluh?? Buat semua orang yang memiliki keluhan serupa seperti saya. Keluarlah dari rumah anda. Lihatlah sekeliling anda, biarkan hati nurani anda mengembara untuk menemukan kebenaran. Sebuah realita yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang "MEMILIKI HATI NURANI"...... [adhie]
8 januari 2011
Tag: sampah, pengalaman, pemulung
Terkait:
-
Pengalaman Masuk Ahmadiyah
Selasa, 29 Nov '11 17:10 -
Aku, Persma, dan Tulisanku
Rabu, 31 Agu '11 19:17 -
Bacaan Liburan: Tentang Saya dan Jurnalistik... (2)
Senin, 29 Agu '11 23:33
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
dewi alfath: Responsif
-
andi_tulungagung: Responsif
-
Rizki: Biasa
-
RIE: Bagus
Komentar:
terimakasih untuk masukan saudara
Silahkan login untuk memberikan pendapat