(me)akrab (kan) jurnalisme lingkungan 3
Sabtu, 25 Des '10 06:47
Fenomena lingkungan hidup yang semakin hari semakin kompleks membuat kalangan media massa sudah seharusnya lebih intens dalam pemberitaan mengenai lingkungan hidup. Tidak hanya pasca, melainkan segi historisitas alam pun seharusnya menjadi pertimbangan dan bahan kajian utama untuk mengantisipasi terjadinya bencana. Ahmad Arif dalam buku jurnalisme bencana mengatakan bahwa kegagalan jurnalis kadang alfa memberitakan isu lingkungan.
Kebanyakan media lebih banyak menyoroti isu-isu politik, bisnis dan hukum dan lain-lain sehingga porsi untuk isu lingkungan hidup kurang terekspos. Triyono lukmantoro mengemukakan perlu adanya Kesadaran Publik melaui jurnalisme lingkungan. Dalam situasi ini, media seharusnya meningkatkan intensitas pemberitaan dengan menggunakan perspektif jurnalisme lingkungan. Artinya, jurnalisme lingkungan harus direvitalisasi (dihidupkan kembali) oleh kalangan wartawan.
Pemahaman jurnalis tentang lingkungan hidup perlu digenjot. Seandainya jurnalis lingkungan tidak menambah wawasan tentang ini, maka akan membahyakan. Statemen ini diungkapkan oleh Joseph L Bast dalam artikelnya yang berjudul Environmental Journalism: A Little Knowledge is Dangerous (2000). Menurut Bast, pengetahuan tentang lingkungan serba sedikit yang dimiliki jurnalis justru membahayakan.
Poshendra Satyal Pravat mengungkapkan Jurnalis lingkungan yang baik harus memperhatikan pengetahuan ilmiah dan tidak mudah didikte pihak luar media yang memiliki agenda tersendiri. Semua ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada publik betapa pentingnya lingkungan yang mereka tempati. Jurnalisme ini tidak hanya dapat memainkan peran kunci dengan melakukan investigasi dan pemberitaan mengenai isu-isu lingkungan, tetapi juga menghadirkan komentar dan analisis kritis dengan merangsang perdebatan publik. Kalangan jurnalis berperan sebagai agen-agen utama yang mampu mengubah sikap masa bodoh publik.
Lantas bagaimana jurnalisme lingkungan itu didefinisikan? Telah banyak pengertian tentang jurnalisme lingkungan. Sebagai salah satu contoh, M badri mengatakan bahwa Jurnalisme lingkungan dapat didefinisikan sebagai proses kerja jurnalisme melalui pengumpulan, verifikasi, distribusi dan penyampaian informasi terbaru berkaitan dengan berbagai peristiwa, kecenderungan, dan permasalahan masyarakat, yang berhubungan dengan dunia non-manusia di mana manusia berinteraksi didalamnya.
Beberapa sumber banyak mengungkapkan sikap yang harus dimiliki oleh wartawan yang mengusung jurnalisme lingkungan. Diantaranya IGG Maha Adit mengungkapkan, wartawan lingkungan perlu menumbuhkan sikap: (1) Pro Keberlanjutan: Selain dinikmati masa sekarang, lingkungan hidup harus dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang. (2) Biosentris: berpusat pada kelangsungan hidup, pembangunan pun dapat disesuaikan dengan lingkungan hidup seingga tidak mengganggu ekosistem. (3) Pro Keadilan Lingkungan: Berpihak pada kaum lemah, agar mendapatkan akses setara terhadap lingkungan yang bersih, sehat dan dapat terhindar dari dampak negatif kerusakan lingkungan. (4) Profesional: Memahami materi dan isu-isu lingkungan hidup, menjalankan kaidah-kaidah jurnalistik, menghormati etika profesi, dan menaati hukum.
Topik-topik yang diangkat jurnalisme lingkungan, misalnya pencemaran udara atau pengaturan sampah, dengan pengkhususan masalah-masalah yang terjadi di ranah lokal. Selain itu, jurnalisme lingkungan juga mencakup topik-topik seperti: Isu lingkungan antar negara, perubahan iklim dan pemanasan global, illegal logging, kualitas air, kebakaran hutan, pencemaran industri, nuklir, kekeringan, banjir, longsor, kabut asap, limbah rumahtangga, limbah rumahsakit, limbah industri, kepunahan fauna, modifikasi generika, dan sebagainya.
Dalam dunia iIslam pun perhatian terhadap lingkungan kentara sekali. Misalnya saja dalam teks Al-Qur'an banyak ayat yang mengungkapkan perhatiannya terhadap lingkunga. Misalnya saja ada sebuah ayat yang menerangkan bahwa sekalian umat manusia tidak diperbolehkan merusak lingkungan. Dalam surat Al-A`raaf (7): 74 "Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum `Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu meraja lela di muka bumi membuat kerusakan." Telah banyak juga ayat lain yang diungkap dalam kitab suci ini. Maka pemeliharaan lingkungan sekecil apapun merupakan sebuah ibadah (pengabdian) yang akan terasa akibatnya pada masa sekarang maupun akan datang.
Tag: Jurnalisme, lingkunagan
Terkait:
-
Menggugat Proses Literasi
Minggu, 27 Mar '11 17:33 -
Media Alternatif?
Selasa, 20 Jul '10 19:26 -
Tidak Hanya Verifikasi.
Selasa, 20 Jul '10 18:11
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Perlu
-
Die Key belajar nulis: Responsif
-
Defy Arbimapala: Perlu
-
dewi alfath: Perlu
-
Rizki: Bagus
-
bung hakim: Responsif
Komentar:
mungkin persma blm terlalu peka dan 'takut' memberitakan krn bhub dg kuliah dy,
tw sndiri lah dosen2 slalu bermain dblkng kebijakan..
Hahaha..
*pengamalan mslhE*
juga bukan karena ada dua kubu lingkungan (environmentalis) dengan kubu pembangunan (developmentalis)
tetapi
memberikan ruang publik untuk mencari rational diskursus
atau kebenaran berita. tanpa embel-embel (tendensi lain) dibelakangnya??
Silahkan login untuk memberikan pendapat