Ayo Kawan! 1
Selasa, 4 Jan '11 01:40
"Ah, kemana saya harus lari? Di hadapanku ada dinding yang harus dihancurkan tapi paksaan untuk lari mengoyot di otakku. Apa hari ini hari minggu? Kurasa tak perlu ada hari dan serentetan perayaan. Tapi saya harus merayakan hari kebodohanku sebagai orang bebal dan baterai rusak yang tak bisa apa-apa.
Bodoh yang merasa pintar dean bangga dengan kebodohanku. Padsahal kata "NOL" sudah kudapat. Onani dan terus onani, sampai-sampai ejsayalasi dini, otakmu kemana dam? Kalau bkau punya otak gunakan, tapi kurasa otak ku sudah ku jual untuk hal-hal bodoh. Hal bodoh? Bukankah kau memang bodoh? Memang, tak ada yang bisa dibanggakan dari seorang sadam dengan tubuh tanpa otak.
Bodoh, NOL besar, baterai rusak, manusia tidak penting, benalu, plagiat, epigon, bahkan mengsaya pintar. Sadam itu dirimu.
Kalu otakmu tak berguna gunakan tubuhmu jadi berguna, dan beli otok baru yang agaknya bisa di sayai!"
Sempat saya berpikir seperti itu ketika saya dianggap drop oleh seorang teman karena kritikanya, tapi maaf teman, saat itu badanku berat sekali untuk bergerak, bukan saya drop, tapi hanya tak enak badan. Tapi setelah membaca pesanmu yang sengaja tak langsung kau kirim langsung ke saya tapi kau kirim ke temanmu yang lain, saya merasa ada yang tegang di antara selangkanganku setelah membaca pesanmu itu. Hasrat menulis, ya hasrat menulisku lagi yang kudapat, setelah lama saya tak pernah ngaceng lagi seperti ini, terima kasih teman.
Menulis? Apa itu menulis, bukankah dari taman kanak-kanak kita diajari menulis mulai dari abjad A-Z sampai huruf hijaiyah yang membingungkan dan saya tak pernah bisa menulis huruf hijaiyah dengan bagus. Di sekolah dasar juga kita diajari menulis bukan? Tapi di sini menulis bukan hanya menyalin tulisan guru atau mengerjakan tugas yang mengejar-ngejar bagai macan kelaparan seperti saat sekolah dulu. Menulis adalah kehidupan menurut beberapa orang, karena memang mereka bekerja di bidang menulis. Seperti sekertaris contohnya, dia dapat gaji dari apa yang ditulisnya kecuali ada bos yang mau menambahkan gaji plus-plus dan juga layanan plus-plus dari sekertaris itu sendiri. Tapi bukan itu juga menulis yang saya maksudkan. Seringkali saya melihat teman menuliskan "Tidak menulis berarti mati" di papan rumah kami, apa artinya itu? Bukankah nyawa kita bukan kumpulan kata-kata yang membentuk frase-frase? Saya masih belum mengerti.
Tapi sekarang menulis sudah jadi kebutuhan bagi saya, seperti kopi yang selalu menemani malam dingin saya. Sebelum menulis ada langkah pertama yang harus kita jalani, yaitu membaca. Seandainya anda sekedar menulis tanpa membaca dari mana anda tahu kalau yang anda tuilis itu fakta atau bukan. Membaca membimbing kita untuk menemukan referensi untuk menulis, mana fakta dan mana opini? Mengutip kata teman lagi "tanpa mencari itu seperti onani dipagi hari, diulangi lagi di siang hari, dan di malam hari" maksudnya kalau kita hanya percaya pada satu sumber, kita tidak akan bergerak, stagnan, dan tidak melaksanakan apa-apa. Membaca juga menggiring kita untuk berpikir, lalu dari pemikiran kita itu bisa lahir sebuah tulisan yang entah itu bagus atau tidak, karena kita semua adalah manusia yang masih belajar.
Bukan hanya pengarang atau penyair saja yang harus pintar menulis, tapi semua orang seharusnya bisa menulis, sayang di Negara kita, Indonesia masih banyak orang yang buta aksara. Tapi buta aksara juga bisa diatasi dengan menulis kan? Orang yang bisa baca tulis mengajari orang yang buta aksara, saling belajar dan berpikir kan.
Tulisan kita juga bisa jadi cerminan emosi, saat sedih pasti tulisan itu seperti meleleh dan hanyut dalam air mata. Saat jatuh cinta, tulisan kita pasti mendayu-dayu merayu sang pujaan hati. Dan saat gembira, tulisan kita pasti ikut tertawa. Menulis bukanlah hal yang gampang tapi saat kita sudah terangsang dan tak bisa menahan lagi, pasti kita tak sempat meluangkan sedikit waktu saja untuk melaksanakan tugas sehari-hari kita di WC. Rangsangan menulis bisa datang sendiri juga bisa kita pancing. Tapi kendala yang satu ini yaitu malas bisa jadi tembok yang sangat kuat untuk menghalang-halangi kita untuk menulis. Malas memang penyakit bawaan dari kecil, walaupun orang tua kita juga sering memarahi kita saat bermalas-malasan tapi tetap saja malas itu melekat erat seperti kekasih yang tak mau kehilangan belahan jiwanya. Kalau sudah terangsang dan bersemangat mengapa tak hancurkan saja tenboknya? Pasti gampang mengalahkan rasa malas itu bila kita sudah tak tahan lagi, seperti saat menahan buang air kecil, pintu pun akan digedor walau di dalam ada orang.
Menulis, bisa jadi jiwa dan tubuh sekaligus, karena tulisan bisa jadi benteng bagi kita.
Mari menulis kawan!
Tag: Oo zaki, diekey lalijiwo
Terkait:
-
Perma Itu Onani
Selasa, 17 Apr '12 19:42
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
dewi alfath: Responsif
-
andi_tulungagung: Bagus
-
arman dhani bustomi: Perlu
-
Rizki: Biasa

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat