Nudrin Hallid Menunjuk Takdir 1
Kamis, 30 Des '10 00:12
"Kita sudah melakukan daya upaya semampu kita tapi takdir Allah belum menentukan kita jadi juara," komentar Nurdin diplomatis, usai pertandingan. Demikian kutipan detiksport.com.
Nurdin Halid terlihat murung. Kegagalan Tim Nasional menjuarai AFF Cup adalah salah satu sebabnya, selain tuntutan mundur dari berbagai pegila bola tanah air.
Tak terlihat lagi adegan cium tangan pak SBY, seperti yang ia lakukan sebelumnya. Bahkan, Nurdin berencana meninjau kembali janji memberikan 3 Milyar kepada pasukan merah putih.
Namun, ia tak mau dipersalahkan karena kegagalan ini. Tak mungkin juga mempersalahkan pemain timnas, yang sempat ia puji setinggi langit, atau berpikir menggantikan Alfred Riedl. Tak ada yang bisa ia salahkan selain takdir, hal yang sering dipertentangkan masyarakat.
Mengenai hal tersebut, Karl Britton, filsuf asal Inggris itu, pernah berupaya memilah-milahnya dalam buku Philosophy and The Meaning Of Life.
Dalam buku itu, Ia sempat mencibir kaum agamawan yang menempatkan Tuhan (dengan takdirnya) sebagai sosok pengatur, penguasa bahkan sosok yang paling berhak mendefinisikan kehidupan manusia, tanpa memberikan ruang kepada manusia untuk mendefinisikan makna hidupnya.
Britton tidak menyangkali ke-Maha Kuasaan Tuhan. Namun, menurutnya, dalam beberapa hal Tuhan nampak memberi kebebasan kepada manusia untuk menentukan langkah hidup, kanan atau kiri, muka atau belakang. Hematnya, manusia memiliki kebebasan bertindak dan bertanggung jawab atas hidupnya.
Dalam suatu diskusi dengan seorang sahabatku, kami sepakat membatasi takdir Tuhan pada hal yang tidak bisa diubah manusia, seperti kelahiran dan kematian. Sedangkan jodoh, kesuksesan, kegagalan dan hal lain dalam hidup merupakan tanggung jawab dari pelaku hidup sendiri.
Seorang manusia bisa saja dilahirkan sebagai anak petani, tukang bakso bahkan anak presiden. Namun, usaha seseorang dalam merubah arah hidup dapat membawa orang tersebut kearah yang lebih baik atau justru sebaliknya. Gampangnya, takdir tidak punya kekuatan menggelindingkan si kulit bundar. Dua puluh dua pemain dilapanganlah yang mengatur laju gelindingan bola, bukan takdir .
Dihubungkan dengan gagalnya Indonesia menjuarai Piala AFF, rasanya takdir tidak ambil bagian dalam laga ini, berupaya masuk dalam diri kiper malaysia untuk menjadikannya superior atau berperan melemahkan tendangan penalti Firman Utina. Bisa saja selama 90 menit takdir menjadi penonton setia yang tidak berpihak kedua finalis.
Aneh betul jika orang sekaliber Nurdin Halid harus menjadikan takdir Tuhan sebagai 'kambing hitamnya'. Mungkin karena Tuhan, dengan takdirnya, merupakan sosok yang tak pernah mau membela diri. Bagi saya pribadi, masih banyak permasalahan penting yang harus dipikirkan Tuhan ketimbang menentukan juara Piala AFF kali ini.
Mungkin, Takdir Memang Kejam, lagu yang sempat didendangkan Desy Ratnasari, menjadi inspirasi bagi Nurdin Halid untuk menuding takdir sebagai tersangka dalam kegagalan timnas diajang Piala AFF tahun ini. Mari berdiskusi...
Tag: bola
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Asridi Ketra Alias Asep: Bagus
-
Suport_Persma: Penting
-
andi_tulungagung: Bagus
-
dewi alfath: Responsif

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat